
Warning! Area 21+ bagi yang belum mencukupi umur silakan skip. Jangan memaksakan diri, dosa ditanggung sendiri.
...***...
King yang kini sedang bermain gawai pun terus mencuri pandang ke arah istrinya. Gadis itu tengah serius belajar karena akan mengikuti ujian masuk perguruan tinggi minggu depan.
"Sayang." Panggil King pada akhirnya.
Mercia menoleh sekilas. "Kenapa, Mas? Kamu lapar?"
"Enggak." King tampak berpikir. "Tadi kamu basah rambut kan?"
Mercia mengangguk. "Iya, kenapa emang?" Tanyanya masih fokus pada membaca buku.
Seketikan senyuman King pun mengembang. Cepat-cepat ia menaruh ponselnya di nakas, lalu beranjak mendatangi istrinya. Kemudian memutar kursi yang diduduki Mercia sehingga gadis itu pun menghadap ke arahnya.
"Mas!" Mercia memelototi King karena mengganggu belajarnya. "Jangan ganggu ih. Ini lagi serius banget. Aku harus lulus dan jadi mahasiswi kedokteran tahun ini. Pokoknya aku harus bisa."
King membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangan mengurung sang istri. "Kamu udah selesai haid kan?" Tanyanya seolah tak peduli dengan keluhan istrinya barusan.
Mercia mengerjap beberapa kali. "Udah, kenapa emang?" Tanyanya dengan santai.
King tersenyum penuh arti. "Kamu jangan pura-pura lupa, Sayang? Kebetulan ini malam jumat, yuk." Ajaknya penuh semangat.
Mendengar ajakan itu pipi Mercia pun perlahan merona. "Ihhh... takut, Mas. Kalau sakit gimana? Punya kamu kan gede banget, gak yakin bisa masuk."
King terkekeh lucu, lalu mencubit pelan hidung istrinya itu. "Mainnya pelan-pelan dong, Yang. Gak mungkin main gas aja."
Mercia meringis pelan. "Tetap aja takut, Mas."
"Jangan takut, Mas janji bikin kamu keenakan." Balas King tersenyum mesum.
"Ck, kayak udah pernah aja. Jangan-jangan kamu sering main ya sama cewek di luar sana?" Tuding Mercia menatap suaminya curiga.
King tertawa kecil. "Enggak pernah lah, Yang. Cuma Mas udah belajar soal malam pertama supaya kamu gak terlalu kesakitan. Yuk sekarang, Mas udah gak tahan."
Kini Mercia yang terkekeh lucu, lalu mengalungkan kedua tangannya di leher King. "Aku kira mau ditunda buat honeymoon nanti." Godanya.
"Ck, kelamaan, Yang. Sekarang ya?" Sahut King dengan tatapan sayunya.
Mercia tertawa kecil. "Dasar perjaka tua, gak sabaran banget. Ya udah, aku siap-siap dulu. Ada kejutan buat kamu, Mas."
King mengangkat sebelah alisnya. "Kejutan apa lagi sih?"
Mercia tersenyum penuh arti. "Sabar dong, Sayang. Sebentar aja." Perlahan Mercia bangkit, membuat King terpaksa menyingkir dan membiarkan istrinya itu pergi ke ruang ganti.
Beberapa saat kemudian, Mercia keluar dan sudah berganti pakaian. Sehelai kain satin super seksi membalut tubuhnya, mempertontonkan betapa indah setiap lekuk tubuh itu.
__ADS_1
King yang melihatnya pun menelan air liur sangking kagetnya. Lebih tepatnya ia benar-benar kagum dengan keindahan yang dimiliki sang istri. Bahkan bagian dada gadisnya itu hampir terpampang sangking seksinya baju yang dikenakan.
Mercia tersenyum, lalu berjalan sensual ke arah suaminya yang sejak tadi sudah menunggu di atas ranjang. Lalu merangkak naik ke atas ranjang, dan tanpa ragu duduk dipangkuan suaminya yang masih terbengong.
Mercia tersenyum geli. "Gimana kejutan aku, Mas?" Bisiknya sedikit m*nd*s*h. Sengaja ingin menggoda suaminya yang sudah tenggelam dalam pusaran gairah yang nyata.
King menatap Mercia dengan tatapan berkabut gairah. "Cantik banget, Sayang."
Mercia tersenyum, lalu perlahan bibir mereka pun menyatu. Sapuan lembut di bibirnya membuat Mercia terpejam karena terlalu menikmatinya. Perlahan tapi pasti ciumana mereka pun semakin liar dan panas.
Mercia mengalungkan kedua tangannya, dan King menekan tengkuk istrinya itu untuk memperdalam ciuman mereka.
Tidak hanya disitu, tangan King mulai bergerak nakal. M*r*m*s lembut dada mengkal istrinya. Sebuah lenguhan halus keluar dari mulut Mercia saat mendapat perasaan yang cukup asing. Namun penuh sensasi.
Mercia menghentikan ciumana mereka, lalu menatap King sayu. "Pelan-pelan, Sayang. Agak sakit."
King mengangguk, kemudian membenamkan wajahnya di leher Mercia lalu memberikan kecupan demi kecupan lembut di sana. Lagi-lagi Mercia melenguh kecil seraya menyugar rambut suaminya dari belakang.
"Mas ahhh...." d*s*h Mercia saat King semakin turun ke dadanya dan memberikan kecupan lembut di sana. Mercia sampai mendongak sangking gelinya.
Aroma manis dari tubuh istrinya membuat King semakin bergairah dan ingin menyentuhnya semakin dalam.
Perlahan tapi pasti King menurunkan utas tali gaun tipis itu. Dan kini terpampang jelas di depan matanya dua gunung kembar yang seolah tengah menantang gairahnya. Tanpa banyak berpikir lagi, King langsung melahap keduanya secara bergantian. Spontan Mercia menjerit tertahan saat merasakan sensai aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
King mendongak. "Jangan ditahan, Sayang. Gak akan ada yang dengar suara kamu, kamar ini kedap suara. Keluarkan semua yang kamu rasakan." Bisiknya dengan suara serak.
Mercia menatap netra kelam suaminya begitu dalam, lalu bibir keduanya pun kembali beradu satu sama lain. Cukup lama keduanya saling bertukar saliva, dan harus berakhir karena sama-sama kehabisan oksigen.
"Ohhhh." Lenguh panjangnya karena mendapat pelepasan pertama. Tubuhnya bergetar hebat sangking dasyatnya pelepasan itu. Mercia yang baru pertama kali mengalami itu pun merasa tubuhnya melayang, lalu perlahan melemas seolah tenaganya terkuras habis.
King kembali mencumbuinya, mencoba membangkitkan kembali gairah sang istri. Tidak perlu lama, gairah istrinya itu pun sudah bangkit kembali. King tersenyum, ia tahu istrinya adalah lawan yang setimpal.
Permainan pun semakin panas, suara erangan dan d*s*h*n memenuhi kamar itu. Bahkan suhu ruangan pun terasa panas padahal AC hidup dengan suhu paling rendah. Kini keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang pun. Dan saling memberikan kenikmatan satu sama lain.
"Ohhh, Mas. Jangan di situhhh ahhhh." Mercia meremat seprei saat King menjelajahi area intimnya. Bahkan memberikan sentuhan lembut sampai Mercia tak bisa berkata-kata lagi sangking nikmatnya.
King melebarkan kedua kaki istrinya dan mulai menikmati idahnya lubang surgawi sempit itu.
"Ngghhhh, ohhh... aahhhh, Masshh." D*s*h Mercia terus menggeliat karena rasa geli dan nikmat menjadi satu. Tubuhnya sampai melenting sangking nikmatnya. Dan untuk yang kedua kalinya Mercia mendapat pelepasan panjang.
King merangkak naik, menyejajarkan tubuhnya dengan sang istri. Seulas senyuman terbit dibibirnya saat melihat wajah tak kuasa Mercia. Dikecupnya bibir Mercia yang sudah membengkak karena ulahnya. "Kita mulai sekarang ya?"
Mercia mengangguk pasrah. "Pelan-pelan, Mas. Aku takut." Pintanya menatap King lembut.
King tersenyum, kemudian mengecup kening istrinya begitu dalam. "Mas janji gak akan buat kamu sakit."
D*l*m*tnya kembali bibir seksi sang istri dengan lembut. Perlahan ia mulai menggesekkan benda pusakanya di lembah basah sang istri.
__ADS_1
"Aaahhhhh...." d*s*h keduanya bersamaan.
King menengok ke bawah, dan mencoba mengarahkan keperkasaannya ke dalam liang sempit istrinya. Refleks Mercia menarik pinggulnya.
"Sakit, Mas." Rengek Mercia menggigit bibirnya dan ikut melihat ke bawah sana.
"Sakit sebentar, Sayang. Jangan ditarik, nanti gak masuk-masuk."
Mercia mendesis "Takut, Mas. Belum masuk aja sakit." Rengeknya manja, ia mendadak takut saat melihat benda pusaka suaminya yang sudah berdiri tegak dan sangat keras pastinya. Ia tak bisa membayangkan sesakit apa saat benda itu menerebos dan merobek kegadisannya. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.
King melebarkan kedua kaki istrinya. "Rileks, Sayang. Mas masukin pelan-pelan kok." Katanya kembali menempatkan rudalnya ke depan liang gadisnya itu.
Mercia berdebar tak karuan dan menantikan benda itu benar-benar masuk meski harus kesakitan. Bohong jika dirinya tak menginginkan hal itu. Mercia sudah menantikan hari ini, di mana ia akan menyerahkan kegadisannya untuk sang suami sepenuhnya. Hanya saja ia masih agak takut, bagaimana pun ini pertama kali untuknya.
Begitu pun dengan King, meski belum pernah melakukannya. Ia mencoba mengikuti naluri kelelakiannya. Didorongnya perlahan miliknya itu. Namun, lagi-lagi Mercia menggeliat dan menggagalkan milik King untuk masuk. Spontan lelaki itu mengerang kesal dan melahap bibir istrinya untuk mengalihkan kegugupan gadis itu.
Setelah dirasa tenang, King menusuk-nusuk senggama sempit istrinya itu dengan lembut.
"Engghhh." Lenguh Mercia disela ciuman mereka. King semakin memperdalam ciumannya sambil terus mendorong sedikit demi sedikit miliknya. Mercia mencengkram erat rambut suaminya dengan tangan sebelah, lalu satunya lagi mencakar kuat punggung suaminya. Mencoba menyalurkan rasa sakit bercampur perih di bawah sana.
"Argh! Sakit, Mas!" Jerit Mercia saat milik King baru masuk setengah.
"Dikit lagi, Sayang. Mentok." Desis King yang kemudian mendorong habis miliknya. Sontak Mercia pun menjerit dan mencakar punggungnya sekuat tenaga.
King tidak langsung bergerak karena tahu istrinya sangat kesakitan. Bahkan miliknya juga terasa ngilu karena lubang itu terlalu sempit untuk ukurannya. M*ngh*s*pnya begitu kuat.
"Berdarah gak, Mas?" Tanya Mercia penasaran.
King melihat ke bawah. "Enggak tuh."
Mercia kaget. "Kok bisa? Aku kan masih perawan, Mas."
King terkekeh lucu. "Gak semua perawan harus berdarah, Sayang. Lagian Mas belum gerak. Nyaman banget kayak gini, anget. Terus punya kamu nakal ngisep si dedek cukup kuat." Guraunya yang berhasil mendapat pukulan dari sang istri.
"Sakit tahu, Mas. Malah dibecandain." PKesal Mercia.
King tersenyum. "Mas gerak ya?"
Mercia mengangguk. "Pelan-pelan, sakit." Rengeknya manja.
"Kata orang sakit bentar doang, Yang. Nanti sakitnya ilang kok, malah keenakan tar kamunya." Goda King yang membuat pipi Mercia semakin merona.
"Ya udah, gerak sekarang, Mas." Pinta Mercia menggigit bibir bawahnya karena di bawah sana benar-banar perih.
Medapat izin dari sang istri, King perlahan menggerakkan pinggulnya. "Aahhh... sempit banget, Yang."
"Nggghhh...." lenguh Mercia memejamkan matanya karena mulai keenakan. King yang melihat itu tersenyum puas, lalu semakin bergerak liar. Tentu saja Mercia menjerit antara sakit dan enak.
__ADS_1
"Enak kan sayang?" Tanya King tersenyum dan terus menggenjot istrinya. Lalu mengerang keenakan.
Mercia mengangguk sambil merem melek. "Sakit, tapi enak."