Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Mengandung adegan dewasa (21+) harap bijak dalam membaca.


Hari minggu, Juna menepati janjinya untuk membawa Faizah jalan-jalan. Kini keduanya pun tengah berjalan kecil di tepian pantai. Faizah sama sekali tak melepaskan rengkuhannya pada lengan Juna. Seolah takut suaminya itu terbang tertiup angin laut.


"Seneng tau gak sih jalan berdua gini. Serasa dunia milik kita berdua." Faizah mendongak untuk melihat wajah tampan suaminya.


Juna sedikit menunduk, menatap wajah imut sang istri. Karena gemas, Juna pun mengecup bibir ranum istrinya. "Bawel."


Faizah tertawa kecil. "Bawel-bawel gini ngangenin tahu. Bener gak?" Godanya.


"Enggak, biasa aja." Sahut Juna memalingkan wajahnya, lalu tersenyum.


"Dih... pake gak ngaku segala. Masih aja gengsian, buktinya tadi maen nyosor-nyosor gitu." Ledek Faizah dibarengi tawa kecil.


"Jangan kepedean, emang salah saya cium bibir istri sendiri?" Elak Juna tidak mau kalah dari sang istri.


Faizah terkekeh lucu. "Iya deh, orang tua kayak kamu mana mungkin salah."


Juna mendengus kecil.


"Canda, Mas. Jangan marah dong." Faizah kembali mendongak. "Mas, haus."


"Kita cari yang jualan kelapa muda."


Faizah mengangguk, lalu mereka pun menjauh dari tepian pantai dan mendatangi sebuah gerai yang ada di sana.


"Kelapa mudanya dua." Pinta Juna. Sang pedagang pun mengiyakan. Kemudian ia mengajak sang istri duduk di salah satu gazebo yang langsung menghadap ke arah laut.


"Pegel banget, padahal jalan-jalannya gak seberapa." Keluh Faizah seraya meluruskan kaki mulusnya. Juna pun menoleh. Lalu tanpa ragu ia menarik pelan kaki istrinya dan memberikan pijatan kecil. Faizah yang merasa diperlakukan spesial pun langsung blushing.


"Makasih, Mas." Ucapnya dengan tulus. Juna tidak menyahut, hanya melirik istrinya sekilas. Sedangkan Faizah terus memperhatikan wajah tampan suaminya itu.


"Seneng deh kalau kita gini terus. Kamu punya banyak waktu buat aku, terus perhatian lagi. Berasa jadi istri spesial." Ocehnya.


"Kalau saya fokus sama kamu, terus kamu mau saya kasih makan apa, Izah?" Skak Juna.


Faizah menyebik karena kesal dengan jawaban suaminya itu. "Ish, diiyain aja kenapa sih, Mas? Biar romantis. Sekali aja turutin kemauan istri."


"Aneh kamu."


"Kalau gak aneh, mana mungkin kita jadi suami istri." Kesal Faizah menarik kakinya. Rasa senangnya mendadak sirna dan berganti rasa kesal.


"Ngambek? Dikit-dikit ngambek, kayak anak kecil."


"Mas!" Geram Faizah. "Gak ada ngalah-ngalahnya sama istri. Baiknya bentar doang. Kalau bukan karena Baby, udah lama aku tinggalin, pergi sejauh mungkin."


"Emang mau pergi ke mana?" Tanya Juna dengan senyuman tipisnya.


"Ya... kemana aja. Yang penting jauh dari kamu." Jawab Faizah asal.


"Yakin bisa jauh dari saya?" Goda Juna tanpa menatap lawan bicaranya.


"Bisa lah." Jawab Faizah cepat.


"Yakin?"

__ADS_1


Faizah terdiam.


"Saya tinggal dua hari aja kamu ngerengek terus pengen saya cepet pulang. Masih yakin mau pergi?"


Faizah melayangkan tatapan tajam pada suami ngeselinnya itu. "Dih... kepedean."


Juna tersenyum geli. Lalu tidak lama dari itu pesanan mereka pun datang.


"Makasih, Mas." Ucap Juna. "Oh iya, ada makanan apa aja di sini?"


"Ada kentang goreng, bakso, siomay...."


"Kentang gorengnya satu." Potong Juna. "Mau kan?" Tanyanya pada sang istri.


"Hm." Sahut Faizah masih saja ketus. Juna pun tersenyum lagi.


"Itu aja Mas." Imbuh Juna. Sang penjual itu pun mengangguk dan bergegas pergi. "Jangan cemberut, kamu keliatan jelek."


Spontan Faizah pun menatap Juna. "Emang aku jelek, puas kamu kan?"


"Banget." Sahut Juna yang kemudian menyesap air kelapa.


"Mas!" Geram Faizah memukul lengan Juna sangking kesalnya. "Gimana aku gak jelek, tiap hari kamu bikin aku kesal terus. Dasar suami mesum, gak ada romantis-romantisnya."


"Tapi cinta kan?"


"Ya iya lah." Jawab Faizah spontan. Namun, detik berikutnya ia pun kaget sendiri. "Ih... kan ngeselin."


Juna pun tertawa kecil karena tingkah lucu istri tengilnya itu. Sejak menikah dengan Faizah, Juna merasa hari-harinya lebih berwarna. Bukan tanpa alasan ia sering membuat istrinya kesal. Justru ia senang saat Faizah kesal dan mengomel seharian. Baginya itu sangat menggemaskan. Padahal dulu ia paling benci dengan omelan Faizah, mungkin benar kata pepatah. Jangan terlalu membenci sesuatu, bisa saja yang kita benci itu justru baik untuk kita.


****


"Kenapa?" Tanya Juna duduk di samping istrinya yang terlihat lesu. "Kamu marah anaknya perempuan?"


Faizah menggeleng. "Cuma kecewa aja, takutnya nanti dia mirip aku, Mas. Aku kan pecicilan banget. Gimana kalau dia ikutin jejak aku. Jebak cowok terus hamil?"


Juna tertawa kecil. "Sadar diri juga rupanya."


"Ih... kok malah ngeledek sih? Aku kan lagi sedih Mas. Aku pikir anak kita cowok, kan lumayan ada temen berantem. Bisa main tinju-tinjuan, terus nanti juga bisa aku ajak mancing. Kan seru. Kalau anak cewek mana tega aku ajak berantem sama mancing. Yang ada aku bawa ke salon terus."


Juna yang mendengar itu kaget. "Untung aja anaknya cewek. Masak iya anak saya mau diajak mancing."


"Dih, pasti kamu gak pernah ikutan mancing kan? Seru tahu."


"Kayak gak ada kerjaan aja." Ketus Juna.


"Hiks... gagal dong rencana perjodohannya. Gimana kalau anak Queen juga perempuan? Kan kacau semuanya."


Juna menghembuskan napas kasar. "Saya gak paham kenapa kamu begitu menggebu-gebu ingin jodohin anak-anak. Padahal lahir aja belum."


"Kan udah aku bilang, biar keturunan kita unggul terus." Faizah duduk dipangkuan Juna. Mentap wajah suaminya lamat-lamat.


"Aneh." Juna pun membalas tatapan istrinya.


"Mas, kamu nyesel gak sih nikah sama aku?"

__ADS_1


Alis Juna terangkat. "Kenapa nanya gitu?"


"Pengen tahu aja. Kamu kan tahu sendiri aku ini aneh, suka bikin ulah, pecicilan, suka ngambek, berbading terbalik sama sifat kamu. Mungkin aja kamu malu punya istri tengil kayak aku."


Juna tersenyum. "Malu sih sebenarnya, tapi mau gimana lagi? Saya udah terlanjur nikahin kamu."


"Ih... kok gitu sih jawabnya?" Faizah mengerucutkan bibirnya. "Gak ada gitu jawaban yang lebih romantis, yang bisa buat hati istri senang?"


"Sayangnya gak ada."


Faizah mendengus sebal. "Selalu aja ngeselin."


Juna melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri. "Kayaknya kamu makin gemuk."


"Iya, kan bb aku naik dua kilo. Kenapa? Jelek ya aku gendutan?" Faizah mengalungkan kedua tangannya di leher Juna dengan senyuman manisnya. "Enak tahu yang gendut, empuk pas dipeluk." Imbuhnya.


"Ini juga makin gede." Juna mengerlingkan matanya ke arah dada sang istri.


"Ih... mulai deh mesumnya. Wajar lah gede, Mas. Kan lagi hamil."


Juna tidak menyahut, fokus mentap wajah cantik istrinya. Faizah pun melakukan hal yang sama. Dan entah siapa yang memulai, kini bibir keduanya sudah bergulat panas. Saling menyecap untuk mencari kepuasan.


"Nghhhh." Faizah melenguh kala tangan nakal suaminya bermain dikedua gunung kembarnya. Lalu Juna pun melepaskan bibir istrinya. Terlihat jelas kekecewaan di mata Faizah.


Faizah menatap Juna dengan tatapan sayu. "Mas." Panggilnya dengan suara serak.


Juna tersenyum miring. "Kenapa huh?"


"Tanggung jawab." Rengek Faizah.


"Tanggung jawab gimana, Izah? Saya kan udah nikahin kamu."


"Bukan yang itu."


"Yang mana?"


"Mas! Nanti keburu mood aku hilang." Kesal Faizah. Sontak Juna pun tersenyum geli.


Merasa dipermainkan, Faizah pun berinisiatif sendiri dan langsung menyambar bibir suaminya. Tentu saja Juna tidak kaget lagi karena sudah terbiasa dengan keagresifan sang istri. Dan ia menyukai itu. Karena tanpa perlu meminta, Faizah selalu memberikan service terbaik untuknya.


"Mas, gak tahan." Rengek Faizah dengan keringat yang mulai bercucuran. Entah sejak kapan keduanya tak lagi memakai sehelai benang pun. Pakaian yang tadi mereka kenakan kini sudah bertaburan di lantai.


"Sabar, sayang." Bisik Juna masih menikmati setiap inci tubuh indah sang istri. Tidak lupa ia mengecup perut buncit Faizah yang begitu menggoda. Istrinya itu semakin terlihat seksi dengan perut yang menyembul seperti sekarang.


"Langsung aja, Mas. Jangan dimainin terus." Faizah terus merengek sambil menggeliat tak karuan dibawah kukungan Juna.


"Bukannya kamu suka seperti ini?" Juna tersenyum nakal.


"Uhhh...." Faizah melenguh kala jemari besar suaminya bermain dengan lihai di bawah sana. "Masss... nggghhh...."


"Enak?"


Faizah yang sudah tenggelam dalam gairah pun mengangguk lemah.


"Kamu siap?"

__ADS_1


Lagi-lagi Faizah mengangguk. "Mainnya pelan aja, Mas. Takut baby kenapa-napa."


"Iya. Saya gak mungkin nyakitin kamu sama baby." Dan pergulatan panas pun kembali terulang di kamar itu. Suhu kamar yang tadinya dingin mendadak panas karena aksi mereka. Keduanya seolah lupa diri dan lupa waktu jika sudah diselimuti gairah. Mungkin sifat mereka memang berbanding terbalik, tetapi masalah ranjang keduanya memiliki kebutuhan yang sebanding. Karena itu mereka tak bisa lepas satu sama lain.


__ADS_2