Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Kekacauan yang disengaja


__ADS_3

Queen memandangi gedung mewah yang sudah di dekorasi sedemikian rupa, layaknya pesta pernikahan konglomerat. Dan hal itu membuat amarah Queen memuncak.


Brengsek! Kau bersenang-senang di sini, sedangkan sepupuku menderita di sana. Geram Queen dalam hati.


Sean yang melihat ekspresi datar istrinya pun mendadak ngeri. "Sayang." Panggilnya. Spontan Queen pun menoleh.


"Kita masuk sekarang?"


Queen mengangguk. Ia pun merengkuh lengan suaminya dan keduanya pun memasuki gedung mewah itu dengan langkah elegan. Dan mereka pun disambut dengan alunan musik romantis.


Melihat kehadiran Sean, suasana mendadak riuh. Seolah kehadiran Sean lebih menarik dibanding pengantinnya.


Bara sempat terkejut saat melihat kehadiran Queen. Lelaki itu yang awalnya duduk pun langsung bangkit. Bahkan tatapan intimidasi dari Queen membuatnya gelisah. Namum, berbeda dengan orang tuanya. Ayah dari Bara terlihat senang saat melihat kehadiran Sean. Karena tidak mudah bisa menghadirkan seorang Sean Cameron.


"Selamat datang, Tuan. Senang Anda bisa hadir di antara kami." Sapa lelaki itu. Sayangnya Sean mengabaikan keberadaannya dan mengikuti langkah Queen yang terus berjalan menuju pelaminan. Bara pun mulai terpojok. Sedangkan wanita yang kini menyandang status istri Bara itu tersenyum senang saat melihat Sean dan sang istri. Ia pikir kedatangan mereka untuk mengucapkan selamat.


Queen melepaskan tangan Sean dan melangkah pasti mendekati Bara. Ia berdiri tepat di hadapan Bara dengan tatapan tak bersahabat.


Plak!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi Bara. Sontak semua orang berteriak histeris karena kaget. Apa lagi tamparan itu berasal dari tangan istri Sean Cameron. Bahkan wanita di sebelah Bara menutup mulutnya tak percaya.


Ayah Bara hendak menaiki pelaminan dan ingin menghentikan aksi Queen. Namun, isyarat yang Sean berikan mampu menahan langkah lelaki itu.


"Apa itu sakit?" Tanya Queen dengan tatapan datar.


Bara menatap Queen memelas. "Queen, aku...."


Plak!


Dan tamparan kedua pun berhasil mendarat di pipi lelaki itu.


"Hey, kau...." Istri Bara hendak protes, akan tetapi ia langsung terdiam saat melihat tatapan membunuh yang Queen berikan. Wanita itu pun mundur perlahan.


"Aku tanya padamu apa itu sakit?" Bentak Queen.


Bara pun langsung menjatuhkan dirinya, bersimpuh di kaki Queen. Sontak semua orang yang melihat itu terkejut.


"Maafkan aku, Queen. Aku terpaksa melakukan ini. Aku tidak ingin menempatkan Ella dalam bahaya. Kau tidak tahu keluargaku."

__ADS_1


Queen berdecih. "Kau pikir keluargaku lemah huh? Kau yang terlalu lemah, Bara." Teriak Queen semakin tersulut emosi. "Kau mencampakkan sepupuku dan menikahi wanita ini? Di mana hatimu, Bara?"


Bara menangis di kaki Queen. "Aku mencintai Ella, Queen. Sungguh."


Queen tertawa hambar. "Cinta kau bilang? Lalu di mana cinta itu, kawan? Di mana bukti cintamu itu?"


Bara terdiam karena bingung harus menjawab apa.


"Apa kau tahu, Bara? Ella hampir kehilangan nyawanya karena frustasi saat tahu kau akan menikah."


Bara terkejut mendengarnya. "Apa? Bagaimana dia bisa tahu, aku sengaja menyembunyikan ini darinya."


Queen melirik ke arah wanita berbalut gaun pengantin. "Tanyakan saja pada istri tercintamu. Apa yang sudah dia katakan pada sepupuku?"


Wanita itu mundur beberapa langkah. Sontak Bara pun melayangkan tatapan tajam pada istrinya. "Apa yang kau lakukan sialan!"


"Bara... aku...."


"Hantikan drama kalian. Aku muak melihatnya. Kalian semua penjilat." Sela Queen.


Queen pun kembali memusatkan perhatian pada lelaki yang amat ia benci saat ini. "Dan kau, Bara. Jangan pernah muncul di hadapan sepupuku lagi jika kau sayang dengan nyawamu."


Bugh!


Sebuah tendangan keras mendarat di aset berharga Bara. Membuat lelaki itu terjungkal sambil meringis kesakitan. Setelah melakukan itu Queen pun turun dari pelaminan dan melangkah pasti mendekati kedua orang tua Bara.


Queen berdiri dengan angkuh di depan dua orang paruh baya itu. Lalu memandang remeh keduanya. "Jadi ini orang yang merasa paling hebat huh?"


Ayah dari Bara itu mengepalkan kedua tangannya. Jika tidak mengingat ada media dan Sean di sana. Mungkin ia sudah menampar Queen.


"Ah, aku hanya ingin mengatakan padamu. Kau meremehkan sepupuku bukan? Alasanmu karena dia anak seorang petani huh? Begitu rendahkah seorang petani di matamu, Tuan? Bahkan kau tidak akan bisa makan jika tidak ada mereka." Queen menjeda kalimatnya.


"Cih, bahkan kau mencampakkan sepupuku meski kau tahu dia sedang mengandung cucu kalian huh?" Queen melirik ke arah Bara dengan tatapan sengit. "Kalian pantas mendapat gelar pengecut."


Queen tertawa remeh. "Apa kalian tahu?" Ia pun kembali mengalihkan atensinya pada lelaki di hadapannya saat ini. "Anak petani yang kalian sia-siakan itu, bahkan dia bisa membeli seluruh saham yang kau banggakan itu. Coba aku tebak, berapa banyak saham yang kau punya. Satu, dua atau sepuluh triliun? Ah... atau mungkin lebih?"


Queen sedikit mencondongkan tubuhnya dan berbisik. "Mereka bisa membeli harga diri kalian asal kau tahu."


Lelaki paruh baya itu tersenyum kecut. "Kau memanfaatkan posisimu sebagai istri Sean Cameron huh?"

__ADS_1


Queen tertawa lagi. "Apa kau pikir aku gila harta sampai memanfaatkan suamiku? Ayolah, aku tidak semurahan itu, Tuan."


"Siapa kau sebenarnya?" Ketus Ibu Bara.


"Aku? Ah... aku hanya seorang istri dari lelaki kaya raya yang ada di sana." Queen menunjuk Sean. Lelaki itu terlihat santai dan membiarkan sang istri melakukan keinginannya.


"Oh iya." Queen kembali menarik perhatian semua orang. "Periksa ponsel Anda, Tuan."


Lelaki paruh baya itu langsung merogoh ponselnya cepat-cepat. Sepertinya ia mulai goyah.


Queen tertawa renyah. "Kau takut huh?"


Merasa di permainkan, lelaki paruh baya itu hendak menyakiti Queen. Namun Sean lebih dulu menahannya. "Berani sekali kau menyakiti istriku." Geramnya.


"Cih, tidak seharusnya aku mengundang kalian." Sombong lelaki paruh baya itu.


"Ya, karena yang harus kau undang itu aku." Sahut seseorang yang berhasil menarik perhatian semua orang. Termasuk Sean dan Queen tentunya.


Senyuman Queen pun mengembang saat melihat kehadiran Aletta di sana. Wanita itu terlihat cantik dengan pakaian formal. Sangat jauh berbeda dengan penampilan biasanya yang hanya mengenakan pakaian biasa layaknya petani di luar sana. Bahkan Aletta tidak segan datang bersama puluhan anak buahnya.


Queen bersyukur karena sang Aunty tidak membawa Mommynya. Jika itu terjadi, maka tempat ini akan menjadi kenangan.


"Ya Tuhan, bukankah itu putri dari Adam Hatchler yang sudah lama hilang kabar?"


"Iya, benar. Hanya orang hebat yang bisa mengundangnya."


Terdengar bisikan-bisikan tamu undangan yang berhasil membuat keluarga Bara ciut. Bahkan Bara sendiri terkejut saat melihat Ibu dari Ella itu.


Aletta melangkah elegan menghampiri keponakannya. "Jadi kau sudah menghajarnya?"


Queen mengangguk kecil.


"Baguslah, jadi Auntymu ini tidak perlu mengotori tangan." Ujar Aletta menatap Bara yang terlihat ketakutan di sana. Tanpa ragu Aletta pun menghampiri lelaki itu.


Bara tidak berani menatap Aletta secara langsung. Sedangkan Aletta masih setia menatapnya. "Sejak awal aku tahu kau bukan lelaki bertanggun jawab, Bara. Tapi putriku terlalu mencintaimu. Aku dan suamiku membiarkan kalian berpacaran karena aku tahu rasanya jatuh cinta tanpa restu itu sangat menyakitkan. Tapi kau menghancurkan kepercayaan itu, Bara. Bahkan kau menghancurkan masa depannya. Kemudian kau pergi begitu saja. Apa kau pantas bahagia?"


Bara mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak terima terus di pojokkan. "Aku tidak pernah berharap dia hamil. Aku sudah memintanya mengkonsumsi pil kontrasepsi. Tapi dia keras kepala dan sekarang kalian menyalahkan aku? Kami juga melakukannya karena sama-sama mau. Apa kalian pantas menyalahkan aku seorang. Kenapa kalian juga tidak menghakiminya? Anak itu tidak akan hadir jika dia mendengarkan kata-kataku."


"Kau keterlaluan, Bara!"

__ADS_1


Tbc....


__ADS_2