
Sepulangnya ke mansion, Sean masih saja cuek dan mengabaikan keberadaan Queen meski bumil yang satu itu sering mencuri-curi perhatian. Mulai dari menyiapkan makan malam dan berdandan secantik mungkin. Akan tetapi hal itu tak membuat Sean luluh sama sekali. Lelaki itu berlalu mengabaikannya, bahkan melakukan segala hal sendiri. Padahal biasanya Sean akan sangat manja dan sedikit-sedikit meminta bantuan Queen.
"Sean, ayo kita makan?" Ajak Queen ketika Sean keluar dari ruang ganti.
Sean melirik Queen sekilas. "Aku sudah makan di luar."
Queen memasang wajah kecewa. "Aku belum makan, Sean."
"Aku mengantuk." Sean berusaha pindah dari kursi rodanya ke atas ranjang. Dan sepertinya memang sudah ada perkembangan dalam diri Sean, ia bisa dengan mudah naik ke atas ranjang.
"Sean...." Queen menahan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari sang suami. "Maaf. Kau istirahat saja. Aku bisa makan sendiri."
Dengan perasaan kecewa, Queen meninggalkan kamar menuju ruang makan. Tanpa sadar air matanya luruh begitu saja. "Hiks... kenapa sangat sakit saat dia mengabaikanku?"
Dengan malas pula Queen duduk di kursi, ditatapnya hidangan di atas meja dengan tak semangat. Padahal ia sudah membayangkan bisa membujuk Sean dan kembali bercengkrama seperti sebelumnya. Tetapi kali ini ia gagal. Sean masih saja marah dan mengabaikannya.
"Maafkan aku." Dengan hati yang sakit, Queen menyendok nasi ke piring. Lalu menuang lauknya sedikit. Rasa lapar membuatnya terpaksa harus makan dalam kesendirian. "Huhu... sampai kapan dia akan seperti ini?"
Sambil menangis, Queen melahap makan malamnya dengan lesu. Tatapannya begitu kosong. Ia benar-benar sedih karena untuk pertama kalinya Sean bersikap seperti ini.
Setelah makan, Queen merapikan semuanya sebelum kembali ke kamar.
Dilihatnya sang suami yang sudah tertidur pulas. Air matanya kembali luruh, untuk pertama kalinya Sean terlelap sebelum dirinya. Queen menggigit ujung bibirnya, kemudian melangkah pelan menuju ranjang. Dengan hati-hati ia naik ke atas ranjang, lalu ikut berbaring dengan posisi miring menghadap Sean. Ditatapnya wajah tampan Sean dengan seksama. Ingin sekali rasanya Queen memeluk lelaki itu. Hanya saja ia takut Sean semakin marah.
"Sean." Panggilnya dengan suara pelan. Memastikan suaminya itu benar-benar tertidur. Sayangnya Sean sudah tertidur pulas, terdengar dari suara dengkuran halus yang begitu khas. Melihat suaminya sudah pulas, Queen bergerak mendekat. Lalu tanpa ragu langsung memeluknya. "Aku merindukanmu, Sean."
Queen memeluk suaminya itu dengan erat, bahkan dengan leluasa menghirup aroma khas Sean. Ia mendongak, menatap wajah suaminya dengan senyuman manis. "Kau selalu saja tampan."
Dengan lancang Queen mendaratkan bibirnya di bibir Sean. Lalu memberikan sapuan lembut. Seulas senyuman kembali terbit dibibirnya. "Maaf aku lancang, jika aku lakukan ini saat kau bangun, aku rasa kau akan semakin marah padaku kan? Jadi biarkan aku melakukannya saat kau tidur."
Queen kembali mendaratkan ciuman dibibir suaminya. Dan kali ini lebih lama dan penuh hasrat. Tanpa ia sadari, Sean sudah terbangun. Hanya saja ia tetap berpura-pura, ingin melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Sean... aku menginginkanmu." Lirih Queen dengan suara seraknya. "Bolehkah aku melakukannya juga?"
__ADS_1
Sean menahan tawanya dalam hati. Dasar istri nakal, kau ingin memperkosaku huh? Kita lihat, sejauh mana kau berani bertindak, sayang.
Queen merubah posisinya menjadi duduk. Ditatapnya lagi Sean dengan tatapan rindu. "Boleh kan?" Monolognya.
"Tentu saja, aku kan istrinya. Sepuasnya aku bisa menyentuh suamiku." Imbuhnya bicara sendiri. Kemudian ia tersenyum penuh arti. Namun, senyuman itu kembali sirna dalam sekejap. "Hiks... bagaimana jika Sean terbangun? Lalu dia marah besar karena aku menganggu istirahatnya. Huhu... kenapa semuanya jadi begini sih?"
Queen memasang wajah sendu, diusapnya pipi Sean dengan lembut. "Sean, bisakah kau tidak marah lagi padaku?"
Sean sengaja bergerak, tentu saja Queen kaget dan langsung berbaring kembali. Bahkan ia berpura-pura memejamkan mata. Lalu sedikit membuka ujungnya untuk mengintip. Dirasa aman, ia pun kembali membuka mata. "Ck, kenapa aku malah bersikap seperti maling sih?" Gumamnya.
Sean yang mendengar itu tertawa dalam hati. Lalu melanjutkan tidurnya karena memang sudah mengantuk. Pekerjaan hari ini membuat tenaganya terkuras habis.
Beberapa menit berikutnya, Queen sama sekali tak dapat memejamkan mata. Ia terlihat gelisah dan tidak mau diam. "Haish... ada apa denganku? Kenapa sulit sekali mataku terpejam?"
Queen merubah posisinya menjadi duduk. Lalu bersandar di kepala ranjang. Ia menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ditatapnya Sean lagi. "Sean, bisakah kau bangun? Aku tidak bisa tidur."
Lagi-lagi Queen manarik napas panjang karena Sean dengan enaknya tidur. Sedangkan dirinya seperti orang bodoh, bicara sendiri bahkan rasa kantuk pun tak berpihak padanya.
"Sepertinya dia benar-benar lelah, maafkan aku Sean." Diusapnya kepala Sean dengan lembut. "Aku sudah membuatmu cemas sapanjang hari. Kedepannya aku akan selalu mendengar perkataanmu, aku janji."
Sean terbangun, lalu mendongak. Queen tersenyum manis.
"Kau tidak tidur?" Tanya Sean dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur.
Queen menggeleng. "Aku tidak mengantuk."
Sean mengerut bingung. "Ada apa? Kau mual?"
Lagi-lagi Queen menggeleng. "Aku tidak tahu, mataku sulit sekali untuk terpejam. Mungkin aku takut kau meninggalkanku saat aku masih tertidur."
Sean menghela napas kasar. "Kau terlalu jauh berpikir, tidurlah."
"Aku tidak ngantuk, Sean." Queen menatap Sean lekat.
__ADS_1
"Berbaringlah yang benar, aku akan memelukmu. Aku masih mengantuk." Sean kembali memejamkan matanya. Sedangkan Queen masih berdiam diri di posisinya. Namun, detik berikutnya ia berbaring seraya memeluk Sean. "Tolong jangan marah lagi, sayang."
"Hm." Sean memeluk Queen dengan lembut dan kembali melanjutkan tidurnya. Sedangkan Queen masih terjaga, memandang wajah Sean dengan seksama. Sampai rasa kantuk pun mulai menyerang dan ia pun ikut terlelap.
Queen terbangun saat matahari mulai menampakkan diri. Sayangnya ia tak menemukan keberadaan Sean di tempat tidur. Queen menghembuskan napas berat, kemudian bangun. Saat hendak bangkit, matanya tak sengaja melihat nampan berisi segelas susu dan sepotong roti di atas nakas. Bahkan terdapat sepucuk surat kecil di sana.
Queen tersenyum seraya mengambil kertas itu, di mana goresan tangan Sean terlihat di sana.
Morning Dear,
Maaf aku pergi sebelum kau bangun, pagi ini aku ada meeting. Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Makanlah, lalu istirahat dengan baik. Aku akan pulang awal hari ini. Aku mencintaimu.
Senyuman Queen semakin melebar. "Aku juga mencintaimu, Sean. Terima kasih." Dikecupnya kertas itu dengan lembut. Rasa sedih karena ditinggalkan pun mendadak sirna dan berganti dengan kebahagiaan yang luar biasa.
Queen meletakkan kembali kertas itu di nakas. Cepat-cepat ia berlari ke kamar mandi karena tiba-tiba rasa mual melanda. Sepertinya mual dipagi hari memang sudah menjadi rutinitasnya.
Usai membersihkan diri, Queen kembali duduk di atas ranjang. Kemudian melahap sarapan yang sudah disiapkan sang suami seorang diri. Setelah selesai ia pun mulai menyibukkan diri dengan merapikan kamar.
Setelah puas beristirahat, Queen beranjak menuju taman belakang. Melihat-lihat berbagai jenis tanaman bunga yang mulai bermekaran. Queen tidak pernah menyangka di mansion ada taman sebagus ini. Katakan saja ini pertama kalinya Queen jalan-jalan di halaman belakang.
"Siang, Nyonya." Sapa tukang kebun merasa heran karena sebuah kehormatan bisa melihat Nyonya besar secara dekat.
"Siang." Balas Queen. "Ah, sejak kapan di sini ada taman sebagus ini?" Tanyanya dengan senyuman yang khas.
"Sejak lama, Nyonya. Mungkin Nyonya yang tidak pernah melihatnya." Sahut tukang kebun dengan sopan.
Queen terkekeh lucu. "Kau benar. Siapa namamu?"
"Kyle." Sahut lelaki itu yang bisa diperkirakan usianya sekitar empat puluhan.
"Bagus, Kyle. Kau merawat mereka dengan baik. Bisa fotokan aku tidak?" Pinta Queen penuh harap.
"Tapi... saya tidak terlalu pandai mengambil gambar, Nyonya."
__ADS_1
"Ck, tidak masalah. Biar aku ajari." Queen pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Lalu membuka kamera dan mengajarkan Kyle cara mengambil gambar yang benar. Setelah itu Queen pun mulai berpose. Ia akan mengirim foto itu pada suaminya. Mana tahu suasana hati Sean jauh lebih baik dari sebelumnya.