Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Gosip panas


__ADS_3

Pagi ini Rea terlihat santai di depan televisi. Mulutnya tidak berhenti mengemil sejak tadi. Sesekali ia juga tertawa saat melihat adegan lucu di acara kartun kesukaanya.


"Nya." Seru Bik Ade yang berhasil membuat Rea kaget.


"Apaan sih Bik, teriak-teriak gitu?" Kesal Rea. Bik Ade pun langsung duduk di sebelah Rea. Lalu memberikan ponselnya.


"Nyonya liat deh."


Karena penasaran, Rea pun mengambil ponsel asistennya itu. Seketika matanya membulat. "Apa-apaan ini?" Serunya. Rea pun langsung menegakkan tubuhnya. Seketika emosinya naik ke ubun-ubun. Bagaimana ia tidak emosi cobak? Pagi-pagi seperti ini sudah mendapat sarapan pedas. Di mana suaminya masuk berita terpanas, di sana dikatakan Zain akan kembali bersama Zee. Mantan kekasihnya. Huh, menyebalkan!


"Itu yang jadi pertanyaan Bibik, Nya. Kok bisa ada berita miring tentang Tuan. Memangnya model ternama itu beneran mantan pacar Tuan ya, Nya?"


Rea menggeram kesal. "Bukan. Dia itu nenek lampir. Aku yakin ini akal-akalannya. Sepertinya aku harus menghubungi Pak suami deh." Rea pun meraih ponselnya di atas meja. Lalu menghubungi suaminya.


Bik Ade pun cuma manggut-manggut sambil menatap majikannya penasaran.


Lagi-lagi Rea menggeram kesal karena ponsel suaminya tidak bisa dihubungi. Ia lupa jika pagi ini Zain sedang meeting.


"Nya, bukannya Tuan sedang meeting ya pagi ini?"


Rea menepuk keningnya. "Aku lupa, Bik. Btw, kok Bibik update banget sih pagi-pagi gini? Aku aja gak tahu apa-apa loh." Rea menatap asistennya itu penuh tanda tanya. Sedangkan yang ditatap cuma cengengesan.


"Bibik mah suka nonton gosip, Nya. Setiap pagi Bibik nonton sambil masak. Eh tadi malah si Tuan masuk berita. Nyonya sih keasikan nonton doraemon. Jadi ketinggalan gosip panas."


Rea terkikik geli. "Ginilah Bik kalau punya suami tampan, mapan dan banyak uang. Harus kuat iman."


"Iya, Nya. Bibik yakin Tuan enggak gitu. Jangan terlalu percaya sama gosip, Nya. Belum tentu itu bener. Namanya juga rumah tangga, pasti banyak cobaannya."


"Bener, Bik. Oh iya, tolong siapin makan siang buat Tuan ya Bik. Kayaknya aku harus ke kantor deh. Mau nanya kejelasannya."


"Siap, Nya." Sahut Bik Ade terlihat begitu semangat. Rea pun tertawa geli.


"Oh iya, Bik. Mau dong nambah jus jeruknya. Pake esnya yang banyak ya Bik. Gulanya dikit aja."


"Lah, ini masih pagi, Nya. Udah dua gelas perasaan Bibik buat. Nyonya juga belum makan pagi. Tar sakit perut."


"Nih aku udah nyemil, Bik. Udah jangan protes, tolong buatin ya Bibik cantik. Nanti aku kasih bonus deh. Tapi janji jangan bilang Tuan ya? Bisa-bisa aku kena omel."


"Lah, si Tuan mah gak perlu di kasih tahu juga udah tahu, Nya. Tuh CCTV, dipantau terus 24 jam." Ujar Bik Ade seraya menunjuk ke arah CCTV.


"Pagi ini dia gak sempat mantau, Bik. Udah buat aja. Emang Bibik mau anak kami ileran?" Bujuk Rea.


"Ih, amit-amit deh. Iya nanti Bibik buatin deh."


"Kok nanti sih, Bik? Sekarang dong."


"Iya, itu maksud Bibik. Kalau gitu Bibik ke dapur dulu ya, Nya. Cantik banget sih, bikin gemes." Bik Ade pun menoel pipi Rea sebelum pergi.


"Ih, tangan Bibik bau bawang." Teriak Rea.


"Bagi-bagi rezeki, Nya." Sahut Bik Ade dengan suara cemprengnya. Rea yang mendengar itu pun menggeleng pelan.


"Huh, untung baik kamu, Bik. Jadi ada hiburan kalau gini. Pinter juga Pak suami cari asisten. Kocak." Rea pun terkekeh geli. Kemudian melanjutkan nontonnya.


****


Siang harinya Rea benar-benar mendatangi kantor. Ia juga tidak lupa membawa makan siang untuk suaminya.


"Siang, Re." Sapa Juna seraya bangkit dari posisi duduknya.


"Pak suami ada kan?"


Juna pun mengangguk. "Tumben mampir?"

__ADS_1


"Ada masalah sedikit." Sahut Rea tersenyum ramah.


"Oh."


"Ya sudah, aku masuk ya?"


Juna pun mengacungkan jempol. Setelah itu Rea pun bergegas masuk.


"Siang, Baby." Sapa Rea menghampiri Zain yang tengah bersandar di sofa.


"Hey." Sahut Zain. Sepertinya lelaki itu sedang kelelahan. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang kusut.


"Capek?" Tanya Rea duduk di sebelah Zain. Lalu meletakkan lunch box yang dibawanya di atas meja. Zain pun mengangguk.


Zain yang pada dasarnya sudah lapar pun segera mengambil makanan itu. "Masak apa?"


"Gak tahu Bibik. Aku lagi malas hari ini."


"Hm." Zain pun membuka lunch box itu. Lalu menatap isinya dengan mata berbinar.


"Kayaknya kamu yang suapin lebih enak."


"Huh, bilang saja ingin dimanja."


"Apa salahnya dimanja sama istri." Zain pun tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.


Rea pun mengambil alih lunch box dari tangan suaminya. Lalu menyuapi Zain dengan telaten.


"Oh iya, Kak. Udah tahu kan berita pagi tadi?" tanya Rea menatap Zain lekat.


Zain pun mengguk. "Cuma berita miring. Mereka salah paham karena perusahaan pakai jasa Zee sebagai ambassador. Tidak perlu ditanggapi, itu cuma gosip."


"Aku tahu." Sahut Rea sambil menyuapi Zain lagi. "Makanya aku ke sini buat mastiin kalau berita itu salah. Aku cemburu tahu."


"Istri mana cobak yang tidak cemburu saat suaminya digosipkan akan kembali dengan mantan terindah?" Rea memutar bola matanya jengah.


"Itu cuma gosip, sayang."


Rea pun mengangguk. "Aku mau shopping. Tapi kamu temenin ya?"


Zain terlihat berpikir keras. "Tapi hari ini aku sibuk, Re. Mungkin pulang malam."


Rea cemberut mendengar itu. "Ya sudah, mau gimana lagi?"


Zain menghela napas. "Okay, sore nanti aku jemput."


"Beneran?" Tanya Rea begitu antusias.


"Hm." Zain mengangguk pelan.


"Yey, love you."


"Jadi nyatain cintanya karena mau di ajak shopping gitu?"


Rea tertawa kecil. "Terus, kamu gak mau nyatain cinta sama aku?"


Zain menggeleng yang diiringi dengan senyuman jahil.


"Ih, itu tidak adil." Protes Rea.


"Pagi ini aku belum dapat ciuman. Jadi harus double." Zain menunjuk pipi dan bibirnya.


"Tidak ada jatah pagi ini, kau saja pergi tanpa membangunkanku."

__ADS_1


"Pagi tadi kau begitu pulas, karena itu aku tidak tega membangunkanmu."


Rea menyebikkan bibirnya.


"Kenapa? Kau ingin dicium?" Zain manatap istrinya gemas.


"Tidak, aku maunya disayang."


"Kurang sayang apa aku padamu huh? Semua yang kau inginkan aku berikan."


"Aku ingin mobil baru boleh?" Gurau Rea.


"Kau ingin model yang seperti apa?" Tanya Zain serius.


"Eh? Aku cuma bercanda, sayang." Kaget Rea karena ia memang hanya bercanda.


"Kau suka model yang kecil bukan?"


"Sayang, aku tidak sungguh-sungguh. Mobil punyaku itu sudah cukup."


"Apa salahnya aku membelikan hadiah untukmu. Aku memang berniat membelikannya, anggap saja hadiah dariku."


"Serius?"


"Ya, besok kita lihat-lihat bagaimana?"


Rea pun mengangguk antusias.


"Aku sudah kenyang, kau habiskan. Aku tahu sejak pagi kau tidak makan. Sudah aku katakan padamu untuk menjaga pola makan. Mungkin kau memikirkan bentuk tubuhmu, tapi jangan lupa saat ini kau sedang hamil. Dia butuh nutrisi yang cukup."


Rea tersenyum senang karena mendapat perhatian lebih dari suaminya. "Aku tahu."


"Kau sudah tahu, tapi masih saja mengabaikan perkataanku. Cobalah menurut kali ini saja, Re."


"Ya... ya... aku akan menurut padamu."


"Mulutmu sangat manis. Besok kau mengulanginya lagi." Kesal Zain. Rea pun tertawa renyah.


"Aku suka saat kau mengomel seperti ini." Rea meletakkan lunch box di meja. Kemudian ia bergerak naik ke atas pangkuan suaminya.


"Biar aku yang bersihkan." Bisik Rea yang langsung melahap bibir suaminya. Zain sempat kaget dengan keagresifan istrinya itu. Tidak biasanya Rea bersikap senakal ini, biasanya ia akan merengek lebih dulu saat menginginkan sesuatu.


"Sejak kapan kau senakal ini?" Bisik Zain.


"Entahlah, rasanya aku ingin terus menyentuhmu. Apa mungkin karena kehamilanku?"


Zain mengangkat kedua bahunya. Lalu tangannya mulai bergerak nakal.


"Aku ingin mencobanya di kantor." Bisik Rea begitu sensual.


"Kau yakin?"


"Hm." Rea mengangguk antusias. Mendapat kesempatan emas, Zain pun tidak menyia-nyiakannya. Dilepasnya semua pakaian yang menempel di tubuh istrinya.


"Kau sangat cantik, sayang." Zain mengecup leher istrinya. Rea pun mulai mengeluarkan d*s*h*n. Tidak ingin kalah, Rea pun ikut melucuti pakaian suaminya.


"Dingin, sayang" Goda Zain seraya tersenyum nakal.


"Biar aku yang menghangatkanmu."


"Kau sangat nakal."


Keduanya pun terhanyut dalam gairah yang mendalam. Ruangan dingin itu pun mendadak panas karena ulah keduanya. Suara erangan dan d*s*h*n memenuhi seisi ruangan. Saat sedang asik bercinta, tiba-tiba saja pintu terbuka.

__ADS_1


"Oh my god!"


__ADS_2