Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Permasalahan Ella


__ADS_3

Sean terbangun di tengah malam, tetapi ia tidak menemukan sang istri di sisinya.


"Sayang." Panggil Sean turun dari tempat tidur. Lalu mencari keberadaan istrinya.


Queen keluar dari kamar mandi dan cukup kaget saat melihat keberadan Sean di depan pintu. "Sean! Kau membuat jantungku hampir copot tahu tidak."


"Maaf, aku hanya takut kau pergi."


"Ck, kemana aku akan pergi huh? Ini rumahku." Queen pun meninggalkan Sean dan kembali ke atas pembaringan. Sean pun langsung menyusulnya. Keduanya pun berbaring dengan posisi berhadapan. Mengunci pandangan satu sama lain.


"Sean."


"Ada apa?"


Queen menggigit ujung bibirnya. "Aku datang bulan."


Sean terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum. "Lalu?"


"Aku... em... usaha kita gagal. Mungkin... ini salahku karena...." Perkataan Queen tertahan karena Sean membungkam mulutnya nya dengan bibir. Sean memberikan kecupan lembut.


"Berhenti menyalahkan dirimu. Kita masih banyak kesempatan. Sekarang gagal, masih ada hari esok. Apa yang kau pikirkan memangnya huh? Kau pikir aku akan memaksamu untuk memiliki anak secepatnya? Tidak, Queen. Ya, aku memang menginginkan seorang anak darimu. Tapi jika Tuhan belum mempercayakan kita seorang anak. Kita bisa menunggu. Anak itu hanya titipan sementara dari Tuhan. Tapi kau... kau adalah bidadari yang Tuhan kirimkan untuk hidup bersamaku seumur hidup. Aku tidak peduli Tuhan akan memberi kita anak atau tidak sekali pun, asal kau tetap disisku, Queen. Itu sudah lebih dari cukup. Aku mencintaimu sepenuh hati."


Queen menitikan air mata haru. "Terima kasih, Sean. Maaf karena aku sempat egois. Aku... aku juga sangat mencintaimu, Sean. Bagaimana bisa aku tidak mencintaimu? Kau terlalu baik untuk diabaikan. Aku bersyukur karena Tuhan mengirimkan malaikat sepertimu."


Queen memeluk Sean dengan erat. "Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu, Sean." Imbuhnya.


Sean tersenyum, lalu memberikan kecupan di kening istrinya. "Jangan menangis. Aku tidak rela air matamu menetes. Setetes air matamu juga sangat berharga bagiku."


"Berhenti bicara manis, Sean. Aku tidak akan bisa berhenti menangis."


Sean terkekeh lucu. "Sudah, ayok tidur lagi. Apa perutmu sakit?"


"Sedikit. Jangan khawatir, besok juga sudah hilang sakitnya."


"Hm." Sean memberikan kecupan singkat di bibir istrinya. "Tidurlah."


Queen mengangguk dan kembali memejamkan matanya dalam pelukan Sean. Berada dalam pelukan suaminya itu membuat hatinya nyaman dan tentram. Bagaimana bisa Queen tidak nyenyak tidur. Sean selalu memberikan kenyamanan seperti yang diharapkan banyak wanita di luar sana. Sungguh, ia merasa bertuntung karena memiliki suami seperti Sean.


Aku mencintaimu, Sean. Aku bersumpah akan selalu disisimu apa pun yang terjadi.


Pagi hari, Queen terbangun dari tidurnya karena deringan ponsel terus menganggu pendengarannya. Karena kesal, Queen bangkit dan menyambar ponselnya di atas nakas. Matanya melebar saat melihat nama Ella di sana.


"Sial! Sehari saja dia tidak mengangguku mungkin hidupnya tidak tenang." Omelnya. Meski begitu Queen tetap saja menerimanya.

__ADS_1


"Hallo, ada apa?" Ketus Queen.


"Queen."


Queen terkejut saat melihat wajah sembab sepupunya. "Ell? Kau menangis? Ada apa, Ell?"


"Queen." Bukanya menjawab Ella justru menangis kencang. Dan itu membuat Queen panik.


"Ell, katakan padaku ada apa? Kenapa kau menangis?" Panik Queen. Sean yang mendengar keributan pun ikut terbangun. "Ada apa, sayang?"


Queen memberi kode pada Sean agar lelaki itu diam. Sean pun menurut. Bahkan ikut terkejut saat mendengar tangisan Ella.


"Ell, tenangkan dirimu okay? Aku akan ke sana sekarang."


Ella mengangguk patuh. Saat ini dirinya memang butuh seseorang.


Queen pun langsung mematikan sambungan telepon. Kemudian beranjak turun dari tempat tidur dan berlari ke ruang ganti. Tidak lama ia pun sudah keluar lagi dan siap untuk pergi.


"Baby, aku akan mengantarmu."


"Tidak, Sean. Ella hanya membutuhkan aku untuk saat ini. Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Jika butuh bantun, aku akan langsung menghubungimu."


Sean pun menghela napas pasrah. "Baiklah."


Queen menghampiri Sean cepat-cepat, kemudian memberikan kecupan mesra. "Aku pergi. I love you." Setelah mengatakan itu Queen pun langsung pergi. Meninggalkan Sean yang masih duduk di atas pembaringan. "Not bad, setidaknya dia masih ingat kewajibannya. Aku juga mencintaimu, sayang." Sean pun melanjutkan tidurnya.


"Ell." Queen membuka pintu kamar. Dan betapa kagetnya ia saat melihat Ella masih menangis pilu sambil memeluk kedua kakinya. Queen pun menghampiirinya dan memeluk Ella erat. Sontak tangisan Ella pun semakin kencang.


Mata Queen pun tertuju pada ponsel Ella yang masih menyala. Diraihnya benda itu. Namun, matanya semakin terbelalak saat melihat gambar Bara sedang bertunangan dengan seorang wanita asing.


"Apa-apaan ini?"


"Dia meninggalkan aku, Queen. Dia tidak mengatakan apa pun padaku. Seseorang mengirim foto itu padaku. Mereka akan menikah." Suara Ella terdengar parau dan menyedihkan.


Queen mengeratkan pelukkannya. "Brengsek."


"Dia mencampakkanku begitu saja, Queen. Apa salahku? Kemarin dia masih mengucapkan cinta padaku. Dan hari ini dia bertunangan dengan orang lain."


"Ell, aku mengerti perasaanmu." Queen ikut sakit. Ia tahu betapa sakitnya posisi Ella saat ini. Mungkin rasanya lebih menyakitkan dari yang ia rasakan dulu saat mendengar kabar Juna menikah. Apalagi saat ini Ella sedang mengandung.


"Kenapa dia melakukan ini, Queen? Dia sudah berjanji akan melewati semuanya bersamaku. Dia penipu."


Queen mengusap punggung Ella dengan lembut. Jujur ia bingung harus berkata apa.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Queen? Bagaimana nasib anak ini?"


"Dengar, aku ada bersamamu. Kita rawat anak itu sama-sama. Kau juga masih punya Aunty dan Uncle."


Ella terdiam sejenak. "Mommy dan Daddy belum tahu aku hamil, Queen."


"Apa?" Kaget Queen. Ia melepaskan pelukkannya. Lalu ditangkupnya wajah Ella dengan erat. "Kenapa kau sembunyikan ini dari mereka, Ell?"


Ella menatap Queen dengan takut. "Daddy akan membunuhku jika tahu aku hamil di luar nikah. Da__daddy selalu mengingatkan aku untuk tidak melakukan hal bodoh."


"Ya Tuhan." Queen tidak tahu harus bicara apa lagi sekarang.


"Queen, apa aku mati saja?"


Queen tersentak. "Jangan bodoh! Apa kau ingin menunjukkan padanya jika kau lemah?"


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Bara meninggalkan aku, Queen. Dia memilih wanita lain. Lalu buat apa dia menangis saat tahu aku hamil? Apa itu tangisan penyesalan, Queen?" Ella tertawa getir. "Betapa bodohnya aku ini."


Queen menarik Ella dan pelukannya lagi. "Kita lewati semuanya sama-sama ya? Aku tidak akan meninggalkanmu."


Ella kembali menangis. Tangisan yang cukup memilukan. Tanpa sadar Queen pun ikut menitikan air mata.


Sialan kau, Bara. Aku tidak akan melepaskanmu setelah ini.


"Ell, berhenti memikirkannya okay?" Queen menghapus jejak air mata Ella dengan lembut. "Ikut pulang denganku. Mulai sekarang tinggalah bersamaku."


Ella tidak menjawab. Tatapannya kosong. Hati Queen teriris melihat itu. Bagaimana pun ia teramat menyayangi sepupunya itu.


"Ell?"


"Aku ingin mati saja, Queen."


"Jangan bodoh! Aku tidak akan membiarkanmu mati, Ell. Apa kau tidak memikirkan orang tuamu? Mereka hanya memilikimu seorang."


Ella tertawa hambar. "Sekarang aku mengerti kenapa Mommy melarangku berhubungan dengan Bara. Dan dengan bodohnya aku mencintai lelaki itu, Queen. Aku juga menyerahkan diriku begitu saja padanya."


Queen merasa iba melihat kondisi Ella saat ini. "Kita pulang, ikut denganku pulang ke mension."


Ella menatap Queen lekat. "Apa dia akan datang jika aku mati?"


Lagi-lagi Queen terkejut mendengarnya. Ia tahu Ella begitu mencintai Bara. Jika Sean melakukan hal yang sama, mungkin Queen akan lebih gila dari ini.


"Dengarkan aku, Ell." Queen sedikit meninggikan suaranya. Menarik perhatian Ella sepenuhnya. "Kau harus tetap hidup. Buktikan padanya jika kau bisa hidup tanpa dia okay? Jika kau mati, dia akan bahagia karena lepas tanggung jawab. Berhenti bersikap bodoh."

__ADS_1


Ella memeluk Queen. "Aku ingin pulang denganmu, Queen. Bawa aku pergi dari sini. Aku benci tempat ini."


Queen mengangguk. "Ayok kita pergi."


__ADS_2