
Hari ini Rea terlihat santai di rumah karena pagi tadi ART yang Zain katakan tiba di rumah. Saat ini Rea berada di kolam renang, sudah hampir satu jam ia renang di sana. Napasnya sedikit tersengal karena lelah. Setelah merasa puas, Rea pun naik. Kemudian meraih handuk yang sengaja ia taruh di kursi santai. Rea terlihat begitu seksi karena ia mengenakan bikini. Perutnya yang ramping terlihat begitu indah.
Tidak berapa lama seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana mendatangi Rea. Membawa segelas jus. "Ini jusnya, Non."
"Terima kasih, Bik." Ucap Rea menerima jus itu dengan ramah.
"Sama-sama, Nnya. Kalau begitu Bibik ke dapur lagi mau lanjut masak."
"Iya, Bik. Kalau perlu bantuan panggil aku aja ya. Jangan sungkan."
"Baik, Nya. Bibik pamit, permisi." Rea pun mengangguk. Lalu wanita itu pun kembali masuk ke dalam.
Rea duduk di kursi santai sambil menyesap jus kesukaannya. Namun tiba-tiba Rea merindukan suaminya. Rea meraih ponselnya yang ia taruh di meja kecil.
"Sedang apa dia sekarang?" Seketika ide jahil Rea muncul. Ia memotret dirinya sendiri, dan dengan sengaja memperlihatkan dadanya yang sintal. Kemudian mengirim gambar itu pada suaminya.
Di kantor, Zain baru saja keluar dari ruang rapat. Lelaki itu tampak kelelahan, ia menjatuhkan dirinya di kursi empuk yang kini menjadi kebanggaanya. Zain sedikit melonggarkan dasinya. Kemudian kembali mengecek beberapa dokumen penting. Dan perhatiannya pun terbagi saat ponselnya berbunyi.
Zain meraih ponselnya dan melihat siapa gerangan yang mengganggunya. Seketika mata Zain terbelalak saat melihat Rea mengirim gambar seksi padanya. Sebagai lelaki normal, tentu saja tubuhnya langsung merespons. "Sial."
Tidak ingin ambil pusing, Zain langsung melakukan video call. Tidak perlu lama layar ponselnya sudah dipenuhi oleh wajah cantik Rea. "Bagaimana? Apa aku cantik?"
Zain menggeram kesal saat melihat kondisi Rea saat itu. Baginya itu sangat seksi. "Jangan menggodaku, Re. Aku sedang kerja."
"Aku tidak menggodamu sama sekali. Hanya ingin pamer jika aku sedang renang. Kau sedang apa? Masih sibuk?"
"Ya, tapi kau mengganggu kosentrasiku." Kesal Zain. Rea pun tertawa puas.
"Aku rindu." Ucap Rea jujur. Zain tersenyum simpul.
"Sepertinya malam ini aku pulang terlambat, besok kita harus menghadiri konferensi pers. Asistenku sudah mengurus semuanya. Kau siap?"
Rea mengangguk pelan. "Bagaimana denganmu?
"Entahlah."
"Ada apa? Kau ragu? Kalau begitu batalkan saja. Aku tidak akan memaksa. Tapi luruskan semua scandal yang sudah tersebar. Kau tahu? Hampir semua media sosialku dikroyok netizen. Mereka mengataiku wanita perebut. Padahal aku istrimu. Entah kemana otak mereka?" Kesal Rea. Benar, sejak malam tadi Rea terus mendapat teror dari para netizen dan heaternya. Mereka mengatainya perebut pacar orang. Bahkan ada yang mengatainya wanita murahan. Beruntung Rea sudah terbiasa dengan hujatan mereka dan sama sekali tak menggubrisnya.
"Besok semuanya akan baik-baik saja." Ujar Zain. Rea pun mengangguk.
"Kak, aku ingin makan coklat. Titip ya? Hari ini aku malas keluar."
"Bukanya kau sedang diet?"
"Ya, tapi kan sesakali makan coklat tidak apa-apa. Boleh ya?"
Zain menghela napas panjang. "Baiklah, nanti aku beli."
"Thank you, honey. Love you."
"Ya, cepat ganti pakaianmu. Nanti masuk angin." Perintah Zain mulai tak tahan dengan penampilan istrinya.
"Sedang dalam posisi enak. Sebentar lagi." Sahut Rea dengan santai.
"Re, aku tidak mau kau sakit. Ganti sekarang."
"Baiklah, tapi jangan dimatikan. Temani aku berganti pakaian." Pinta Rea.
__ADS_1
"Aku sibuk, Re."
"Sebentar saja. Lima menit." Tawar Rea seraya bangkit dari posisinya. Lalu meraih handuk dan melilitkan ditubuhnya, kemudian bergegas menuju kamar.
Sesampainya di kamar, Rea meletakkan ponselnya di atas meja dengan kamera tertuju padanya. Ia tersenyum jahil, melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Zain mengumpat kesal dalam hati. Bisa-bisa ia khilaf dan pulang sekarang jika melihat Rea seperti itu.
"Kau sengaja?"
"Ya, supaya kau cepat pulang. Apa aku terlihat seksi?" Rea tersenyum nakal.
"Cepat pakai pakaianmu, Re."
Rea tertawa riang, ia membuka lemari dan mengambil sweater kebesarannya. Ia pun bergegas mengganti pakaian. Kemudian beranjak menuju pembaringan. Menjatuhkan dirinya di sana.
"Sayang, kau tidak merindukanku?" Tanya Rea dengan nada manja.
"Tidak." Jawab Zain yang kembali memokuskan perhatian pada layar komputer. Rea menyebikkan bibirnya.
"Huh, aku merasa jadi istri yang tak dirindukan. Sedih sekali." Keluh Rea yang berhasil menarik perhatian suaminya. "Sepertinya aku harus mencari pacar baru, supaya ada yang merindukanku."
"Coba saja jika berani." Ancam Zain dengan tatapan tak bersahabat.
Rea pun tertawa renyah. "Kau cemburu?"
Zain berdecih sebal. "Terserah."
"Cie cemburu." Ledek Rea yang diiringi tawa riang. "Wajahmu memerah, Kak. Aku senang kau cemburu. Itu artinya ada kemungkinan kau mencintaiku."
"Hm."
"Terserah kau saja."
"Okay, aku akan mengatur semuanya."
"Ya."
"Katakan cinta padaku." Pinta Rea. Zain yang mendengar itu langsung menatap Rea heran.
"Ayolah, aku ingin mendengarnya." Rengek Rea.
"Aku tidak mencintaimu." Ucap Zain yang berhasil memudarkan senyuman Rea. Zain tersenyum tipis saat melihat ekspresi lucu istrinya.
"Aku mencintaimu." Imbuh Zain. Seketika wajah Rea pun kembali berbinar.
"Aku juga mencintiamu." Balas Rea.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?" Tanya Rea penasaran.
"Kejutan."
"Ck, katakan sekarang juga. Aku penasaran."
"Itu bukan kejutan namanya." Kesal Zain.
__ADS_1
"Ayolah, kau membuatku penasaran. Tanggung jawab dong."
"Nanti saja di rumah."
"Sekarang." Kekeh Rea.
"Dasar anak kecil. Aku masih kerja, nanti aku hubungi lagi. See you." Tut. Zain memutuskan panggilan sepihak. Dan itu membuat Rea mengerang geram.
"Dasar aneh." Geramnya seraya melempar ponsel ke samping. Kemudian seulas senyuman terbit di bibirnya. "Kejutan apa kira-kira? Aku jadi penasaran."
Karena penasaran dengan kejutan yang akan Zain berikan. Rea sampai rela menunggu suaminya pulang meski rasa kantuk semakin menyerang karena malam semakin larut. Mata Rea sudah terasa berat dan ingin segara tidur, tetapi Zain masih belum pulang.
Tiga puluh menit berlalu, Zain pun pulang. Namun Rea sudah tertidur di sofa sejak beberapa menit yang lalu. Zain tersenyum geli, ia tahu Rea sedang menunggunya. Tak ingin membangunkan istrinya, Zain pun membopong Rea ke kamar. Dan ajaibnya wanita itu sama sekali tidak terbangun.
"Dasar kerbau." Ledek Zain seraya mengecup kening Rea. Zain mengeluarkan sebuah kotak beludru dari dalam saku jasnya. Kemudian menaruhnya di dalam laci. Setelah itu ia pun beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum ikut tidur.
Mendengar suara gemercik air, Rea pun langsung terbangun. Ia terkejut karena dirinya sudah berada di kamar. Namun sedetik kemudian ia tersenyum lebar. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Rea pun beranjak menuju lemari untuk menyiapkan pakaian Zain. Tidak berapa lama Zain pun keluar dari kamar mandi.
"Kenapa bangun?" tanya Zain menatap Rea heran.
Rea memberikan satu set pakaian tidur pada suaminya. "Menunggu kejutan darimu." Bisiknya.
"Tidak ada kejutan, aku sengaja mengerjaimu." Ujar Zain seraya memakai pakainnya.
"Tidak percaya." Rea duduk di tepi ranjang sambil menengadahkan kedua tangannya. "Cepat berikan hadiahku."
"Sudah aku katakan tidak ada hadiah."
"Ayolah, sejak tadi aku menunggunya."
"Aku pikir kau menungguku, ternyata karena hadiah."
"Sekalian, menunggumu dan juga hadiah."
Zain naik ke atas ranjang dan duduk bersandar di sana.
"Di mana hadiahku?" Rea merangkak naik. Lalu duduk di pangkuan suaminya. "Sayang, jangan buat aku penasaran. Di mana hadiahnya?" Wanita itu terus merengek seperti anak kecil.
"Tidak ada hadiah."
"Bohong."
"Cium aku dulu." Pinta Zain sambil menunjuk bibirnya. Dengan cepat Rea mengecup bibir Zain.
"Sudah, sekarang mana hadiahnya?"
"Tidak terasa, lebih lama." Pinta Zain lagi.
Rea berdecak sebal. "Kau harus berjanji setelah ini akan memberikan hadiahnya."
"Ya."
"Janji?"
"Iya bawel."
Rea pun langsung mencium bibir suaminya lumayan lama. Tidak ingin membuang kesempatan, tangan Zain ikut menyelusup masuk ke dalam sweater kebesaran istrinya. Menyentuh beberapa titik sensitif di sana untuk menggodanya. Tanpa sadar Rea mulai mengeluarkan suara d*s*h*n kecil. Dan itu membuat gairah Zain memuncak. Dengan gerak cepat Zain membaringkan Rea.
__ADS_1
"Tunggu, bagaimana dengan hadiah dan coklat titipanku?" Seru Rea menahan dada Zain.
"Ini hadiah dariku." Zain mengecupi setiap inci wajah Rea, kemudian terus turun ke bawah. Dan ujung-ujungnya berakhir dengan pergulatan panas mereka di ranjang. Bahkan Rea melupakan hadiah yang sejak tadi ia tunggu karena Zain memberikan hadiah yang lebih manis dan memabukkan.