Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Honeymoon 2


__ADS_3

Setelah mendapat penolakan dari Rea. Zain kembali mendiamkan istrinya itu. Dan itu membuat Rea semakin ingin mengerjainya. Wanita itu melangkah pasti menuju ranjang. Kemudian dengan sengaja duduk di pangkuan Zain yang tengah sibuk bermain gawai.


"Kau sedang selingkuh?" Tanya Rea merebut ponsel Zain. Kemudian mengambil ikon kamera. Rea mencium pipi Zain dan memotretnya. Ia tersenyum penuh arti.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Zain penasaran karena Rea membajak ponselnya.


"Memberi peringatan pada pelakor." Jawab Rea dengan entengnya. Ya, Rea memang sengaja mengirim foto mesra mereka pada Zee. Anggap saja itu balasan darinya. Belum apa-apa Rea tertawa geli dalam hati. Tak bisa dibayangkan seperti apa ekspresi wajah Zee saat menerima foto itu.


"Berikan ponselku." Pinta Zain hendak merebut ponselnya, tetapi Rea lebih dulu melempar ponsel itu ke ujung ranjang. Kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Zain yang diiringi dengan senyuman jahil.


"Masih marah?" Tanya Rea seraya memberikan kecupan di bibir suaminya. "Aku hanya memberikanmu hukuman kecil karena kau berani selingkuh dariku."


"Itu tidak lucu, Re."


"Aku tidak sedang melucu. Ayo kita lakukan malam ini." Ajaknya.


"Aku sudah tidak mood." Ketus Zain memalingkan wajahnya. Rea pun kembali menyunggingkan senyuman jahil.


"Kau yakin? Padahal aku sedang ingin." Bisik Rea seraya memainkan dada Zain yang masih terhalang kaus. Kemudian sedikit menggerakkan bokongnya. Entah dari mana ia belajar nakal seperti itu?


Zain menatap istrinya tajam. "Berhenti bergerak, Rea."


"Aku tidak bergerak, hanya mencari posisi nyaman." Bisik Rea sedikit mengeluarkan d*s*h*n. Dan itu benar-benar membuat Zain on seketika.


"Siapa yang mengajarimu menjadi nakal seperti ini?" Tanya Zain menatap istrinya penuh tanya. "Bahkan sebelumnya kau tidak bisa berciuman."


"Manusia bisa berubah, aku salah satunya." Sahut Rea kembali mengecupi pipi Zain.


"Berhenti, Re."


"Aku tidak melakukan apa pun. Apa yang harus aku hentikan?" Zain menggeram kesal, ia tahu istrinya itu tengah mempermainkannya lagi. Ia tak akan kalah untuk yang kedua kalinya.


"Jangan salahkan aku jika pagi nanti kau tak bisa bangun dari tempat tidur. Kau membuatku kesal setengah mati."


"Aku tidak takut, ayo lakukan."


"Kau yakin?" Rea pun mengangguk antusias.


"Aku tak akan berhenti di tengah jalan."


"Ya."


Zain membaringkan Rea di atas kasur dan langsung mencumbuinya.


"Kak, aku lupa belum makan malam."


"Tidak ada makan malam. Kau sudah mengganti menunya."


"Tapi...."


"Jangan kau pikir kali ini bisa mengerjaiku lagi. Aku tak akan melepaskanmu sampai pagi." Sela Zain mengukung tubuh Rea dengan rapat. Seketika Rea mendadak takut.


"Jangan terlalu kasar, aku rasa... itu akan sakit."


"Katakan siapa yang mengajarimu?"

__ADS_1


"Tidak ada, aku belajar sendiri." Alibinya.


"Bagaimana caranya?"


"Itu... aku mencari tahu di google bagaimana cara menggoda lelaki di atas ranjang."


"Lalu, kau membaca akibatnya?"


Rea menggeleng pelan.


"Kau akan segera tahu."


"Apa kita akan melakukan itu?"


"Ya, seperti yang kau inginkan. Aku akan memuaskan wanita nakal sepertimu."


Sialan kau Regan. Kau menjebakku? Awas saja, aku tak akan melepaskanmu. Kesal Rea. Benar, Reganlah yang mengajarinya menjadi senakal ini.


Dan malam panas itu pun kembali terjadi. Rea hanya bisa pasrah dan tentu saja menikmatinya. Zain tidak berbohong, ia benar-benar menggempur istrinya sampai pagi, sampai wanita itu lemas tak berdaya di atas ranjang.


****


"Sialan kau, Reg!" Kesal Rea saat Regan mengangkat telepon darinya. Mata wanita itu terus melirik ke arah pintu kamar mandi. Memastikan Zain belum keluar dari sana.


"Ada apa huh? Ini masih pagi, Re."


"Pagi matamu, ini sudah hampir siang. Sebenarnya ajaran apa yang kau berikan padaku kemarin huh? Aku meminta tips darimu untuk mengerjai suamiku, dan apa yang kau berikan huh? Aku hampir mati kau tahu?"


Terdengar suara tawa menggelegar di sana. "Aku memberikanmu tips untuk menggoda suamimu. Apakah itu berhasil?"


"Maafkan aku, tapi hanya itu satu-satunya cara agar kau cepat melahirkan keponakan untukku."


"Reg! Di mana kau? Aku akan membunuhmu sekarang."


"Nikmati harimu, Honey. See you. Aku mencintaimu." Tut. Regan mematikan sambungan telepon sepihak.


"Regan! Sialan kau!" Kesal Rea seraya melempar ponselnya sembarangan di atas kasur.


"Akh... kenapa sakit sekali?" Lenguh Rea saat merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk. Zain benar-benar tak melepaskannya sama sekali.


"Kak." Panggilnya sambil merengek karena tidak bisa bangun. "Aku tidak bisa bergerak."


Tidak lama dari itu Zain keluar dari kamar mandi dengan sehelai handuk yang melilit seksi di pinggangnya. Rambutnya yang basah membuat ketampanannya bertambah. Rea yang menyaksikan itu harus menelan ludahnya.


"Ada apa huh?" Tanya Zain dengan santai. Lelaki itu berjalan menuju lemari, mengambil jubah tidur dan memakainya dengan gerakan sensual. Dan itu tak luput dari perhatian Rea.


"Aku juga ingin mandi, tapi kakiku terasa kaku. Apa kau bisa membantuku?" Lirih Rea dengan tatapan memohon.


"Tidak." Sahut Zain dengan senyuman miringnya.


"Jadi kau tega melihatku seperti ini? Aku begini juga karena salahmu." Rengek Rea seperti anak kecil.


"Siapa yang memulai huh?" Zain duduk di sebelah Rea. Menatap wajah cemberut istrinya.


"Ya, aku mengaku salah. Gendong." Rengek Rea membentangkan kedua tangan layaknya anak kecil.

__ADS_1


"Bangun sendiri, kau sudah besar."


"Ck, jadi kau tega padaku?" Kesal Rea. "Baiklah, aku bisa bangun sendiri dan tak butuh bantuanmu. Menyebalkan." Rea melilit selimut ditubuhnya dengan kasar. Kemudian mencoba bangun dari sana.


"Awh... sakit." Rengeknya saat kedua kaki jenjang itu menyentuh lantai. Zain tersenyum geli melihat tingkah menggemaskan istrinya.


"Aku tidak mau lagi tidur denganmu besok. Ya Tuhan, ini sakit sekali." Rea mengeluh sambil berusaha untuk bangun. Bagian intimnya terasa begitu ngilu, tetapi ia tak mau menyerah. Rea melangkah tertatih, sedikit demi sedikit ia hampir sampai di pintu kamar mandi. Namun tanpa diduga Zain mengangkat tubuhnya. Rea memekik kaget.


"Apa yang kau lakukan?" Pekiknya.


"Membantumu." Sahut Zain tersenyum jahil.


"Kenapa tidak dari tadi? Sakit tahu." Kesal Rea.


"Aku sedang mengerjaimu."


"Jahat sekali Anda, Tuan." Rea membenamkan wajahnya di dada bidang Zain. Lalu keduanya pun masuk ke kamar mandi. Rea terus mengembangkan senyuman bahagia saat Zain memperlakukannya seperti ratu.


"Kau bisa pergi, aku ingin berendam selama satu jam." Pinta Rea yang kini sudah merendam diri di dalam bathup.


"Aku ingin berendam denganmu." Zain menarik tali jubahnya dan ikut masuk ke dalam bathup. Ia tersenyum saat melihat wajah bingung sang istri.


"Kak, kau kan sudah mandi tadi."


"Aku belum puas." Sahut Zain memeluk istrinya dari belakang. Menggosok punggung Rea dengan lembut.


Rea menarik rambut panjangnya ke depan, membiarkan Zain memanjakannya. Matanya juga ikut memejam saat Zain memberikan pijatan lembut.


"Kau menyukainya?" Tanya Zain.


Rea pun mengangguk. "Lebih keras, punggungku sangat sakit."


"Kau harus membayarku lebih."


"Aku sudah membayarnya malam tadi. Kau sangat gila, Kak. Aku tidak bisa mengimbangimu."


"Belajarlah untuk mengimbangiku, kau lebih liar saat mabuk."


Wajah Rea memerah saat mendengar itu. "Aku tidak ingat apa pun."


"Bagaimana dengan malam tadi? Kau ingat semuanya?" Bisik Zain. Seketika wajah Rea pun semakin merona.


"Bisakah kita tidak membahas soal ranjang? Aku lelah, tubuhku terasa remuk karena ulahmu. Besok aku ingin jalan-jalan, kau mau membawaku kan?"


"Tidak." Rea pun langsung menoleh ke belakang dengan ekpresi kesal.


"Aku tidak mau penolakan. Kau harus membawaku jalan-jalan. Cepat pijat lagi." Ketus Rea kembali membelakangi suaminya.


"Kau berani memerintah suamimu?"


"Hm."


"Berani sekali."


"Tentu saja, aku kan wanitamu."

__ADS_1


Zain mendengus sebal dengan sifat percaya diri istrinya itu. "Terserah kau saja."


__ADS_2