
Jef masuk ke sebuah kafe untuk membeli kopi. Hari ini ia ingin bersantai dan menikmati kesendiriannya.
"Americano satu." Pintanya tanpa memperhatikan sang barista karena saat ini ia sedang mengecek ponselnya.
"Ok, tunggu sebentar." Sahut sang barista. Jef pun tak menanggapinya karena sedang membalas pesan seseorang.
"Ini kopinya, terima kasih atas pesanannya." Kata barista itu seraya memberikan pesanan Jef. Spontan pemuda itu pun mengalihkan atenisnya. Dan betapa kagetnya ia saat melihat wajah si barista yang tak lain wanita malam tadi.
"Kau?"
Wanita itu mendongak, lalu menatap Jef bingung. "Ya?"
Jef mengernyitkan dahi karena gadis itu seolah tak mengenalinya. "Kau tidak ingat aku?" Tanyanya.
Gadis itu menggeleng. "Ah, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Maaf jika aku melupakanmu, Tuan. Aku punya gangguan ingatan. Dokter bilang aku mengalami amnesia retrograde." Katanya seraya memandang Jef lamat-lamat. Sayangnya ia tak mengingat apa pun. Karena sejak lama gadis itu mengidap gangguan ingatan tersebut. Di mana ia akan melupakan peristiwa sebelumnya dan hanya mengingat hal yang baru saja terjadi.
Jef semakin dibuat bingung, tetapi detik berikutnya ia ingat soal ponsel gadis itu. Segera ia rogoh saku jaketnya. Lalu menaruh benda itu di atas meja barista. "Itu milikmu bukan?"
Gadis itu terkejut dan langsung mengambil ponselnya. Dihidupkannya ponsel itu untuk memastikan itu memang miliknya. Dan memang benar itu miliknya, karena wallpaper ponsel itu tak lain fotonya. "Ya Tuhan, jadi aku tidak lupa manaruhnya dan benda ini ada padamu? Syukurlah."
Jef menatap gadis itu heran. "Aku baru tahu ada orang yang mengalami ganguan ingatan seperti itu, sedangkan kau masih terlihat muda dan sehat. Bahkan kafe ini mempekerjakanmu. Tidak masuk akal."
Gadis itu menatap Jef sendu. "Tuan, maaf karena mungkin aku melupakanmu. Selepas apa yang aku lakukan padamu sebelumnya, aku minta maaf. Ponselku bisa ada padamu, itu artinya kita memang pernah bertemu. Karena kau mengembalikannya padaku, itu artinya kau juga orang baik. Terima kasih." Ucapnya sedikit membungkuk.
Jef menggelengkan kepala, kemudian langsung membayar kopinya dan pergi dari sana.
"Eh, tunggu!" Suara gadis itu pun berhasil menahan langkah Jef. Kemudian ia pun berbalik.
Gadis itu berlari keluar dari sana, lalu mendatangi Jef. Dan tanpa aba-aba langsung memotret wajah Jef. "Aku selalu memotret wajah orang yang baru aku temui. Supaya aku bisa mengingatmu." Jelasnya. "Bisakah kau katakan kita pernah bertemu di mana?"
Jef menghela napas. "Itu tidak penting, lupakan saja."
__ADS_1
"Eh, tunggu!" Lagi-lagi gadis itu berhasil menahan Jef. "Siapa namamu?"
"Jef." Sahut Jef yang kemudian langsung berlalu pergi.
"Jef? Hm, tidak buruk. Dia juga sangat tampan. Tapi... aku benar-benar tidak ingat di mana bertemu dengannya." Gadis itu tampak berpikir keras, meski tak ada satu pun memori yang ia ingat. Sampai panggilan seseorang pun berhasil mengejutkannya.
"Alana!"
Gadis itu pun langsung berbalik.
"Kau sedang apa di sana? Cepat kembali ke tempatmu. Jika bos lihat kau akan kena masalah."
"Ah, maaf." Cepat-cepat Alana pun kembali ke tempatnya. Melayani para pengunjung yang baru saja datang dengan penuh semangat. Dan sepertinya ia pun kembali melupakan kejadian tadi.
Di sisi lain, Jef terlihat menggulir ponselnya. Mencari tahu soal penyakit aneh yang dialami gadis itu. "Jadi penyakit itu memang ada, dan penyebabnya karena trauma berat dan stres? Hal apa yang sebenarnya gadis itu alami?"
Tentu saja hal itu membuat Jef semakin penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh. Kemudian ia pun segera menghubungi seseorang. "Aku ingin kau mencari tahu identitas seseorang. Secepatnya berikan informasi padaku. Aku akan mengirim alamat tempat orang itu bekerja."
Setelah menghubungi orang itu, Jef menatap cup kopi ditangannya. Lalu tersenyum tipis. "Menarik."
Beberapa hari kemudian, Jef mendapat informasi yang diinginkannya. Ditatapnya kertas dalam genggamannya. Di mana semua informasi gadis itu ada di sana.
"Alana Charlene Griselle, nama yang bagus. Aku tidak yakin dia bisa mengingat namanya sendiri." Jef tersenyum geli. Kemudian kembali membaca semua informasi gadis itu. Ternyata gadis itu hanya anak yatim piatu yang tinggal seorang diri di sebuah apartemen kecil.
Alis lelaki itu menaut saat melihat sebuah tulisan jika gadis itu memiliki hutang dengan jumlah yang cukup besar. Dan hutang itu ditinggalkan oleh Ayahnya yang suka berjudi. Sekarang Alana lah yang harus menanggung semua itu. Dan itu mengingatkan Jef pada kejadian malam lalu. Di mana Alana dikejar oleh beberapa orang. "Bagaiamana mungkin gadis sepertinya mengalami hal semengerikan itu? Lalu seperti apa kehidupan yang ia lalui selama ini?"
Jef termenung karena memikirkan nasib gadis itu yang kemungkinan besar sangat memprihatinkan. Bahkan dengan penyakitnya itu, Jef tidak yakin dia bisa selamat dari kejaran para penjahat itu lagi.
Jef mengusap wajahnya dengan kasar, baru kali ini ia merasa tersentuh oleh kehidupan orang lain. Dan itu tak lain gadis asing yang sama sekali tak ia kenal. Pemuda itu tersenyum sendiri saat mengingat wajah lucu gadis itu saya kebingungan. "Menggemaskan."
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah apartemen kecil milik Alana. Gadis itu terus memandangi buku rekening miliknya sambil sesekali menyuap daging kaleng ke mulutnya. Lalu menghela napas kasar karena tabungannya belum cukup untuk melunasi hutang mendiang Ayahnya yang sangat besar. Bahkan masih terbilang jauh, bekerja sebagai barista dan yang tak banyak pengalaman sepertinya tidak mungkin bisa menutupi hutang itu dalam waktu satu tahun. Meski ia bekerja paruh waktu sekali pun, itu masih tetap tak menjamin uangnya bisa cukup.
__ADS_1
Alana menutup buku rekeningnya, lalu menaruhnya di tempat seharusnya dan lanjut makan. Bahkan Alana sudah lupa seperti apa rasanya makan enak. Semua yang ia makan rasanya tabu. Sejak sang Ibu meninggal, kehidupan Alana berubah tiga ratus delapan puluh derajat. Ia harus bekerja banting tulang hanya untuk bertahap hidup. Karena hanya apartemen ini yang Ibunya tinggalkan. Alana tetap bersyukur akan hal itu karena masih mempunyai tempat tinggal. Jika tidak, mungkin ia akan menjadi tunawisma sekarang.
Usai makan, gadis itu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena baru pulang bekerja di tengah malam seperti ini. Selain menjadi barista, Alana juga menjalani pekerjaan paruh waktu di sebuah bar dan hotel. Bahkan kadang ia tidak tidur karena pekerjaannya itu. Namun gadis itu tidak pernah mengeluh dan menikmati hidupnya. Karena yang menjadi tujuan utama hidupnya adalah melunasi semua hutang Ayahnya dan hidup bahagia setelahnya. Karena Alana tidak pernah ingat apa yang ia impikan sebenarnya. Setiap saat impiannya akan selalu berubah, tidak jarang gadis itu juga bingung dengan dirinya sendiri. Siapa dirinya, dan dari mana asalnya. Beruntung ia memiliki seorang sahabat yang selalu memberi arah dan menemaninya di saat-saat sulit. Alana juga bersyukur akan hal itu.
Pagi harinya, seperti biasa pintu apartmen Alana diketuk oleh sahabatnya, Joy.
"Al, kau sudah bangun?" Teriaknya dari luar. Tentu saja Alana mendengarnya karena apartemenya terbilang kecil dan terletak di rooftop. Apartemennya hanya sepetak di mana semua bagian ada di tempat yang sama.
"Ya, aku sudah bangun." Sahutnya seraya bangun dari tempat tidur. Lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sang sahabat pun tersenyum begitu manis. Lalu masuk tanpa sungkan.
"Pagi, Sayang. Aku bawakan sarapan untukmu. Hari ini kau harus bersiap, karena ada pekerjaan paruh waktu di hotel. Kau pasti tidak ingat kan?" Katanya seraya meletakkan kotak makanan di atas meja. Lalu membukanya. Seketika aroma masakan langsung menyeruak masuk ke hidung Alana.
"Wah, Ibumu masak enak lagi?" Tanya Alana begitu antusias dan duduk lesehan di sana sambil menatap makanan di atas meja yang berhasil menggugah seleranya. Dari semua memorinya yang hilang, Alana hanya mengingat Joy dan Ibunya. Mungkin karena mereka selalu ada bersama Alana.
Joy tersenyum melihat ekspresi menggemaskan sahabatnya itu. Sebenarnya Joy sendiri usianya lebih tua dua tahun dari Alana. "Makanlah, Ibuku bilang kau harus menghabiskannya."
Alan mengangguk, kemudian mengambil sendok dan langsung mencicipi masakan super lezat itu.
"Cepat habiskan, kau harus tiba di hotel pukul tujuh."
Alana mengangguk lagi dan cepat-cepat menghabiskan makanannya, setelah itu ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Joy membantu Alana merapikan tempat tidur. Sahabatnya itu benar-benar tulus dan sangat perhatian. Karena itu Alana tidak pernah merasa kesepian.
Setelah bersiap, Alana dan Joy pun langsung berangkat ke hotel tempat mereka bekerja paruh waktu.
Seperti biasa, Alana akan membersihkan dan merapikan kamar hotel yang pengunjungnya baru saja check out. Gadis itu begitu lihai menata kasur seolah memang keahliannya. Padahal ia sama sekali tak ingat apa-apa soal pekerjaannya itu, hanya saja tubuhnya bergerak secara alami seolah memang sudah terbisa melakukan itu. Dan Alana sangat menikmati kehidupannya saat ini yang terus mengalir seperti air.
"Al, tolong bersihkan kamar sebelah jika sudah selesai ya?" Pinta seseorang saat Alana baru saja keluar dari kamar itu sambil mendorong troli berisi seprei dan handuk kotor.
Alana pun mengangguk patuh dan segera masuk ke kamar yang dimaksud. Jelas pekerjaan itu melelahkan, tapi Alana tidak pernah mengeluh karena sudah terbisa dengan kehidupannya itu.
Beberapa saat kemudian tugas Alana pun rampung, gadis itu memilih istirahat di gudang. Meneguk air mineralnya hingga tandas. Kemudian mengambil ponsel dan membukanya, lalu ia pun membuka galeri. Seketika dahinya mengerut saat melihat ada foto baru yang tak lain adalah Jef. Bahkan ia juga menuliskan nama Jef diketerangannya.
__ADS_1
"Jef?" Gumamnya seraya menatap foto itu dengan seksama, tanpa sadar ia tersenyum. "Dia sangat tampan, sayang aku tak mengingatnya sama sekali. Kira-kira, dia masih ingat aku tidak ya?"
Gadis itu terkekeh sendiri sambil mengusap foto Jef dengan jemarinya. "Apa aku bisa memiliki kekasih setampan ini? Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan? Mana ada laki-laki yang mau menjadi kekasihku. Mereka pasti akan mundur setelah tahu kondisiku. Karena aku akan melupakan wajah kekasihku setiap saat." Entah kenapa ia sangat bahagia hari ini meski hanya membayangkan jika sewaktu-waktu bisa memiliki kekasih yang tampan. Ya, seperti Jef misalnya.