
Rea tersenyum bahagia saat dokter mengatakan Zain sudah siuman meski belum sepenuhnya sadar. Rea terus mengamit tangan suaminya, berharap Zain segera membuka mata dan memberikan senyuman padanya.
"Buka mata kamu, sayang. Aku rindu, sungguh." Berkali-kali ia mengecupi tangan Zain. "Dokter bilang kau sudah sadar, aku yakin kau bisa mendengarku kan?"
Rea terus mengoceh seperti biasanya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bercerita panjang lebar pada sang suami. Karena tak kunjung sadar, Rea pun menyerah. Di tatapnya wajah sang suami lekat-lekat sambil sesekali membuang napas kasar.
Satu jam berlalu....
"Punggungku sakit tahu," keluh Rea mengusap lengan suaminya. "Lama sekali kau membuka mata. Apa dokter itu bohong?"
Ceklek!
Rea menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Hai, Re." Sapa orang itu yang tak lain adalah Nesya dan Juna.
"Aku membawakanmu makanan." Kata Juna menunjukkan sebuah lunch box pada Rea.
"Thank you, kebetulan aku sangat lapar." Dengan senang hati Rea menerima pemberian Juna. Lalu sepasang kekasih itu pun duduk di sofa.
"Kalian sudah makan?" Tanya Rea ikut bergabung di sana.
"Sudah, sebelum kemari kami makan dulu." Jawab Nesya. Rea pun mengangguk paham. Lalu menyantap hidangan dengan lahap karena ia memang sangat lapar.
"Ah iya, apa Mommy memberi tahu kapan akan ke sini?" Tanya Rea pada Juna.
"Tidak."
Rea mengangguk lagi.
Usai makan Rea menyandarkan punggungnya di sofa.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Rea menatap Juna dan Nesya bergantian.
Juna mengeluarkan sebuah ipad dan earphone. Lalu memberikan benda itu pada Rea. Tanpa banyak bertanya Rea menerimanya, lalu memutar sebuah rekaman cctv di sana. Rea tersenyum miring kala melihat gelagat aneh sepupunya yang terekam cctv. Bahkan dengan jelas pula ia bisa mendengar percakapan wanita itu dengan seseorang dibalik telepon.
Rea mengembalikan benda pipih itu pada Juna setelahnya. "Sudah aku duga."
"Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Nesya menatap Rea lekat.
"Beri dia pelajaran," putus Rea dengan ekspresi wajah yang menyiratkan amarah mendalam. Di tatapnya sang suami yang masih terbaring di atas brankar. "Setetas darah harus di bayar dengan darah pula."
Juna dan Nesya mengangguk paham. Tidak lama dari itu dua lelaki berpakaian santai masuk. Mereka tak lain adalah Mike dan Daniel.
Rea memutar bola matanya malas saat mendapat tatapan mesum dari Mike. Jelas ia masih mengingat kejadian memalukan itu. Tak akan pernah terlupakan.
"Aku dengar ada tugas penting." Ujar Daniel duduk di sebelah Juna. Sedangkan Mike sengaja duduk di hadapan Rea, ingin menggoda istri sahabatnya itu.
Rea memberikan tatapan membunuh pada Mike. "Sekali lagi kau menatapku seperti itu, besok kau tidak akan bisa melihat dunia lagi." Kecamnya.
"Wow... aku tidak pernah menduga seorang wanita manja dan feminim sepertimu bisa sekejam ini."
__ADS_1
Rea berdecih sebal.
"Kau saja yang tidak mengenalnya." Ujar Daniel tersenyum miring.
"Tentu saja, aku tebak si brengsek Zain juga tidak tahu kedok istri menjanya ini."
Rea mendengus lagi. "Berhenti bicara omong kosong. Aku mengundang kalian kemari karena ada hal penting. Aku ingin kalian menculik seseorang."
"Waw! Jadi kau meminta kami menjadi seorang kriminal?" Remeh Mike.
"Aku akan membayar mahal misi ini. Aku tahu kau butuh uang. Pengangguran sepertimu tidak akan bisa menolaknya."
Mike menggeram kesal. "Ternyata suami istri sama saja, sama-sama memiliki mulut pedas."
Rea tersenyum tipis.
"Okay, siapa yang akan kita culik?" Tanya Daniel mulai serius.
Juna menyodorkan ponsel pada mereka. Di sana terdapat sebuah foto wanita yang tak lain adalah Abel.
"Waw, lumayan juga? Wajahnya terlihat polos, apa kesalahannya kali ini?" Tanya Mike masih setia memandangi foto itu.
"Tugas kalian hanya menculiknya, tidak untuk yang lain." Tegas Rea.
"Apa aku bisa mencicipinya? Aku suka wanita polos." Mike terlihat begitu antusias.
"Dia tidak sepolos yang kau pikirkan." Ujar Juna. "Seseorang ada dibelakangnya. Kita harus lebih waspada. Kecelakaan kemarin salah satu rancangan mereka."
Daniel menatap Rea heran. "Bukankah dia sepupumu, Re?"
Rea mengangguk pasti.
"Musuh dalam selimut heh? Aku suka drama seperti ini. Kapan kami harus menculiknya? Sebelum itu tentukan harganya lebih dulu. Kebetulan aku harus membayar hutang minggu ini."
Semua orang mendengus kesal mendengar perkataan Mike. Sunggung brengsek memang.
"Lakukan besok."
"Baiklah."
Rea tersenyum miring. Jangan salahkan aku jika bertindak sesuka hati. Karena aku tidak suka diusik.
****
Keesokan harinya Rea kembali ke rumah dengan wajah kusut. Abel yang notabennya sedang duduk di ruang tengah pun memandang Rea heran. Ia pun menghampiri sepupunya itu.
"Bagaimana kabar Zain?" Tanyanya.
"Belum sadar, padahal dokter bilang kondisinya sudah membaik." Bohong Rea. Ia ingin melihat reaksi sepupunya itu.
Abel memasang wajah sendu. Lalu ia pun memberikan pelukan hangat pada Rea. Tentu saja Rea membalas pelukan itu. Seulas senyuman pun terbit di bibirnya.
__ADS_1
"Kau pasti lelah kan? Biar aku buatkan jus untukmu." Tawar Abel. Rea pun mengangguk pelan. Abel mengusap pundak Rea sebelum pergi ke dapur.
Apa lagi yang kau rencanakan kali ini? Rea menatap punggung Abel curiga. Rea hendak mengikuti wanita itu, namun kepalanya sangat pusing sehingga ia pun mengurungkan niatnya dan memilih tiduran di sofa.
Di dapur...
Abel tersenyum miring seraya mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku celana. "Kebahagianmu diujung tanduk, Rea. Setelah ini kau akan kehilangan segalanya. Lebih bagus lagi kau mati. Agar aku lebih leluasa di rumah ini."
Abel menuangkan jus ke dalam gelas, kemudian menambahkan beberapa tetes cairan dari dalam botol tersebut. "Salahmu karena terlalu baik. Bahkan kau sangat percaya padaku. Bodoh."
Tanpa Abel sadari sejak tadi Bik Ade sudah berdiri tidak jauh dari sana. Mendengar semua ucapannya.
Benar kan dia itu wanita ular. Tidak bisa dibiarkan, sepertinya Nyonya dalam bahaya. Aku tidak rela Nyonyaku yang baik hati disakiti, dasar wanita tidak tahu diuntung. Geram Bibik dalam hati.
Abel tersenyum sinis seraya menatap gelas jus yang akan ia jadikan senjata untuk menghancurkan hidup sepupunya. Sampai ia lupa jika bahaya juga tengah mengintai diri sendiri.
"Selamat menikmati." Ucap Abel berbalik. Seketika ia terhenyak karena bik Ade menyenggol lengannya. Alhasil gelas itu terjatuh dan pecah di lantai.
"Ya ampun, bibik minta maaf, Non. Gak sengaja." Bik Ade berpura-pura tidak tahu apa-apa. "Biar bibik buatkan yang baru. Nona tunggu saja di depan."
Dasar pembantu sialan! Geram Abel.
"Iya gak papa, Bik. Sebenarnya jus ini buat Rea. Nanti aku buatkan lagi."
"Eh, gak usah Non. Biar bibik aja, udah biasa kok bibik buatin jus buat Nyonya. Sebaiknya Nona tunggu aja di depan. Atau mau bibik buatkan sekalian?" Bik Ade tersenyum tipis saat melihat raut kesal di wajah Abel.
Akhh... gagal sudah, sialan memang orang tua ini. Kesal Abel dalam hati.
"Yakin gak papa bik?"
"Iya, Non. Biar bibik yang beresin semuanya. Nona istirahat aja ya?" Bujuk Bik Ade dengan senyumannya yang khas.
"Baiklah, terima kasih bik." Dengan perasaan kesal Abel meninggalkan dapur. Kemudian menghampiri Rea yang sudah berbaring di atas sofa.
Melihat Rea yang tengah tidur, Abel pun bergegas meninggalkan rumah. Sepanjang jalan ia terus menggerutu. "Sialan nenek tua itu. Aku akan memberi pelajaran setelah ini. Awas saja, saat aku menggantikan posisi Nyonya di rumah itu. Aku akan mengusirnya dengan tidak hormat. Berani sekali dia menggagalkan rencanaku."
Masih dengan perasaan kesal, Abel melangkahkan kakinya tanpa arah. Bahkan ia melupakan jika dirinya belum menguasai sekitaran sana. Tersadar dirinya sudah jauh melangkah, ia berhenti di sebuah halte bus.
"Sial! Bagaimana bisa keluar sejauh ini?" Abel mengedarkan pandangan ke sekitar. Di sana tampak sepi. Dan akhirnya ia memilih duduk di sana. "Sial sekali hari ini."
Tidak lama dari itu sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya. Dan keluarlah dua lelaki berpakaian serba hitam memakai topeng.
Abel yang merasa terancam pun beringsut bangun. Belum sempat ia lari, salah satu lelaki itu berhasil mencekal lengannya.
"Lepas! Tol...." ucapan Abel terpotong karena mulutnya dibekap oleh orang itu. Lalu digeret masuk ke dalam mobil. Abel sempat memberontak. Namun tenaga dua lelaki itu begitu kuat. Sehingga Abel tidak bisa melawan.
"Diam atau nyawamu melayang." Ancamnya. Abel pun mendadak diam ketika sebuah benda dingin menyentuh lehernya.
Tidak! Aku tidak mau mati.
"Siapa kalian?"
__ADS_1
Tidak ada satu pun yang menyahut. Lalu mobil itu pun melaju dengan cepat. Abel hanya bisa pasrah karena ia tidak ingin nyawanya melayang oleh benda tajam yang masih menempel di lehernya. Sedikit saja ia bergerak, maka kulit lehernya akan tersayat.