
Alih-alih melakukan meeting, Sean dan Ben justru mendatangi sebuah ruangan dengan penerangan temaram. Bau amis dan busuk begitu menyengat dalam penciuman. Keduanya melewati deretan jeruji besi yang setiap sekatnya terdapat penghuni. Jeritan dan ringisan mereka terdengar begitu memilukan.
Lalu, kedua lelaki tampan itu pun berhenti tepat di depan sebuah jeruji besi yang berada diujung. Di mana di dalamnya terdapat seorang laki-laki yang sudah terikat di kursi baja dengan tubuh dipenuhi luka. Ben maju dua langkah, lalu membukakan gembok pintu. Setelah itu ia membantu Sean masuk.
Sean memandang lelaki mengenaskan itu dengan tatapan tak bersahabat. Lelaki asing dengan wajah dipenuhi darah pun membuka mata. Yang tak lain adalah Abraham. Otak utaman penculikan Queen beberapa hari lalu.
"Kau." Geram lelaki itu saat melihat Sean.
"Bagaimana? Kau bersenang-senang huh?" Tanya Sean tersenyum miring. "Berani sekali kau ingin menculik istriku. Terimalah akibatnya."
"Sialan." Umpat Abraham dengan suara seraknya. Karena sejak kemarin tak ada yang memberinya makan dan minum selain siksaan demi siksaan.
"Beri dia minum." Titah Sean. Dengan sigap Ben beranjak untuk mengambil air. Tidak perlu lama, ia sudah kembali dengan sebotol air mineral. Lalu meminumkan air itu pada Abraham melalui udara. Karena sangat haus, lelaki itu menerimanya dengan rakus. Sean yang melihat itu tersenyum miring. "Nikmat bukan?"
Abraham tersedak.
"Beri dia makan juga, Ben. Biarkan dia menikmati sisa hidupnya." Perintah Sean lagi.
"Baik, Tuan."
Tidak lama seorang lelaki jangkung berpakaian serba hitam masuk dengan sebuah nampan di tangannya. Lalu memberikan itu pada Ben.
Ben meminta lelaki itu pergi. Lalu memerintah salah satu penjaga untuk memberi Abraham makan. Karena kelaparan, Abraham melahapnya dengan rakus.
"Ah, apa aku terlalu baik padamu?" Tanya Sean dengan wajah dinginnya. "Memberimu makan dan minum sepuasnya. Itu bukanlah karakterku. Tapi... aku melakukan ini hanya padamu. Kau itu spesial, Abraham."
Abraham menatap Sean tajam. Giginya gemertak menahan amarah. "Kau akan menyesal karena berani melawanku. Akan aku pastikan istrimu mati." Kecamnya.
Sean tersenyum tipis. "Lakukan itu, jika kau mampu."
Abraham tertawa kencang. "Aku sudah mengirim anak buahku untuk membunuh istrimu, Sean. Akan aku pastikan dalam hitungan detik dia mati."
"Benarkah?" Sean terlihat santai. "Ayo berhitung. Satu... dua...."
"Tuan." Sela Ben seraya menunjukkan layar ponselnya. Senyuman pun terbit dibibir Sean seketika. Diraihnya ponsel Ben dengan gerakan sensual, sedangkan matanya masih tertuju pada Abraham. "Coba kau tebak, siapa yang ada dalam berita pagi ini huh?"
Abraham berusaha memberontak. Ia merasa ada hal buruk yang akan Sean sampaikan.
Sean tersenyum devil, lalu dibaliknya layar ponsel itu ke arah Abraham. Mata lelaki itu membulat seketika. Rahangnya juga mengeras. Bagaimana tidak, di sana terpampang jelas berita kematian dirinya.
"Brengsek kau, Sean." Umpat lelaki itu dengan kilatan amarah di matanya.
Sean tertawa kecil. "Apa kau pikir aku yang melakukan ini huh?"
Abraham mengeratkan rahangnya dengan erat.
"Bukan aku, Abraham. Tapi istrimu yang membuat berita palsu ini." Sean menggulir kembali berita selanjutnya. Di mana istri dari Abraham itu terlihat bercengkrama mesra dengan seorang lelaki yang sangat Abraham kenali di sebuah hotel. Yaitu adik kandungnya sendiri. Yang lebih menyakitkannya lagi. Sang adik mengumumkan di depan publik jika perusahaan milik Abraham jatuh ketangannya.
"Itu tidak mungkin."
Sean mengembalikan ponsel Ben. "Sepertinya kau sudah dikhianati istrimu. Ah, maaf aku salah. Kau juga mengkhianatinya bukan? Jadi kalian impas. Hanya saja istrimu sangat beruntung, karena berhasil menggoda permata seperti Aron. Ternyata adikmu itu sangat pintar mengambil kesempatan. Bukan hanya harta, dia juga merampas wanitamu. Sungguh adik kakak yang luar biasa."
"Brengsek!" Teriak Abraham seolah tak merasakan sakit disekujur tubuhnya. Rasa sakit itu tergantikan dengan rasa sakit dihatinya. "Aku akan membunuh mereka."
Sean tersenyum miring. "Aku penasaran bagaimana cara orang mati membunuh orang hidup?" Ledeknya. Spontan Abraham melayangkan tatapan membunuh yang kental. Sean tak goyah, justru ia tersenyum puas. "Beri tahu aku, dengan cara apa kau ingin mati huh?"
Gigi Abraham gemertak. Benar kata Sean, kini nyawanya diujung tanduk. Bagaimana mungkin dia bisa memberi pelajaran pada para pengkhianat itu. Kecuali ia memohon dan meminta ampun pada Sean. Mungkin saja dirinya akan terbebas.
Aku harus bebas dari tempat ini, setelah membunuh pengkhianat itu. Aku akan membunuhmu, Sean.
"Apa yang sedang kau pikirkan huh? Ingin lari?" Tanya Sean dengan nada santai.
__ADS_1
"Aku mohon, lepaskan aku, Sean. Aku berjanji tidak akan mengganggu istri dan dirimu lagi. Biarkan aku memberikan pelajaran pada mereka." Mohon Abraham menurunkan kehormatannya di depan Sean.
"Melepaskanmu huh? Apa imbalannya?"
Abraham terdiam sejenak. "Aku akan memberikan putri cantikku padamu. Usianya masih sangat muda."
Sean tertawa hambar. "Kau masih saja menggunakan wanita dalam berbisnis. Aku tidak tertarik."
Abraham mulai kehilangan ide. "Begini saja, aku akan membagi saham perusahaan padamu."
Lagi pula aku akan langsung membunuhmu setelah ini. Abraham tersenyum penuh muslihat.
Sean tersenyum. "Benarkah? Saham ya? Lumayan. Ben, apa menurutmu kita masih membutuhkan saham?"
"Saya rasa tidak, Tuan." Jawab Ben dengan tatapan datar.
"Kami tidak butuh sahammu, Abraham. Kau pikir aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan huh?" Sean merubah senyumannya menjadi tatapan membunuh. "Ben, lempar dia ke kolam piranha. Biarkan ikan kesayanganku mengoyak dagingnya sebagai santapan lezat."
Abraham kaget dan mulai panik. Ia pikir Sean akan tertarik dengan tawarannya, lalu membebaskan dirinya. Perusahaanya termasuk besar. Mungkin ia lupa, jika Sean berbeda dengan rivalnya yang lain. "Sean, aku mohon. Berikan aku kesempatan, aku akan memberikan perusahaanku padamu. Ya, aku akan memberikannya untukmu."
"Waktumu sudah habis. Inilah akibatnya jika kau berani menyentuh wanitaku." Pungkas Sean yang kemudian pergi dari sana.
"Brengsek kau, Sean. Aku akan pastikan hidupmu berantakan." Teriak Abraham yang sama sekali tak dipedulikan oleh Sean.
Ben yang masih di posisinya pun memberikan kode pada penjaga. "Jadikan dia umpan." Setelah itu ia pun menyusul Sean. Mengabaikan teriakan memohon dari lelaki malang itu.
****
Siang hari. Sean yang baru selesai meeting pun kembali ke ruangan. Menggerakkan kursi rodanya ke meja kerja, lalu melepas jasnya. Tubuhnya terasa lelah, dan ingin segera pulang. Katakan saja ia masih merindukan wanitanya di rumah.
"Apa dia sudah bangun?" Gumamnya. Diambilnya ponsel, berniat menghubungi sang istri. Namun, keningnya mengerut kala melihat pesan dari sang istri.
Seulas senyuman terbit di bibirnya ketika melihat foto cantik Queen. Tanpa menunggu, ia langsung melakukan panggilan video. Tidak perlu lama layar ponsel miliknya dihiasi wajah cantik sang istri. Hanya saja kini Queen sudah kembali ke kamar dan terlihat berbaring di atas ranjang.
Queen tersenyum begitu manis. "Aku bosan, jadi tadi jalan-jalan sedikit ke belakang. Bagaimana dengan fotonya? Apa aku cantik?" Tanyanya antusias.
"Biasa saja." Jawab Sean memasang wajah datar.
Queen tertawa renyah. "Kau tidak perlu berbohong, buktinya kau langsung menghubungiku. Rindu ya?" Godanya tanpa rasa malu.
"Tidak sama sekali." Sean tersenyum miring. "Kau memakan sarapannya?"
Queen mengangguk. "Terima kasih, baby."
"Hm." Sean kembali memperhatikan wajah istrinya. "Kau sudah mandi?"
"Sudah." Queen terlihat menggeliat kecil. "Aku bosan sekali, Sean. Boleh aku ke tempatmu?"
"Tidak perlu. Aku akan pulang cepat, istirahat saja di rumah."
Queen menatap Sean lekat. "Sean, kau sudah memaafkanku kan?"
Sean terdiam.
"Sean." Rengek Queen. "Please, maafin aku ya?"
"Itu sulit. Jika bukan karena bayiku, mungkin aku tidak akan peduli padamu lagi."
Queen terkejut mendengar pernyataan suaminya. "Sean... kupikir kau sudah memaafkan aku." Bumil yang satu itu memasang wajah cemberut.
"Sudah aku katakan kesalahanmu kali ini tidak mudah untuk dimaafkan. Apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membelinya saat pulang nanti."
__ADS_1
"Tidak, aku hanya ingin dirimu, Sean." Jawab Queen kembali mengembangkan senyuman lebar. "Cepat pulang. Aku merindukanmu."
"Hm." Sean menarik macbooknya. "Aku harus menyelesaikan pekerjaan dulu. Sebaiknya...."
"Jangan dimatikan." Sela Queen tahu jika Sean ingin mengakhiri panggilan. Ia masih belum puas melihat wajah tampan suaminya.
Sean mengangkat sebelah alisnya. "Kau yakin akan menungguku bekerja?"
Queen mengangguk. "Aku mengantuk, temani aku tidur."
"Hm, tidurlah." Titah Sean memindahkan ponselnya. "Tidurlah." Titahnya lagi karena Queen masih melek sambil senyum-senyum sendiri.
"Sebentar lagi, aku ingin melihat wajah tampanmu. Aku rindu tahu tidak? Jangan marah lagi padaku, baby."
"Tergantung sikapmu." Sean bicara tanpa melihat lawan bicaranya.
"Aku janji, tidak akan keras kepala lagi."
"Kita lihat saja kedepannya." Kata Sean lagi.
"Aku sunggung-sungguh. Aku menyesal soal kemarin. Jangan marah lagi ya? I love you."
Sean melirik Queen sekilas. "Berhenti mengoceh, cepat pejamkan matamu."
"Aku ingin dipeluk." Rengek Queen begitu manja.
"Peluk saja guling."
"Ish, mana bisa guling disamakan dengan dirimu. Dia tidak bisa bergerak, tidak seempuk dan sehangat dirimu. Sean, aku ke sana ya?" Rengek Queen lagi memohon agar Sean mengizinkan dirinya keluar.
"Nope." Sahut Sean mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Queen mengerucutkan bibir. Menatap suaminya yang begitu serius bekerja. "Baiklah. Cepat pulang. Aku akan memberikan ciuman mesra saat kau pulang nanti."
"Hanya ciuman?" Tanya Sean masih dengan nada dingin.
Queen terkekeh lucu. "Memangnya tidak apa jika aku melakukan hal lebih? Kau tidak akan marah?"
"Entah." Sahut Sean sekenanya. Padahal dalam hati ia sangat ingin menyentuh istri kecilnya itu.
Lagi-lagi Queen tergelak. "Okay, jangan marah saat kau pulang nanti aku langsung menyerangmu."
"Hm."
"Ck, kau ini tidak romantis sekali."
"Bukankah kau ingin tidur? Jadi tidurlah dan berhenti mengoceh."
Queen mengerucutkan bibirnya. "Ish... iya bawel. Love you."
"Hm."
"Aku ke sana ya?"
Spontan Sean pun menoleh dengan tatapan tajam. Bukannya takut, Queen justru tertawa renyah. "Aku pikir kau akan menjawab hm juga."
Sean mendengus sebal dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Dasar suami jutek, tapi aku tetap cinta kok. Kau sangat tampan, Sean. Semoga anak kita nanti mirip denganmu." Oceh Queen tak ada habisnya. Sean pun hanya mendengarkan tanpa menanggapi dan terlihat fokus bekerja. Meski sebenarnya ia tak sepenuhnya bisa fokus. Bahkan sesekali melirik istrinya dilayar ponsel.
Haish... kenapa dia sangat menggoda? Membuat imanku goyah saja.
__ADS_1
Tbc....
Halo guys... udah pada nungguin ya? Maaf banget ya guys aku kelamaan gak update, buat kalian kecewa karena nungguin. Aku down banget sejak mamah sakit parah dan meninggal. Jadi aku lama banget gak megang tulisan. Tapi mulai hari ini aku bakal aktif lagi di dunia imajinasi. Mencoba mengobati hati. Aku juga rindu banget sama komentar kalian. Semoga kalian gak pernah bosan ya nungguin karya aku update. Thanks banget kalian selalu support semua karya2 aku. Semoga kalian senan tiasa diberikan kebahagiaan, aamiin 🥰