
"Kau lihat itu, dulu saja menolak. Sekarang seperti premen karet, lengket terus." Ledek Adrian menatap Zain dan Rea yang sedang bermesraan sambil membalik daging di atas pemanggang. Sesekali Rea tertawa saat Zain menggodanya. Ya, sejak acara di mulai. Zain terus melekat pada Rea. Bahkan tanpa ragu ia memeluk istrinya di depan umum. Zain seolah tidak peduli jika teman-temannya melihat semua itu.
"Namanya juga orang lagi kasmaran. Aku harap Junior segera hadir." Sahut Rena memeluk tangan suaminya erat.
"Aku juga sudah tidak sabar untuk menimang cucu." Sahut Elsha ikut menimpali.
"Sabar sedikit, biarkan mereka memadu kasih lebih dulu. Mereka tidak sempat pacaran, jadi tidak ada salahnya memberi waktu luang pada mereka untuk bermesraan."
"Hm, benar juga. Itu artinya aku harus terus bersabar ya?" Kata Elsha menatap putranya yang tengah mengganggu sang istri.
"Kak, biarkan aku menyelesaikan ini sedikit lagi. Jangan seperti ini, malu di lihat teman-temanmu." Bisik Rea saat Zain terus memeluknya. Bahkan tanpa rasa malu Zain mengecupi pundak mulus Rea.
"Biarkan saja, mereka semua punya pasangan masing-masing." Sahut Zain seraya mengusap perut rata istrinya.
"Stop it! Kau mengganggu konsentrasiku. Lihat itu, Mami, Papi dan orang tuamu melihat kita." Rea melirik ke arah para orang tua berada. Mereka terlihat sedang tertawa dengan pandangan tertuju ke arahnya.
"Ck, seperti tidak pernah muda saja. Abaikan mereka, saat ini aku sedang ingin memelukmu."
Rea menghela napas berat. Dan ia pun membiarkan suaminya melakukan apa yang diinginkannya. "Setelah ini aku tidak akan melepaskanmu."
"Ck, setiap malam juga kau tidak pernah membiarkanku tidur nyenyak."
"Tapi kau menikamatinya. Bahkan kau terus menyebut namaku." Goda Zain.
Rea menyikut perut Zain, membuat sang empu meringis kesakitan. "Rasakan itu. Sebaiknya cepat temui teman-temanmu. Atau kau saja yang panggang ini, biar aku yang bergabung bersama mereka."
"Tidak perlu, kita di sini saja. Supaya aku bisa memelukmu dengan bebas."
"Kau memang mesum."
"Aku mesum hanya saat bersamamu. Kau yang membuatku mesum terus."
"Hentikan itu. Kau sangat berisik malam ini."
"Kau yang memulainya."
"Hai Zain, aku butuh minuman lagi. Di sini sudah habis." Teriak salah satu teman Zain.
Zain mendesis kesal. Sedangkan Rea malah tertawa puas. "Sana layani dulu teman-temanmu, kau sangat tidak sopan mengabaikan mereka."
"Cih, kau yang mengundang mereka bukan aku."
"Tetap saja mereka teman-temanmu. Aku tidak punya teman di sini."
"Itu lebih baik." Sahut Zain bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil beberapa minuman meski dalam hatinya terus menggerutu.
"Huh, dasar pecemburu." Ledek Rea sambil membalik sosis dan daging panggang. Wanita itu terlihat senang karena rumahnya begitu ramai.
"Kami ingin tambah, masih ada kan?" Tanya seorang wanita yang merupakan teman sekolah Zain yang Rea kenali. Juga salah satu teman kecilnya, Maria.
"Boleh, ambil saja sesuka hati kalian. Aku akan memanggangnya lagi."
"Kau tahu? Sejak lama aku merindukan momen seperti ini. Apa kau ingat saat kita kecil dulu? Kita juga pernah mengadakan pesta bohongan seperti ini. Tapi sayang saat itu Zain selalu menghindarimu."
__ADS_1
Rea tertawa renyah mendengar itu. "Ya, saat itu aku yang salah. Aku terus mengganggunya sampai ia malu berhadapan dengan kalian."
Wanita itu pun ikut tertawa. "Dan sekarang kalian benar-benar berjodoh. Aku harap kalian segera diberikan momongan."
"Aamiin... doakan saja ya?"
"Tentu, aku selalu mendoakan hal baik untuk kalian. Aku rasa ini sudah cukup, sebaiknya kau bergabung dengan kami. Biarkan Bibik yang melanjutkannya."
"Tidak perlu, sebentar lagi juga selesai." Tolak Rea.
"Terserah padamu saja, lagipula rumah ini milikmu."
Lagi-lagi Rea tertawa mendengar itu. Kemudian wanita itu pun kembali bergabung dengan teman sebayanya.
Rea berjalan pasti menuju susunan kursi di mana orang tuanya berada sambil membawa dua piring berisi daging dan sosis yang sudah matang. Kemudian meletakkanya di meja. "Silakan menikmati, Tuan, Nyonya."
"Terima kasih, Bik." Gurau Elsha yang disambut tawa oleh semua orang. Rea pun duduk di kursi yang masih kosong. Tidak lama Zain pun ikut bergabung. Lelaki itu berdiri di belakang Rea.
"Dad, jangan terlalu banyak makan. Nanti kolesterolmu kambuh." Ledek Zain yang disambut tawa oleh semua orang.
"Anak sialan. Aku tidak punya penyakit itu. Hanya tekanan darah tinggi saja, itu juga karenamu." Kesal Jackson.
"Sudah tahu darah tinggi masih saja tak bisa menahan emosi." Ledek Zain lagi. Rea pun mendongak agar bisa melihat wajah tampan suaminya.
"Kau lelah?" Tanya Zain. Rea pun menjawab dengan gelengan.
"Sebaiknya kita bergabung dengan mereka. Sejak lama teman-temanku ingin bicara denganmu." Ajak Zain yang kembali dijawab anggukan oleh Rea. Kemudian mereka pun berpamitan pada kumpulan orang tua untuk bergabung dengan anak-anak muda lainnya. Setelah itu mereka pun ikut bergabung di sana.
"Wah, akhirnya tuan rumah bergabung juga." Seru Daniel yang merupakan salah satu teman dekat Zain. Ya, Zain memang hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja yang kebetulan berkerja di kantornya.
"Maaf kami baru bisa bergabung." Ucap Rea menatap semua orang.
"Tidak jadi masalah, yang penting perut kami kenyang." Sahut Mike si tukang makan. Tidak heran tubuhnya sebesar gajah.
"Yang kau tahu hanya makan dan makan. Kapan kau cari pasangan?" Ledek Juna si pemilik wajah tampan yang merupakan sekretaris pribadi Zain.
"Aku masih muda, jadi nikamati saja dulu masa-masa jomblo."
"Cih, jomblo matamu. Kemarin saja kau sudah meniduri anak tetangga." Ledek Daniel melempar gulungan tisue ke arah Mike.
"Ck, dia yang menggodaku lebih dulu. Lagipula dia sudah tidak perawan, baru setengah jam aku goyang sudah lemas. Sama sekali tidak memberikan kesan apa pun."
"Tetap saja kau brengsek." Kesal Maria merasa terhina karena dirinya juga seorang wanita.
"Kau cemburu? Atau malam ini kita pinjam kamar si Tuan CEO." Mike mengedipkan matanya pada Maria. Membuat wanita itu bergidik ngeri.
"Hey, aku tidak akan mengizinkan siapa pun mengotori rumahku." Sambar Rea. Sontak mereka pun tertawa riang.
"Jangan berani menyentuh milikku." Kesal Daniel merengkuh pinggang kekasihnya. Maria tertawa geli.
"Di mana kekasihmu, Jun?" Tanya Zain saat tak melihat keberadaan Nesya. Kekasih Juna yang juga seorang model lokal.
"Dia ke toilet, tempat favorit para wanita."
__ADS_1
Rea tersenyum mendengar perkataan Juna. "Aku baru tahu jika toilet itu tempat favorit wanita. Apa karena kami kaum hawa sering keluar masuk toilet?"
"Bisa jadi." Sahut Juna.
"Aku juga senang bermain di toilet." Kata Mike ikut menimpali. Sontak semua mata tertuju padanya.
"Hey, kalian harus mencobanya. Itu sangat seru."
"Dasar mesum." Cibir Maria.
"Tapi aku lebih suka di ruang makan, benar kan sayang?" Ujar Daniel yang berhasil membuat pipi Maria merona.
"Cih, kau mengataiku mesum. Kalian sendiri pasangan mesum. Apa tadi katanya, ruang makan? Ya Tuhan, apa kalian melakukan itu di atas meja makan?" Ledek Mike yang diiringi tawa riang.
"Hey, jangan tertawa. Setelah kau mencobanya, kau akan ketagihan." Kesal Daniel.
"Apa perlu kita coba?" Bisik Zain yang berhasil membuat Rea kaget.
"Jangan macam-macam." Balas Rea penuh penekanan.
"Aku lupa sekarang di rumah sudah ada bibik." Imbuh Zain yang berhasil membuat Rea ingin tertawa. Namun Rea harus menahannya karena malu dengan yang lain.
"Di mana tempat favoritmu, Zain? Sepertinya kau sudah pernah mencoba semuanya." Tanya Daniel menatap Zain dan Rea bergantian. Rea pun tertawa sumbang.
"Itu rahasia." Sahut Rea.
"Ck, kalian tidak seru. Kalau kau, Jun? Kau sudah berhasil menjebol Nesya?"
"Aku tidak akan menyentuhnya sampai dia resmi menjadi milikku."
"Waw, kau sangat alim. Jangan sampai kau didahuli tupai." Ledek Mike.
Tidak lama Nesya pun kembali dari toilet dan ikut bergabung lagi. "Apa aku ketinggalan cerita?" Tanyanya.
"Tidak ada, kami hanya mengobrol soal bisnis." Jawab Juna merengkuh pundak kekasihnya.
"Owh, hai Rea. Maaf aku lama menggunakan toiletmu."
"Tidak masalah, kau bisa memakainya sampai puas."
Nesya pun tertawa renyah. "Senang bisa berkenalan langsung denganmu. Kau salah satu model yang aku kagumi. Gayamu itu dalam berpose sangat seksi."
"Kau berlebihan, aku hanya bergaya seusai perintah." Jawab Rea tertawa lucu.
"Tetap saja kau terlihat profesional. Aku rasa harus banyak belajar darimu."
"Ah, aku rasa kau bisa belajar pada sahabatku. Aku juga banyak belajar darinya, nanti aku hubungi Regan. Dia akan senang mendapat murid baru yang cantik sepertimu."
"Thank you, senang bisa mengenalmu lebih dekat."
"Aku rasa bos dan anak buah punya selera yang sama. Pecinta model seksi." Ledek Daniel seraya melirik Zain dan Juna.
"Tentu saja, model itu lebih berpengalaman. Mereka tahu berbagai gaya dan pose." Sahut Mike tersenyum mesum.
__ADS_1
"Hentikan omong kosong kalian. Sebelum aku mencuci otak ngeres kalian dengan arang." Kesal Zain memberikan tatapan membunuh pada Mike dan Daniel. Lalu kedua lelaki itu pun tertawa bersama. Sedangkan yang lainnya hanya bisa menggeleng melihat tingkah mereka.