
Dari kejauhan, Mercia terlihat asik mengobrol kecil dengan King. Bahkan sekarang gadis itu tak lagi merasa canggung. Kadang-kadang pembicaraan keduanya pun diselingi canda dan tawa kecil Mercia. Sepertinya King berhasil membuat gadis itu merasa nyaman saat bersamanya.
"Wah, ada pasangan selingkuh di sini rupanya." Ujar seseorang yang berhasil menarik perhatian keduanya. Sontak Mercia dan King pun menoleh bersamaan.
Jef yang hadir bersama Megan and the geng pun menatap ke arah yang sama pula. Megan terlihat bergelayut manja di lengan Jef sambil tersenyum penuh arti.
Mercia yang menyaksikan itu pura-pura tak peduli dan kembali memakan cemilan yang mereka pesan sebelumnya. King yang melihat reaksi gadis dihadapannya itu pun cuma tersenyum.
"Kau lihat sendiri bukan, Jef? Tunanganmu berani bermain api di belakangmu. Bahkan dia mengabaikanmu. Dia itu pantas disebut j*l*ng." Kata Megan melipat kedua tangannya di dada sembari tersenyum miring ke arah Mercia.
Rasakan kau, siapa suruh melawanku. Sekarang Jef pasti memutuskan hubungan denganmu. Batin Megan tersenyum penuh kemenangan.
King hendak bangkit, tetapi Mercia langsung menahannya. "Gak usah, Om. Kita gak perlu ladenin ucapan orang gila. Kalau kita ladenin, kita sama gilanya kayak dia." Ujar Mercia menggunakan bahasa Indonesia sehingga Megan tak memahaminya.
Mercia melirik Jef yang tengah menatapnya tajam. Mata Mercia pun mendelik seolah bicara pada lelaki itu.
"Apa yang akan kau lakukan huh?" Itulah arti dari tatapan Mercia sesungguhnya.
Wanita itu mengerutkan dahi. "Apa yang dia katakan?" Bisiknya pada Jef.
"Lupakan." Sahut Jef bertemu tatap dengan King. Sang Paman tersenyum tipis kepadanya. Jef pun langsung meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Megan and the geng.
Cih, dasar sok jual mahal. Batin King menggeleng pelan. Lalu ditatapnya Mercia yang masih asik mengunyah.
"Kau tidak cemburu?"
Mercia pun menatapnya agak lama. Lalu mengedikkan kedua bahunya. "Entah."
King mengerutkan dahi. "Apa yang kau rasakan saat melihatnya bersama wanita lain?"
"Em...." Mercia tampak berpikir. "Agak kesel sih, tapi gak terlalu. Mungkin aku masih kesel karena tadi dia ninggalin aku gitu aja. Padahal aku duel sama si Nenek lampir juga buat dia. Eh, dianya malah ninggalin aku sendirian. Untung ada Om, kan?"
King tersenyum mendengar ocehan gadis itu. "Karena saya pasti selalu ada buat kamu, Mercia."
Mendengar King menyebut namanya dengan benar wajah Mercia pun berseri. Bahkan mengabaikan apa makna yang King siratkan dalam ucapannya. "Yey, akhirnya Om nyebut nama aku dengan benar. Biasanya kan Om manggil aku Merica. Ngeselin tahu, padahal Papa motong kambing buat ngasih nama aku."
King menghela napas panjang. Sepertinya ia memang harus lebih bersabar menghadapi ketidak pekaan Mercia. "Jadi kamu lebih senang saya panggil Merica ya?"
"Eh, mana ada? Aku tuh lebih senang kalau Om mau manggil aku Cia aja. Gak perlu Mercia, tar salah sebut lagi. Kan gak asik." Ocehnya lagi.
King pun tersenyum sambil manggut-manggut. "Ok, Cia aja."
__ADS_1
Mata Mercia melotot. "Ih... gak pake Cia aja. Cuma Cia." Tuturnya.
King semakin mengembangkan senyumannya. Membuat jantung Mercia mendadak disko.
Duh, si Om kok malah senyum sih. Bikin jantungku nari-nari aja. Tapi... kok makin hari si Om makin ganteng aja ya? Apa aku yang terlalu mendambakan sosok cowok tampan kayak dia ya? Tanpa sadar Mercia bicara dalam hati sambil memperhatikan wajah King.
Dan yang dipandang pun jadi salah tingkah sendiri. King pun berdeham kecil, membuat Mercia terhenyak.
"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajah saya?" Tanya King memastikan apa yang sedang dipikikan gadis itu.
"Enggak kok, Om ganteng banget malah." Jawabnya spontan, tetapi detik berikutnya ia terkejut sendiri dan langsung menutup mulutnya. Bisa dipastikan pipinya merah seperti tomat.
King tersenyum senang. "Jadi saya ganteng ya?"
Mercia tersenyum kikuk dan tidak menjawabnya. Karena malu ia pun kembali melahap sisa kentang gorengnya sambil mencuri pandang ke arah King. King yang merasa tingkah Mercia cukup menggemaskan pun cuma bisa tersenyum geli.
****
Jessy menghampiri Jef yang sejak tadi terus termenung sembari bersandar di pagar besi, menatap lautan lepas. Padahal cuaca cukup panas saat ini.
Gadis itu menyentuh pundak Jef. Spontan lelaki itu menoleh ke arahnya. Jessy tersenyum dan ikut bersandar di sana. "Why?"
Jef menggeleng. "Hanya menikmati suasana."
Jef mendengus sebal, lalu menarik napas panjang.
Jessy memiringkan tubuhnya. "Dengar, Jef. Kau harus mengatakan kepadanya jika kau memiliki perasaan yang sama. Aku perhatikan Pamanmu itu juga semakin menunjukkan jika dia menginginkan Mercia. Apa kau tidak takut gadis itu berpindah hati?"
Jef menoleh yang diiringi dengan senyuman getir. "Sejak awal hatinya bukan untukku."
Dahi Jessy mengerut. "Maksudmu?"
Jef berdecak kecil. "Sebaiknya kau masuk, di sini sangat panas."
Jessy menghela napas kasar, lalu menatap Jef tajam. "Kau ini sebenarnya kenapa sih? Kau menyukainya, tapi sok jual mahal. Bisa-bisa aku juga muak melihatmu yang pecundang seperti ini, Jef. Bahkan kau membuat Cia membenciku karena berpikir aku kekasihmu. Kau itu laki-laki, perjuangkan cintamu. Bukan menghindar seperti ini. Meski dia tidak mencintiamu sekali pun, setidaknya tunjukkan usahamu." Kesalnya karena sifat gengsi Jef yang terlalu tinggi.
Di saat bersamaan, Mercia dan King pun melewati tempat itu, tetapi tak disadari keduanya karena posisi mereka menghadap laut lepas. Mercia yang pensaran pun menghentikan langkahnya dan menunggu jawaban lelaki itu.
"Aku tidak pernah menyukai anak haram sepertinya. Kau tahu sendiri kan? Aku tak suka wanita agresif, bahkan kau lihat pakaian yang dia pakai sehari-hari. Dia lebih mirip wanita penghibur." Jawab Jef yang langsung membuat Mercia lemas. Bukan karena pengakuan lelaki itu, melainkan hinaan yang lelaki itu tujukan untuknya. Mercia tidak pernah merasa direndahkan seperti ini oleh seseorang meski ia tahu statusnya itu. Tapi Jef, membuatnya kembali tersadar jika dirinya hanyalah anak diluar nikah. Tentu saja semua lelaki akan mampertimbangkan statusnya itu.
Bukan hanya Mercia, King juga kaget dengan perkataan keponakannya itu. Spontan ia pun langsung melihat ke arah Mercia yang ternyata sudah menitikan air mata.
__ADS_1
King mengepalkan kedua tangannya dan langsung menghampiri keponakannya itu, lalu menariknya dan menghadiahi sebuah tinjuan yang lumayan keras. Alhasil pemuda itu terjungkal ke lantai.
Jessy yang melihat itu memekik kaget. Lalu tak sengaja melihat Mercia yang masih berdiri di posisinya sambil menangis. Jessy mengutuk dirinya sendiri karena dialah penyebab Jef bicara asal. Jika seperti ini hubungan mereka tak akan membaik, justru akan semakin renggang. Lagipula Jef juga salah, kenapa mulutnya itu sangat pedas.
Jef menoleh ke arah Mercia sekilas, lalu memejamkan matanya sejenak dan menggeram kesal. Ia benar-benar menyesal karena sudah bicara sembarangan. Tanpa memikirkan dampaknya sejak awal.
King menarik baju Jef dengan kasar. Lalu memberikan tatapan nyalang. "Brengsek! Jika kau tak menginginkannya, kau tidak perlu menghinanya. Sialan! Apa kau pernah berpikir, bagaimana jika orang lain mendengar perkataanmu, hah? Semuanya akan kacau karena keluar dari mulut busukmu. Aku menyesal karena memiliki keponakan sepertimu." Setelah mengatakan hal itu King langsung mendorong Jef dengan kasar. Kemudian kembali pada Mercia.
"Ayo, kita pergi dari sini." Ajaknya dan langsung membawa Mercia pergi dari sana.
"Arghhh!" Teriak Jef frustrasi dengan wajah mengarah ke langit. Ia benar-benar mengutuk dirinya sendiri.
"Jef, Sorry." Ucap Jessy merasa bersalah. Tetapi Jef masih di posisinya, terbaring di sana dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
"Om." Panggil Mercia menahan langkahnya dan melepaskan tangannya dari King. Sontak King pun menahan langkahnya dan berbalik.
Mercia menatap lelaki itu sendu. "Sebaiknya Om juga jauhin aku, aku kan menjijikan. Bahkan Jef juga bilang aku ini mirip wanita penghibur." Ia memeluk dirinya sendiri sambil menunduk.
King menghela napas, lalu mengikis jarak di antara mereka. Menarik dagu gadis itu agar bisa melihat dengan jelas kesedihan di matanya. "Sebaiknya kita pulang ya?" Ajaknya seraya menyeka air mata Mercia dengan lembut.
Mercia sedikit mendongak, menatap lelaki tinggi itu dengan sedih. "Kenapa Om masih mau temenan sama aku? Padahal Om tahu aku ini anak...."
King langsung menutup mulut gadis itu dengan jarinya. "Cukup. Saya gak mau dengar apa pun. Kita pulang. Saya akan meminta helikoter untuk jemput kita di sini."
Mercia terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Tapi barang aku gak tau Jef taruh di mana."
"Itu gampang, saya akan mengurusnya."
Mercia tersenyum tipis. "Makasih, Om. Selalu ada buat aku."
King mengusap sisa air mata di pipi gadis itu. "Jangan menangis, air mata ini lebih berharga dari pada perkataan sembrono orang-orang. Saya tidak peduli siapa kamu, Cia. Saya akan tetap terima kamu apa adanya."
Mercia tersenyum lagi di antara rasa sedih dan lucu. "Om kayak lagi ngelamar aku aja."
King menatapnya serius. "Gimana kalau saya beneran mau lamar kamu?"
Seketika Mercia bungkam, menatapa wajah tampan itu begitu dalam.
Bersambung....
Cieh di gantung...
__ADS_1
Wajib follow ig aku ya kalau mau ceritanya lanjut hari ini juga. Ig aku @desihnurani324, awas aja kalau gak follow 🤣