
Sejak pagi itu, Faizah benar-benar mogok bicara pada Juna. Bahkan sudah dua malam ia kabur ke apartemen untuk menghindari suaminya itu.
Di rumahnya, Juna terlihat uring-uringan sendiri karena Faizah tak kunjung pulang. "Dasar istri durhaka, dia pikir gak dosa apa ninggalin suami?"
Juna tidak menghabiskan sarapan yang dibuatnya beberapa menit lalu karena rasanya tidak enak. Padahal biasanya juga ia masak sarapan sendiri. Tapi sejak menikah, Faizah selalu menyiapkan sarapan untuknya. Dan sepertinya lidah Juna sudah terbiasa dengan masakan sang istri. Padahal tidak ada yang spesial dari masakan Faizah, tetapi rasanya tetap saja berbeda.
"Ck, kenapa aku jadi kangen nasi goreng buatan dia ya? Haish... mana nomorku di blok lagi. Bener-bener istri durhaka, kuwalat baru tahu." Juna meneguk air minum dengan kesal. Dan tidak sadar jika ia menyumpahi sang istri. Setelah itu Juna pun berniat pergi ke kantor meski hari ini tidak ada jadwal penting.
Di apartemen, Faizah baru bangun karena sejak jam empat tadi ia terus muntah-muntah sampai badannya lemas. Dan ia baru bisa tidur lagi jam enam tadi. Karena itu ia baru terbangun saat matahari mulai mencorong.
"Nghhh... sakit banget pinggang aku." Keluhnya sambil mengulet. Kepalanya juga masih agak pusing. "Hiks... ternyata hamil itu gak enak. Padahal buatnya mah enak pake banget, sampe ketagihan. Beruntung banget jadi cowok, tinggal enaknya doang. Lah cewek yang nanggung semuanya. Hamil, melahirkan, belum lagi jaga anak."
Faizah bangkit dari tempat tidur, dengan mata yang masih berat ia melangkah pasti menuju kamar mandi. Dibasuhnya wajahnya dengan lembut. Lalu mencucinya dengan sabun seperti kebiasaan di pagi hari.
"Hah, laper banget. Mana lagi males masak. Pasti mual lagi kalau ke dapur. Kamu kayaknya bakal ngeselin seperti Papa ya? Bikin Mama gak mood aja." Faizah mengelus perutnya. "Jangan dong... cukup Papa kamu aja yang bikin kesel. Kamu harus jadi anak ceria. Gak enak kalau kaku kayak kanebo, hehe."
Setelah puas membersihkan diri, Faizah berniat keluar dari kamar mandi. Namun, ia tidak sadar jika lantainya licin dan akhirnya terpeleset.
Bruk!
"Aduhhh...." keluh Faizah saat bokongnya mencium lantai lebih dulu. Bahkan perutnya terasa sakit. "Ya ampun, sakit banget."
Faizah melihat ke bawah, sontak matanya membulat saat melihat darah merembes dari celana pendeknya. Perasaan takut pun mulai menyelimutinya. "Ngghh... tolong." Teriaknya sebisa mungkin. Bahkan untuk bangun saja rasanya sangat sulit.
"Hiks... apa aku bakal mati sekarang ya? Sakit banget, siapa pun tolong. Gak ada gitu pangeran yang nolong. Aduhhh." Faizah berpegangan ke ujung meja washtafle dan berusaha bangkit. Dan ia berhasil.
Tangisan Faizah semakin kencang karena rasa sakit yang semakin menjadi. "Kayaknya aku beneran mau mati. Sakit banget Ya Allah. Kalau aku mati dia bakal kehilangan gak ya? Uhhh... pasti dia gak akan peduli kan? Huhuhu...."
"Izah."
Faizah terkejut saat mendengar suara berat Juna. Seulas senyuman terbit dibibirnya. "Pak Suami, tolong."
Juna yang mendengar suara Faizah di kamar mandi pun langsung berlari ke sana. Dibukanya pintu itu dengan kasar. Dan betapa kagetnya ia saat melihat kondisi Faizah. Lebih tepatnya saat melihat darah di kaki istrinya itu.
"Sial!" Umpatnya yang langsung menggedong tubuh mungil istrinya. "Dasar bodoh."
"Sakit, jangan dimarahin." Rengek Faizah semakin sesegukkan.
"Gimana ceritanya bisa gini?" Kesal Juna sedikit berlari membawa istrinya keluar.
"Kepeleset, sakit banget, Mas. Kalau aku mati sekarang kamu jangan nikah dulu ya sampe kuburan aku kering," oceh Faizah sambil memilin jas suaminya.
Juna berdecak sebal. Bisa-bisanya Faizah memikirkan hal itu saat kondisi seperti ini. "Kamu itu ceroboh, Izah. Makanya jadi istri jangan ngebantah suami, ya gini hukumannya."
"Hiks... jangan dimarahin. Aku kan gak sengaja jatuh, Mas. Jangan-jangan kamu lagi yang doain aku jatuh ya karena aku gak pulang?"
Juna terdiam. Ia jadi ingat perkataannya beberapa menit lalu. Karena itu juga ia tidak enak hati dan mengurungkan niatnya ke kantor. Dan malah membelokkan mobilnya ke apartemen Faizah. Untung saja Juna sudah mengganti pasaword apartemen dengan tanggal pernikahan mereka jadi ia bisa masuk.
Juna membawa Faizah ke klinik yang kebetulan bersebelahan dengan gedung apartemen, di tatapnya wajah Faizah mulai menucat dengan keringat bercucuran di keningnya. "Sabar, kita hampir sampai."
Faizah mengangguk lemah.
Sesampainya di klinik, Faizah langsung dibawa ke ruangan untuk diperiksa. Beruntung Juna diperbolehkan ikut. Sebenarnya ia sendiri yang memaksa ikut.
Juna terlihat gelisah sendiri saat dokter menangani sang istri. Dan tidak berani bicara karena takut menganggu konsentrasinya.
Faizah menggenggam tangan Juna dengan erat meski matanya sudah terpejam. Tanpa sadar tangan Juna yang satunya mengusap keringat Faizah. "Maaf."
Faizah membuka matanya. "Anak kita gak papa kan, Mas?"
__ADS_1
"Hm." Juna mengangguk.
"Aku gak mau dia pergi. Baru aja dia hadir, Mas." Air matanya meluncur deras. "Susah buat dapatin dia, aku harus jatuhin harga diri dulu."
Hati Juna terenyuh saat melihat kesedihan dimata istrinya. Untuk pertama kalinya ia melihat Faizah sedih. Ia sudah terbiasa melihat istrinya itu ceria dan selalu membuat ulah. Jadi agak aneh saat melihatnya seperti ini. "Dia pasti kuat."
Faizah mengangguk. Bahkan ia tidak berani melihat dokter yang sedang memeriksanya. "Dia gak papa kan, Mas?"
Tanyanya lagi untuk meyakinkan hati.
Juna tidak tahu harus menjawab apa karena ia tidak punya jawaban.
"Alhamdulillah gak papa kok, Buk. Lain kali hati-hati ya jangan sampe jatuh lagi. Bisa bahaya loh apa lagi kalau jatuhnya langsung kena perut. Pendarahannya juga udah berhenti. Untung si Bapak cepet-cepet bawa istrinya ke sini. Janinnya aman setelah kami lakukan pemeriksaan. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, Ibu harus istirahat total. Kalau bisa jangan melakukan hubungan badan dulu sampai kandungannya kembali normal."
Faizah bernapas lega mendengar penjelasan dokter. Akan tetapi tidak untuk Juna, ia agak kecewa dengan kata-kata terakhir sang dokter.
"Berapa bulan tidak boleh berhubungan badan, Dok?" tanya Juna yang berhasil membuat Faizah kaget. Sontak sang dokter tersenyum geli.
"Saya tidak bisa memastikan, Pak. Tapi sebelum si Ibu kondisinya aman usahakan ditahan dulu ya?"
Faizah mencubit lengan Juna. "Ih... bukanya khawatirin anaknya malah mikirin burung sendiri. Ngeselin."
Juna menghela napas berat. "Istri saya bisa langsung pulang kan?"
"Bisa, tapi usahakan istirahat total di rumah ya? Jangan sampai jatuh lagi, bisa bahaya. Tolong diperhatiin istrinya ya, Pak."
"Tuh denger, diperhatiin istrinya. Ini mah boro-boro, istri kabur malah dibiarin aja. Gak peka banget."
Juna berdecak kesal. "Saya gak minta kamu kabur. Kamu yang mau sendiri."
"Lah, kalau gitu bukan kabur namanya, Pak Tua. Hiss... ngeselinnya gak abis-abis... duh...." Faizah mengelus perutnya yang masih terasa nyeri.
Dokter pun tertawa renyah. "Si Bapak bisa aja."
Setelah di rasa agak baikan, Faizah pun langsung dibawa pulang oleh Juna. Dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Mas, laper." Rengek Faizah.
"Kita cari lontong sayur di depan."
Faizah kaget mendengarnya. "Kamu suka lontong sayur?"
"Hm." Juna mengangguk.
"Aku pikir lidah kamu kebarat-baratan, rupanya tetap indo juga ya?" Faizah tertawa kecil sambil mengelus perutnya.
Sedangkan Juna sama sekali tidak menanggapinya.
"Makan di mobil aja ya, Mas? Perut aku masih nyeri." Pinta Faizah saat mereka berhenti di salah satu warung pinggir jalan.
"Hm." Juna pun bergegas turun dari mobil untuk memesan lontong, dan tidak lama ia pun sudah kembali.
"Masih sakit?" Tanyanya seraya mengusap perut Faizah.
"Sedikit, tapi ngantuk banget, Mas. Laper juga iya, gimana dong. Pengen disuapin." Rengek Faizah.
Hehe... kerjain lagi ah. Manfaatin keadaan gak papa kali ya? Siapa suruh jadi suami gak perhatian. Istri kabur malah dibiarin.
"Ck, gak usah manja."
__ADS_1
"Hiks... ya udah gak papa." Faizah memalingkan wajahnya.
Juna mendesis kesal. "Oke, saya suapin. Puas?"
"Kalau gak ikhlas gak papa, aku bisa makan sendiri. Paling kesakitan, kamu kan senang aku sakit." Faizah memasang sedih yang dibuat-buat.
Juna melotot mendengar itu. "Mau kamu itu apa sih?"
"Mau dimanja lah, gak peka banget jadi suami." Kesal Faizah sambil memilin gaunnya. "Dimana-mana istri lagi hamil itu dimanja, ini mah boro-boro. Istri kabur aja dibiarin. Masih untung aku gak mati tadi. Kayaknya kamu emang nunggu aku mati ya?"
Juna mengeratkan rahangnya. "Bisa diam gak, Izah? Kamu kalau ngomong itu pake logika."
"Lah... emang di mana salah aku? Aku kan ngomong apa adanya, Mas." Sahut Faizah.
"Terserah." Ketus Juna.
Faizah mengerucutkan bibirnya, dielusnya perut rata itu dengan lembut. "Maafin Mama ya, sayang? Mama gak bisa kasih Papa yang baik buat kamu. Nanti kita cari yang baru ya? Yang ini mah udah kadaluwarsa."
Juna langsung menoleh. "Gak usah aneh-aneh. Jangan sampe kamu nyusahin saya."
"Kasian kamu, punya Papa tapi gak sayang."
"Izah." Geram Juna. Namun, kekesalannya itu terpaksa harus ditahan karena lontong sayur pesanannya sudah datang.
"Makasih ya, Buk? Ini pedes kan?" Tanya Faizah.
"Gak terlalu, Neng. Mau ditambah cabenya?"
"Gak usah." Sahut Juna. Sontak Faizah melotot.
"Tambah yang banyak, Buk."
"Gak usah, Buk. Ini udah cukup, makasih." Juna mengambil satu mangkuk untuknya. "Makan itu, gak usah pedes-pedesan."
Di Ibu penjual pun jadinya bingung dan memilih pergi karena masih harus melayani yang lain.
"Pengennya pedes." Rengek Faizah. Sontak Juna pun melotot. "Ck, suami pelit."
Dengan malas Faizah menyuap lontong itu ke mulutnya. "Gak enak, kurang pedes. Nih kamu aja yang habisin." Ia meletakkan mangkuk itu di dasboard. Lalu memalingkan wajahnya ke luar jendela.
Juna benar-benar dibuat kesal setengah mati kali ini. "Buka mulut kamu."
Mendengar itu Faizah pun langsung menoleh. "Disuapin?"
"Hm."
Seketika Faizah berseri. Lalu menerima suapan dari sang suami dengan manja. "Em... rasanya udah enak sekarang."
Juna menghela napas berat. Sabar, ini ujian.
Juna ikut menyuapi mulut sendiri, dan bergantian menyuapi istri tengilnya itu. Tentu saja hal itu membuat Faizah kesenengan dan tak henti-hentinya mengulum senyuman.
Setelah mengisi perut, keduanya pun melanjutkan perjalanan pulang. Sesampainya di rumah Juna menggendong Faizah dan membawanya ke kamar. Lalu menidurkannya di kasur.
"Mas, pengen dipijitin. Badan aku sakit semua." Faizah memegang tangan Juna dengan tatapan memohon.
Juna pun cuma bisa pasrah. Ia duduk di sebelah Faizah dan mulai memijat kaki istrinya itu. Faizah tersenyum senang.
Hihihi... Kalau gini kan enak liatnya. Kayak suami istri beneran.
__ADS_1