
Rea terbangun dari tidurnya karena mendengar suara deringan ponsel Zain. Ia mengerang malas, matanya baru saja terpejam. Dan kini seseorang menganggunya. Dengan malas Rea bangun, mengambil ponsel Zain di atas nakas. Rea menatap layar ponsel di mana nama Zee muncul di sana. Ia memutar bola matanya malas. Kemudian menggoyangkan lengan Zain. "Sayang, ponselmu berdering."
"Hm." Zain membuka matanya yang masih terasa berat. Kemudian mengambil ponsel dari tangan Rea. Sedangkan Rea memilih tidur kembali tanpa melepaskan pelukannya dari Zain.
"Halo." Sapa Zain memejamkan matanya lagi. Ia sama sekali tidak tahu siapa yang meneleponnya saat ini.
"Zain, kau dimana?" Mata Zain langsung terbuka saat mendengar suara wanita yang amat ia kenali. Zain melihat layar ponselnya untuk memastikan.
"Aku di villa." Jawab Zain menempelkan ponselnya lagi di telinga.
"Zain, kau sudah janji akan menemuiku. Aku menunggumu di sini seperti orang gila."
Zain memijat keningnya. "Maafkan aku, Zee. Aku lupa mengabarimu jika aku tidak bisa datang. Lain kali kita bicara. Ini sudah malam, Zee."
"Aku akan tetap menunggumu di sini, di tempat yang sudah kita sepakati."
"Jangan keras kepala, kembali ke hotelmu." Kesal Zain. Rea yang mendengar itu kembali terbangun.
"Ada apa?" Tanya Rea dengan suara serak. Zain menatap Rea lekat, kemudian menggeleng. Rea yang penasaran pun merebut ponsel Zain dan menekan loudspeaker.
"Zain, kau mengabaikanku hanya karena wanita itu? Kau sendiri yang mengatakan akan menceraikannya. Lalu apa sekarang? Kau terus bermesraan dengannya."
Rea yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan tajam pada suaminya. Mencubit perut Zain geram. Membuat sang empu meringis kesakitan.
"Hey, aku mendengar semuanya. Dia tidak akan menceraikanku. Sebaiknya kau yang pergi perempuan gatal." Kesal Rea yang langsung menekan tombol end.
"Kau mengatakan padanya akan menceraikanku huh?" Tanya Rea dengan tatapan membunuh.
"Aku tidak sungguh-sungguh." Jawab Zain merasa ngeri mendapat tatapan istrinya itu.
"Jangan dekat-dekat." Rea beringsut mundur menjauhi suaminya. Ia berbalik membelakangi Zain. Tidak kehabisan akal, Zain mendekat dan memeluk Rea dari belakang.
"Aku tidak bohong, aku tidak sungguh-sungguh saat mengatakan itu. Itu hanya alasanku untuk menenangkannya."
"Aku tidak percaya." Ketus Rea.
"Re, sudah aku katakan kita akan memulai semuanya dari awal. Sesampainya di Jakarta, aku akan langsung mengadakan konversi pers. Kita luruskan semuanya." Jelas Zain mencoba meyakinkan istrinya.
"Aku tidak akan percaya sampai hari itu terjadi."
"Terserah padamu, tapi aku tidak berbohong."
Rea membalikkan tubuhnya. Menatap Zain lamat-lamat. "Bagaimana jika wanita itu tak ingin lepas darimu? Apa kau akan tetap bersamanya? Mungkin saja dia akan mengancam bunuh diri."
Zain terdiam cukup lama.
"Aku tahu kau masih sangat mencintainya. Kau begitu peduli padanya. Tapi apa aku salah jika ingin dicintai oleh suamiku sendiri?" Lirih Rea.
Zain mengusap pipi halus Rea. Kemudian memberikan kecupan di bibir manis sang istri. "Mungkin aku mulai mencintaimu."
"Cinta?" Tanya Rea merasa tak yakin.
"Mungkin, aku tidak tahu pasti."
"Tidak, kau tidak mencintaiku. Kau hanya tertarik karena aku seorang wanita."
"Bagaimana jika aku benar-benar mencintaimu?"
Rea terdiam sejenak. "Entahlah, rasanya itu mustahil. Kau sendiri yang mengatakan tak mungkin mencintiaku. Jadi aku tidak percaya saat kau mengatakan cinta padaku." Rea membenamkan wajahnya di leher Zain. Memeluk lelaki itu erat.
"Aku tidak mengerti kenapa kau begitu mencintaiku, Re?"
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu." Sahut Rea yang sebenarnya sudah sangat mengantuk.
"Tidurlah." Titah Zain seraya memeluk Rea erat. Ia juga memberikan kecupan lembut di kening istrinya.
"Kau akan pergi?" Tanya Rea memastikan.
"Tidak, ini sudah larut."
"Lalu bagaimana dengan Zee? Dia masih menunggumu." Rea menatap Zain lekat.
"Dia tidak mungkin menungguku sampai pagi. Besok aku akan menemuinya sebentar."
"Hm." Rea mengangguk dan kembali memejamkan mata. Ia sudah mengantuk berat. Berbeda dengan Zain, lelaki itu tak kunjung mengantuk. Bohong jika dirinya tak memikirkan Zee. Bagaimana pun ia masih memiliki perasaan pada wanita itu. Namun ia tak mungkin meninggalkan Rea sendiri di villa tengah malam seperti ini. Mungkin besok waktu yang tepat untuk menemui Zee dan mengakhiri semuanya.
****
Rea menatap Zain dan Zee bergantian. Mereka tampak diam sejak tadi. Padahal kopi yang mereka pesan hampir dingin.
"Sampai kapan kalian akan terus diam seperti ini? Atau aku yang harus pergi?" Tawar Rea mulai tak nyaman. Awalnya Rea memang menolak untuk ikut bersama Zain menemui Zee. Namun lelaki itu memaksanya untuk ikut.
Zain menatap Zee lekat. Ia menarik napas panjang sebelum mulai bicara. "Aku memutuskan untuk mengakhiri huhungan kita, Zee."
Zee kaget dan langsung meraih tangan Zain, menggenggamnya erat. Rea yang tak terima pun langsung menarik tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
"Rea, please. Aku tidak bisa hidup tanpanya." Lirih Zee.
"Seharusnya kau memikirkan itu sebelum pergi dari sisinya. Sekarang dia sudah menjadi milikku, aku tak akan memberikan celah untukmu. Sekarang giliranku untuk mendapatkan hatinya." Tegas Rea.
"Kau tidak bisa egois, Rea. Zain masih mencintiaku."
"Aku tidak peduli, sekarang dia sudah menjadi milikku. Kau tidak punya hak lagi atas dirinya."
"Tapi aku kekasihnya," lirih Zee dengan air mata berlinang.
"Zain, katakan padanya jika kau masih mencintiaku." Mohon Zee menatap Zain lekat.
"Zee, mungkin aku memang mencintaimu. Tapi Rea istriku, aku memutuskan untuk menerima pernikahan ini. Aku harap kau mengerti, hubungan kita sejak awal sudah tidak mulus. Kita akhiri semuanya okay?"
Zee terdiam cukup lama. Ia sedikit mendongak agar air matanya tidak jatuh. "Jika itu keputusanmu, aku tidak bisa memaksa."
"Terima kasih sudah memahamiku." Ucap Zain tulus.
"Ya."
"Aku tahu kau wanita baik, Zee." Imbuh Zain. Rea yang mendengar itu menatap Zee malas.
"Aku rasa sudah cukup, pesawat akan segera lepas landas." Ujar Rea bangkit dari posisinya.
"Aku pergi." Pamit Zain pada Zee. Wanita itu pun mengangguk pelan.
"Jaga dirimu baik-baik." Zain mengusap kepala Zee sebelum pergi.
"Ayok." Ajak Rea mengaitkan tangannya di lengan Zain. Lalu mereka pun berlalu pergi.
Setelah kepergian mereka, Zee tersenyum miring. "Kau pikir aku akan menyerah? Bukan aku namanya jika tidak bisa mendapat apa yang aku inginkan. Zain adalah masa depan emasku, mana mungkin aku melepaskannya. Dasar wanita bodoh, kau belum tahu siapa suamimu. Pertama-tama aku akan menumbuhkan kepercayaan Zain sepenuhnya padaku. Setelah itu akan mudah bagiku merebutnya kembali. Akan aku pastikan kau menjauh dari kehidupannya. Berbahagialah untuk saat ini. Anggap saja itu hadiah dariku. Lalu kejutan selanjutnya akan menyusul."
Zee bangkit dari duduknya, berlalu pergi dengan seribu rencana.
Pesawat yang Zain dan Rea tumpangi mendarat dengan mulus setelah melakukan penerbangan selama satu jam lebih. Sepasang kekasih halal itu pun langsung melanjutkan perjalanan menuju kediaman.
"Aku akan ke kantor sebentar, tidak akan lama." Ujar Zain saat mereka tiba di rumah.
__ADS_1
Rea mengangguk pelan yang diiringi dengan senyuman tulus.
"Biar aku bawakan." Pinta Zain mengambil koper milik istrinya. Lalu keduanya pun beranjak masuk.
"Oh iya, kapan ART itu masuk?" Tanya Rea seraya meletakkan tas miliknya di atas meja. Kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Mungkin besok, aku akan menghubungi agensinya lagi untuk memastikan." Jawab Zain. Rea pun mengangguk lagi.
"Kau lapar?" tanya Zain menatap Rea lekat.
"Sedikit."
"Aku akan memesan makanan untukmu. Kau mau makan apa?"
"Em... aku ingin masak sendiri. Bisa kau pesan bahan makanan saja? Rasanya bosan makan makanan di luar terus."
"Kau yakin akan masak?"
"Ya."
"Baiklah, aku akan memesannya. Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Pungkas Zain mengecup kening Rea lembut. Kemudian ia pun langsung bergegas pergi. Kini Rea sendirian lagi. Wanita itu membaringkan tubuhnya di sofa, kemudian menghidupkan televisi sambil sambil menunggu barang pesanan datang. Namun tanpa sadar Rea malah tertidur.
Sesuai janjinya, Zain sudah kembali setelah urusan di kantornya selesai. Ia merasa heran karena paket yang dipesannya masih berada di depan pintu. Zain membawa barang itu masuk, kemudian mencari keberadaan istrinya.
"Tidur?" Zain menghela napas saat melihat Rea tertidur di sofa. Tidak ingin mengganggu istrinya, Zain pun bergegas ke dapur. Ia merapikan semua sayuran dan bahan masakan lainnya di dalam kulkas. Dan memutuskan untuk memasak. Menunggu Rea bangun mungkin mereka akan kelaparan. Kebetulan Zain pandai memasak karena dirinya terlalu lama hidup mandiri di negara orang.
Rea terbangun dari tidurnya saat mencium aroma masakan yang berhasil membuat perutnya keroncongan. "Siapa yang masak?" Heran Rea. Ia pun bangkit dari sofa dan langsung melangkah menuju dapur. Seketika Rea terpana saat melihat suaminya yang tengah sibuk di dapur.
Rea berdeham untuk mencuri perhatian suaminya. Zain pun menoleh, kemudian tersenyum. "Kau sudah bangun?" Tanyanya.
Rea menghampiri suaminya. "Aku terbangun karena mencium aroma enak. Aku tidak tahu kau pandai memasak."
"Aku belajar masak saat kuliah dulu. Kau tahu sendiri masakan luar negeri tidak ada yang spesial." Sahut Zain. Rea pun mengangguk paham.
"Kenapa tidak bilang dari awal? Aku kan bisa belajar masak darimu. Belajar di youtube tidak semudah yang dibayangkan." Rea mengambil sendok, kemudian mencicipi masakan suaminya. Ia sempat terkejut dengan rasanya, itu sangat enak.
"Ya ampun, ini sangat enak. Apa masih lama? Aku sangat lapar." Seru Rea begitu antusias.
"Sebentar lagi."
"Aku jadi tidak sabar." Ungkap Rea menatap hidangan di atas meja dengan mata berbinar. "Banyak sekali, siapa yang akan menghabiskan?"
"Dirimu."
"Aku? Aku tidak serakus itu."
"Makan lebih banyak, kau sangat kurus."
"Kurus? Ya ampun, asal kau tahu timbanganku bertambah dua kilo. Seharusnya aku diet." Ujar Rea seraya mengambil piring dan gelas di dalam rak. Kemudian menyusunnya di meja makan.
"Aku tidak mengerti dengan wanita seperti kalian, tubuh sudah kurus masih saja ingin diet."
"Kau tidak akan mengerti karena kau laki-laki. Sekarang aku tanya, jika sekarang aku gendut dan jelek. Apa kau mau padaku? Bahkan dulu kau menolakku karena aku jelek."
Zain tersenyum tipis. "Tentu saja, aku tidak ingin keturunanku rusak nantinya." Guraunya.
"Kalau begitu tidak perlu protes." Kesal Rea. "Apa masih lama? Aku sangat lapar."
"Kau sangat tidak sabaran." Zain meletakkan hidangan terakhirnya di atas meja. "Makanlah."
"Kita makan bersama. Sendiri tidak enak."
__ADS_1
Zain pun ikut duduk, lalu mereka pun makan siang bersama. Sesekali Rea berceloteh, dan Zain hanya menanggapinya sesekali.