
Semua orang terkejut melihat kedatangan Juna bersama Halley. Faizah yang melihat itu langsung mendekati suaminya. Lalu memeluk Juna. "Mas, Mbah ini bilang susuk aku udah hilang. Itu artinya kamu bakal cerein aku ya karen aku udah jelek?"
Juna mengerutkan dahi. "Kamu ngomong apa, Izah? Susuk apa?" Juna mengalihkan pandangan pada Bunda dan ketiga sepupunya.
Faizah menahan tawanya. Ditatapnya keluarga Juna dengan senyuman remeh.
Mau apa sekarang kalian? Mungkin awalnya aku diam karena menghargai kalian, tapi ini kelewatan. Pake fitnah segala lagi.
"Kalian masih belum puas juga?" Geram Juna merengkuh pundak istrinya. Faizah yang merasa terlindungi pun semakin mengeratkan pelukannya.
"Juna, kamu harus melek. Mbah dukun juga bilang dia itu pake susuk." Kesal Bunda.
"Omong kosong! Sebenarnya kalian mau apa huh? Uang?" Bentak Juna.
"Papa." Halley menyentuh lengan Juna. Lalu ditatapnya sang Nenek dan Tante-tentenya lekat. "Kenapa kalian lakukan ini? Mama baru aja keluar dari rumah sakit, tapi kalian langsung serang dia kayak gini. Mungkin awalnya aku percaya ucapan kalian, tapi dengan apa yang aku liat sekarang. Aku merasa tertipu."
"Halley, kamu juga dibutakan sama Nenek sihir ini." Seru Tara.
"Cukup!" Bentak Juna yang berhasil mengejutkan semua orang termasuk Faizah dan Halley. Si Mbah dukun yang menyadari akan ada pertengkaran pun langsung memilih jurus seribu.
"Pergi dari sini sekarang!" Bentak Juna lagi.
"Juna...."
"Pergi." Ulang Juna dengan kilatan amarah di matanya.
Keempat wanita itu menggeram kesal. "Harusnya wanita itu yang kamu usir, Juna. Jangan buta kamu."
"Saya istrinya, loh." Faizah cuma ingin mengingatkan. Mendapat pelototan dari mereka Faizah menjulurkan lidahnya.
"Bang liat itu...."
"Pergi, sebelum aku kehilangan kendali." Geram Juna. Sontak keempat wanita berbeda usia itu langsung pergi dengan wajah masam.
Sepeninggalan mereka, Juna langsung mengecek kondisi istrinya. "Kamu gak papa? Mereka gak nyakitin kamu kan?"
Faizah tersenyum senang karena Juna sangat perhatian. "Gak papa, Mas. Cuma punggung aku agak sakit karena si Mbah jadi-jadian tadi mukul pake daun kelor. Kok aneh ya? Zaman sekarang masih aja percaya gituan. Kalau kuntilanak atau sejenisnya aku masih percaya. Tapi kalau susuk...."
__ADS_1
Juna menghela napas berat. "Gak usah dengerin kata-kata mereka. Ayo ikut saya, kita liat punggung kamu." Juna hendak membawa Faizah, tetapi istrinya itu menolak.
"Ih... gak usah Mas. Kalau mau liat di sini aja. Aku tuh belum selesai makan tadi keburu mereka datang." Setelah mengatakan itu Faizah melangkah begitu saja menuju ruang tengah. Membuat Juna dan Halley terperangah.
"Pa, apa Papa serius mau terusin pernikahan ini? Aneh banget loh dia." Bisik Halley.
"Ck, keputusan Papa udah bulat. Jangan lupa tujuan kamu datang ke sini. Ayo, minta maaf sama Mama baru kamu." Juna pun mengikuti jejak istrinya.
Halley menghela napas berat, kemudian menyusul Juna.
"Oh iya, Mas. Kok kamu balik lagi? Bawa Halley lagi." Faizah menatap keduanya bergantian dengan mulut di penuhi makanan. Juna menyingkap kaos Faizah, diperiksanya punggung sang istri.
"Sakit?"
Faizah menggeleng.
"Agak merah dikit." Juna kembali membenarkan pakaian istrinya. Lalu duduk di samping Faizah. Ditatapnya pipi Faizah yang mengembung karena dipenuhi makanan. Refleks tangan Juna menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi mata istrinya.
Halley yang duduk agak berjauhan dengan mereka pun cuma bisa menyaksikan itu.
"Aku lupa hari ini Halley sampe. Jadi tadi aku jemput dia dulu. Kenapa kamu gak usir aja mereka tadi, Izah?"
Halley yang melihat Juna tersenyum pun kaget. Papa senyum? Bukannya ini langka.
"Haish... gimana kalau mereka nyakitin kamu tadi? Saya gak tahu apa yang terjadi kalau saya gak pulang."
"Mas tenang aja, istri kamu ini bukan cewek yang mudah ditindas. Orang kayak gitu mah bisa aku tanganin." Faizah memasukkan sisa omeletnya ke dalam mulut.
"Ok, saya gak permasalahin soal Bunda dan anak-anaknya, terus gimana sama Mbah dukun gila itu? Gimana kalau dia cabulin kamu." Kesal Juna dengan pikiran buruknya.
Sedangkan Faizah malah tersenyum. "Cie... Mas cemburu sama dukun tadi ya? Ya ampun, Mas. Gak usah cemburu sama yang model gituan. Aku tuh cuma cintanya sama kamu doang." Seketika Faizah terkejut dengan ucapannya sendiri.
Duh... keceplosan nih. Faizah menutup mulutnya sambil menatap Juna malu.
"Kamu bilang apa? Kamu cinta sama saya?" Tanya Juna. Entah kenapa ia senang mendengar pengakuan istrinya.
Faizah menghela napas pasrah. "Ck, berhubung udah terlanjur. Aku ngaku deh, aku emang udah jatuh cinta sama kamu, Mas. Gak papa kan?" Jujur Faizah.
__ADS_1
"Ya ampun, lucu banget sih. Ya gak papa lah, kamu kan istrinya." Sahut Halley.
Faizah tersenyum senang. "Tuh, anak kamu aja pengertian. Mas, kalau kamu udah cinta sama aku jangan lupa ngomong ya? Aku tunggu, loh."
Juna mendengus sebal. "Saya rasa butuh waktu lama buat cinta sama kamu." Setelah mengatakan itu Juna pun beranjak pergi. "Aku ke kantor sebentar."
"Iya, sayang hati-hati. Jangan lupa rujaknya. Love you."
"Hm." Sahut Juna. Halley yang melihat percakapan keduanya pun tersenyum tipis.
Sepertinya aku salah. Wanita ini berhasil membuat Papa berubah. Untuk pertama kalinya aku lihat Papa berseri. Mungkin dia memang wanita yang Tuhan kirim untuk mengisi kekosongan hati Papa. Jika seperti ini aku hanya bisa mendukung hubungan mereka.
Kini hanya ada Halley dan Faizah di sana. Halley terus menatap Mama tirinya itu dengan seksama. Sedangkan yang ditatap masih serius menonton.
"Saya minta maaf." Ucap Halley. Spontan Faizah pun menoleh. Dan detik berikutnya ia tersenyum.
"Buat apa minta maaf? Aku tahu kamu butuh waktu buat nerima aku, aku gak akan maksa kok." Jawab Faizah dengan santai.
Halley terdiam sejenak, lalu duduk tepat di sebelah Faizah. "Apa aku boleh manggil kamu Mama?"
Faizah menoleh. "Kayak gak cocok ya? Aku sama kamu kan lebih tua kamu. Tapi mau gimana lagi... aku emang Mama kamu sekarang."
Halley tersenyum. "Sorry ya buat yang kemarin? Aku termakan omongan mereka. Ternyata kamu gak seburuk yang aku kira."
"Jangan sungkan, dulu kita kan pernah tidur bareng malah. Gak lupa kan?"
Halley tertawa kecil. "Ingatlah, pas itu kamu terus meluk aku karena takut sama hantu mesum."
Faizah ikut tertawa. "Dan kayaknya aku tahu sekarang, hantu mesum itu Papa kamu. Mesum banget emang dia, kalau gak mesum gak mungkin anaknya ada di sini." Faizah mengusap perutnya sendiri.
"Bukannya kamu yang mesum ya? Kan Papa korbannya di sini." Sindir Halley.
"Iya sih, hehe."
"Tapi aku senang, kalau aja kamu gak inisiatif perkosa Papa. Pasti sampai sekarang Papa masih jomblo," kata Halley.
"Aku masih di sini," sahut Juna yang berhasil membut dua wanita beda usia itu terdiam sejenak. Lalu, detik berikutnya mereka saling menatap dan tertawa bersama.
__ADS_1
Tbc....