
Queen menepuk keningnya karena tidak sadar dengan perkataannya. Lalu dengan takut-takut ia menatap Juna. Yang tarnyata sedang memberikan tatapan membunuh yang kental padanya.
"Ulangi perkataanmu?" Kali ini Juna sudah bersidekap dengan tatapan marah. Layaknya seorang Ayah yang memergoki anaknya sedang membuat kesalahan.
"Emm... itu, aku...."
"Kira-kira apa yang akan Daddymu lakukan jika tahu putrinya sudah senakal ini huh?" Sergah Juna memberikan tatapan penuh ancaman.
Mendengar itu Queen langsung memasang wajah cemas. "Uncle... please... jangan katakan apa pun pada Daddy ya?" Mohonya sambil menangkup kedua tangan.
"Tidak bisa, hal jelek tidak baik di tutupi."
"Uncle, please. Lagian aku melakukan itu dengan kekasihku."
"Cih, dia masih kekasih, bukan suami, Queen." Terlihat jelas kekesalan di wajah Juna.
"Please, Uncle." Queen masih memohon. Ia benar-benar takut Juna akan mengadu pada sang Daddy. Ia sangat tahu Juna itu begitu setia pada Daddynya.
"Aku rasa si brengsek itu sengaja lari dari tanggung jawab."
Queen melotot saat mendengar itu. "Hey, kau mengatai kekasihku brengsek?"
"Ya, memangnya apa lagi julukan yang pas untuk lelaki tidak bertanggung jawab seperti dia huh?"
Seketika emosi Queen naik ke ubun-ubun saat Juna terus mengatai hal buruk soal kekasihnya. "Dia pergi juga karena Uncle datang ke sini. Coba saja Uncle tidak datang, mungkin dia masih ada di sini dan memanjakan aku seperti biasa. Menyebalkan, sudah salah malah nyolot."
"Lagian dia itu lelaki baik-baik, apa yang Uncle katakan sama sekali tidak benar. Yang brengsek itu Uncle, sudah cinta tapi tidak mau jujur dan malah lari dari kenyataan." Tutur Queen.
Juna terkejut mendengar itu. "Hey, tadi bilang sudah dimaafkan."
"Tidak jadi, siapa suruh ngatain Sean yang bukan-bukan. Sebaiknya Uncle pulang sana, sebelum pacarku itu semakin marah dan salah paham." Queen pun melenggang masuk dengan kekesalan yang memuncak.
Juna tersenyum tipis melihat Queen yang seperti ini.
Rupanya lelaki itu berhasil mencuri hatimu, princess.
Beberapa menit berikutnya...
Queen terus mondar-mandir tidak jelas karena Sean tidak bisa dihubungi. Juna yang masih ada di sana pun cuma bisa memperhatikan gadis itu.
"Apa kau tidak takut mendapat amukan dari Daddymu?"
"Diamlah, Uncle. Aku sedang pusing." Sembur Queen masih berusaha menghubungi Sean. "Ayolah, angkat teleponku, sayang."
__ADS_1
"Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan wanita lain."
Mendengar itu Queen pun langsung memelototi Juna. "Berhenti memfitnahnya, Uncle. Dia tidak sejahat itu."
"Buktinya dia mengabaikanmu."
"Pasti dia sudah salah paham tadi. Ini semua salah Uncle."
"Kok jadi Uncle yang salah?"
"Ya iyalah, pokoknya Uncle yang salah. Sekarang antar aku untuk menemuinya."
"Malas."
"Uncle!"
Juna tertawa renyah. "Baiklah, ayok."
Queen yang sudah diselimuti emosi pun langsung menarik Juna keluar. Ia sengaja meminta Juna mengantarnya karena tidak memungkinkan untuk mengemudi sendiri. Lagi pula dengan kehadiran Juna ia bisa menejelaskan semuanya.
Sedangkan di tempat lain, Sean terlihat diam seribu bahasa. Sekembalinya dari kediaman Queen, lelaki itu langsung berangkat ke bandara.
"Saya sudah menyiapkan semuanya, jet sudah siap untuk lepas landas, Tuan."
"Baik, Tuan." Ben pun langsung menggeret koper milik Sean. Ya, lelaki itu memang memutuskan untuk terbang ke Madrid malam ini juga.
Semoga kau bahagia, gadis kecil. Aku akan selalu mencintaimu.
Di mansion milik Sean, Queen berlari menyusuri setiap ruangan di sana. Sedangkan Juna menunggunya di mobil.
"Nona, percayalah. Tuan tidak pernah pulang setelah membawa Anda ke sini pekan lalu."
"Jangan berbohong, katakan di mana dia? Atau dia sengaja bersembunyi dariku?"
"Maaf, Nona. Tapi...." belum selesai maid itu bicara. Queen langsung berteriak memanggil nama kekasihnya.
"Sean! Di mana kau? Cepat keluar, aku bisa menjelaskan semuanya."
"Nona."
"Sean." Kali ini suara Queen pun melemah. Ia sudah lelah mencari keberadaan lelaki itu. Bahkan sebelum ke mansion, ia juga sempat mampir ke perusahaan. Tetapi Sean juga tidak ada di sana.
"Maafkan aku, Sean." Lirihnya. Queen benar-benar menyesal karena sempat melupakan lelaki itu. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka melakukan percintaan yang panas.
__ADS_1
"Nona, biar saya siapkan minuman untuk Anda. Mungkin saja sebentar lagi Tuan akan kembali."
"Ya, terima kasih. Antarkan saja ke kamar." Queen pun melangkah lemas menuju kamar kekasihnya.
"Sean, di mana kau?"
Queen duduk di ranjang empuk itu dengan tatapan sedih. Kemudian ia mencoba untuk menghubungi Sean lagi. Namun sayang, kali ini ponselnya tidak aktif.
"Huhuhu... apa kau benar-benar meninggalkan aku, Sean? Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan aku kan?" Tangisan Queen pun pecah. Ia sangat sedih karena lelaki itu tidak bisa dihubungi.
Dan malam ini ia memutuskan untuk menginap, berharap Sean akan kembali. Ia juga sudah menghubungi Juna supaya lelaki itu tidak menunggunya.
Queen bangkit, lalu berdiri menghadap foto mendiang Ibu Sean. "Mom, aku pasti sudah membuat anakmu kecewa. Beritahu aku kemana dia pergi? Bahkan aku tidak tahu tempatnya nongkrong. Katakan apa yang harus aku lakukan?"
Setelah puas mengadu, Queen berbaring di ranjang. Menatap foto sang kekasih dengan tatapan sedih. "Maafkan aku, Sean. Aku akan menunggumu di sini dan saat kau pulang aku akan menjelaskan semuanya."
Menjelang pagi, Queen tersentak dari tidurnya dan langsung menoleh ke samping. Berharap Sean ada di sana. Namun itu hanya harapannya belaka, karena lelaki itu sepertinya memang tidak pulang.
"Hiks... kau kemana sih?" Queen terdiam merenung. Sampai ia pun mengingat perkataan Sean kemarin.
"Ya ampun, bagaimana bisa aku lupa. Hari ini kan dia akan pergi ke Madrid." Sontak ia pun lompat dari tempat tidur dan langsung berlari keluar.
Queen menyetop sebuah taksi. "Pak, ke Bandara. Cepat ya?"
"Baik, Nona."
Queen terus menggigit kuku jarinya sepanjang perjalanan. Ia berharap bisa bertemu dengan Sean sebelum lelaki itu benar-benar pergi. Bahkan Queen sampai tak menyadari penampilannya saat ini. Rambutnya sedikit berantakan dengan wajah yang sembab. Sampai sang supir pun terus meliriknya dari balik cermin. Berpikir Queen adalah orang gila.
"Nona, apa Anda kabur dari rumah sakit?"
Queen terkejut mendengar pertanyaan itu. "Rumah sakit?"
"Em... maaf sebelumnya. Tapi penampilan Anda...."
Refleks Queen melihat dirinya dari balik cermin. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat penampilannya saat ini. Benar-benar seperti orang gila.
"Ya ampun, maafkan saya, Pak. Pacar saya mau kabur, jadi saya tidak sempat memperhatikan penampilan. Apa lajunya bisa dipercepat?"
Sang supir taksi itu pun tersenyum geli. "Anak muda zaman sekarang menang ada saja tingkahnya."
"Hm." Queen tidak terlalu menanggapi karena saat ini yang ada di pikirannya hanya Sean dan Sean.
Ck, jika saja di sana tidak ada wanita bernama Stella itu. Aku tidak akan secemas ini. Bagaimana jika dia benar-benar salah paham padaku? Dan lari pada gadis itu? Tuhan... aku tidak ikhlas lahir batin. Oh... aku menyesal soal malam tadi. Hanya karena rasa cintaku, aku melupakan Sean. Maafkan aku, Sean. Kau pantas marah padaku, tapi jangan pernah berpaling dariku. Aku tidak rela.
__ADS_1