Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Teman?


__ADS_3

Queen benar-benar dibuat terperangah dengan isi kado yang Sean berikan. Bagaimana tidak, Sean memberikan hadiah yang harganya di luar nalar manusia. Yaitu boneka super mewah dan satu set gaun yang dirancang khusus oleh desainer ternama. Dapat Queen ketahui harganya sudah pasti di atas rata-rata. Bukan hanya itu, di dalamnya juga terdapat jam tangan limited edition. Juga sebuah nota kecil yang terdapat alamat restoran berbintang.


"Apa lelaki itu gila?"


Queen bangkit dari posisinya dan bergegas menuju kamar. Mengambil ponsel dan kembali menghubungi Sean. Hanya dalam hitungan detik panggilannya pun tersambung.


"Bawa kembali barang-barangmu ini. Kau pikir aku wanita apa huh?" Semprot Queen.


"Apa yang kau katakan, gadis kecil?"


"Aku katakan bawa lagi barang-barangmu. Siapa yang kau rampok huh?"


"Itu semua untukmu. Aku ikhlas memberikannya. Aku menunggumu malam ini. Jika kau tidak datang, maka aku yang akan menjemputmu langsung, gadis kecil."


"Jangan harap." Queen menutus panggilan sepihak. Ia mengepalkan tangannya, kesalahan terbesar karena ia menghubungi lelaki itu.


"Sial! Dia pikir siapa huh? Enak saja mengajakku kencan." Omelnya seraya duduk di sofa. Di tatapnya benda-benda mewah itu dengan tatapan malas. Setelah itu ia kembali memasukkan semuanya ke dalam box dan berlalu menuju kamar.


****


Malam hari...


Queen terlihat asik menonton televisi dengan setoples cemilan ditangannya. Sesekali ia tertawa saat melihat adegan lucu. Saat sedang seru-serunya, suara bel terdengar begitu nyaring sampai menggaggu konsentrasinya.


"Ck... siapa sih malam-malam bertamu? Tidak tahu apa aku sedang menonton." Karena sangat kesal, Queen pun langsung membuka pintu. Namun detik berikutnya gadis itu memekik kaget karena tiba-tiba tubuhnya melayang ke udara. Membopongnya seperti karung beras. Orang itu tak lain adalah Sean. Lelaki super gila yang sangat Queen hindari.


"Brengsek, kau mesum. Cepat lepaskan aku!" Teriaknya seraya memukul punggung lelaki karena kesal. Namun Sean sama sekali tidak menggubrisnya dan membawa gadis itu masuk ke dalam lift. Sontak beberapa orang yang ada di dalamnya menatap Sean tajam. Sedangkan Queen terus memberontak.


"Dia istriku, aku sedang membujuknya." Kata Sean meyakinkan mereka. Seketika tatapan tajam itu berubah menjadi tatapan memuja. Mereka merasa sikap Sean sangatlah romantis. Meski cara Sean terbilang konyol.


"Siapa yang istrimu? Lepaskan, brengsek! Aku akan membunuhmu. Jangan percaya dia, aku diculik." Histeris Queen. Mendengar itu semua orang malah tersenyum geli.


"Aku tahu kau masih marah, sayang. Maafkan aku. Kita harus pulang dan membicarakannya baik-baik."


Queen mendengus sebal yang dibarengi dengan terbukanya lift. Bergegas dibawanya Queen ke dalam mobil yang sudah terparkir indah di depan pintu utama.


"Brengsek! Aku akan melaporkanmu ke polisi atas penculikan ini." Kesal Queen memukul lengan Sean. Kemudian ia berusaha membuka pintu mobil, sayangnya pintu itu sudah terkunci.


"Jalan." Titah Sean. Lalu mobil itu melesat pergi meninggalkan apartemen.


"Hey! Kau ini siapa huh? Berani sekali kau menculikku." Semprot Queen. Sean melirin sekilas.


"Calon suamimu."


Queen berdecih sebal. "Bermimpi saja."


"Hm... bukankah semuanya memang berawal dari sebuah mimpi?"


Queen semakin kesal dibuatnya. "Lepaskan aku! Apa maumu sebenarnya huh?"


Sean tidak menjawab.


"Brengsek." Umpat Queen mulai lelah. Ia pun memilih diam dengan memalingkan wajahnya ke luar jendela.


Mobil mewah itu pun berhenti di sebuah butik ternama.


"Turun atau aku akan menggendongmu lagi." Titah lelaki itu bergegas turun dari mobil. Mendengar ancaman itu Queen pun bergegas keluar dan hendak kabur, tetapi Sean jauh lebih cepat dan berhasil menarik pinggangnya. Lalu dengan sigap membawa Queen masuk.

__ADS_1


"Berhenti membuat ulah, gadis kecil."


"Lepas! Aku akan berteriak sekarang. Kau akan dipukuli orang-orang."


"Lakukan, mereka tidak akan berani menyentuhku."


"Cih, memangnya kau siapa sampai mereka tidak berani memukul penjahat sepertimu?" Sinis Queen berusaha melepaskan tangan Sean dari pinggangnya.


"Kau bisa mencari tahu siapa aku di internet."


"Tidak ada gunanya." Kesal Queen.


Sean tersenyum miring. Membawa gadis itu ke ruang khusus. "Dandani dia secantik mungkin." Titahnya pada beberapa karyawan yang ada di sana. Dengan sigap mereka pun membawa Queen ke ruang ganti meski gadis itu sempat menolak.


Lima belas menit berikutnya, Queen keluar dari ruangan itu. Seketika Sean terpana dengan kecantikan alami yang gadis itu miliki. Queen memang terlihat begitu cantik dengan balutan dress berwarna kuning, begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih.



"Berhenti menatapku seperti itu." Queen memutar bola matanya malas.


"Kau sangat cantik, baby." Puji Sean tanpa rasa malu sedikit pun. Queen yang mendengar itu mendengus kesal.


"Mau sampai kapan kau akan terus menatapku huh? Aku harus pulang, jangan lupa aku seorang mahasiswa."


Sean tersenyum dan mendekati gadis itu. Lalu menarik dan membawanya keluar dari sana.


Sepanjang perjalanan Queen memilih diam. Membuat Sean merasa heran karenanya.


"Ada apa denganmu? Kau kehabisan kata-kata huh?"


"Aku sudah mengingatkanmu, kau mengabaikan itu."


Queen berdecih sebal.


"Anggap saja aku sedang mengejarmu."


"Aku sudah punya kekasih." Alibinya. Namun Sean malah tersenyum mendengar itu.


"Bagaimana bisa kau punya kekasih huh? Cintamu saja bertepuk sebelah tangan."


Queen cukup kaget mendengar itu. "Kau menyelidiki aku?"


"Sudah aku katakan aku sedang mengejarmu, jadi aku harus tahu semua kehidupanmu." Sahut Sean dengan entengnya.


"Kau tidak perlu ikut campur dengan masalah pribadiku." Kesal Queen yang tidak pernah suka orang asing mencampuri urusannya.


"Lalu bagaimana dengan ini?" Sean menunjukkan sesuatu dibalik layar ponselnya. Sontak mata Queen membulat. Di rebutnya ponsel Sean dengan kasar.


"Uncle... kau...." suaranya mulai bergetar dengan air mata yang mulai membendung dipelupuk matanya. Ya, Sean menunjukkan foto pertunangan Juna dengan Clarie beberapa hari lalu.


"Dua hari lagi mereka melangsungkan pernikahan yang cukup megah di Bali. Sayang sekali dia tidak mengundangmu." Sean tersenyum miring.


Bagaikan ribuan belati yang menghujam jantung gadis itu. Tega sekali kau, Uncle. Bahkan tidak ada yang memberitahuku kabar penting ini. Apa mereka sudah tidak menganggapku hidup? Daddy dan Mommy juga sama saja.


Queen memeberikan ponsel itu pada Sean. Hatinya benar-benar sakit saat ini. Ia memalingkan wajahnya keluar jendela, tidak ingin Sean melihat air matanya yang mengalir deras.


"Berhenti menangis, kau terlihat menyedihkan. Kau masih memiliki aku yang bisa membuatmu bahagia." Ucap Sean begitu percaya diri. Membuat Queen yang awalnya sedih menjadi kesal setengah mati.

__ADS_1


"Apa yang kau tahu soal perasaanku huh? Kau tidak akan pernah tahu."


"Tentu saja aku tahu."


Queen menoleh.


"Aku pernah diposisimu, bahkan jauh lebih menyedihkan."


Queen mulai tertarik dengan kisah lelaki itu, tatapannya begitu serius. Seolah meminta Sean untuk menceritakan semua kisah itu.


"Perlahan aku akan mengatakan semua kisahku padamu, berikan aku kesempatan untuk memiliki hatimu, gadis kecil." Tangan Sean terulur untuk menyentuh pipi halus gadis itu. "Aku berjanji akan menjadikanmu satu-satunya ratu dihatiku."


"Kenapa harus aku? Banyak gadis cantik di luar sana."


Sean tersenyum. "Mereka tidak tulus."


"Memangnya kau tahu isi hati seseorang huh?"


"Aku bisa melihat begitu banyak ketulusan di matamu."


Queen memutar bola matanya malas.


"Aku tidak berbohong, aku ingin serius denganmu." Kali ini ucapan lelaki itu terdengar serius, membuat Queen terdiam cukup lama.


"Terdengar aneh, bahkan kita belum mengenal satu sama lain." Kening Queen terlihat mengerut.


Sean tersenyum. "Perlahan aku akan mengenalmu, begitupun sebaliknya."


"Konyol."


"Apa salahnya kita coba, mungkin kita bisa berteman lebih dulu, bagaimana?"


"Teman? Aku berteman dengan lelaki tua sepertimu?" Cibir Queen.


Sean tersenyum lagi. "Lalu bagaimana dengan cinta pertamamu? Bahkan dia jauh lebih tua dariku."


Queen mendengus pelan. "Jangan membahasnya lagi."


"Baiklah. Jadi kau mau berteman denganku?" Sean menatap Queen serius. Namun gadis itu tampak berpikir keras.


"Apa keuntunganku berteman denganmu?"


"Kau bebas mengambil keuntungan apa pun dariku," sahut Sean.


"Benarkah?"


"Ya."


Queen diam sejanak. "Baiklah, kita berteman." Mengulurkan tangannya pada lelaki itu. Dengan senang hati Sean menerimanya.


"Tapi rasanya sangat aneh, beberapa menit yang lalu kau menculikku. Dan sekarang kita berteman?"


"Beruntung aku tidak langsung menikahimu."


Queen mendengus sebal. "Menyebalkan."


Sean tersenyum begitu manis, tanpa sadar Queen pun ikut tersenyum. Bahkan ia sedikit melupakan Juna yang sudah memporak porandakan hatinya.

__ADS_1


__ADS_2