
"Sayang." Sean memanggil Queen dengan lirih. Namun Queen seolah tak peduli.
"Aku ingin pulang sekarang." Tegasnya.
"Kita baru sampai, sayang."
"Apa peduliku, jika kau tidak mau pulang biarkan aku pulang sendiri. Jangan lupa aku masih harus kuliah."
Sean terdiam sejenak. "Baiklah, kita pulang sekarang juga. Aku akan menghubungi Ben untuk memesan tiket."
Queen tidak menyahut dan terus berdiam diri di depan jendela raksasa.
Sean terlihat kecewa, tetapi ia sadar kemarahan istrinya akibat kelalainnya sendiri. "Aku tahu kau marah padaku. Kau boleh menganggapku egois, tapi aku melakukan itu demi kebaikanmu, Queen."
"Kebaikkanmu, bukan aku, Sean."
Sean menghela napas berat. "Aku tidak pernah berharap kita berdebat seperti ini di malam pengantin, Queen. Jika kau ingin kita pulang, kita akan pulang. Tapi tolong, jangan diamkan aku seperti ini."
Queen sama sekali tidak terpengaruh dengan perkataan suaminya dan masih saja diam.
Sean kembali menghembuskan napas berat. Kemudian segera menghubungi Ben, sang sekretaris sekaligus asisten pribadinya.
"Ben, pesankan aku tiket pulang untuk malam ini juga. Secepatnya."
"Anda serius, Tuan? Lalu bagaimana dengan kejutan dan dinner romantis yang sudah Anda siapkan untuk malam ini?"
Sean terdiam sejenak. "Batalkan semuanya, bayar semua kerugian berapa pun harganya."
Queen sedikit menoleh saat mendengar itu. Namun detik berikutnya ia kembali memalingkan wajah.
"Baik Tuan, saya akan melaksanakan apa pun yang Anda perintahkan. Tiket akan segera saya kirimkan."
"Hm." Sean pun memutus panggilan. Ditatapnya sang istri yang masih memunggunginya.
Satu jam kemudian, keduanya sudah berada di dalam pesawat. Sean melirik sang istri yang sejak tadi terus diam dan enggan memandang dirinya. Ia juga berusaha meraih tangan istrinya, tetapi Queen langsung menarik tangannya menjauh.
"I am so sorry, Darling. I am sorry." Bisik Sean.
Queen yang mendengar itu langsung menitikan air mata.
Kenapa kau lakukan ini padaku, Sean? Di saat aku mulai mempercayaimu, kau menghancurkan perasaan itu dalam sekejap.
Sean memejamkan matanya karena merasa lelah dengan apa yang dialaminya saat ini. Tidak pernah terpikir olehnya semua ini akan terjadi. Dan berharap amarah sang istri segera redam dan mereka bisa kembali bercengkrama.
__ADS_1
****
Sesampainya di mansion, Queen justru meminta hal yang tak terduga.
"Aku tidak ingin tidur sekamar denganmu untuk beberapa waktu."
Tentu saja Sean kaget mendengarnya. "Bagaimana bisa? Kita suami istri, sudah seharusnya kita tidur bersama, honey."
Queen melipat kedua tangannya di dada. "Jika kau keberatan, aku akan kembali ke apartemen."
Sean mengeratkan rahangnya dan enggan menjawab.
"Aku butuh jawabanmu, Sean." Queen menatap Sean dingin.
"Hm, aku akan meminta maid untuk membersihkan kamar sebelah."
"Aku ingin kamar di bawah."
"Tidak, kamar sebelah atau kita tetap tidur bersama." Tegas Sean.
Queen mendengus sebal. "Terserah kau saja." Setelah pergi ia pun langsung melongos pergi.
"Mau kemana?" Tegur Sean.
"Bukan urusanmu." Jawab Queen terkesan datar.
Dengan perasaan yang berkecamuk, Sean masuk ke kamar dan membanting pintu kamar dengan kasar. Queen yang saat ini berada di lantai bawah pun melihat ke atas saat mendengar suara keras itu. Namun, ia tidak ingin ambil pusing dan beranjak pergi dari mansion. Berniat mengambil pakaiannya di apartemen.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Sean mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Membiarkan rasa itu meresap sampai tulang dan sendi-sendinya. "Queen."
Lain halnya dengan Queen, wanita itu di jemput oleh Ella sesuai keinginannya, karena sebelum ini ia memang meminta Ella untuk menjemputnya.
"Beib, are you okay?" Tanya Ella cemas saat melihat wajah datar Queen saat ini. Tidak seharusnya pengantin baru memasang wajah seperti itu bukan? Ella juga sempat kaget saat mendengar Queen sudah kembali.
Queen menatap Ella, dan pertahanannya pun runtuh. Ia menangis dan langsung memeluk sepupunya itu. "Ell, aku sudah ditipu."
Ella mengerut bingung. "Ditipu? Siapa yang berani menipu istri Sean Cameron huh?"
Tangisan Queen pun semakin pecah. "Sean, Ell. Dia menipuku."
"What? Kau bercanda?"
"Ell, bisakah kau melajukan mobilmu dulu. Aku akan menceritakan semuanya di apartemen." Queen melerai pelukan mereka.
__ADS_1
"Oh okay." Dan mobil mewah itu pun melaju dengan kecepatan sedang. Dan hanya butuh beberapa menit mereka pun tiba di apartemen.
"Cepat ceritakan." Pinta Ella yang saat ini sudah duduk di bibir ranjang. Sedangkan Queen terlihat memilih beberapa pakaian dan buku kuliah.
"Dia bekerja sama dengan Daddy untuk menjebakku, agar aku menerima pernikahan ini."
"Apa?" Kaget Ella.
"Hm, kemarin aku tidak sengaja melihat percakapan mereka di ponsel. Hebat bukan, aku ditipu mentah-mentah olehnya."
Ella terdiam sejenak. "Queen, tapi menurutku itu sangat manis. Bukankah Sean laki-laki gantel yang langsung bekerja sama dengan Daddymu? Untuk mendapatkanmu seumur hidupnya."
"Cih, sejak awal di tahu aku belum siap menikah. Dan apa menurutmu itu manis?"
Ella menghela napas pendek. "Tapi sekarang dia sudah menjadi suamimu, Queen. Apa lagi yang kau permasalahkan? Dia tampan, kaya raya dan juga sangat mencintaimu. Aku yakin dia melakukan ini tidak lain untuk melindungimu."
Queen mendengus pelan. "Aku merasa pernikahan ini tidak sehat."
"Hey, apa maksudmu? Jangan bilang kau akan melepaskan Sean? Ayolah, hanya orang bodoh yang melakukan itu." Protes Ella yang tidak setuju dengan gagasan sepupunya itu.
"Kau tidak akan mengerti perasaanku, Ell. Aku merasa dia sedang mempermainkan aku."
Ella bangun dari posisinya. "Jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Saat ini kau masih marah, tenangkan dirimu. Lalu bicarakan ini baik-baik. Uh... kepalaku jadi ikut pusing memikirkanmu."
Queen menoleh Ella sekilas. "Bagaimana dengan bayimu?"
"Dia baik-baik saja di dalam sini." Ella mengelus perutnya dengan gerakan memutar.
"Jadi kau mengulang masa lalu Ibumu huh? Hamil sebelum menikah?"
Ella memutar bola mata jengah. "Aku rasa nasib kita akan sama jika Sean tidak langsung menikahimu. Mungkin ini juga alasan dia ingin cepat-cepat menikahimu kan? Dia hanya ingin melindungi status anak-anak kalian nantinya."
"Aku tidak peduli itu, karena aku belum menginginkan seorang anak. Ditambah kebohongannya menbuatku muak."
Ella menatap Queen lekat. "Kau memang keras kepala, Queen. Dari sekarang aku ingatkan, jangan sampai Sean berpaling darimu karena sikapmu yang seperti ini. Lelaki itu mudah jengah kau tahu, apa lagi jika mereka terus diabaikan, mereka akan mencari kesenangan di luar. Karena itu aku selalu memberikan servis yang baik saat Bara bersamaku."
Queen terdiam sejenak. "Jika dia melakukan itu, bukankah jelas dia tidak mencintaiku. Buat apa aku mempertahankan pernikahan ini."
Ella kembali memutar matanya. "Aku rasa kau akan menangis saat Sean benar-benar mencari wanita lain. Apa lagi dia itu lelaki yang banyak diinginkan wanita. Mereka akan dengan senang hati mengangkang cuma-cuma. Tidak ada kucing yang tidak tergiur ikan segar."
Queen menghentikan pergerakkannya saat mendengar itu. Hatinya sedikit berdenyut saat membayangkan Sean benar-benar melakukan itu dengan wanita lain.
Jika dia benar-benar melakukan itu, aku tidak akan segan meninggalkannya.
__ADS_1
Ella tersenyum tipis saat melihat keterdiaman Queen. Ia tahu sepupunya itu mulai mencintai Sean. Hanya saja egonya terlalu besar.
Cih, dasar kepala batu. Aku harap Sean benar-benar memberimu pelajaran agar kau sadar, Queen.