Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Sikap yang aneh


__ADS_3

Sudah tiga hari sejak itu, Rea tidak pernah lagi menghubungi Zain. Bahkan ponselnya juga sangat sulit untuk dihubungi. Dan itu membuat Zain uring-uringan tidak jelas. Bahkan tak ayal Juna pun terkena imbasnya. Seperti hari ini, Zain tidak masuk kantor dan melimpahkan semua pekerjaanya pada Juna.


Hari ini Zain memutuskan untuk menghubungi Regan. Ia tahu Rea ada bersama lelaki itu. Meski sebenarnya Zain malas jika harus bicara pada lelaki aneh itu.


"Halo." Sapa Regan di seberang sana.


"Di mana Rea?" Tanya Zain datar.


"Tunggu sebentar." Jawab Regan. Kemudian terdengar suara Regan memanggil nama Rea.


"Ada apa?"


Zain memejamkan matanya saat mendengar suara wanita yang amat ia rindukan.


"Suamimu. Dia ingin bicara."


Cukup lama tidak ada suara di sana. "Halo." Akhirnya Rea mengeluarkan suara emasnya.


"Kau sudah lupa kalau kau itu punya suami?"


"Mungkin." Jawab Rea sekenanya.


"Re, please. Jangan seperti anak kecil. Kau marah hanya karena hal sepele?"


"Sepele bagimu, tapi tidak untukku. Aku sibuk, lain kali aku menghubungimu." Tut.


Zain mengumpat kesal karena Rea memutus sambungan telepon sepihak. "Sial!"


Merasa kesal. Zain kembali menghubungi seseorang. Yang tak lain adalah Juna. "Pesankan aku tiket ke Paris sekarang. Kau bisa menyusulku."


Zain pun beranjak pergi dari rumah menuju bandara. Ia sudah tidak sabar untuk memberi hukuman pada istrinya itu karena sudah berani mengabaikannya.


****


Malam hari, Rea mengemasi barang-barangnya dengan malas. Tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Bahkan ia terlihat tidak profesional dalam bekerja. Bukan sekali dua kali Regan menegurnya. Sampai Rea harus mundur dan digantikan oleh yang lain.


"Re, sebaiknya besok kau tidak perlu hadir. Fokus dengen kesehatanmu saja." Kata Regan yang berhasil membuat semangat Rea samakin down. Tidak bisanya Regan bersikap acuh padanya.


"Hm." Rea mengangguk pasrah.


"Ini demi kebaikanmu, Re."


"Aku tahu." Sahut Rea yang kemudian beranjak dari sana. Regan yang melihat kondisi Rea pun memutuskan untuk mengekori sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengekoriku, aku baik-baik saja, Reg. Aku juga sudah memesan taksi. Jangan khawatir."


Bagaimana dia bisa tahu aku mengekorinya? Pikir Regan.


"Kau harus mengecilkan suara derap kakimu jika tak ingin ketahuan."


"Ck, berhenti menjadi cenayang. Kau menyebalkan, Re."


"Tanpa melihat wajahmu saja aku sudah bisa membaca apa yang sedang kau pikirkan."


"Ya dr. Andrea yang terhormat."


Rea tersenyum tipis. "Aku pulang duluan. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai Aron melirik yang lain."


"Sialan." Umpat Regan yang disambut tawa oleh Rea. Tidak lama taksi yang Rea pesan pun muncul. "Aku pergi, jangan sampai wanita ular itu memengaruhimu. Aku tak akan kembali jika kau memintaku pergi."


"Apa yang kau bicarakan, Re?" Teriak Regan. Namun Rea sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi dan berlalu pergi.


"Dasar aneh."


Sepanjang jalan Rea terus termenung. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini? Yang jelas bukan masalah pekerjaan. Melainkan perkataan Zee sore tadi.


"Zain itu sangat mudah dipengaruhi. Dengan sedikit kepercayaan, dia akan lebih mudah dikendalikan. Tidak lama lagi kau akan tahu siapa lelaki yang kau nikahi itu. Aku ingin melihat, dia percaya padamu, atau padaku. Berani bertaruh?"


"Benarkah? Cepat atau lambat kau akan tahu jawabannya."


"Sudah sampai, Nona."


Rea terhenyak. "Ah iya, terima kasih." Rea memberikan selembar uang dan bergegas turun. Ia memasuki hotel dengan segenap rasa cemas yang tak menentu. Pikirannya mendadak buntu.


Apa yang kau pikirkan huh? Zain pasti mempercayaimu. Kau itu istrinya dan dia suamimu, Rea. Percayalah padanya. Ya, dia pasti percaya padaku. Hati Rea seolah berperang dengan pikirannya sendiri. Sampai ia tak menyadari ada seseorang di depannya.


Bruk! Rea menabrak dada bidang orang itu. Sontak ia pun langsung mendongak. Seketika irisnya melebar saat melihat wajah orang itu.


Rea tertawa dalam hati. Karena terlalu merindukannya sampai aku berhalusinasi seperti ini? Tidak, kau tidak boleh seperti ini. Wake up, Rea.


"Maaf. Aku tidak sengaja. " Ucap Rea sedikit membungkuk. Zain yang melihat sikap istrinya itu merasa heran.


"Kau kenapa?" Tanya Zain yang barhasil membuat tubuh Rea mematung. Lalu wanita itu pun kembali mendongak. Untuk memastikan lelaki di hadapannya itu benar-benar suaminya. Benar saja, itu memang suaminya.


"K__kau... bagaimana bisa ada di sini?" Tanya Rea gugup.


"Aku punya kekuatan telepati." Gurau Zain.

__ADS_1


"Jangan bercanda, sejak kapan kau di sini?"


"Aku baru tiba sore tadi." Zain mengusap kepala Rea dengan lembut.


"Kenapa tidak menghubungiku?" Kesal Rea.


"Periksa ponselmu."


Rea menghela napas berat. Ia lupa jika sejak pagi ponselnya sengaja ia matikan. "Maafkan aku, sebaiknya kita masuk. Kau lelah bukan?"


Zain menatap Rea lekat. "Wajahmu sangat pucat, kau sakit huh?" Zain memempelkan punggung tangannya di kening Rea.


"Tidak, aku hanya lelah. Selama hampir satu minggu aku terus bekerja." Keluh Rea.


"Ya sudah, setelah ini kau istirahat." Zain pun memapah Rea masuk ke kamar hotel. Zain pun mengurungkan niat untuk memberikan wanitanya itu hukuman setelah melihat kondisi Rea yang seperti ini.


Di kamar, Rea terus memeluk suaminya, sedangkan matanya tak kunjung terpejam. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari.


"Kenapa belum tidur huh?" Tanya Zain sambil mengusap rambut istrinya. Rea pun menggeleng pelan. Kemudian memejamkan matanya.


"Kau masih marah padaku?" Tanya Zain lagi. Rea membuka matanya lagi.


"Buat apa aku marah? Meski aku marah pun kau masih saja berhubungan dengannya kan? Jadi percuma aku marah."


"Re, aku dan Zee hanya berteman. Tidak lebih. Semuanya sudah berakhir. Jangan cemburu buta seperti ini, Re."


"Maaf jika itu membuatmu tidak nyaman." Rea melepaskan pelukannya, kemudian merubah posisinya memunggungin Zain.


"Re, kita sudah sama-sama dewasa. Sekarang aku tanya padamu, jika aku memintamu menjauhi Regan, apa kau sanggup?"


"Regan dan Zee itu hal yang berbeda. Aku dan Regan tidak pernah terlibat soal cinta. Berbeda denganmu dan Zee, kalian masih mencintai satu sama lain. Aku tahu itu."


Zain terdiam sejanak. "Re, berhenti memikirkan hal yang tak seharusnya kau pikirkan. Aku sedang belajar mencintaimu."


"Bagaimana kau bisa mencintaiku saat kau masih dibayangi cinta masa lalumu? Kau tidak sungguh-sungguh untuk mencintaiku. Aku bisa melihat itu dimatamu. Setiap hari aku mengatakan cinta padamu, tapi tidak ada satu pun balasan darimu. Meski kau bohong sekali pun, aku akan tetap senang mendengarnya."


Seketika Zain membisu. Jujur ia belum bisa memahami istrinya itu. Ia bingung karena sikap Rea mendadak aneh dan jauh berbeda dari sebelumnya.


Zain merapatkan tubuhnya dengan punggung sang istri. Kemudian memeluknya dari belakang. "Kau ini kenapa huh? Sikapmu akhir-akhir ini sangat aneh. Kau marah-marah tidak jelas."


"Entahlah. Rasanya aku ingin marah terus padamu. Mungkin aku sedang pms." Ketus Rea.


"Ya sudah. Tidurlah, aku tahu kau lelah."

__ADS_1


Rea mengangguk dan mulai memejamkan mata. Sedangkan Zain terus memeluknya, mengexupi pucuk kepala Rea sampai wanita itu benar-benar tertidur.


__ADS_2