
Faizah mendesis pelan saat merasakan sakit yang luar biasa di antara kakinya. Ia pun sedikit mendorong tubuh besar Juna yang tertidur dan memeluknya.
"Akhh... sakit sekali. Apa dia monster? Bahkan dia tidak melepaskanku sedetik pun. Sial!" Wanita itu terus mengumpat seraya turun dari tempat tidur. Ia menoleh, dan melihat Juna yang masih terlelap dengan posisi tiarap. "Maafkan aku, Mr. Selamat tinggal."
Faizah memunguti pakaiannya, lalu mencuri kemeja kebesaran milik Juna dan bergegas memakainya. Ia melangkah dengan tertatih, lalu memunguti pakaian staff milik temannya. Setelah itu ia pun bergegas meninggalkan hotel.
"Dari mana kau?" Sembur teman Faizah saat ia tiba di rumah tengah malam.
"Kita bicara di dalam, terima kasih untuk ini." Faizah memberikan pakaian kerja temannya itu.
"Hey, kau mencurinya?"
"Aku cuma pinjam sebentar. Aku lelah, biarkan aku istirahat sebentar."
Temannya itu memperhatikan cara jalan Faizah yang agak berbeda. "Kenapa cara jalanmu seperti itu? Kau habis bercinta? Ya Tuhan! Apa sefrustasi itu sampai kau mencari sugar daddy?"
Faizah mendengus dan langsung menjatuhkan tubuhnya di pembaringan. "Aku hanya butuh benihnya saja. Dia itu bibit unggul, dia pintar, tampan dan penuh karisma meski usianya tidak muda lagi. Aku rasa anakku akan lahir dengan kualitas terbaik."
Mulut temannya itu terbuka lebar. "Apa kau gila! Memangnya kau pikir dengan sekali bercinta kau akan hamil huh?"
Faizah tersenyum seraya mengusap perutnya. "Ini masa suburku, tentu saja dia harus tumbuh. Aku sangat mengharapkan kehadirannya. Karena setelah ini aku akan hidup menyendiri, dan dia akan menjadi temanku kelak."
"Kau benar-benar gila, Fai."
"Hm. Dia lebih gila, Bi. Dia menahan nilaiku dan aku harus mengulang magang tahun depan. Kejam bukan?" Ketus Faizah. "Dan sebagai bayarannya aku mengambil sedikit benihnya. Ah... tidak bisa dibilang sedikit, tadi itu dia menembakku cukup banyak dan berkali-kali. Aku tidak menyangka dia sangat hebat, padahal jika dilihat dari usianya agak meragukan."
Bianca terperangah mendengar ucapan frontal temannya itu. "Kau memang gila."
"Hm. Aku mengantuk, biarkan aku tidur."
"Hey, bersihkan dulu tubuhmu. Kau mengotori tempat tidurku."
"Cih, kau pikir aku tidak tahu kasur ini tempat kalian bercinta. Berapa sugar daddy yang tidur di sini huh?" Sembur Faizah.
Bianca menggigit ujung bibirnya. Ia tidak menyangka Faizah bisa menebaknya. "Hanya beberapa."
"Sialan! Kau memarahiku tapi kau lebih dari apa yang aku perbuat hari ini."
"Setidaknya aku tidak mencuri sepertimu."
"Terserah." Faizah pun menarik selimut dan langsung terlelap karena kelelahan setelah digempur habis oleh Juna.
Sedangkan di hotel, Juna terbangun dari tidurnya. Ia mengerang saat kepalanya berdenyut sakit. "Kenapa kepalaku sangat pusing?"
__ADS_1
Lelaki itu bangun, detik berikutnya ia terhenyak karena dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun. Ia mencoba mengingat, seketika wajahnya memerah saat mengingat gadis tengil itu ada di kamarnya sebelum ia melupakan apa yang terjadi selanjutnya.
"Sial! Apa yang dia lakukan padaku?" Gerutunya hingga pandangannya pun tertuju pada noda darah di atas seprai.
Apa? Jadi aku benar-benar melakukannya dengan gadis tengil itu. Brengsek! Dia menjebakku?
Juna memijat batang hidungny. "Kenapa hidupku selalu seperti ini? Untuk yang kedua kalinya aku dijebak oleh gadis tengil. Sialan! Jangan harap aku akan melepaskanmu. Aku tidak akan membiarkan Halley ke dua lahir ke dunia ini. Argghhh." Juna benar-benar marah kali ini.
****
"Bye." Seru Faizah melambaikan tangannya pada Bianca sebelum tubuh mungilnya menghilang di balik kerumunan orang. Ya, keesokannya Faizah memang memutuskan untuk langsung terbang ke Jakarta karena misinya sudah berhasil.
"Hah, kenapa aku tidak bisa melupakan pria tua itu ya? Dia terlalu gagah untuk ukuran gadis sepertiku. Arghhh... kenapa aku masih memikirkannya sih?" Ia menggelengkan kepala dan segera check in.
Masih di hotel, lebih tepatnya di ruang meeting kemarin. Juna terlihat murung karena terus memikirkan kejadian kemarin. Zain yang melihat keanehan sahabatnya itu mulai bertanya.
"Ada apa denganmu? Kau terlihat murung sejak tadi? Kau bosan bekerja denganku huh?"
"Tidak." Jawab Juna.
"Lalu?"
"Ada masalah sedikit."
Zain mengerut. "Soal?"
Seketika tawa Zain pun menggelegar. Beruntung di sana belum ada orang dan hanya ada mereka berdua. "Jadi kau sudah menemukan pujaan hati sekarang? Siapa dia? Aku senang kau bisa melupakan putriku."
Juna mendengus sebal. "Dia sama sekali tidak pantas menjadi pujaan hatiku. Dia menjebakku kemarin."
Zain mulai tertarik dan memasang wajah serius. "Menjebak bagaimana?"
Juna menghela napas berat. "Sama seperti dua puluh lima tahun lalu." Jawabnya. Sontak Zain pun terkejut.
"Kau... dia...." Zain sengaja menggantung kalimatnya.
"Ya." Kesal Juna. Sontak Zain pun tergelak lagi.
"Apa kau bodoh? Kau mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya?" Zain tidak sanggup manahan tawanya. "Ya Tuhan, siapa wanita pemberani itu?"
"Gadis magang yang kau serahkan padaku."
Lagi-lagi Zain terkejut mendengarnya. "Hey, gadis mungil itu yang menjebakmu?"
__ADS_1
Juna mengangguk.
"Tapi apa motifnya?"
"Mungkin dia kesal karena aku menahan nilainya."
"Kau gila? Menahan nilainya, tapi buat apa?"
Juna mendengus dan tak berniat menjawab.
"Ck, kau ini terlalu kekanakan, bro. Malu lah dengan usiamu. Dia mahasiswi, wajar dia marah karena nilainya kau tahan. Ini sudah hampir dua bulan sejak dia berhenti magang. Sedangkan masa senggang pengambilan nilai paling lama satu bulan. Ya Tuhan, kau sudah menunda kelulusan anak orang. Apa dia membuat kesalahan besar huh?"
Juna menghela napas berat. "Dia memergoki aku saat sedang menangis, saat itu aku merindukan Mama."
Zain pun terdiam. Namun, detik berikutnya Zain tertawa lagi. "Hanya karena itu?"
Juna terlihat semakin kesal sekarang. "Dia menertawaiku sama seperti yang kau lakukan sekarang."
Zain pun menahan tawanya. "Wajar saja dia tertawa, kau sudah tua dan masih menangis. Jika aku diposisinya mungkin aku juga melakukan hal yang sama."
"Sialan!"
Zain tertawa geli. "Lalu, apa yang akan kau lakukan? Membiarkannya pergi? Bagaimana jika gadis itu hamil?"
Juna terdiam sejenak. "Tentu saja aku tidak akan diam. Tidak akan aku biarkan dia membawa lari benihku."
"Di mana kau akan mencarinya huh?"
"Ke semua tempat, dia tidak akan bisa lari dariku."
"Kau akan menikahinya?"
Juna melotot saat mendengar pertanyaan itu. "Tentu saja tidak, aku tidak sudi menikahi gadis tengil sepertinya."
Zain menghela napas. "Jangan sampai kau termakan omonganmu sendiri. Sebanarnya tidak jadi masalah kau menikahinya, kau itu sudah terlalu matang dan sudah saatnya serius berumah tangga. Aku tahu kau butuh seseorang. Clarie kau lepaskan, lalu sekarang kau akan melepaskan gadis pemberani itu? Menurutku gadis itu sangat hebat, dia bisa menjebakmu saja sebuah kehormatan terbesar. Padahal tubuhnya sangat mungil."
Juna berdecih. "Aku tidak akan menjebak diri dengan menikahi pembuat masalah sepertinya. Aku tidak ingin direpotkan."
Zain tersenyum miring. "Aku rasa dia jodohmu. Kalian sangat cocok, satu tengil dan satu gengsian. Rumah tangga kalian pasti akan selalu dibumbui keharmonisan. Percayalah. Jangan lepaskan dia. Sudah waktunya kau bahagia, Bro."
Juna terdiam, perkataan Zain tentu saja mempengaruhinya.
"Pikirkan kata-kataku. Setidaknya kau harus ingat masa tuamu. Tidak mungkin kau hidup sendiri." Imbuh Zain.
__ADS_1
Tidak lama dari itu satu per satu peserta meeting pun berdatangan dan pembicaraan mereka pun harus berhenti di sana.
Tbc...