Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kabar Buruk


__ADS_3

Sinar mentari pagi mulai mengintip dari balik jendela kaca tebal. Membangunkan penghuni kabin mewah, yang tak lain adalah Queen dan Sean. Queen mengerjapkan matanya, dan mata indah itu pun perlahan terbuka. Tidak lama, seulas senyuman terbit di bibirnya bak mentari pagi.


"Oh... indah sekali." Gumamnya saat melihat ke luar jendela di mana terlihat hamparan laut biru yang begelombang tenang. Ya, saat ini mereka memang berada di sebuah kapal pesiar super mewah. Dengan berbagai fasilitas mewah pula.


"Sean, bangunlah. Lihat itu. Ini benar-benar sangat indah." Queen menyibak selimutnya, lalu sedikit berlari menuju balkon. Mulutnya sedikit terbuka saat melihat keindahan laut biru yang berhasil memanjakan mata.


"Kenapa kau cepat sekali bangun, sayang?" Sean memeluk istrinya begitu tiba-tiba. Membuat sang empu m*nd*s*h karena kaget. Sean tertawa kecil.


"Kaget huh?"


"Kau senang sekali membuat jantungku copot, Sean."


Lagi-lagi Sean terkekeh lucu. "Sepertinya kita sudah melewatkan jam sarapan."


"Malam ini tidurku sangat nyenyak, Sean. Terima kasih karena tidak memforsirku terus."


"Sama-sama, aku tahu kau butuh waktu tenang. Karena mulai malam besok kau tidak akan aku biarkan tidur lagi." Candanya.


"Sean! Baru aku puji, kau sudah kumat lagi. Menyebalkan."


"Tapi kau menikmatinya bukan?" Bisik Sean dengan senyuman tipis di bibirnya.


"Ya, tapi biarkan beberapa malam ini aku istirahat. Aku ingin menikmati ketenanganku di sini. Karena setelah kembali ke rumah, aku akan pusing lagi dengan tugas kampus. Juga tugas sebagai istri tentunya."


Sean terkekeh lucu. "Baiklah, aku mengerti perasaanmu, sayang. Ayok mandi, setelah ini kita sarapan. Tidak baik jika perutmu kosong."


"Sebentar lagi, di sini sangat menenangkan. Kau tahu? Ini pertama kalinya aku naik kapal pesiar. Itu artinya aku sudah mencoba semua kendaraan darat maupun laut. Ah... senangnya."


Sean mengecup pundak istrinya. Kemudian beralih ke leher jenjang yang menjadi favoritnya.


"Oh iya, Sean." Queen berbalik, menatap wajah suaminya lamat-lamat. "Aku jadi penasaran dengan Aunty Sarah. Sejak pertama kali bertemu dengannya. Aku selalu melihat kesedihan di matanya saat melihatmu. Aku tahu itu, meski dia tersenyum tapi aku bisa melihat kesedihan di dalamnya. Apa kalian punya masalah lain, Sean? Maaf jika aku lancang. Tapi hal itu terus menganggu pikiranku. Saat ini aku sudah menjadi bagian keluarga kalian, setidaknya aku ingin tahu sedikit."


Sean mengecup bibir sang istri sebelum menjawab. Lalu ditatapnya mata coklat terang gadisnya dengan lembut. "Aunty dan Mommy memiliki hubungan yang begitu dekat, mereka selalu bersama ke mana pun pergi." Sean sengaja menjeda kalimatnya.


"Entah bagaimana, hari itu Aunty dan Mommy terpisah. Hingga kecelakaan itu terjadi. Mendengar kabar itu, Aunty sama gilanya sepertiku. Aunty merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Mommy. Sejak saat itu Aunty tidak pernah jauh dariku, dia selalu melindungiku. Bahkan sampai detik ini." Sean membuang napas panjang.


"Kadang juga Aunty akan duduk termenung jika mengingat kejadian itu lagi. Meski dia orang yang membantuku bangkit, tetap saja dia juga punya kelemahan. Dia rapuh jika mengingat Kakaknya, Mommyku, Queen. Kematiannya membuat hidup kami hancur sehancur-hancurnya."


Queen mengusap pipi Sean dengan lembut. Hatinya ikut sakit mendengar cerita yang keluar dari mulut suaminya.


"Harus kau tahu, Aunty rela menikah dengan seorang mafia terkenal agar memiliki dukungan kuat. Meski nyawa menjadi taruhannya. Dia melakukan itu hanya untuk membalas dendam atas kematian Mommy. Dia yang membunuh wanita sialan itu dengan tangannya sendiri, Queen. Dia terlalu menyayangi Kakaknya."

__ADS_1


Queen terkejut mendengarnya. "A-aunty membunuhnya?"


"Ya, wanita sialan itu mati di dalam penjara dengan mengenaskan."


Queen masih tidak percaya itu. Namun, detik berikutnya Queen justru tersenyum lebar. "Kau bilang Aunty berhasil membunuh wanita itu kan? Dengan tangannya sendiri?"


Sean mengangguk, tetapi ia merasa heran dengan ekspresi istrinya itu. "Kenapa kau kelihatan sangat senang, sayang?"


"Tentu saja aku senang, itu artinya aku dikelilingi wanita-wanita hebat. Mommy juga dulu seorang pimpinan gangster. Oh God! Satu Mommyku dan satu lagi Aunty Sarah. Bukankah itu hebat? Aku akan minta mereka untuk mengajariku."


Sean terkejut mendengarnya. "Kau sangat aneh, sayang. Jangan berpikir yang macam-macam."


Queen tertawa renyah. "Maafkan aku sudah mengacaukan suasana. Lalu bagaimana reaksi Ayahmu?"


Sean terdiam sejenak. "Daddy tidak memberikan reaksi apa pun. Seolah menutup telinga soal kematian Mommy. Dari situ aku semakin tak menyukainya."


Queen menghela napas berat. "Mungkin Daddymu punya alasan sendiri soal itu. Sejahat apa pun dia, kau tetap anaknya. Jangan pernah menaruh dendam padanya, Sean. Aku tahu kau juga sangat menyayanginya kan?"


Sean tidak menjawab.


"Sudahlah, lupakan itu. Ayok kita mandi. Perutku mulai perih." Queen sedikit merengek. Dan itu berhasil mengundang senyuman Sean.


****


Sore harinya, Queen dan Sean terlihat sedang menikmati sunset. Keduanya terlihat begitu mesra layaknya pasangan yang lain.


"Berikan tanganmu." Pinta Sean.


Queen mengerut bingung. "Untuk apa?"


"Berikan saja, sayang."


Dengan ragu Queen mengulurkan tangannya. Sean pun memegang pergelangan tangan istrinya.


"Kecil sekali. Aku tidak yakin ini muat atau tidak. Aku rasa kau harus mengikuti program gemuk. Ini terlalu kurus."


"Ck, kemarin-kemarin kau tidak protes. Memangnya barang apa sih?"


Sean merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah gelang berlian. "Aku membeli ini saat di Paris. Aku rasa cantik di tanganmu."


Mata Queen membulat saat melihat gelang itu. "Ya ampun Sean, itu kan...."

__ADS_1


"Ya, gelang yang terus kau pandangi sampai berjam-jam. Kenapa tidak bilang kau menginginkannya huh? Untung aku menyadarinya."


Mata Queen berkaca-kaca. "Sean, ini harganya tidak main-main. Aku rasa kau tidak perlu membelinya. Aku...."


"Jika kau suka, katakan saja. Aku akan membelikannya untukmu. Apa kau meragukan kekayaanku huh? Bahkan uangku tidak akan habis hanya untuk membeli sepuluh benda ini." Sean menyela. Kemudian memakaikan gelang cantik itu di lengan istrinya.


"Bukan seperti itu, Sean." Protes Queen.


"Cantik." Komentarnya saat melihat gelang itu sangat cocok dengan kulit sang istri. "Lain kali katakan saja apa yang kau inginkan. Aku akan berusaha mengabulkannya. Aku kerja keras juga untuk istriku."


"Terima kasih." Queen mengecup pipi suaminya penuh perasaan.


"Aku mencintaimu, Sean. Sungguh." Imbuhnya.


Deg!


Jantung Sean seakan berhenti berdetak mendengar pengakuan istrinya barusan. "Apa kau bilang? Katakan sekali lagi, sayang."


Queen tersenyum. "Aku mencintaimu, kau berhasil mencuri hatiku, Sean. Maaf jika aku baru mengatakannya."


Sean tersenyum bahagia. "Yes! Thank you, God. Kau mengabulkan doaku. Oh... aku sangat bahagia, sayang." Sangking bahagianya ia langsung memeluk sang istri.


Queen tertawa penuh haru. "Aku mencintaimu, Sean. Sangat-sangat mencintaimu."


"Aku juga sangat mencintaimu, sayang." Sean melerai pelukannya dan langsung menyambar bibir Queen dengan rakus. Dan keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas. Sampai suara dehaman seseorang mengagetkan mereka.


Sontak Queen dan Sean pun menolah. Dan ternyata orang itu adalah Ben.


"Ck, kenapa kau ke sini, Ben? Menganggu saja." Ketus Sean.


Ben bedeham lagi, dan tetap mempertahankan ekspresi datarnya seperti biasa. "Maaf menganggu waktu Anda, Tuan. Saya kemari karena membawa kabar buruk."


"Kabar buruk?"


Ben mengangguk pelan. "Ayah Anda masuk rumah sakit, beliau jatuh sakit dan dokter mengatakan keadaannya masih kritis sampai saat ini."


"Apa?" Kaget Sean yang langsug bangkit dari posisinya. Bukan hanya dirinya, Queen juga terkejut dan ikut bangun.


"Siapkan helikopter sekarang juga, Ben. Kita pulang."


Queen tersenyum tipis saat melihat kecemasan di wajah suaminya. Ia tahu Sean sangat mencintai Ayahnya lepas dari apa pun yang telah mereka lewati. Pada dasarnya hubungan darah tidak akan bisa terputus.

__ADS_1


__ADS_2