Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Duka


__ADS_3

Gumpalan awan hitam kini tengah menyelimuti langit ibu kota. Seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam. Rintik demi rintik air terus berjatuhan menembus gundukan tanah yang masih merah. Di sana pula berdiri seorang wanita berpakaian serba hitam bersama seorang laki-laki di sisinya. Ya, hanya tersisa mereka berdua saat ini.


"Sebaiknya kita kembali, Re." Ajak Regan menyentuh lengan Rea. "Ini sudah cukup."


Rea menatap nanar ke arah gundukan tanah merah yang masih tampak basah itu. Kaca mata hitam yang bertengger indah di hidungnya ia lepas perlahan.


"Rasanya aku masih belum percaya dia meninggalkan kita, Reg. Ini seperti mimpi. Bahkan aku belum mengenalnya lebih jauh."


Regan merengkuh pundak Rea erat. "Tuhan lebih menyayanginya. Kita tidak bisa lari dari kematian."


"Hm."


"Sebaiknya kita pulang. Tidak baik kau terus berdiri di sini." Ajak Regan.


Rea terdiam beberapa saat, menatap batu nisan itu sendu. Sebelum pergi, ia berjongkok, lalu menaburkan bunga terakhir di sana. "Aku harus pulang, maaf atas sikapku selama ini."


Rea pun bangkit kembali, dan melangkah pasti meninggalkan area pemakaman. Sedangkan Regan masih setia mengekorinya.


"Bawa aku ke markas." Pinta Rea dengan nada dingin nyaris tak berekspresi. Sang sopir pun mengangguk patuh. Mobil hitam mewah itu pun melaju cepat meninggalkan pemakaman.


Sesampainya di tempat tujuan, Rea memasuki sebuah gedung bernuansa hitam. Ruangan yang dipenuhi lorong gelap dengan beberapa pintu. Mereka pun memasuki sebuah ruangan paling ujung. Regan sempat kaget melihat kondisi ruangan itu karena ini pertama kali Rea membawanya ke sana. Matanya ikut menyipit saat melihat bayangan seseorang yang tak begitu jelas. Benar, itu seorang wanita. Siapa dia?


Dengan langkah santai Rea mendekati seorang wanita yang terikat erat di kursi besi. Wanita itu tertunduk lesu dengan rambut semraut. Rea tersenyum puas, lalu merogoh saku gaunnya dan mengeluarkan sebuah sarung tangan. Kemudian memakainya dengan gaya sensual.


"Bagaimana perasaanmu setelah bermalam di sini?" Tanya Rea menarik dagu wanita itu. Sontak sang wanita pun langsung berontak. Minimnya penerangan membuat sang wanita sulit mengenali wajah Rea.


"Sialan! Lepaskan aku."


Rea tertawa sumbang. Ia menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Melipat kedua tangannya di dada. "Hidupkan lampu."


Tidak butuh waktu lama ruangan itu pun tampak terang. Wanita yang tersandra pun mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya. Sontak ia pun terperanjat kaget saat melihat Rea duduk di hadapannya. "Rea?"


Rea tersenyum miring. "Bagaimana perasaanmu, sepupuku?"


"Rea, apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyandraku?"


Rea bertepuk tangan. Setelah itu ia memasang wajah dingin dan datar.


"Aku akui kau memang pintar bermain drama, menggunakan kisah hidupku agar aku terperangkap. Aku tersentuh saat kau mengatakan perjalan cintamu, huh... aku benar-benar terpengaruh. Kau hebat. Terima kasih karena menjadikan hidupku sebagai motovasi untuk rencanamu."

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Aku tidak tahu apa-apa." Abel mamasang wajah polos seperti biasanya.


"Ups... aku lupa kau Kakakku yang paling polos dan baik hati. Kau tidak tahu apa-apa ya? Maafkan aku karena salah menjebakmu. Pertama-tama, aku mengizinkanmu masuk ke rumahku. Membiarkanmu menggoda suamiku. Apa kau tahu? Aku berbohong soal suamiku yang menyukai wanita berpakaian seksi. Ya, dia memang menyukainya, tapi wanita seksi itu hanya aku. Kau harus tahu itu. Dia sama sekali tidak tertarik padamu. Anggap saja itu salah satu jebakan manis untuk sepupu polos sepertimu." Lagi-lagi Rea tersenyum sinis.


Abel sempat kaget mendengarnya.


"Sejak awal aku tahu siapa dirimu, Abel. Tatapan, caramu bicara, makan, melangkah atau bahkan tidur. Aku sudah bisa membaca siapa kau sebebarnya. Wanita ular." Rea menajamkan tatapannya.


"Hanya saja aku ingin memastikan lebih jelas, karena itu aku membawamu ke rumah. Agar aku lebih leluasa mengawasimu."


"Dasar j*l*ng. Aku akan membunuhmu." Abel terkejut sendiri karena ucapannya. Ia terlalu emosi sampai kelepasan.


Lagi-lagi Rea tertawa sumbang. "Aku senang melihat wajahmu seperti itu. Kau sangat menggemaskan."


Abel tertawa frustasi. "Aku tidak akan menutupi apa pun lagi darimu, Rea. Aku sangat membencimu! Kau merebut semua kasih sayang Kakek dan Nenek dariku, bahkan mereka menyerahkan semua harta warisan itu padamu. Aku benci saat kau tertawa dan tersenyum bahagia. Apa yang kau inginkan pasti kau dapat, sedangkan aku harus bersusah payah hanya untuk mendapat apa yang aku inginkan."


"Salahkan saja pada nasib burukmu. Lagi pula Kakek dan Nenek tidak akan mengurangi rasa kasih sayangnya jika kau bersikap baik. Kau hanya bisa mempermalukan keluarga. Jangan kau pikir aku tidak tahu setiap hari kau membawa lelaki ke rumah demi selembar uang huh?"


Abel mengeratkan rahang.


"Hanya karena harta warisan kau memusuhiku huh? Bahkan kau berencana meracuniku?"


Lagi-lagi Abel tersentak kaget. Beberapa hari yang lalu Abel memang sempat berniat meracuni Rea karena ingin membalas dendam pada kliennya yang sudah menyakiti Zain. Namun rencananya itu gagal karena ulah Bik Ade. Ah, asistennya yang satu itu memang bisa diandalkan.


"Ya, aku memang sengaja ingin membunuhmu. Supaya aku bisa menikamati semua harta, bahkan suamimu sekaligus." Ujar Abel begitu percaya diri.


Dan itu benar-benar menghibur Rea. "Percaya diri sekali. Meski aku mati sekali pun, suamiku tidak akan pernah melirikmu. Seperti yang aku katakan, suamiku itu pemilih. Dia suka yang cantik dan seksi. Apa kau merasa cantik dan seksi?"


Abel menggeram kesal mendengar ledekan sepupunya itu. Setelah itu ia pun tertawa kencang. "Akan aku pastikan kau menyesal karena menyakitiku, Rea. Kau kira aku melakukan semua ini sendirian? Jika Nenek dan Kakek tahu apa yang kau lalukan padaku, mereka akan murka padamu."


Rea tersenyum miring. "Itu gampang, aku bisa melemparmu dari atas gedung tinggi malam ini. Lalu besoknya akan ada berita panas, seorang wanita melakukan bunuh diri dikarenakan frustasi berat. Bahkan aku bisa melibatkan Ibumu dalam kasus ini. Kita lihat, apa dia masih berani memaki Mamiku atau memohon sambil mengemis."


"Dasar j*l*ng!" Kesal Abel.


Regan bedeham kecil, ia masih tidak percaya jika sahabatnya itu benar-benar seorang pemberani. Ternyata selama ini ia tidak mengenalnya dengan baik. Seulas senyuman terbit dibibirnya.


Wajah Rea pun seketika berubah dingin. "Seharusnya kau berkaca siapa yang j*l*ng. Jangan beri dia makan dan minum, biarkan dia memohon dan mengemis." Sinisnya seraya bangkit dari sana. Lalu sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah sang sepupu.


"Akan aku pastikan kau menyesal karena sudah berani mengganggu rumah tanggaku. Orang baik bukan berati lemah, tapi mereka akan berubah menjadi seorang monster saat seseorang mengusik ketenangannya. Aku masih memberikan waktu untukmu bernapas. Jadi nikmatilah."

__ADS_1


Rea hendak pergi dari sana, tetapi perkataan Abel kembali manahan langkahnya.


"Jangan senang dulu, seseorang sedang mengincar kematian suamimu. Akan aku pastikan kau meraung karena kehilangannya."


Rea berbalik, melayangkan sebuah tatapan membunuh. "Akan aku pastikan dia yang lebih dulu menjemput nyawanya. Termasuk dirimu."


Dengan langkah lebar Rea meninggalkan ruangan pengap itu. Diikuti oleh Regan yang masih terkaget-kaget oleh kejutan yang Rea berikan.


****


Sesampainya di rumah, Rea langsung bergegas menuju kamar. Saat memasuki kamar, ia disambut senyuman menawan dari sang suami. Rea pun membalas senyuman itu.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Zain yang masih setia bersandar di kepala ranjang. Sejak keluar dari rumah sakit Zain memang tidak diperbolehkan terlalu banyak bergerak karena masih dalam proses pemulihan. Bahkan ia harus bekerja di atas kasur.


Rea duduk di tepi ranjang. "Aku masih sedih, tidak menyangka kan Zee meninggalkan kita? Baru kemarin dia menghubungiku dan memberi kabar baik jika dirinya tengah hamil. Bahkan kami sudah membuat rencana untuk dinner malam ini. Sekarang dia sudah pergi untuk selamanya."


Zee mengalami kecelakaan tunggal yang berhasil merenggut nyawanya. Dan kejadian itu terjadi malam tadi. Kabar itu tentu saja membuat heboh dunia maya. Kabar duka yang cukup menggemparkan.


Zain meraih tangan Rea lembut. "Tidak ada yang tahu usia seseorang, sayang. Aku juga termasuk beruntung karena masih bisa melihatmu."


Rea memeluk Zain dengan lembut karena tak ingin menyakitinya. "Jangan katakan itu, aku takut kehilanganmu. Mulai sekarang aku akan melindungimu."


Zain tertawa renyah. "Bagaimana caramu melindungiku huh? Lecet sedikit saja kau menangis."


Rea mengecup pundak Zain yang tak terhalang sehelai benangpun karena lelaki itu bertelanjang dada. "Itu beda, untukmu aku rela melakukan apa pun. Aku mencintaimu."


Zain tersenyum seraya mengusap punggung sang istri. "Jangan melakukan hal bodoh. Aku tidak suka kau membahayakan diri sendiri. Berjanjilah."


Rea terdiam sejenak. Lalu mengangguk pelan.


"Sana mandi, kau sangat bau."


Rea yang mendengar itu cepat-cepat menarik diri dari dekapan sang suami. Lalu mengendus tubuhnya sendiri. "Tidak bau."


Zain tertawa renyah. "Aku hanya bercanda, bersihkan dirimu dan istirahatlah. Aku tahu kau lelah."


Rea tersenyum tipis. "I love you."


"Aku tidak akan membalasnya sebelum kau menciumku."

__ADS_1


Merasa geram. Rea pun mengecup bibir suaminya sekilas. Setelah itu ia pun beranjak menuju kamar mandi. "Aku akan menagihnya nanti."


Zain menggeleng pelan, tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya itu. Tidak ada habisnya Rea berbuat ulah. "Aku juga mencintaimu."


__ADS_2