Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Suami saya itu, jangan ganjen!


__ADS_3

Faizah terus mondar-mandir di depan pintu rumah, menunggu Juna yang tak kunjung kembali. Langit sudah hampir gelap, tetapi suaminya belum menampakkan diri. Terlihat jelas kecemasan di wajahnya. Ia takut ucapan Juna beberapa jam lalu tidaklah bohong.


"Ck, awas aja kalau beneran cari cewek lain. Gak bakal aku maafin. Awas aja pokoknya." Kesalnya masih setia mondar-mandir tak jelas di sana. "Kemana sih tu orang? Bikin hati gak tenang aja. Dihubungin gak bisa."


Faizah pun terus menggerutu sangking kesalnya. Tidak lama mobil milik Juna pun memasuki pekarangan rumah. Seketika Faizah pun mendekati mobil Juna, melipat kedua tangannya di dada. Menunggu suaminya itu turun.


Juna yang baru keluar dari mobil pun menatap sang istri heran. "Ngapain kamu di situ?"


"Pake nanya lagi. Nungguin kamu lah, dari mana aja sih? Dari tadi aku tuh khawatir tahu."


Juna tersenyum miring. "Khawatir soal apa? Takut saya cari istri baru?"


Faizah mendengus sebal. "Beneran gak cari istri baru kan?"


Juna menarik napas panjang. "Punya satu istri aja ribet, gimana kalau nambah? Saya masih mau waras." Sahutnya berlalu melewati Faizah.


"Eh! Kok akunya ditinggalin sih?" Cepat-cepat Faizah pun mengekori suaminya. "Mas, beneran gak nyari istri baru kan?" Tanyanya lagi.


Juna duduk di sofa, yang diikuti oleh Faizah. "Kayaknya kamu semangat banget saya cari istri baru? Pengen?"


"Ya enggak lah. Enak aja." Ketus Faizah dengan bibir manyun.


Juna tersenyum. "Saya dari kantor, ada keperluan tadi."


Faizah mantap Juna, detik berikutnya ia langsung memeluk Juna. "Jangan ngomong lagi mau cari istri baru, aku tuh takut kamu benerah cari yang baru. Walaupun aku jelek, tapi aku punya hati."


Juna tertawa geli mendengar pernyataan istrinya. "Sadar diri juga kalau kamu itu jelek."


Faizah memukul dada Juna. "Jadi aku jelek ya?"


Juna tersenyum geli. "Dikit."


Faizah berdecak kesal. "Biarin aja deh jelek juga, yang penting kamu cinta sama aku."


"Hm." Juna mengusap perut buncit istrinya. Lalu dikecupnya pucuk kepala Faizah dengan lembut. Faizah yang merasa diperlakukan mesra pun tersenyum bahagia.


"Tahu gak, Mas? Katanya kalau suami sering buat istri bahagia, rezekinya lancar terus."


Juna tersenyum kecil. "Memangnya selama ini kamu gak bahagia huh?"


Faizah mendongak, hingga pandangan keduanya saling mengunci satu sama lain. "Bahagia. Cuma kadang kamu bikin aku tertekan." Jujurnya.


Alis Juna menaut. "Tertekan?"


Faizah mengangguk. "Aku tuh suka tertekan cuma karena mikirin perasaan kamu doang. Cinta apa enggak ya sama aku? Tapi sekarang enggak lagi kok, kan kamu udah bilang cinta."


Juna tersenyum geli. "Cuma karena itu kamu tertekan?"


Faizah mengangguk lagi. "Abis kamu kelamaan bilangnya. Sampe aku kepikiran gini, apa mungkin kamu masih berharap sama Queen ya? Atau punya pacar lain di luar sana?"


Juna menyentil kening istrinya pelan. "Kepala kamu ini harus dicuci, biar gak mikir kotor terus."


"Ck, salah kamu lama banget cintanya. Aku kan udah nunggu dari kemaren-kemaren. Hari ini baru ngomong. Gimana aku gak tertekan coba? Setelah semua perhatian dan cinta yang aku kasih. Masa sih kamu gak cinta juga sama aku. Kan bikin kesel." Faizah mengeluarkan jurus andalannya. Mengomel panjang lebar. Namun, semua itu justru terlihat menggemaskan di mata Juna. Sepertinya lelaki itu mulai bucin akut.


Juna tersenyum tipis. "Gak semudah itu melupakan masa lalu, Izah."


Seketika wajah Faizah berubah masam. "Jadi kamu masih suka sama Queen?"


"Menurut kamu?" Juna balik bertanya.

__ADS_1


"Ihhh... kok malah balik nanya sih? Aku mana tahu perasaan kamu, Mas. Emang aku canayang bisa tahu isi hati orang." Kesal Faizah.


"Gadis konyol." Juna menoel hidung mancung Faizah.


"Ihhh... kok gadis sih? Aku kan udah gak gadis lagi, kamu juga yang ambil kegadisan aku. Lupa ya? Huh, dasar pikun." Protes Faizah.


"Jangan salahin saya dong. Kamu yang serahin diri, pasrah pula tuh. Siapa juga yang tahan anggurin santapan lezat." Juna tersenyum miring.


Seketika wajah Faizah pun merona saat mengingat kejadian dulu. Mengingat hal itu, ia hadi malu sendiri. "Ih... sok jual mahal. Gak tahunya nikmatin juga. Mas, udah ah jangan bahas itu. Bahas yang lain aja deh, malu ih."


"Kamu yang mancing." Jawab Juna tanpa rasa bersalah.


"Ck, gak mau ngalah banget sama istri."


Juna tersenyum sembari memandangi wajah cantik sang istri.


"Oh iya, Mas." Faizah mengalungkan kedua tangannya di leher Juna. Kemudian tersenyum penuh arti.


"Apa?" Tanya Juna penuh curiga. Ia merasa ada aura tak enak lagi dari sang istri.


Minta apa lagi kali ini?


"Pengen tahu gejrot," rengeknya begitu manja.


Juna yang mendengar itu menghela napas lega. Ia pikir Faizah akan meminta hal aneh lagi. Juna trauma akan hal itu, bagaimana tidak. Faizah pernah meminta Juna joget ngebor, padahal saat itu malam sudah larut dan dirinya sangat mengantuk. Beruntung saat itu dirinya tak diminta joget di depan banyak orang. Bisa turun harga dirinya saat itu juga jika hal itu benar terjadi. Bukan hanya itu saja, Faizah juga pernah menangis di mall hanya karena tak dibelikan mainan yang menurutnya sangat lucu. Padahal menurut Juna itu tak lucu sama sekali. Sejak saat itu Juna selalu waswas jika sang istri meminta sesuatu.


"Tapi...."


Seketika tubuh Juna menegang, menunggu kelanjutan istrinya.


Ya Tuhan, jangan sampai dia minta hal aneh lagi. Mohonnya dalam hati.


Juna berdecak sebal. "Berhenti mengejekku. Apa yang kamu mau huh?"


Faizah terkekeh lucu. "Gampang kok, aku cuma mau Mas yang ulek cabenya. Terus Mas bantu si Masnya jualan. Pasti Mas lucu deh jadi Kang tahu gejrot." Ujarnya sambil tersenyum sendiri. Ia sudah membayangkan selucu apa jika Juna ikut jualan nantinya. Seorang lelaki dingin seperti Juna jualan? Oh ayolah, sepertinya para pelanggan akan lari. Membayangkan hal itu, Faizah pun tertawa.


"Gak lucu." Ketus Juna merubah posisinya menghadap ke depan.


Faizah berhenti tertawa, lalu diraihnya tangan Juna dengan kasar. "Mas... please. Mau ya? Ini pengennya dedek bayi loh."


Juna menoleh, tetapi tatapannya kali ini sama sekali tak bersahabat. "Saya rasa hal kayak gini bukan maunya bayi, tapi kamu kan?"


Faizah langsung menggeleng. "Enggak, Mas. Memang maunya debay kok. Hiks... mau ya? Pengen banget liat kamu jualan. Mau ya? Please...." mohon Faizah memasang wajah memelas.


Juna menggeleng.


Faizah merapatkan diri pada Juna. "Mas mau ya anak kita ileran?"


"Biarin aja, wajar anak kecil ileran. Lagian jam segini mana ada lagi orang jualan tahu gejrot." Ketus Juna memalingkan wajahnya dari sang istri.


"Ada kok, aku tahu tempatnya di mana. Udah langanan soalnya." Sahut Faizah begitu antusias.


Juna menatap Faizah tajam. "Saya rasa semua tempat jadi langganan kamu. Makin curiga, kayaknya kamu bukan ngidam. Tapi mau ngerjain saya kan?"


Cepat-cepat Faizah menggeleng. "Sama sekali gak bohong. Tiba-tiba aja kepengen, Mas. Kalau mau ngerjain kamu, udah sedari dulu kali, Mas."


Juna yang mendengar itu tampan berpikir, ditatapnya wajah Faizah dengan seksama. Wanita itu memasang wajah memelas andalannya, membuat Juna merasa tak tega. Kemudian Juna pun menarik napas panjang, lalu membuangnya kasar. "Ya udah."


"Ya udah apa?" Tanya Faizah dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


"Saya mau." Jawab Juna malas. Sontak Faizah pun memekik kegirangan dan langsung memeluk Juna.


"Makasih ya, Mas. Kamu itu suami terbaik deh. Makin cinta pokoknya. Sini aku kasih hadiah." Faizah memberikan banyak kecupan di wajah Juna. Tentu saja Juna menyukainya dan tersenyum. Apa lagi melihat kebahagian diwajah sang istri, hatinya ikut merasakan kebahagian itu.


Kini sepasang suami istri itu sudah stand by di tempat penjual tahu gejrot. Di mana Juna sedang sibuk meracik sambal untuk sang istri.


"Mas, cabenya lima puluh ya." Pinta Faizah. Sontak Juna pun memelototinya.


"Nope. Satu aja udah cukup." Tolak Juna.


Faizah pun memasang wajah sedih. "Tiga puluh deh."


"Satu." Tegas Juna.


"Dua lima." Tawar Faizah.


"Satu."


"Lima belas deh." Faizah masih tak mau kalah.


Sang penjual yang melihat perdebatan keduanya pun cuma bisa menggeleng. Yang jelas malam ini ia merasa senang, uang sudah ia kantongi karena Juna memborong semuanya. Lelaki itu berniat untuk membagikannya pada yang mau.


"Jangan debat, kalau saya bilang satu ya satu. Istri itu harus nurut apa kata suami." Telak Juna yang berhasil membuat Faizah mengalah.


"Ck, ya udah kali ini aku ngalah. Tapi...." Faizah sengaja menggantung kalimatnya bersamaan dengan senyuman anehnya.


Juna langsung memandang istrinya, curiga. "Apa lagi?"


Seketika Faizah langsung berteriak. "Semuanya, ayo merapat. Malam ini tahunya gratis. Penjualnya juga ganteng kayak sekuteng. Walaupun tua, tapi tampannya gak kalah sama yang muda. Ayo ayo merapat. Tahu gejrotnya dijamin gurih-gurih maknyus." Spontan Juna terperangah dengan keberanian istrinya itu.


Mendengar kata gratis, beberapa orang yang lewat pun mulai mendekat. Beberapa wanita muda saling berbisik dan senyum-senyum saat melihat Juna. Siapa yang tidak tertarik dengan ketampanan lelaki itu sih? Faizah saja rela menjatuhkan harga dirinya hanya untuk mendapat bibit unggul lelaki itu.


"Duh... beneran tampan ya penjualnya? Kok baru tahu sih? Kalau tahu gini dari kemaren udah nongkrong di sini." Bisik salah satu dari mereka yang bisa Faizah tangkap. Ia tersenyum geli mendengar itu.


"Heem, aku jugak gak nyangka kalau yang jual seganteng itu. Boleh gak ya minta nomornya. Mana tahu jodoh, ganteng banget soalnya."


"Hus... gimana kalau udah punya istri?"


"Rela walaupun jadi yang kedua atau ketiga." Sahut wanita muda lainnya dibarengi cekikikan kecil.


Seketika senyuman diwajah Faizah pun memudar. Kemudian ia berdeham kencang, membuat para gadis itu menoleh padanya. "Suami saya itu, jangan ganjen!"


Juna yang sedang fokus mengulek pun langsung menoleh kala mendengar ucapan sang istri.


"Lah, ini istrinya?" Bisik mereka memandang Faizah remeh. Soalnya saat itu Faizah hanya mengenakan baju tidur bermotif bebek.


"Iya! Saya istrinya, kenapa? Iri? Bilang dong." Ketus Faizah.


"Sayang." Tegur Juna yang langsung menghentikan kegiatannya dan mendatangi sang istri yang sepertinya sudah terpancing emosi. "Maaf ya, Mbak. Istri saya lagi hamil. Moodnya sering berubah."


"Mas, gak usah minta maaf. Aku udah gak mood. Ayo pulang." Tanpa aba, Faizah langsung menyeret Juna pergi dari sana.


"Ngeselin." Gerutu Faizah dengan raut wajah kesalnya ketika sudah berada di mobil. Juna yang melihat itu tersenyum geli.


"Kok marah sih? Kamu yang mau kan?"


Faizah menoleh dengan tatapan tak bersahabatnya. Juna yang melihat aura tak enak pun bergegas mengemudikan mobilnya. Sepertinya rumah adalah tempat yang cocok untuk menenangkan istri tengilnya itu.


Aneh, dia yang mau. Kenapa kesannya aku yang salah ya? Juna menghela napas beberapa kali. Sedangkan Faizah masih memasang wajah kesalnya. Ternyata benar, mood bumil tak ada yang bisa menebak.

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2