Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Duka dan Cinta


__ADS_3

Sean menahan langkahnya saat mendengar paggilan sang istri. Kemudian berbalik perlahan.


Queen berjalan mendekat, kemudian memeluk lelaki itu erat. Sontak tangisan Sean pun pecah. "Kenapa hidupku selalu dikelilingi dengan perpisahan, Queen? Kenapa?"


Queen mengusap kepala suaminya dengan lembut dan penuh perasaan. "Semua manusia akan kembali ke sisi-Nya, Sean. Mungkin itu yang terbaik untuk Daddymu."


"Aku belum meminta maaf padanya, Queen."


"Tuan." Panggil asisten Tuan Cameron. Sontak Queen dan Sean pun menoleh bersamaan.


"Tuan sudah tidak ada." Lelaki paruh baya itu menunduk lesu.


"Tidak, tidak." Sean langsung berbalik dan berlari keluar mansion. Tentu saja Queen kaget dan kembali mengejarnya. Namun, lagi-lagi sikap Sean membuatnya terkejut. Karena Sean meninggalkan dirinya. "Sean."


"Ikut dengan saya, Nona." Ajak lelaki paruh baya tadi. Queen pun mengangguk dan mengikuti jejak lelaki itu. Memasuki sebuah mobil.


Sepanjang perjalanan, Queen terlihat gelisah karena memikirkan kondisi Sean. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada suaminya itu? Saat ini Sean sedang kacau dan dia mengemudi mobil sendiri. Oh... Queen tidak pernah menyangka Sean bisa selemah ini.


"Stop!" Pekik Queen yang tiba-tiba saja melihat mobil yang tadi Sean kendarai berada di bahu jalan dengan kondisi bagian depan menabrak pembatas jalan. "Oh God! Sean."


Mobil itu pun berhenti. Tanpa menunggu lagi, Queen bergegas keluar dan menghampiri mobil malang itu.


"Sean." Panggil Queen mengetuk pintu. Ia bisa melihat Sean masih sadar di sana. Namun, keningnya mengeluarkan darah segar. "Sean, buka pintunya. Aku mohon."


Queen terus meggedor kaca mobil. Sean terlihat menoleh. "Please, Sean. Jangan seperti ini."


Sean membuka pintu, lalu Queen pun langsung berhambur memeluknya. "Apa yang kau lakukan huh? Kau membuatku takut, Sean. Kau boleh lemah, tapi jangan bodoh. Bagaimana jika kau mati? Aku belum siap menjadi janda di usia muda."


Sean tersenyum tipis sembari memeluk istrinya erat. "Jangan pergi dariku, Queen. Tetaplah disisiku apa pun yang terjadi."


"Ck, bukankah kau yang lari tadi? Kau memang brengsek, Sean." Queen memukul punggung suaminya den melerai pelukan mereka.


"Tuan, gunakan mobil itu saja. Biar saya yang mengurus semuanya." Ujar si pria paruh baya itu menunjuk mobil yang tadi mereka tumpangi.


"Ya, terima kasih." Ucap Sean keluar dari mobil dengan bantuan Queen. Lalu keduanya pun berjalan mendekati mobil lain.


"Bagaimana bisa kau menabrak pembatas? Apa matamu buta?" Omel Queen merasa kesal dengan kecerobohan suaminya.


"Aku tidak bisa mengendalikan diri." Sahut Sean menatap wajah kesal istrinya.

__ADS_1


"Kau membuatku cemas saja. Beruntung kau hanya cedera kecil, jika kau mati bagaimana huh?" Sambil mengomel Queen membantu Sean masuk ke dalam mobil.


"Aku hanya memikirkan Daddy."


"Jadi kau berniat menyusulnya? Kalau begitu pergilah. Aku bisa mencari suami baru. Menyebalkan sekali." Cerocos Queen ikut masuk ke dalam mobil dan menutup pintu dengan kasar. Ia benar-benar marah karean suaminya sudah bersikap bodoh.


"Bukankah beruntung aku tidak membawamu? Jika tadi kau ikut, kau akan terluka." Gumam Sean masih bisa di dengar oleh Queen.


"Kau memang bodoh, jika kau mati sekarang. Kau tidak akan bisa bertemu Daddymu untuk yang terakhir kali. Dasar suami bodoh, menyebalkan."


Umpatan Queen barusan benar-benar menghibur hati Sean yang sedang lara.


Cup!


Sean mengecup pipi Queen dengan lembut. Dan itu berhasil meluapkan kekesalan dalam diri istrinya. "Terima kasih."


"Ck, jangan ulangi lagi. Aku takut kehilanganmu, Sean. Kita menikah belum genap satu bulan. Tidak lucu jika kau mati." Queen memeluk suaminya dengan penuh kehangantan.


"Dari tadi aku dengar kau terus mendoakan aku mati, sayang."


"Ya, aku kesal padamu. Saat ini kita sedang berduka. Jangan menambahnya lagi, kau menyebalkan, Sean. Jantungku hampir copot saat melihat mobilmu terkapar di jalan."


"Jangan lakukan itu lagi."


"Tidak akan." Sean kembali menghadiahi kecupan di kening istrinya. Sampai mobil mereka pun tiba di rumah sakit. Sean menemui jasad sang Daddy. Memberikan kecupan perpisahan. "Aku mencintaimu, Dad. Tenanglah di sana."


****


Usai dari pemakaman, Sean membawa istrinya pulang. Ia tersenyum saat melihat Queen tertidur dalam pangkuan. Sepertinya gadis kecil itu kelelahan setelah apa yang mereka lalui hari ini.


"Maaf, aku membuatmu sulit." Sean mengusap kepala istrinya dengan mesra. Dan mobil yang mereka tumpangi pun tiba di mansion.


"Tolong katakan pada Yohanes, tutup mansion utama untuk selamanya. Karena aku tidak akan pernah ke sana lagi." Perintah Sean pada sang driver kepercayaan keluarga Cameron. "Dan kau, mulai sekarang bekerjalah di sini. Aku butuh dirimu untuk menemani istriku kemana pun pergi. Dan untuk Yohanes, minta dia menemuiku besok di perusahaan." Imbuhnya.


"Baik, Tuan." Sean mengangguk. Kemudian menggendong istrinya keluar dari mobil.


Sean membaringkan istrinya di atas pembaringan. Lalu ia berdiri tepat di depan foto mendiang Ibunya. "Dia sudah menyusulmu, Mom. Apa kalian sudah bertemu? Jika iya, jangan memarahinya. Dia sudah cukup menderita di dunia ini. Aku juga baru tahu jika Daddy masih mencintaimu, Mom."


Ya, sebelumnya Sean memang mampir ke mansion utama sebentar. Saat di kamar sang Daddy, Sean sempat tertegun karena kamar itu dipenuhi oleh foto mendiang Ibunya, bahkan begitu banyak surat cinta yang ditulis langsung oleh sang Daddy untuk mantan istrinya itu. Di beberapa surat juga terdapat alasan kenapa sang Daddy itu melepaskan cintanya. Hah, biarlah hanya Sean yang tahu alasan itu. Ia tahu setiap orang punya masa lalu, termasuk sang Daddy. Sekarang ia hanya ingin belajar mengiklaskan semua yang telah pergi dari hidupnya. Karena ia masih punya cinta, yaitu istrinya.

__ADS_1


Sean terkejut saat tiba-tiba dua tangan mungil melingkar di perutnya. Siapa lagi jika bukan istri kecilnya. "Kenapa kau bangun?"


"Aku sudah biasa tidur dipelukanmu." Jawab Queen yang masih menempel di punggung lebar suaminya. Ah... dan itu sangatlah nyaman.


"Ayok tidur, sejak malam tadi kau juga belum tidur. Kau bisa sakit." Ajak Queen.


"Sebentar lagi, sayang."


"Ck, tapi aku mengantuk, Sean. Aku ingin dipeluk. Ayok...." rengek Queen seperti anak kecil. Dan itu membuat Sean gemas sendiri.


"Baiklah, ayok." Sean berbalik, lalu ditatapnya mata sayu sang istri. Sepertinya Queen benar-benar mengantuk saat ini.


"Gendong." Queen merentangkan kedua tangannya. Dan dengan sigap Sean menggendongnya. Queen menempel seperti bayi koala. Ia tersenyum penuh kemenangan.


"Aku mencintiamu." Ucap Queen mengecup lembut bibir suaminya.


"Aku tahu," balas Sean duduk bersandar di atas ranjang tanpa melepaskan istrinya dari gendongan. Dan saat ini posisi mereka begitu intim.


Queen menyandarkan kepalanya di dada bidang Sean. Perasaanya semakin menghangat saat mendengar suara detak jantung Sean yang begitu cepat. "Kau berdebar, Sean?"


"Ya, aku selalu berdebar saat berdekatan denganmu. Jantungku berdetak abnormal setiap kali kita bersentuhan."


Queen tersenyum. "Hati-hati, mungkin saja kau sakit jantung."


"Ya, dan kau penyebabnya."


Queen tertawa renyah. "Ayok tidur, aku mengantuk sekali. Peluk aku." Dengan gerakan pelan Queen melingkarkan sendiri kedua tangan Sean di pinggangnya. "Jangan di lepas."


"Aku seperti memeluk anak kecil."


"Ya, aku kan gadis kecilmu."


"Tapi kau nikmat meski pun kecil."


"Sean! Berhenti menggodaku. Aku mengantuk."


Sean tertawa kecil, kemudian mengecup pucuk kepala istrinya beberapa kali. "Hm, tidurlah."


Thanks God. Kau mengirimkan cinta untukku sebelum duka menghampiri hidupku. Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindunginya dengan nyawaku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2