
Mobil mewah milik King terlihat memasuki pekarangan rumah Juna saat sore hari. Dan mobil itu berhenti di area parkiran.
"Masuk dulu yuk." Ajak Mercia seraya melepas seat beltnya.
King mengangguk. Lalu keduanya pun turun bersamaan. Mercia berjalan mendekati King, lalu menggandeng lelaki itu dan membawanya masuk.
"Mama! Kakak pulang sama pacarnya." Teriak Marchel saat melihat Kakaknya pulang. Mendengar itu King pun tersenyum geli.
Tidak berapa lama Faizah pun datang dari arah dapur. Lalu menatap keduanya penuh selidik. "Kenapa baru pulang jam segini?"
"Ma, tadi aku abis temenin dia di kantor. Lagian kita gak ngapa-ngapain kok." Sahut Mercia.
Faizah menatap King sambil melipat kedua tangan di dada. Sontak Mercia langsung waswas melihatnya. "Ma, please. Aku sama Om King gak ngapa-ngapain. Mama harus percaya."
"Mama gak percaya sama kamu, Cia. Jawab Tante, King. Abis ngapain aja tadi?" Tanyanya pada King penuh intimidasi. Namun King sama sekali tak merasa terintimidasi, bahkan terkesan santai.
"Kami gak ngapa-ngapain, Tan. Cia gak bohong. Tadi dia cuma temenin aku makan sama ngobrol di kantor." Jawab King apa adanya.
"Beneran gak ngapa-ngapain?" Tanya Faizah memastikan.
King mengangguk yakin.
"Bagus kalau gitu. Terus kapan kamu mau lamar Cia?" Tanyanya dengan nada ketus.
"Ma, biasa aja kali nanyanya." Tegur Mercia karena merasa tak enak pada King.
"Suka-suka Mama dong." Balas Faizah.
Mercia hendak menyahut, tetapi King langsung menahannya dan memberikan kode untuk diam. Lelaki itu tersenyum pada calon mertuanya. "Secepatnya, Tan. Kalau memang Uncle sana Tante gak keberatan, mungkin awal bulan depan aku datang buat lamaran."
Hah? Awal bulan kan tinggal seminggu lagi. Ni anak seriusan mau datang? Batin Faizah.
"Oh, gak masalah. Memangnya mau ngasih apa buat maharnya? Kamu kan kaya raya, jangan asal-asal dong." Ketus Faizah.
"Mama!" Tegur Mercia lagi. Namun, lagi-lagi King menahannya agar tak melawan sang Mama. Sontak Mercia pun kesal setengah mati.
"Aku ikut kesepakatan Tante sama Uncle aja. Nanti aku bakal usahakan memenuhi apa pun yang Uncle dan Tante minta." Sahut King tersenyum ramah.
Faizah mengangguk lalu berkata dalam hati. Ya iyalah, orang kamu punya segalanya pasti sanggup ngasih berlian sekali pun, hihi. Ia pun terkekeh dalam hati. Namun tetap memasang wajah sok juteknya di depan King. Supaya aktingnya terlihat natural.
"Tante tenang aja, aku pasti bakal kasih yang terbaik bua Cia. Karena aku beneran serius sama dia." Imbuh King.
__ADS_1
"Gimana kalau saya minta semua harta kamu jadi atas nama Cia, hm?" Tantang Faizah.
Baru saja Mercia ingin membuka suara untuk protes, King lebih dulu menyahut. "Tidak masalah, Tan. Lagi pula setelah kami menikah, semua yang saya punya juga bakal jadi milik Cia. Jadi mau atas nama saya atau pun Cia itu sama aja."
Baik Faizah maupun Mercia lumayan kaget dengan jawaban lelaki itu yang seolah tak ada beban.
Ini masalah harta lho? Dan dia setuju gitu aja? Batin Faizah.
"Seriusan kamu?" Tanya Faizah masih tak percaya.
"Iya, Tan. Karena aku gak main-main buat nikahin anak Tante. Apa pun yang kalian minta, aku pasti turutin selagi aku bisa melakukannya. Karena aku beneran pengen nikahin anak Tante." Jelas King dengan mantap, seraya merengkuh kekasihnya.
Mercia tersenyum puas. Sepertinya ia memang tak salah pilih calon suami deh.
Faizah juga sepertinya merasa puas dengan jawaban yang King berikan. Sebab wanita itu tersenyum begitu lebar. "Oke, kamu lulus, King. Sekarang Tante restuin kalian berdua."
"Mama!" Pekik Mercia kenengan dan langsung memeluk Mamanya. "Makasih, Ma. Aku seneng banget Mama akhirnya ngasih restu."
Faizah tersenyum seraya mengusap punggung anaknya. Lalu menatap King yang juga tengah tersenyum bahagia.
"Maaf ya, King? Tadi itu Tante cuma ngetes kamu doang. Serius apa enggak kamu sama Mercia. Tapi setelah mendengar jawaban kamu, Tante yakin buat ngelepas anak gadis Tante yang manja ini ke lelaki yang tepat. Tolong bahagiakan anak Tante ya?"
"Tante gak perlu ngetes aku, sejak awal aku emang gak main-main, Tan. Untuk kebahagian Cia, itu akan jadi prioritas utamaku sekarang, Tan." Jawab King tersenyun tulus.
"Siap, Ma." Sahut King yang disambut tawa kecil Faizah. Sedangkan Mercia masih setia memeluknya.
"Aku sayang Mama." Ucap Mercia semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya, Sayang. Mama juga sayang banget sama kamu, anak cantik Mama satu-satunya udah mau nikah. Ah... padahal kamu masih kecil di mata Mama." Faizah mencium pipi anaknya dengan mesra. Juga merasa sedih karena tak menyangka anaknya sudah mau menikah saja. Padahal rasanya baru kemarin ia melahirkan dan menggendongnya. Ah, waktu cepat sekali bergulir.
King yang melihat itu cuma bisa tersenyum penuh haru.
****
"King," panggil Rea saat melihat putranya baru pulang. Saat ini ia tengah duduk di sofa ruang tengah sendirian.
"Ya, Mom." Sahut King seraya menghampiri, lalu duduk di sebelahnya.
Rea menatap putranya lamat-lamat. "Jadi kamu beneran mau nikahin Mercia?"
King mengangguk yakin, lalu meraih kedua tangan sang Mommy dan mengecupnya dengan lembut. "Tolong restui kami, Mom."
__ADS_1
Rea menghela napas kasar. "Sebenarnya Mommy masih syok, King. Dari sekian banyak perempuan, kamu milih Mercia yang masih imut-imut banget. Anak baru kemarin lho. Mommy sih gak masalah, tapi kamu yakin sanggup hadapin media?"
King tersenyum. "Itu masalah gampang, Mom. Sejak dulu juga aku gak pernah senang diekspos sama media. Jadi Mommy gak perlu cemas ya? Masalah itu aku bisa nanganin sendiri. Jadi Mommy restuin kami kan?"
Rea menatapnya begitu dalam. Lalu mengangguk. Melihat itu King pun tersenyum lebar dan langsung memeluknya erat. "Thank you, Mom."
Rea mengusap punggung anaknya dengan lembut. "Jika itu pilhan kamu, dan buat kamu bahagia. Mommy restui, King. Tapi... kamu harus hadapin Kakakmu lebih dulu. Kamu udah merebut calon menantu idamannya. Dia sedang dalam perjalanan kemari. Bersiaplah menghadapi amukannya."
King menarik diri, lalu tersenyum geli. "Wanita itu sama sekali tidak berubah. Aku siap menghadapinya, Mom."
Rea tertawa kecil. "Kalian ini, masih saja ribut meski sudah pada tua."
"Dia yang masih kekanakan, sifat pemaksanya itu gak pernah berubah. Menyebalkan." Kesal King yang disambut tawa oleh Rea.
"Terus, kapan rencannya mau lamaran?" Tanya Rea serius.
"Mungkin awal bulan depan, Mom. Gak papa kan?"
"Lho! Gak kecepetan, King? Awal bulan tinggal seminggu lagi lho." Kaget Rea.
King tersenyum. "Aku gak bisa lama-lama lagi, Mom. Udah gak tahan. Takut kebablasan kalau lama-lama pacaran."
Mendengar itu Rea tertawa geli. "Siapa suruh kelamaan nikah, untung aja gak layu jamurnya." Celetuknya.
King tersenyum geli. "Aku kan nunggu Cia dewasa dulu, Mom. Gak mungkin aku nikahin dia pas masih sekolah kan?"
Rea melotot mendengarnya. "Jadi itu alasan kamu gak pernah pacaran, King? Kamu nunggu Cia? Selama itu?" Kagetnya.
King mengangguk. "Aku udah jatuh hati sejak dia masih kecil, Mom. Sifat ceria dan rasa percaya dirinya yang tinggi buat aku tertarik. Aku yakin cuma dia satu-satunya wanita yang bakal sanggup jadi istri aku, Mom."
Rea tersenyum geli. "Ya ampun, Mommy masih gak nyangka jodoh kamu itu Mercia, anak baru kemarin. Tapi gak papa, Cia juga anak yang baik. Dan kamu bener, dia memang kandidat yang paling cocok untuk jadi istri kamu. Karena Mommy juga yakin dia bisa menepis para wanita yang berusaha menggoda kamu itu. Gak kebayang pas Mercia ngamuk dan nendang mereka. Pasti lucu kan?"
King tertawa kecil. "Ya, dan cuma dia yang punya keahlian itu. Karena itu juga aku jatuh cinta sama dia, Mom. Dibalik sifat manjanya, dia juga pinter dan cekatan."
"Ya, dan yang lebih penting dia mau sama kamu yang udah tua ini." Ledek Rea mencubit gemas pipi putranya itu.
King tersenyum, lalu memeluk Rea lagi. "Love you, Mom."
"Love you too, sayang. Mommy doakan kamu selalu bahagia. Punya anak banyak dan lucu-lucu kayak Cia. Mommy udah ngebayangin kalau kamu punya anak, King. Pasti mereka gemesin kayak Mercia kecil. Cerewet, gak mau diem, rame pasti rumah. Ahhh... Mommy gak sabar nunggu momen itu." Oceh Rea sambil membayangkan betapa gemasnya anak-anak King nantinya.
"Sabar dong, Mom. Semuanya butuh proses dulu. Tapi Mommy tenang aja, abis nikah aku gak akan bosen buat produksi cucu untuk Mommy." Kata King yang berhasil membuat Rea tertawa lagi.
__ADS_1
"Kamu ini, emang itu yang kamu cari kan? Dasar." Lalu keduanya pun tertawa bersama.