
Seketika mata Mercia terbelalak melihat sosok tinggi besar yang terus mendekat ke arahnya. Pakaian kasual yang dipakai membuat pesonanya semakin menyeruak. "Kam...."
"Mr. K?" Sapa Katerine memotong ucapan Mercia. Lalu wanita itu pun bangkit dan memberikan salam hormat pada orang itu. Yang tak lain adalah Kingsley Michaelson, atasannya.
Winter menghela napas lega, karena kehadiran King menyelamatkannya dari amukan Katerine. Berbeda dengan Mercia, gadis itu masih membeku sangking kagetnya.
"Maaf aku terlambat, Sayang." Alih-alih memabalas sapaan Katerine, King malah berdiri di sisi Mercia. Lalu menjatuhkan kecupan hangat di kepala gadis itu. Spontan tubuh Mercia pun semakin membeku karena ulahnya. Bukan hanya Mercia, Katerine yang melihat itu pun tak kalah kaget. Dan bertanya-tanya siapa sebenarnya Mercia?
Siapa wanita ini sebenarnya? Kenapa Mr. K bersikap seolah wanita ini kekasihnya? Pikir Katerine memasang wajah bingung. Pasalnya semua orang tahu King sama sekali tak pernah menunjukkan kekasihnya di depan publik. Lelaki itu cukup tertutup mengenai percintaannya.
King menatap Winter. "Terima kasih karena sudah menemani istriku, Mr. Patler." Ucapnya yang berhasil membuat Katerine kembali kaget. Sedangkan Winter yang paham maksud King puun tersenyum begitu manis. Dan untuk Mercia, gadis itu benar-benar mematung.
Apa? Jadi wanita ini istrinya? Jadi rumor itu benar, Mr. K sudah menikah dan menyembunyikan istrinya? Ya Tuhan, aku hampir membuat kesalahan. Seketika wajah Katerine pun memucat.
"Maafkan saya, Mr. K. Saya tidak tahu jika beliau ini istri Anda." Tatapan Katerine pun tertuju pada Mercia, tatapan tak percaya.
Mercia pun tersentak dan langsung bangun. "Sepertinya kalian salah pa...." King merengkuh pinggang Mercia dan sedikit menekannya supaya gadis itu tidak melanjutkan ucapannya. Beruntung itu berhasil.
"Aku tahu kamu masih marah karena aku terlambat, sayang. Maafkan aku." Dan kali ini King memberikan kecupan di pipi gadis itu. Lalu mengalihkan atensinya pada Katerine. "Sekarang kamu sudah tahu siapa dia bukan? Jadi kedepannya, jaga sikapmu."
"Baik, Mr." Katerine sedikit membungkuk dengan tubuh bergetar. Hampir saja ia membuat masalah besar. Menyingggung istri CEO, sama saja menyinggung CEO itu sendiri bukan?
Mercia menggerutu dalam hati. Ini si Om ngapain pake bilang aku istri dia sih? Mana pake ambil kesempatan nyium lagi. Ngarep banget kayaknya jadi suami aku. Tapi... gak buruk juga sih akting jadi istri konglomerat kayak si Om ini kan? Lumayan nih bisa meluk orang ganteng. Kapan lagi coba? Jangan salahin aku ya Om, siapa suruh mulai duluan. Ia pun terkekeh dalam hati.
Kemudian gadis itu mulai memainkan aktingnya. Kedua tangan mungilnya dilingkarkan di pinggang lelaki itu. Lalu mendongak. Sontak King pun kaget dibuatnya dan mendadak merinding saat bertemu tatapan Mercia.
"Ck, lama banget tahu. Aku kan berjamur nunggu di sini. Untung ada Winter yang mau nemenin. Lain kali jangan gitu lagi " Rengek Mercia begitu manja.
Gimana akting aku, bagus kan? Seperti itulah arti tatapan yang Mercia berikan pada King.
Awas kamu ya. Balas King dengan mata sedikit menyipit. Mercia pun terkekeh kecil.
Siapa suruh ngajak aku akting-aktingan. Tapi... enak juga ya peluk si Om. Nyaman banget. Tanpa sadar Mercia memeluk King dengan erat.
Winter berdeham kecil, lalu bangun dari duduknya. Paham akan situasi. "Maaf karena tunanganku hampir membuat kekacauan, Mr. K. Kalau begitu kami pamit." Ucap Winter yang dijawab anggukan oleh King. Tanpa banyak bicara lagi Winter menarik tunangannya pergi dari sana. Meninggalkan Mercia bersama King yang masih berpelukan mesra.
Sepeninggalan mereka, King berdeham karena gadis itu tak lekas melepaskan dirinya.
Mercia tersadar dan langsung menarik diri dari lelaki itu. "Hehe, maaf. Terlalu hanyut dalam peran. Abis baru tahu kalau Om pinter akting."
King tersenyum tipis, lalu melipat kedua tangannya di dada. "Jadi hadiah apa yang aku dapat sebagai ucapan terima kasih huh?
Mercia menghela napas panjang. "Pertama-tama, aku mau minta maaf dulu deh buat sore tadi. Maaf ya, Om. Aku udah maki-maki Om, padahal aku yang salah." Ucapnya dengan tulus.
King tersenyum lagi. Ternyata anak ini tahu cara minta maaf juga.
"Em... untuk hadiah... ngapain juga aku ngasih Om hadiah? Lagian aku kan gak minta bantuan situ." Mercia menjulurkan lidahnya.
King menghela napas pendek. "Saya jadi nyesel buang-buang waktu buat nolong orang gak tahu terima kasih." Setelah itu ia pun hendak meninggalkan Mercia. Sontak Mercia pun tersentak dan langsung menahannya. Jika King pergi, dengan siapa dirinya pulang? Ia sama sekali tidak membawa uang. Bahkan ponsel pun tak ia bawa.
"Eh... tunggu dulu dong, Om."
King pun berbalik dengan wajah datarnya. "Apa lagi? Bukanya kamu gak butuh bantuan saya?"
"Om... jangan marah dong. Iya deh aku bilang makasih. Makasih ya, Om atas bantuannya. Masalah hadiah, aku kan gak tahu apa yang Om mau? Lagian, kayaknya Om udah punya segalanya deh. Om juga tahu kan aku tuh cuma anak baru lulus sekolah, gak punya banyak uang." Mercia memasang wajah memelasnya.
King tersenyum penuh arti. "Kamu gak harus ngasih hadiah dalam bentuk barang, Merica." King menyentil pelan kening gadis itu.
Mercia terkekeh kecil. "Terus, Om mau hadiah apa dong? Mau aku cium ya? Ih... gak boleh. Aku tuh gak pernah ciuman tahu."
King tersenyum geli. "Otak kamu itu kayaknya emang ngeres ya?"
__ADS_1
Mercia menyebikkan bibirnya. King yang melihat itu merasa tergelitik. "Kamu cukup temenin saya ke pesta besok malam. Gimana?
"Pesta?" Kaget Mercia.
King mengangguk. "Ada pesta perjamuan besok malam. Kamu jadi pasangan saya." Jelas King to the point.
Mercia tampak berpikir. "Em... boleh deh. Lagian aku tuh gak suka berhutang budi."
King mengangguk. "Jam tujuh, jangan lupa."
Mercia mengangguk yang diiringi senyuman manis.
"Sekarang kamu temenin saya makan, makan malam saya harus tertunda gara-gara kamu." Tanpa ragu King meraih tangan gadis itu. Lalu membawanya ke ruang VVIP, di mana hanya ada bangku khusus untuk mereka di sana. Juga ada dua pelayan yang siap melayani. Alunan musik romansa terdengar begitu merdu ketika keduanya duduk.
Mercia cukup takjub. "Gila! Jadi Om mau makan sendirian di tempat kayak gini? Beneran sultan ini mah."
King tersenyum. "Saya tidak suka keramaian."
Mercia pun menumpahkan semua atensinya pada King. Lalu menopang dagu dengan kedua tangannya. "Gak suka keramaian tapi ada musik. Gimana sih?"
"Musik itu beda." Sahut King yang kemudian menjentikkan jarinya. Tidak lama pintu ruangan pun terbuka. Seorang lelaki berseragam putih masuk, mendorong troller berisi makanan. Lalu menghidangnya di atas meja dengan hati-hati.
Mercia pun terus memperhatikannya. Setelah itu ia kembali menatap King. "Kok aku merasa aneh ya?"
"Aneh gimana?" Tanya King dengan santai.
"Ya aneh aja, Om. Kita kayak pasangan yang lagi dinner gitu."
King tersenyum. "Kalau kamu merasa kayak gitu, anggap aja gitu."
Mercia tertawa kecil. "Si Om mah suka bencanda. Emang Om gak punya pacar?"
King menatap Mercia sekilas. "Punya." Sahutnya acuh tak acuh.
"Udah jangan banyak ngomong, ayo makan." Ajak King yang memang sudah lapar sejak tadi.
"Tapi aku udah makan tadi."
"Kamu cuma makan dikit." Sahut King yang kemudian menyantap hidangan.
Mercia tersenyum malu. "Cie... jadi Om perhatiin aku ya? Jadi malu."
King tersedak mendengarnya. Cepat-cepat ia pun minum, lalu menatap Mercia tajam. Bukannya merasa bersalah, justru gadis itu semakin mengembangkan senyumannya.
"Om suka ya sama aku?"
King melebarkan matanya. "Percaya diri banget kamu."
Mercia mendorong badannya ke depan. Lalu berbisik. "Kalau emang suka, bilang aja. Selagi masih belum milik orang. Halalin adek, Bang."
King mendengus sebal. "Cepat makan, kamu udah janji bakal pulang cepat sama Kakak saya."
Mercia menghela napas berat, lalu menegakkan tubuhnya. "Ish, pake jual mahal segala. Emang mahal sih."
King mengabaikannya dan fokus menikmati makan malam yang hangat itu. Sedangkan Mercia terus melirik lelaki tampan itu sambil senyum-senyum.
King yang merasa diperhatikan pun membalas lirikan itu. "Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?"
Mercia tersenyum lebar. "Cuma lagi bayangin aja, gimana ya kalau kita nikah beneran?"
"Ya gak gimana-gimana." Sahut King sekenanya. Sontak Mercia pun memasang wajah ceria.
__ADS_1
"Jadi Om beneran suka ya sama aku? Hayo ngaku? Cie... ciee...."
King memberikan tatapan tajam. "Jangan buat saya hilang selera, Merica."
"Nama aku Mercia, Om. Bukan Merica. Ngesil kadang-kadang si Om mah. Untung aja ganteng, jadi aku maafin deh." Gerutu gadis itu sambil cengengesan.
"Makan." Titah King dengan nada tegas.
"Iya, ini aku makan kok. Ternyata enak ya makan berdua sama orang ganteng? Mana musiknya romantis lagi. Coba aja Jef seromantis Om. Pasti aku seneng banget. Sayangnya dia kaku kayak kanebo."
King melirik Mercia beberapa kali. "Jadi sekarang kamu gak senang?"
"Seneng kok." Jawab Mercia apa adanya. "Kan makanannya gratis, pasti seneng dong Om."
King mendengus sebal.
"Oh iya, Om. Lama ya di sini?"
"Lumayan." Sahut King disela makannya.
"Terus perusahaan di Indo gimana?" Mercia menatap King lekat.
"Saya udah gaji orang dengan harga tinggi, rugi kalau mereka gak becus urus perusahaan." Jawab King.
"Iya juga sih. Tapi keren tahu masih muda udah jadi miliarder. Perusahaan Om juga udah manca negara kan? Beruntung banget loh perempuan yang nantinya jadi istri Om."
"Hm." Sahut King acuh.
"Oh iya, kok Om belum nikah sih?" Tanya Mercia lagi yang sejak lama ingin menanyakan itu pada lelaki dihadapannya itu.
"Saya lagi nunggu seseorang."
"Hah?" Kaget Mercia. "Siapa cewek beruntung itu? Bilang dong, Om. Mana tahu aku bisa bantu." Seketika Mercia semakin semangat.
King melirik Mercia sekilas sebelum menjawab. "Entahlah, kayaknya dia gak bakal mau sama saya."
Mendengar itu Mercia tertawa kecil. "Mana ada cewek yang bisa nolak Om sih? Kan Om punya semuanya. Bahkan aku sering denger cewek-cewek gosipin Om loh. Emang Om udah pernah nanya ke dia?"
King menggeleng.
"Ya ditanya dong, Om. Kalau gak nanya gimana Om tahu dia suka apa enggak."
King menghentikan makannya. Ditatapnya Mercia lekat-lekat. "Emang kamu mau jadi istri saya?"
"Hah?" Lagi-lagi Mercia terkejut. Namun, detik berikutnya gadis itu tertawa renyah. "Si Om bisa bercanda juga rupanya."
King menegakkan tubuhnya. "Kalau saya serius gimana?"
Seketika tubuh Mercia menegang. Duh, ini si Om beneran naksir aku? Gimana dong? Mama kan udah jodohin aku sama Jef.
King tertawa kecil. "Saya cuma bercanda. Gak usah tegang gitu."
Spontan wajah Mercia pun memerah karena kesal plus malu. "Om! Ngeselin banget sih. Aku udah tengang banget tahu."
King kembali tertawa. "Udah, lanjut makannya. Kamu sudah ganggu makan malam saya, Merica."
"Mercia, Om."
"Sama aja."
"Huh, dasar Om-om." Mercia melahap makanannya dengan kasar karena kesal.
__ADS_1
King tersenyum geli, sesekali melirik gadis di depannya itu. Setelah itu semuanya tampak hening, hanya suara musik dan dentingan sendok yang terdengar.