
Queen memasuki kantor suaminya dengan santai. Sepulangnya dari kampus, Queen memang memutuskan untuk menjumpai suaminya karena rada rindunya yang menggebu.
Para karyawan yang berpapasan dengan Queen pun memberikan salam dan sapaan hormat.
"Siang, Mrs."
"Siang." Balas Queen tersenyum ramah. Ia terus melangkah masuk ke dalam lift khusus CEO. Queen tersenyum karena lift itu masih menyisakan aroma suaminya. "Apa dia baru saja dari sini? Hah, sepertinya aku terlalu merindukan Sean."
Sesampainya di lantai teratas. Queen langsung menuju ruangan sang suami.
"Siang, Nyonya." Sapa Ben bangun dari duduknya saat melihat kehadiran Queen.
Queen tersenyum ramah. "Siang, Ben. Tuan ada kan?"
"Ada, Nyonya. Hanya saja di dalam sedang ada tamu. Tapi Tuan tidak berpesan agar tidak diganggu. Jadi Anda bisa masuk."
"Ah, baiklah. Apa tamunya wanita?" Tanya Queen memastikan.
"Tuan Abraham membawa sekretaris wanitanya, Nyonya."
"Oh, jadi mereka bukan berdua? Baguslah, kalau begitu aku masuk dulu. Terima kasih, Ben." Queen tersenyum, kemudian langsung masuk ke ruangan sang suami. Spontan Sean dan kedua tamunya itu menoleh.
Sean tersenyum. "Hai, kenapa tidak bilang akan datang ke sini? Aku bisa menjemputmu." Ujarnya.
"Itu berlebihan, maaf aku mengganggu. Kalian lanjutkan saja. Aku akan menunggu."
Sean mengangguk. Kemudian ia melanjutkan obrolannya dengan sang klien.
Queen duduk bersandar di sofa dengan santai. Kemudian mengelus perutnya dengan lembut. "Capek juga, padahal cuma jalan dikit." Gumamnya pelan.
"Dia istrimu?" Tanya lelaki yang duduk di hadapan Sean. Sean melirik ke arah Queen sekilas. Setelah itu kembali menatap kliennya itu.
"Ya, dia istriku."
Lelaki itu tersenyum miring. "Sangat cantik."
Sean tersenyum ramah. "Tentu saja, dia wanita paling cantik di dunia ini."
Lelaki bernama Abraham itu tertawa renyah. "Tapi sekretarisku juga tidak kalah cantik. Dia juga sangat hebat dalam memberi kepuasan." Ia sedikit berbisik di ujung kalimat.
Sean melirik ke arah wanita di depannya yang terlihat malu-malu. "Oh ya?"
"Ya, Kau ingin mencobanya?"
Sean tersenyum tipis. "Tidak, istriku lebih dari cukup."
Abraham tertawa kecil. "Kau bicara begitu karena belum mencoba lubang yang lain. Aku rasa kau akan ketagihan saat mencoba lahan baru."
"Mungkin rumput tetangga memang lebih hijau dan menggoda, tapi rasa rumput sendiri jauh lebih manis. Sampai aku tak bisa melupakannya. Jadi aku tidak tertarik lagi dengan yang lain. Bisa saja pemilik rumput yang lebih hijau itu sudah membubuhkan racun yang mematikan kan? Jadi aku harus berhati-hati." Sindir Sean begitu dalam.
Abraham tersenyum geli. "Aku tidak percaya kau tipe lelaki setia." Diliriknya Queen yang sudah memejamkan mata di sofa.
Sean yang melihat itu langsung memasang wajah datar. "Berhenti meliriknya, dia bukan bahan lirikan lelaki hidung belang sepertimu," tegasnya.
__ADS_1
Abraham tertawa renyah. "Aku jadi penasaran apa istrimu setia juga atau...."
"Jangan coba-coba mendekati istriku." Kecam Sean.
Abraham mendorong tubuhnya ke depan. "Aku rasa dia membutuhkan sentuhan lain jika melihat kondisimu saat ini. Penasaran semanis apa rumputmu itu?"
Sean mengeratkan rahangnya. Jika saja tidak ada Queen di sana. Mungkin Sean sudah melempar lelaki itu dengan laptopnya. Dan tidak akan segan membunuhnya. "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Kau boleh pergi."
Abraham kembali melirik Queen sambil tersenyum penuh arti. "Baiklah, sampai bertemu lagi, Sean. Senang bekerja sama denganmu."
"Hm." Sean menatap lelaki itu tak senang. Sedangkan Abraham malah tersenyum tanpa dosa.
"Jadi kau tidak ingin mencoba sekretarisku?"
Sean melayangkan tatapan tajam.
Abraham pun tertawa puas. "Aku hanya bercanda. Tapi... jika kau membutuhkan lahan baru. Aku punya rekemondasi yang bagus." Setalah mengatakan itu Abraham pun pergi yang diikuti sang sekretaris.
"Brengsek." Umpat Sean seraya menggebrak meja. Sontak Queen terperanjat kaget mendengar itu.
Queen mendadak panik dan langsung menghampiri suaminya. "Ada apa, Sean? Apa ada yang sakit?"
Sean menatap istrinya lekat. "Tidak ada, aku tadi hampir jatuh dan tidak sengaja menggebrak meja karena kaget." Bohongnya.
"Ya ampun, Sean. Lain kali hati-hati, kau sangat ceroboh." Queen memeluk Sean dari belakang, lalu menghirup aroma tubuh suaminya. "Aku merindukanmu."
Sean tersenyum. "Baru setengah hari kau sudah merindukanku huh?"
Queen mengangguk. "Ayo istrirahat, aku ngantuk, Sean."
"Hm, aku ingin dipeluk. Aku masih ada jam sore." Rengeknya.
"Makan dulu, aku tahu kau belum makan."
"Ck, aku mual kalau makan. Lagian aku sedang tidak selara makan. Aku ingin tidur dan memelukmu sampai puas. Ayo, Sean." Rengeknya seperti anak kecil. Tentu saja hal itu membuat Sean tersenyum geli.
"Baiklah, ayo istrirahat. Bantu aku."
"Ya." Dengan semangat Queen mendorong kursi roda Sean ke ruang istirahat. Lalu melepaskan jas suaminya.
Karena sudah terbiasa, Queen dapat dengan mudah membantu Sean naik ke atas ranjang dan membaringkannya. Setelah itu ia pun ikut berbaring di sisi Sean dengan kedua tangan melingkar dipinggang lelaki terkasihnya itu. "Kau wangi sekali, Sean. Kau tahu, dari bawah sana aku sudah bisa mencium aromamu."
Queen terus mengendus tubuh suaminya, dan berhenti diketiak Sean. "Yang ini lebih harum, aku suka."
Sean mengerutkan dahi. "Dasar aneh."
"Ck, ini benar-benar wangi, sayang. Aku tidak bohong." Jujur Queen membenamkan wajahnya di sana. Kemudian mulai memejamkan mata. "Bangunkan aku jam tiga. Aku harus kuliah."
"Hm." Sean mengecup pucuk kepala istrinya dengan mesra. Tidak lama terdengar suara dengkuran halus yang menandakan jika Queen sudah tertidur. Sean tersenyum geli. "Cepat sekali? Kau benar-benar menggemaskan, sayang. Aku mencintaimu." Sekali lagi Sean memberikan kecupan penuh cinta.
****
Sore harinya, Queen pun hendak kembali ke kampus. Namun, saat ingin masuk ke dalam mobil, seseorang manahan lengannya. Spontan Queen pun berbalik karena kaget.
__ADS_1
"Sean!" Kesalnya karena ternyata itu suaminya.
Sean tersenyum. "Kau meninggalkan sesuatu."
Queen mengerut bingung. "Hah? Apa itu?"
Sean mengeluarkan ponsel milik Queen.
"Loh, kok bisa tertinggal? Perasaan aku tidak mengeluarkannya?" Heran Queen seraya mengambil ponselnya.
"Sepertinya jatuh tanpa sengaja. Lain kali lebih hati-hati. Jangan sampai tertinggal lagi. Akan sulit jika ponselmu hilang," Kata Sean memperingati.
"Maaf, aku tidak akan mengulangnya lagi. Terima kasih, sayang. Aku pergi dulu ya? Kenapa tidak suruh Ben saja yang turun, Sean? Kau jangan terlalu capek."
"Tidak apa, lagi pula aku naik lift. Pergilah," titah Sean.
Queen pun mengangguk, kemudian bergegas masuk ke mobilnya karena hampir terlambat. Lalu mobil mewah itu melaju dengan cepat. Sean tersenyum tipis. "Setidaknya aku bisa tahu apa yang terjadi denganmu di luar sana. Aku lebih tenang, sayang."
Ya, Sean memang memasang penyadap di ponsel istrinya. Ponsel itu bukan tidak sengaja tertinggap, tetapi Sean sengaja mengambilnya untuk dipasang penyadap. Bahkan bukan hanya ponsel, tubuh Queen sendiri dipasangi sebuah chip saat ia tertidur. Bukan tanpa alasan Sean melakukan itu, ia hanya ingin melindungi istrinya dari jarak jauh. Apa lagi mengingat ucapan Abraham, si maniak itu. Sean tidak ingin terjadi sesuatu pada istri tercintanya.
Di dalam mobil, Queen mengusap tengkuknya yang terasa perih dan pegal. "Apa aku salah tidur?" Monolognya. "Hah, rasanya masih lelah saja. Padahal dua jam aku tertidur, tapi rasanya belum puas juga. Aku selalu lupa diri jika sudah bersama Sean." Queen tersenyum sendiri.
Sesampainya di kampus, Queen memarkiran mobil di tempat biasanya. Setelah itu ia bergegas turun. Dilihatnya jam tangan, menunjukkan jika ia sudah terlambat lima menit. "Ah sial!"
Saat dirinya hendak melangkah, seseorang menarik tangannya hingga kembali mundur ke belakang. Mata Queen melotot saat melihat si pelaku. "Kau?"
"Hai, baby. Kita bertemu lagi."
"Kau... kau yang tadi di kantor kan?" Kesal Queen.
Benar, pelakunya adalah Abraham. Sepertinya ia benar-benar penasaran dengan istri kliennya itu.
"Ya, sayang. Kau sangat cantik."
Queen kaget mendengar itu. "Dasar tidak waras." Setelah mengatakan itu ia beranjak pergi meninggalkan lelaki itu. Namun, lagi-lagi ia ditarik dengan kasar hingga punggungnya membentur body mobil. Bahkan dengan berani lelaki itu mengurung tubuh Queen. "Brengsek! Apa yang kau lakukan?"
Abraham tersenyum miring. "Aku penasaran pada dirimu. Aku tahu, sayang. Saat ini kau butuh sentuhan bukan? Melihat kondisi suamimu, dia pasti tidak bisa memberikan kepuasan. Ayolah, kita bisa bersenang-senang tapa sepengatahuannya."
Queen melipat kedua tangannya di dada, lalu menilai lelaki itu dari ujung kaki sampai kepala. Jelas tidak ada yang spesial dari lelaki itu selain penampilannya yang rapi. Jika dibilang tampan, jelas lebih tampan Sean. "Kau pikir aku tertarik? Memangnya kau punya apa?" Sinisnya.
Lelaki itu tersenyum. "Aku bisa memuaskanmu di atas ranjang. Kau tertarik?"
Queen tersenyum miring. Dan...
Bugh!
Dengan sekali tendangan keras lelaki itu tersungkur ke tanah sambil memegangi aset berharganya.
"Bagaimana rasanya? Puas kan? Nikmati kepuasanmu, brengsek! Kau pikir aku wanita murahan huh? Makan tuh kepuasan." Setelah mengeluarkan sumpah serapah, Queen langsung pergi meninggalkan parkiran dengan dongkol.
"Sialan! Aku semakin terlambat karena digoda pria mesum itu. Milik suamiku saja membuatku kewalahan, dia kira aku tertarik dengan batang lain apa? Menyebalkan, membuat moodku hilang saja." Dengan langkah cepat Queen memasuki gedung kampus meski hatinya kesal setengah mati. Jika seperti ini, belum tentu ia bisa menerima pelajaran dengan baik.
Di kantor, Sean tertawa puas saat mendengar kekesalan istrinya lewat alat penyadap yang ia pasang ditubuh Queen.
__ADS_1
"Aku tahu, dia bisa menangani bedebah itu dengan mudah. Dia benar-benar istri hebat. Jadi... milikku membuatmu kuwalahan huh?" Sean tersenyum penuh arti.
Tbc....