
Usai mandi dan berganti pakaian, Juna duduk kembali di tepi ranjang, ditatapnya wajah teduh sang istri. Sebenarnya ia ingin sekali membangunkan Faizah karena hari mulai siang. Hanya saja melihat wajah lelah istrinya itu, ia jadi mengurungkan niatnya. Masih teringat dengan jelas bagaimana dirinya menyerang Faizah kembali tadi malam.
Cukup lama Juna di posisi itu, menatap wajah istrinya begitu dalam.
Perlahan Faizah menggeliat, lalu matanya pun terbuka. Sontak ia kaget saat melihat Juna di sana. "Mas." Sapanya dengan suara serak.
"Ini sudah hampir siang. Bangun, lalu mandi. Aku sudah membeli sarapan." Juna melirik ke arah nakas di mana ada dua porsi sandwich dan dua gelas susu.
Faizah menarik selimut karena melorot. "Mas, pengen mandi. Tapi rasanya males banget mau bangun."
Juna terdiam, tetapi masih setia menatap istrinya itu. Sedangkan yang ditatap malah tersenyum. "Kenapa? Aku jelek ya? Hah, pasti muka aku kayak monster kan?"
"Hm." Juna masih setia menatapnya.
"Ish... jadi aku beneran jelek ya?" Faizah menyebik.
"Cepat bangun, tadi ada yang mengirim hadiah. Kamu harus membukanya. Mungkin dari temen kamu."
Faizah mengerutkan dahi. "Siapa?"
Juna mengangkat kedua bahunya.
Faizah mengubah posisinya menjadi duduk sembari memegangi selimut untuk menutup tubuh polosnya. "Sakit banget pinggang aku, Mas."
"Salah kamu sendiri terus menggodaku."
Faizah tertawa kecil. "Perasaan tadi malam aku diem aja deh, Mas. Tiba-tiba kamu yang nyerang juga."
"Tapi kamu seneng kan?"
"Iya sih. Udah ah jangan bahas itu. Mau mandi." Faizah menurunkan kakinya. "Mas, tolong ambilin bathrobenya dong."
Juna melihat ke arah benda itu yang tergelatak di lantai. Lalu ia bangun dan mengambilnya. Kemudian memberikannya pada sang istri. "Makasih, sayang."
"Sama-sama."
Faizah langsung memakainya. Lalu bangun dari posisi duduk. "Mas, sini deh lebih deket." Pintanya. Dengan patuh Juna pun mendekat. Dan...
Cup!
Sebuah kecupan hangat Faizah daratkan di bibir suaminya. "Morning, Baby. Semoga hari ini seindah hari sebelumnya." Setelah itu Faizah pun langsung berlalu ke kamar mandi. Sedangkan Juna masih terdiam ditempatnya.
"Ada apa dengannya?" Pikir Juna. "Dasar aneh." Seulas senyuman terbit dibibirnya. Lalu pandangannya kembali tertuju pada hadiah misterius. Meski penasaran, ia tetap akan menunggu istrinya selesai mandi.
Beberapa menit berikutnya, keduanya sudah duduk di depan hadiah misterius itu. Juna dan Faizah pun saling melempar pandangan. "Mas, gimana kalau itu bom?"
Juna mendengus. "Buka dulu."
"Takut." Rengek Faizah menggigit bibirnya.
"Kalau memang bom, itu artinya kita mati sama-sama di sini."
"Ck, seneng banget kayaknya mau mati? Aku belum mau mati, Mas."
"Kamu pikir saya mau?"
Faizah terkekeh lucu.
"Buka, supaya tahu siapa pengirimnya." Perintah Juna.
"Kenapa gak kamu aja yang buka? Takut juga ya?" Faizah tersenyum geli. Lalu ia pun berdiri, dibukanya penutup kado itu perlahan. "Loh, masih ada kotak lagi mas. Eh! Ada suratnya."
Cepat-cepat Faizah membuka surat itu. Seketika alisnya terangkat saat melihat goresan tinta di kertas putih itu. Faizah kembali duduk di sebelah suaminya. "Ini dari Queen."
__ADS_1
Juna kaget dan langsung menarik kertas itu. Lalu membacanya dengan seksama.
Happy wedding, Uncle dan Aunty.
Maaf jika hadiahnya datang secara tiba-tiba. Awalnya aku tidak berniat memberikan kalian kado ini, karena kalian tega tak mengundangku. Entah apa kesalahanku pada kalian? Jujur sedih rasanya saat dilupakan, bahkan tak ada kabar apa pun yang datang. Tapi aku menghargaimu, Uncle. Aku doakan semoga kalian selalu diberkahi kebahagiaan. Terima kasih karena sudah melupakan aku. Bahagia selalu, Uncle.
Queen
Juna mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu ia bangkit dan bergegas mengambil ponselnya. Faizah yang melihat itu terdiam.
"Izah, apa saya boleh pinjam ponsel kamu? Nomor saya masih diblokir."
Faizah menatap Juna sendu tanpa menjawab. "Kamu masih cinta banget sama dia ya, Mas?"
Juna menarik napas panjang, lalu duduk kembali disebelah istrinya. "Mungkin saya belum bisa melupakannya, lebih tepatnya sedang berusaha, Izah. Tapi izinkan saya untuk bicara dengannya, hanya untuk meminta maaf."
Faizah menatap Juna cukup lama. "Tunggu sebentar, aku ambil ponsel dulu." Ia bangkit dan beranjak untuk mengambil ponselnya. Lalu kembali ke tempat Juna berada, memberikan ponselnya pada lelaki itu. "Pake aja."
"Duduklah." Juna menepuk sofa. Lalu Faizah duduk disebelahnya. "Kita hubungi dia sama-sama. Dia harus mengenal Auntynya."
Mendengar itu Faizah kaget. "Mas?"
"Dia keponakanku, itu artinya keponakanmu juga. Cobalah bicara padanya. Sudah aku katakan, aku sedang berusaha mencintaimu, Izah."
Faizah tersentuh.
"Kamu keberatan?"
Faizah menggeleng. "Kamu hubungin aja, aku gak masalah. Lagian dia bagian masa lalu kamu, Mas."
"Terima kasih," ucap Juna mencium kening Faizah. "Kita buka dulu hadiahnya sebelum menghubunginya."
Faizah mengangguk, kemudian langsung membuka kado itu dengan hati-hati. Seketika keduanya kaget saat melihat isi kado itu. "Ya ampun, Mas. Ini jam tangan limited adition tahun ini."
Juna mengangguk dan langsung menghubungi Queen. Sedangkan Faizah sendiri asik dengan jam tangan barunya itu. Tidak lama layar ponsel Faizah pun diisi oleh Queen.
"Hallo, Uncle." Sapa Queen dengan senyuman ramah.
"Hallo, Queen." Sapa Faizah. Seketika senyuman Queen pun mengembang.
"Hm... aku rasa hadiah dariku sudah sampai ya?" Tanya Queen.
"Ya, lihat ini." Faizah menunjukkan jam yang sudah melingkar ditangannya. "Terima kasih, Queen. Kami senang sekali menerimanya. Maafkan kami, Queen. Tidak ada maksud melupakanmu. Aku ingin sekali mengundangmu, tapi suamiku bilang tidak perlu. Sepertinya dia belum bisa melupakanmu. Jika kau datang ke sini pasti dia akan menarikmu ke pelaminan," sindir Faizah yang berhasil membuat Juna melotot.
Berbeda dengan Queen, bumil yang satu itu justru tertawa kecil. "Sebenarnya aku sama sekali tidak marah. Hanya memancing kalian saja, masih ingat atau tidak padaku. Jadi ini nomor Aunty kecil?"
Faizah mengangguk. "Save ya?"
"Okay, tapi kenapa pakai nomor Aunty? Biasanya juga Uncle langsung menghubungiku." Queen terlihat heran.
Faizah melirik suaminya. "Bukankah kau memblokir nomornya?"
Queen melotot. "Aku tidak pernah memblokirnya. Ah... aku rasa itu ulah Sean. Maafkan aku, Uncle. Sebaiknya pakai nomor ini saja jika ingin menghubungiku. Suamiku itu agak sensi jika mengenai Uncle." Queen sedikit berbisik diujung kalimat.
Faizah tertawa kecil. "Kau beruntung sekali, Queen. Suamimu begitu mencintaimu. Sedangkan aku, dia masih dibayangi masa lalu. Menyebalkan memang."
Juna memutar bola matanya malas. "Berhenti bicara yang aneh-aneh." Kesalnya.
"Kau dengar itu, Queen? Dia tidak ingin terlihat buruk di depanmu. Beruntung dirimu, jika orang lain mungkin aku akan pergi dari sisinya. Coba saja dia menghubungi mantan istrinya itu, pasti aku tidak akan memaafkannya." Ketus Faizah. Queen yang mendengar itu tertawa. Sedangkan Juna justru memijat dahinya.
"Kau dengar itu, Uncle. Jangan sampai istrimu kecewa. Apa lagi sampai berselingkuh. Aku juga tidak akan memaafkanmu. Sekarang Aunty kecil sudah jadi keluargaku, jadi jangan macam-macam." Kecam Queen ikut menimpali.
Juna sama sekali tak menanggapi. Justru ia merasa seperti lelaki yang sedang diserang oleh istri dan anaknya saat ini.
__ADS_1
"Uncle, ucapanku benar kan? Dia itu jodohmu." Sambung Queen.
"Hm." Sahut Juna.
"Ck, kau tahu Queen? Dia terpaksa menikahiku karena aku hamil, coba saja aku tidak hamil. Aku rasa dia akan mencampakkan aku saat ini."
"Izah, berhenti omong kosong." Kesal Juna.
Queen tertawa kecil. "Kalian sangat lucu. Aku harap hubungan kalian langgeng sampai nenek kakek."
"Aamiin, kau juga, Queen. Bahagia selalu bersama suamimu." Balas Faizah.
"Pasti, Sean itu suami terbaik. Aku sangat mencintainya." Kata Queen.
"Lalu di mana suamimu?" Tanya Faizah penasaran.
"Dia masih tidur, di sini kan masih gelap."
"Owh ya ampun, apa kami menganggumu?"
"Tidak, sejak tadi aku memang tidak tidur. Mual terus, rasanya perutku seperti diaduk-aduk." Ujar Queen memasang wajah sendu.
"Ya ampun, aku juga kadang seperti itu, Queen. Tapi sudah beberapa hari rasanya aman. Kau sudah coba konsul ke dokter?"
Queen mengangguk. "Katanya wajar sih untuk awal kehamilan."
"Ya, aku harap kita bisa melewatinya dengan mudah. Kita sama-sama hamil anak pertama. Rasanya seperti mimpi, tidak pernah kubayangkan akan hamil secepat ini. Padahal aku masih banyak impian yang belum tercapai." Cetus Faizah.
"Jangan salahkan aku, dia yang memperkosaku." Kata Juna saat mendapat tatapan aneh dari Queen.
"Mas, kok malah nyalahin aku sih? Lagian kamu yang lebih nikmatin pas itu. Bahkan kamu gak peduli aku kesakitan setengah mati." Kesal Faizah memelototi suaminya.
"Salah kamu ngasih saya obat perangsang."
Queen memutar bola matanya malas. "Jangan berdebat di depanku. Apa pun yang sudah kalian lewati, itu hanya prantara untuk mempersatukan kalian. Jadi cukup berbahagialah. Dan kau, Uncle. Tolong bahagiakan Aunty kecilku, jangan sesekali sakiti dia. Okay?"
Juna menarik napas panjang. "Ya."
"Aku pegang janjimu, tolong lupakan aku. Jaga perasaan istrimu, Uncle. Di antara kita kini cuma sebatas keponakan dan Uncle. Kau paham?"
"Hm."
"Baiklah, aku tutup ya? Selamat menikmati bulan madu kalian." Tutup Queen.
Juna dan Faizah pun terdiam untuk beberapa saat. Seolah terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Izah." Juna menoleh.
"Ya?" Faizah mengangkat wajahnya.
"Kamu cinta sama saya?"
Faizah mengangguk.
"Apa yang kamu suka dari saya?"
"Semuanya." Jawab Faizah jujur. "Kamu kan suami aku sekarang, Mas. Jadi aku suka semuanya yang ada sama kamu. Walau kamu terkesan cuek, tapi hal itu yang buat aku makin cinta. Kamu itu unik tahu."
"Unik?"
"Iya. Jinak-jinak merpati kalau kata orang mah, hihi."
Mendengar itu Juna tertawa kecil. "Banyak sekali bicara, ayo kita sarapan. Lebih tepatnya makan siang."
__ADS_1
Faizah mengangguk dengan senyuman kecilnya. Lalu keduanya pun terlihat begitu menikmati waktu bersama mereka meski Juna terkesan irit bicara, tetapi Faizah tetap senang karena suaminya itu sudah banyak berubah.