
Queen terus mondar-mandir di depan ruang operasi, menunggu kabar baik dari sang dokter.
"Queen, duduklah." Titah Sarah.
Sarah dan sang suami menyusul ke Berlin saat mendengar Sean akan menjalankan operasi.
Queen duduk di sebela Sarah. "Dia lelaki kuat. Ini masalah kecil untuknya. Dia sudah banyak melawati hal besar."
Queen memeluk Sarah. "Aku tahu, Aunty. Aku hanya cemas sedikit."
Sarah tersenyum seraya mengusap rambut Queen. "Itu wajar, sayang. Kami juga cemas."
"Ajak dia makan, sejak pagi tadi aku belum melihatnya makan." Titah suami Sarah, Carl.
"Aku tidak lapar, Uncle." Queen menatap lelaki itu sendu.
"Kau harus makan, kau sedang mengandung." Tegas Carl.
"Unclemu benar, ayo kita makan. Aku akan menemanimu. Biarkan suamiku yang menunggu di sini."
"Tapi...."
"Jangan keras kepala, pergilah." Sela Carl seperti seorang Ayah yang menasaihati putrinya.
Queen tersenyum. "Kau sangat mirip dengan Daddy, Uncle. Aku jadi merindukannya."
Carl tersenyum tipis. "Kalau begitu kau harus mendengarkan Daddymu ini, Queen."
Lagi-lagi Queen tersenyum lebar. "Baiklah, tolong jaga suamiku, Dad."
Sarah dan Carl tersenyum. "Ayo, sebelum Daddymu marah kita harus segera pergi dari sini."
Queen mengangguk. Lalu keduanya pun beranjak dari sana.
Di kantin, Queen makan dengan lahap. Sarah menggeleng saat melihat itu.
"Katanya tidak lapar, tapi kau makan dengan lahap. Bagaimana jika kau lapar huh?" Sindir Sarah.
Queen tersenyum malu. "Aku mendadak lapar saat mencium aromanya."
"Dasar bumil, makan dengan banyak supaya kau dan bayimu sehat."
Queen mengangguk.
"Aku jadi ingin hamil." Sarah menghela napas gusar. "Tapi dokter mengatakan rahimku sangat lemah, lima kali aku keguguran, Queen."
Queen menatap Sarah Iba. Digenggamnya tangan wanita itu dengan lembut. "Kau harus yakin? Suatu hari nanti kau pasti bisa mengandung. Jangan berhenti berdoa."
Sarah mengangguk. "Tapi aku bahagia karena Carl tidak pernah menuntut anak dariku. Meski aku tahu dia menginginkan seorang anak."
"Anak itu hanya titipan Tuhan, Aunty. Dan hanya titipan sementara. Tapi pasangan kita adalah orang yang akan terus bersama sampai tua. Banyak pasangan yang memiliki sepuluh anak atau bahkan lebih. Tapi pada akhirnya mereka tetap hidup berdua karena anak-anaknya sudah menemukan pasangan masing-masing."
Sarah tersenyum. "Kau benar, mungkin itu yang Carl pikirkan selama ini. Terima kasih kau memberikan aku semangat lagi."
"Hidup ini hanya sementara, jadi buat hidupmu sebahagia mungkin. Apa lagi kita mendapat suami yang romantis."
Sarah mengangguk. "Unclemu itu memang dingin di luar, tapi saat bersama Aunty dia akan berubah manis. Bahkan dia pernah menangis hanya karena Aunty minta cerai. Saat itu Aunty frustasi karena tidak bisa memberikannya seorang anak. Sejak saat itu Aunty tidak pernah memintanya lagi meski semarah apa pun saat kami bertengkar."
"Manis sekali."
"Kita berdua wanita beruntung kan? Punya suami penuh cinta."
Sarah mengangguk. Lalu mereka pun lanjut makan.
****
__ADS_1
Queen bernapas lega karena operasi Sean berjalan dengan lancar. Dan saat ini suaminya itu sudah dipindahkan ke ruang transisi untuk sementara. Sebelum dipindahkan kembali ke ruang perawatan.
Sambil menunggu, Queen menghubungi sang Mommy untuk memberi kabar soal Sean. Menantu kesayangan mereka.
"Bagaimana kondisi menantuku?" Tanya Rea yang terlihat sedang bergelayut manja dalam dekapan Zain.
"Dia sudah dipindahkan ke ruang pemulihan, Mom. Semuanya berjalan lancar."
"Syukurlah." Ucap Rea dan Zain bersamaan.
"Kau tidak boleh terlalu lelah, Queen. Jaga pola istirahatmu meski Sean sakit sekali pun. Lingkar matamu kelihatan." Imbuh Rea.
Queen tersenyum seraya mengusap bagian bawah matanya. "Apa sangat kelihatan?"
"Hm... apa tadi malam kau kurang tidur?" Tanya Zain.
"Ya, aku terus memikirkan operasi Sean. Karena itu mataku tak bisa terpejam."
Rea tersenyum. "Malam ini kau sudah bisa tidur nyenyak. Semuanya berjalan dengan lancar."
Queen mengangguk. "Thanks, Dad. Jika bukan karenamu mungkin sampai detik ini kami belum bisa menemui dokter itu."
Zain tersenyum. "Dia teman Daddy, tinggal ancam saja dia sudah menurut."
Queen tertawa renyah. "Ancam dengan uang huh? Pandai sekali Anda, Tuan."
Zain dan Rea tertawa. "Hanya uang yang bisa menaklukkan segalanya." Ujar Zain.
"Dasar." Queen menatap keduanya lekat. "Aku merindukan kalian, Mom, Dad."
Rea dan Zain saling memandang. Lalu keduanya kembali menatap Queen. "Lusa kami akan terbang ke sana."
Seketika wajah Queen berbinar. "Benarkah? Aaa... senangnya. Apa tidak bisa besok, Mom?"
"Ah, aku sangat merindukanmu, Mom."
"Jadi hanya Mommy?" Sindir Zain merasa cemburu. "Padahal saat kecil Daaddy yang lebih banyak menggendongmu. Mommy hanya tidur dan makan."
Queen tertawa kecil. "Aku rindu Daddy juga. Ah iya, King ikut kan?"
"Tidak, dia ada latihan basket. Bulan depan akan ada turnanem lagi. Kau tahu adikmu itu tergila-gila dengan olahraga yang satu itu."
Queen mengangguk. "Biarkan dia berkarya."
Tidak lama seorang suster pun datang.
"Mom, sudah dulu ya? Ada suster yang ingin bicara padaku."
"Jangan dimatikan, biar Mommy dan Daddy mendengar."
"Baiklah." Queen bangun dari duduknya. "Ada apa, Sus?"
"Dokter David ingin bicara dengan Anda, Nyonya. Mari ikut dengan saya."
"Baik." Keduanya pun beranjak menuju ruangan sang dokter. Sebelum itu Queen mematikan panggilan. Tidak peduli orang tuanya akan marah sekali pun.
Hihi... maafkan aku, Mom, Dad. Aku akan menelepon kalian lagi nanti.
"Silakan masuk, Nyonya." Suster itu membukakan pintu untuk Queen.
"Terima kasih, Sus." Suster itu pun tersenyum yang diiringi anggukan kecil.
"Siang, dokter." Sapa Queen saat memasuki ruangan sang dokter.
"Ah, duduklah." Dokter itu tersenyum ramah. Tanpa ragu Queen pun duduk dihadapan beliau dengan jantung berdebar. Ia takut dokter mengatakan hal buruk tentang suaminya.
__ADS_1
Dokter itu menatap Queen lekat. "Bagaimana perasaanmu?"
Queen menggeleng. "Campur aduk, dok. Apa suami saya baik-baik saja?"
Dokter itu tersenyum lebar, lalu bangkit dari posisinya. Dan berjalan ke arah x Ray. "Kemari."
Queen pun dengan patuh menghampiri sang dokter.
"Ini hasil rontgen sebelum operasi. Bisa kita lihat tulang punggung suamimu mengalami keretakan parah karena peluru. Dan...." dokter David sengaja menjeda kalimatnya. Kemudian tersenyum saat melihat ekpresi Queen.
Queen terlihat serius, menunggu kelanjutan sang dokter dengan jantung berdebar.
"Kita berhasil memperbaikinya."
Queen bernapas lega mendengarnya. "Syukurlah."
"Hm, selanjutkan kita masih perlu terapi. Tapi harus menunggu sampai kalus terbentuk sempurna. Ini butuh waktu 4-8 minggu. Jangan khawatir, proses penyembuhan memang akan memakan waktu lama. Tapi kesembuhan Sean mencaapi 98%. Kalian juga bisa melakukan terapi di rumah."
Queen mengangguk paham.
"Suamimu akan segera di pindahkan ke ruang perawatan. Kondisinya mulai membaik dan tidak ada masalah serius lagi. Kita akan melakukan rontgen ulang setelah 4 minggu ke depan. Kalian bisa kontrol di rumah sakit terdekat. Tidak perlu kemari. Setelah itu konfirmasi saja padaku, okay?"
"Baik, dok."
"Kita duduk lagi. Aku masih ingin mengobrol denganmu."
Keduanya pun duduk kembali.
"Ah, aku masih tidak percaya akan menangani menantu keluarga Michaelson. Sudah lama aku dan Daddymu tidak bertemu. Sempat kaget saat dia menghubungiku dan meminta bantuan untuk menangani menantunya."
Queen tersenyum. "Aku juga masih tidak percaya kalian saling mengenal. Jika tahu seperti itu aku dan asistenku tidak perlu susah payah mencarimu. Aku tahu kau dokter hebat, sangat sulit menghubungimu."
Dokter David tertawa renyah. "Aku pikir kau belum menikah, rencana aku ingin menjodohkanmu dengan putra sulungku. Dia seorang dokter juga."
"Ah, sayangnya Anda terlambat. Aku sudah bersuami dan akan menjadi seorang Ibu."
"Oh God! Kau sedang hamil?" Lelaki paruh baya itu memasang wajah bahagia.
"Ya."
"Ah... selamat untukmu, Queen. Ini benar-benar kejutan. Si bedebah itu ternyata akan segera punya cucu. Memangnya berapa usiamu?"
"Em... aku masih sangat muda, delapan belas jalan sembilan belas." Jawab Queen apa adanya.
"Wah, muda sekali. Jadi kalian menikah muda?"
"Sean jauh lebih tua dariku. Kita tidak sengaja bertemu di perpustakaan. Setelah itu berlanjut ke pelaminan."
Dokter itu tertawa lucu. "Itu keren. Selamat sekali lagi untuk kalian. Juga sampaikan salamku pada Ayahmu."
"Kau bisa katakan itu langsung padanya, Lusa Daddy and Mommy akan kemari."
"Benarkah? Ah, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Aku ingin lihat dia masih sombong seperti dulu atau tidak?"
"Anda bisa melihatnya sendiri nanti."
"Ahahaha... baiklah."
"Kalau begitu aku pamit dulu, dok."
"Ya, silakan."
Queen pun bangkit, lalu menyalami dan mengucapkan terima kasih sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Ia benar-benar bahagia atas kabar baik ini. Dan tidak sabar untuk memberin tahu yang lain.
Tbc....
__ADS_1