
"Aku jatuh cinta padamu."
Deg!
Jantung Queen seolah berhenti berdetak saat mendengar pengungkapan lelaki itu. "Kau mencintaiku?"
"Ya, aku merasakan cinta itu tumbuh kembali saat melihat dirimu. Perasaan yang sama seperti dulu. Di mana aku mencintai Mommyku."
Queen terdiam sesaat. "Aku rasa perasaanmu itu keliru."
"Tidak, aku tidak mungkin keliru dalam masalah hati."
"Tapi kita baru mengenal dalam hitungan hari."
"Aku juga tidak mengerti. Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini selain pada Mommy... dan dirimu."
Queen tertawa hambar. "Itu konyol."
"Mungkin kedengarannya memang konyol, tapi aku tidak main-main dengan perasaanku, Queen."'
Queen mendadak kaku saat melihat keseriusan di mata lelaki itu. Gadis itu berdeham kecil.
"Aku lapar. Bukankah tadi kau menawariku sarapan?" Queen sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
Sean tersenyum geli. "Aku hampir lupa, ikut denganku."
Sean membawa Queen keluar dari kamar. Lalu memasuki sebuah lift yang langsung membawanya ke lantai dasar.
"Kau hanya tinggal sendiri di sini?" Tanya Queen saat tidak menemukan orang lain di sana selain para pekerja.
"Ya." Sean membawa Queen ke ruang makan yang juga tidak kalah besar. Bahkan meja makan di sana bisa menampung keluarga besar.
"Sebenarnya sekaya apa sih dirimu?" Tanya Queen menarik salah satu kursi dan duduk di sana. Tidak lama para pelayan pun menghidangkan berbagai makanan lezat.
"Wow... kau sengaja menyiapkan ini semua?" Queen benar-bebar dibuat takjub oleh lelaki itu.
"Ya. Kau itu tamu spesial."
Queen tersenyum lebar. "Siapa yang akan menghabiskan semua makanan ini Tuan besar? Perutku tidak segila itu."
"Buang saja."
Queen mendengus sebal. "Kau sangat sombong. Ngomong-ngomong, aku jadi ingin tahu kau bekerja di mana?"
Sean tersenyum. "Jika ada waktu aku akan membawamu ke kantor."
Queen manggut-manggut. "Apa aku boleh langsung makan?" Gadis itu sama sekali tidak menunjukkan rasa malu atau gengsi. Hal itu juga yang membuat Sean merasa nyaman dengannya.
"Kau bebas melakukan apa pun di sini. Habiskan sepuasmu."
Mendapat izin dari sang pemilik, Queen pun langsung menyantap hidangan tanpa rasa canggung. Bahkan gadis itu makan dengan begitu lahap. Sean yang melihat itu justru terlihat senang.
__ADS_1
Sebenarnya ini pertama kali ia makan di rumah. Karena itu para pelayan kalang kabut untuk menyiapkan sarapan super lezat itu. Bahkan chef ternama ikut turun tangan. Sean hanya ingin membuat gadis pujaan hatinya senang dan menikmati setiap detik yang mereka habiskan. Katakan saja ia tidak ingin membuang kesempatan emas.
****
Queen pulang ke apartemen tepat pukul sepuluh malam, hari ini ia benar-benar menghabiskan waktu bersama Sean di kediamannya.
Dengan langkah malas Queen memasuki apartemennya. Namun tiba-tiba langkahnya tertahan saat merasa ada yang aneh.
"Kenapa lampunya hidup semua? Perasaan aku tidak menghidupkannya malam kemarin." Queen merasa heran sendiri.
"Mommy yang menghidupkan." Sahut Rea yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Membawa setoples cemilan.
"Mom?"
Tidak lama Zain pun keluar dari kamar satunya. "Dari mana saja kamu?"
"Dad?"
"Hai, Kak. Apa kabar?" Kali ini perhatian Queen pun tertuju pada King yang entah sejak kapan sudah duduk di sofa.
"Sejak kapan kalian sampai?" Tanya Queen datar.
Rea yang merasakan aura aneh pun segera mendekati putrinya. Kemudian memberikan pelukan hangat. "I miss you, princess."
"Hm." Sahut Queen tanpa memberikan respon lebih karena dirinya masih belum menerima soal kebohongan orang tuanya.
"Aku lelah." Queen pun berlalu menuju kamar.
"Queen." Panggil Zain. Gadis itu pun menahan langkahnya. Lalu berbalik dengan malas.
"Mommy dan Daddy minta maaf soal Uncle Juna." Ucap Zain yang sudah mengetahui apa yang terjadi pada putrinya setelah melihat cctv.
"Lupakan itu, aku sudah melupakannya. Lagi pula aku tidak punya hak untuk melarang Uncle menikah. Bahkan pasporku Daddy tahan kan?"
Zain menghela napas berat. "Daddy melakukan itu untuk kebaikkanmu, princess."
"Aku tahu." Queen pun melanjutkan langkahnya.
"Queen." Kali ini Rea yang memanggilnya. Sontak Queen pun kembali menahan langkahnya. Wanita itu menghampiri sang putri.
"Kau marah pada kami?" Tanya Rea mengusap lengan Queen.
"Aku hanya kecewa. Tidak menyangka alasan kalian mengirimku ke sini karena hal itu."
"Bukan seperti itu, sayang. Mommy dan Daddy hanya...."
"Mom, Dad, aku lelah. Kalian juga harus istirahat bukan setelah perjalanan jauh?" Dengan kasar Queen membuka pintu kamar dan meninggalkan keduanya dengan rasa kesal.
Rea menghela napas berat.
"Biarkan seperti itu dulu. Dia masih emosi." Kata Zain merengkuh pundak istrinya.
__ADS_1
"Ini memang salah kita, Kak. Tidak seharusnya kita melakukan itu."
"Sudahlah, sebaiknya kita istirahat."
"Aku ingin menonton, kau saja yang istirahat." Rea pun melangkah pasti menuju ruang tv dengan perasaan kecewa. Padahal ia berharap bisa bercengkrama dengan putrinya sesampainya di sana. Tetapi yang ia dapatkan malah hal seperti ini.
"Aku akan bicara padanya, Dad." Ujar King bangkit dari posisinya dan berjalan menuju kamar sang Kakak.
Di kamar, Queen menjatuhkan dirinya di atas sofa. Memijat keningnya karena merasa pusing. Tidak lama King pun muncul di balik pintu. Queen menoleh sekilas.
"Kau tidak merindukan aku, Kak?" Tanya pemuda tampan itu duduk di sebelah sang Kakak.
"Tidak, kau saja tidak merindukanku. Bahkan kau tidak pernah menghubungiku sekali pun." Ketus Queen.
King tersenyum geli. "Aku sibuk latihan. Waktu di sini dan di sana berbeda, kau pasti tahu itu bukan? Aku tidak sempat menghubungimu."
"Sok sibuk."
"Berhenti bersikap seperti anak kecil. Kau membuat Mommy sedih, Kak. Padahal Mommy begitu menantikan sambutan darimu sejak tadi. Dia terus mengatakan dirimu pasti akan langsung memeluknya dan mengatakan rindu. Tapi yang kau lakukan malah mengabaikannya." King menatap Queen begitu dalam. Sedangkan yang ditatap memilih bungkam.
"Jika kau marah karena masalah Uncle, kau harusnya marah pada lelaki itu karena tidak mengundangmu."
"Tapi Mommy dan Daddy juga menyembunyikan kebenaranya, King. Kau tahu bagaimana perasaanku padanya kan?" Kini tangisan Queen pun pecah. "Kau tahu aku sangat mencintainya."
"Karena cintamu padanya. Kau melupakan cinta Mommy dan Daddy padamu? Mereka melakukan itu bukan tanpa alasan. Apa kau lupa semua perbuatanmu sebelumnya?"
Queen menangis dalam diam.
"Temui, Mommy. Jangan biarkan dia menanggung perasaan bersalah padamu terlalu lama." King menggenggam tangan Queen dengan erat. Sedangkan sang empu masih bungkam.
Beberapa saat kemudian, Queen keluar dari kamar. Gadis itu sudah berganti pakaian tidur.
Dipeluknya sang Mommy dari belakang. Tentu saja Rea terkejut dan langsung menoleh.
"I am sorry, Mom." Ucap Queen dengan tulus.
Rea tersenyum seraya mengusap pipi putrinya. "Mommy juga minta maaf, sayang."
Queen pun beranjak duduk di samping Rea. Dan kembali memeluknya. "Aku kangen."
Rea mengecup pucuk kepala putrinya. "Mommy lebih merindukanmu."
Queen semakin mengeratkan pelukkannya.
"Mommy dan Daddy punya alasan menyembunyikan pernikahan Unclemu, Queen."
"Aku sudah melupakan itu, Mom. Tidak perlu membahasnya lagi."
Rea mendekap putrinya dengan penuh kasih sayang. "Tolong lupakan dia, biarkan dia bahagia dengan orang lain."
Queen mengangguk patuh. "Aku ingin tidur denganmu malam ini. Biarkan aku memelukmu sepanjang malam."
__ADS_1
"Dengan senang hati, ratuku."
Queen tersenyum senang. Keduanya pun begitu menikmati kehangatan yang mereka ciptakan sendiri.