Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Terlanjur


__ADS_3

Hari ini Juna mengawali Zain untuk meeting di Bali. Dan mereka pun akan menghabiskan waktu tiga hari lamanya di sana.


"Apa mereka sudah di tempat?" Tanya Zain pada Juna saat mereka memasuki sebuah hotel.


"Sudah." Jawab Juna santai.


"Hm."


Setelah melakukan check in, keduanya pun melangkah pasti menuju ruang meeting yang sudah disepakati. Sedangkan para bellboy membawa barang mereka ke kamar masing-masing.


Sesampainya di ruangan itu, Zain dan Juna pun langsung mengambil posisi masing-masing. Dan meeting itu berlanjut sampai siang. Setelah itu mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.


Di loby, terlihat seorang wanita berkaca mata hitam dengan perut membuncit berjalan dengan santai menuju meja resepsionis. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"


"Mbak, tadi suami saya bilang sudah check in. Tapi ponsel saya kehabisan batre dan belum sempat liat nomor kamarnya. Nama suami saya Arjuna Candra Wijaya. Saya Faizah Wijaya, istrinya." Ujar wanita itu sambil mengelus perutnya yang besar.


"Oh, tunggu sebentar ya Buk. Biar saya cek dulu."


Faizah mengangguk dan tersenyum penuh kemenangan. Ternyata gak sesulit yang aku bayangin. Setelah tahu berapa nomor kamarnya, habis kamu pria tua.


"Atas nama Bapak Arjuna Candra Wijaya ada di kamar nomor 403, Buk."


"Ah, syukurlah. Terima kasih banyak ya, Mbak. Hah, sudah tidak sabar saya mau istirahat. Suami saya itu sibuk kerja terus. Bahkan lagi liburan aja masih sempat kerja pake ninggalin saya di taman lagi. Katanya di suruh liat ikan di kolam." Celoteh Faizah seolah ingin meyakinkan. Si Mbak resepsionis itu pun tersenyum ramah.


"Terima kasih kembali, Buk. Jika perlu sesuatu silakan hubungi staff kami."


Faizah tertawa renyah. "Saya rasa gak perlu lagi. Biar suami saya nanti yang sibuk. Perut saya udah gede gini males kemana-mana."


Mbak resepsionis itu masih saja tersenyum.


"Kalau gitu saya permisi dulu, makasih loh Mbak."


"Sama-sama, Buk."


Faizah pun langsung melenggang pergi dan memasuki sebuah lift. "Ya ampun. Gak rugi juga aku nyamar kayak gini. Duh, ribet juga pake perut buncit. Eh, tapi kok aku cantik ya kalau perut buncit gini, udah cocok gak sih?" Gadis itu terkekeh lucu saat melihat pantulan dirinya di dinding lift. Dan tidak lama pintu lift pun terbuka di lantai empat. Faizah pun keluar dan kembali berjalan dengan elegan karena berpapasan dengan beberapa orang.


Faizah pun langsung masuk ke toilet, lalu mengeluarkan isi perutnya yang ternyata pakaian staff hotel. Kebetulan teman Faizah bekerja di sana dan ia meminjamnya sebentar karena temannya itu sedang libur hari ini. Benar-benar keberuntungan bagi Faizah.


Setelah berganti pakaian dan merapikan penampilannya, Faizah pun keluar dari sana.


"403." Gumamnya sambil mencari kamar tersebut. Dan lagi-lagi keberuntungan berada di pihaknya karena di sana ada staff lain yang sedang mengantar makanan.


"Hey, apa ini makanan untuk kamar 403?" Tanyanya pada staff itu. Wanita paruh baya itu menatap Faizah lekat.


"Kamu orang baru ya?"

__ADS_1


Cepat-cepat Faizah mengangguk. "Saya anak magang. Tadi saya disuruh nemuin Mbak, katanya di suruh antar makanan ke kamar 403."


Wanita itu mengerut bingung. "Kok tumben ada peraturan gitu ya? Biasanya kan saya yang urus lantai ini. Tapi... gak papa deh. Lumayan juga ada yang bantu. Ini emang makanan buat kamar 402 dan 403. Kita bagi tugas."


Yes!


Faizah mengangguk sambil tersenyum ramah. "Mana makanan buat kamar 403?" Semangat Faizah.


"Duh... semangat banget sih. Kalau gini mah saya juga ikut semangat. Yang ini nih, kan ada nomornya."


"Eh iya, maaf gak keliatan sangking semangatnya, hehe."


"Ya udah, sana antar." Titah wanita itu. Faizah pun dengan semangat membawa makanan itu ke kamar 403. Sebelum mengetuk pintu Faizah tidak lupa memasang masker.


"Huh, kamu pasti bisa, Fai." Kini Faizah sudah berdiri di depan kamar Juna. Lalu menekan bell pintu.


Ceklek!


Jantung Faizah berdebar saat pintu itu perlahan terbuka dan memperlihatkan wajah tampan Juna. Dan hebatnya Juna benar-benar tampan dengan rambutnya yang masih basah. Sepertinya lelaki itu baru selesai mandi karena masih memakai bathrobe.


"Saya mau antar makanan."


"Masuk." Titah Juna. Tanpa menuggu lagi Faizah mendorong troler itu ke dalam. Kemudian pintu pun tertutup dan terkunci otomatis tentunya. Jantung Faizah semakin bertalu-talu karena ia akan segera menggencarkan aksinya.


"Taruh saja di meja." Titah Juna dengan nada dingin. Faizah pun menurutinya. Ia sedikit melirik ke arah Juna yang sedang sibuk mengeringkan rambut. Seulas senyuman terbit di bibirnya dan mengeluarkan sebuah botol mungil dari saku baju.


"Sudah, Tuan. Silakan menikmati."


"Ya, terima kasih." Ucap Juna berjalan ke arah meja dan meraih gelas jus. Kemudian meneguknya dan hanya menyisakan setengah. Faizah yang melihat itu langsung menelan salivanya.


Apa keputusanku ini bener ya? Ahh... bodo amat yang penting aku terlepas dari perjodohan gila itu.


Juna mengerut bingung saat melihat staff itu masih ada di sana. Lelaki itu mendengus sebal dan berjalan ke arah lemari dan mengambil uang pecahan seratus ribu. Kemudian kembali mendekati Faizah. "Ini tips buat kamu. Udah sana pergi."


Faizah terperangah dan refleks tangannya menerima uang itu. Lah, kok malah di kasih duit?


"Masih kurang?" Tanya Juna saat melihat gadis itu masih saja diam.


Sontak Faizah pun menggeleng dan langsung mendorong trolernya keluar. Tentu saja hanya trolernya yang keluar. Sedangkan gadis mungil itu masih di dalam dan menutup pintu perlahan. Dan Juna pun tidak menyadarinya karena lelaki itu terlihat begitu menikmati makan siangnya.


Faizah pun langsung membuka pakaian staff itu dan melemparnya asal. Dan kini ia hanya mengenakan tanktop dan hotpants saja.


Juna pun menghentikan makannya saat merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. "Kenapa suhunya panas gini sih?"


Faizah tersenyum nakal saat mendengar itu. "Ternyata obatnya cepet banget bereaksi."

__ADS_1


Juna terlihat gelisah. Tubuhnya semakin panas dan sesuatu di bawah sana berkedut sakit. "Sialan." Umpatnya tahu dengan apa yang tengah terjadi. Semua itu seperti dejavu. Juna pernah mengalami hal ini saat teman sekolahnya dulu menjebaknya sampai lahirnya Halley ke dunia ini. Namun, siapa kali ini yang ingin menjebaknya? Itulah yang saat ini ada dalam benak Juna.


Juna pun menyandarkan tubuhnya di sofa dan menarik tali bathrobenya dengan kasar. Sontak Faizah hampir memekik saat melihat benda pusaka milik Juna yang sudah berdiri tegak. Faizah menutup mulutnya. Ia mendadak ciut saat melihat benda perkasa itu. Kakinya melangkah mundur dan tidak sengaja menyenggol meja kecil. Alhasil suara geseran benda itu pun menarik perhatian Juna.


Juna pun langsung bangun melihat ke arah Faizah. Matanya membulat sempurna saat melihat keberadaan Faizah. "Kau!"


Faizah pun langsung berlari ke arah pintu. Dan sialnya pintu itu tidak bisa terbuka karena macet. "Sial! Kenapa tidak bisa terbuka." Geramnya. Hingga....


Srettt!


Juna menariknya dengan sekali tarikan. Sontak tubuh mungil itu membentur tubuh kekar Juna. Juna mendesisi karena sentuhan kulit mereka membuat juniornya semakin berdenyut sakit. Ia terus berusaha menahan gejolak aneh di tubuhnya.


"Jadi ini ulahmu huh?"


Faizah tidak mampu bicara, tubuhnya menegang saat benda keras itu menempel di perutnya.


"Akhhh sial!" Umpat Juna saat melihat belahan dada gadis itu, membuatnya semakin tidak waras. "Jangan menyesal, kau sendiri yang datang padaku." Dengan sekali gerakan Juna mendorong tubuh Faizah ke dinding dan menghimpitnya.


"M--mr.... maafkan aku, sekarang aku menyesal." Suara Faizah bergetar karena ketakutan. Bahkan tanpa ragu lagi Juna melahap bibir ranum Faizah. Mata Faizah terbelalak karena kaget. Dan Juna pun sudah sepenuhnya dikuasi obat perangsang pun mengabaikan permohonan gadis itu.


Hiks... aku menyesal karena menggunakan cara bodoh ini. Tapi... bibir pria tua ini kenapa sangat manis? Aaa... sepertinya aku mulai gila. Ayolah, Fai. Bukankah ini pilihanmu. Lalu apa yang kau takutkan? Nikmati saja. Suara hati Faizah terus berperang.


Ya, ini sudah keputusanku. Aku tidak bisa mundur lagi. Maafkan aku, Mr. Aku memanfaatkanmu. Salahkan dirimu sendiri karena mempermainkanku.


Faizah mengalungkan kedua tangannya di leher Juna. Bahkan membalas ciuman pria tua itu meski tidak terlalu lihai karena ini pertama kali untuknya.


"Hah...." Faizah terengah-engah saat Juna menyudahi ciumannya. Pandangan keduanya pun bertemu. Dan Faizah bisa melihat tatapan penuh gairah di mata lelaki itu.


Juna pun segera menggendong gadis mungil itu dan melemparnya ke atas ranjang. Ia juga melempar bathrobe yang tadi dipakainya secara asal dan langsung menindih Faizah.


Faizah terlihat pasrah saat Juna melucuti pakaiannya. Karena ia memang sudah bulat dengan keputusannya.


Aku hanya meminta sedikit benihmu, Mr. Setelah ini aku berjanji tidak akan menemuimu lagi.


"Argghhh...." pekik Faizah saat benda keras itu menerobos begitu saja ke dalam miliknya tanpa pemansan lebih dulu. "Sakit, bodoh." Umpatnya seraya menggigit lengan besar Juna sangking sakitnya.


"Akhh... sial! Kau sempit sekali, Izah."


"Tentu saja, aku masih perawan." Seontak Faizah pun tersadar dengan panggilan Juna untuknya. "Apa! Kau panggil aku apa? Izah?"


"Hm." Juna pun mulai bergerak dan itu membuat Faizah kembali memekik kesakitan.


"Akhhh... sial! Aku tidak menyangka sesakit ini melepaskan perawan." Guman Faizah mencoba untuk meneriman milik Juna dibawah sana. Rasanya sangat menyesakkan dan sakit lebih mendominan tentunya. Namun, perlahan tapi pasti rasa sakit itu mulai berubah jadi nikmat. Gadis itu mulai mengeluarkan suara indahnya dan itu membuat Juna semakin semangat menggempurnya.


Entah apa yang akan terjadi jika Juna sadar nantinya. Yang jelas setelah ini Faizah tidak akan menemuinya lagi. Dan pergi sejauh mungkin. Akan tetapi sebelum itu Faizah harus menyelesaikan masalah pribadinya lebih dulu. Setelah itu ia akan dengan tenang meninggalkan tanah air.

__ADS_1


Tbc....


Tidak menerima protesan apa pun yang menjelakkan Faizah dan Juna. Mereka tidak pernah salah, karena yang salah itu aku hahaha...


__ADS_2