
"Mas." Mercia memanggil King di ambang pintu.
King yang sedang memakai kemeja pun berbalik dan kaget saat melihat Mercia menangis dengan hidung dan mata yang memerah.
Perlahan Mercia melangkah maju, dengan tatapan tak lepas darinya. "Sejak kapan kamu tahu soal perasaan Jef?"
King mengernyit bingung. "Kamu nanya apa sih?"
Mercia berdiri hanya beberapa senti darinya dengan wajah mendongak. Air matanya kembali meluncur. "Kenapa kamu gak hentiin aku kalau tahu Jef punya perasaan sama, Mas? Sebenernya mau sampai kapan kalian sembunyiin ini? Sampe aku tahu sendiri kayak gini dan merasa bersalah, iya?"
King lansung memeluk Mercia. "Gak gitu sayang."
Tangisa Mercia pun langsung pecah. "Kenapa gak bilang dari awal kalau Jef cinta sama aku? Supaya aku pelan-pelan menjauh. Aku pikir selama ini Jef benci sama aku, Mas. Dia gak pernah suka setiap aku deketin. Jadi aku pikir gak masalah jadiin dia perantara buat deket sama kamu. Kenapa semuanya jadi gini? Di sini aku kayak penjahat tahu gak? Aku udah mainin hati orang, dan itu Jef. Kejam banget aku, Mas."
King menghela napas. Sepertinya ia menyesal karena tidak langsung menghapus riwayat pesannya dengan Jef. Bahkan tadi ia tak kepikiran soal itu karena sejauh ini dirinya dan Jef hanya membahas masalah bisnis.
"Denger, Sayang. Kamu gak salah sama sekali. Semuanya murni kesalahan kami berdua karena sedari awal sama-sama gak ada yang berani mengungkapkan perasaan masing-masing. Awalnya Mas juga gak tahu soal perasaan dia sama kamu. Sepertinya Jef sudah tahu sejak awal sadar kalaun yang kamu cinta itu aku, bukan dia. Karena itu dia bersikap dingin sama kamu supaya kamu gak merasa bersalah nantinya. Percayalah, Jef melakukan ini samata-mata buat kebahagiaan kamu, Sayang. Jangan nangis." King berusaha menjelaskan supaya istrinya tak lagi merasa bersalah.
"Tapi tetep aja aku yang salah karena udah libatin Jef. Aku yang jahat, Mas." Tangisan Mercia pun semakin kencang.
"Sayang, udah dong jangan nangis. Gak ada yang salah dalam hal ini." Dikecupnya pucuk kepala istrinya penuh cinta.
Mercia pun mulai terisak. "Sekarang aku tahu alasan dia gak datang ke nikahan kita. Pasti dia nahan rasa sakitnya sendirian, Mas. Dan dengan jahatnya aku telepon dia. Jahat banget aku, Mas."
King mengusap punggungnya. "Udah ya? Jef juga udah ikhlas, Sayang. Sekarang kita gak perlu ganggu dia. Biarin dia bahagia dengan harinya di tempat baru."
Mercia mengangguk meski hatinya masih mengganjal karena perasaan bersalahnya pada Jef. Sebelum dirinya meminta maaf, sepertinya ia tak akan merasa tenang.
"Udah, kamu juga harus siap-siap. Masih ada ospek kan?" Mercia mengangguk.
King melerai pelukannya, lalu menyeka sisa air mata istrinya. Lalu tersenyum gemas karena wajah Mercia sangat lucu. "Lucu banget sih istriku ini, nangis aja cantik apa lagi senyum."
Mendengar itu Mercia pun tersenyum. "Istrinya lagi sedih juga malah diajak becanda." Dipeluknya sang suami erat-erat. King ikut tersenyum seraya membalas pelukannya.
__ADS_1
****
Di kampus, Mercia banyak termenung. Dan itu membuat Jihan keheranan. Saat ini mereka sedang berada di bawah pohon rindang bersama kelompoknya. Mengerjakan tugas dari sang Kakak kelas.
"Oi!" Disenggolnya lengan Mercia yang berhasil membuat sang empu kaget.
"Ck, apaan sih?" Kesal Mercia.
"Dih, lagi pms lo? Lagian gue panggilin dari tadi malah bengong. Kenapa hem? Gak dapat jatah tadi malem?" Celetuk Jihan yang berhasil mendapat cubitan dari Mercia. Bagaimana tidak, saat ini teman-temannya menatap ke arahnya.
Mercia tersenyum kikuk. "Abaikan mulut ember dia ya?" Katanya pada yang lain. Jihan mendengus sebal mendengarnya.
"Tapi kan, Cia. Gue kadang iri sama elo. Dapet suami ganteng, famous, mana tajir melintir lagi. Pasti idup lo bahagia banget kan?" Ujar salah satu temannya yang sedikit berisi. Lalu yang lain pun mengangguk
Mercia tersenyum kikuk. "Ya enak sih. Tapi gue saranin sih gak usah ikut-ikutan gue yang nikah muda. Kalau belum siap mental buat nikah, mending fokus aja ngejar karier dulu. Gue mah udah bucin duluan makanya nikah cepet. Untung aja dapet suami super baik and tajir. Gue yakin kalian juga pasti bisa kok dapet pasangan impian. Jangan lupa usahanya harus ekstra. Kalian gak tahu aja perjuangan gue buat dapetin Pak suami gimana. Samudra gue sebrangin."
Mendengar itu yang lain pun tertawa lucu.
"Seriusan lho seberangi Samudera?"
"Iya, soalnya kisah cinta mereka banyak dramanya." Sahut Jihan.
"Wih, gak nyangka effort lo gede juga ya?" Balas salah satu teman laki-lakinya.
Mercia terkekeh lucu. "Harus dong, suami gue kan banyak yang incer. Butuh effort buat dapetinnya."
"Masih mending effort lo gak sia-sia. Karena dapet cowok seganteng dan setajir suamu lo. Lah gue, effort udah ekstra eh dia malah suka sama sahabat gue. Nyesek gak tuh?" Curhat yang lainnya.
"Beuh, parah tuh. Definisi sakit tak berdarah." Sahut yang lainnya.
"Bukan lagi, putus hubungan gue sama bestie gara-gara dia. Padahal gak ganteng-ganteng amat. Bisa-bisanya gue naksir sama dia."
Mercia tersenyum. "Udah buruan move on, noh banyak yang gateng di sini. Mana tahu ada dokter yang bisa kalian incar. Iya gak?"
__ADS_1
"Setuju." Sahut yang lainnya kompak. Kemudian mereka pun tertawa berengan.
Namun, tawa mereka pun terhenti saat salah satu senior datang untuk memeriksa hasil kerja mereka. Dan semuanya pun fokus lagi pada pekerjaan masing-masing meski sempat lirik-lirikan sambil menahan senyuman.
Saat makan siang di kantin, Mercia menatap Jihan lamat-lamat. "Ji," panggilnya.
"Hm." Sahut Jihan membalas tatapan Mercia.
"Menurut lo, berapa lama cowok bisa move on?" Tanya Mercia kemudian.
Jihan mengernyit bingung. "Mana gue tahu, tapi gue pernah denger sih katanya cowok itu lebih cepet move on dari pada cewek. Apa lagi kalau udah dapet pengganti, auto lupa dia. Btw kenapa lo nanya gitu? Jangan bilang lo kepincut senior di sini dan mau ninggalin suami lo lagi?"
Mercia mendengus sebal. "Ya kali gue ninggalin permata demi krikil. Gue masih waras kali. Ini bukan soal gue, tapi Jef. Gue baru tahu kalau dia suka sama gue."
Jihan berhenti makan sejenak. "Jef suka sama elo?"
Mercia mengangguk lalu menyuap nasi ke mulutnya dengan tak semangat. "Pantes dia gak mau datang dinikahan gue. Padahal yang nikah Pamannya. Ternyata itu alasannya. Sekarang gue merasa bersalah sama dia, Ji. Gue yakin, alasan dia pindah ke London juga pasti karena gue. Sakit banget ternya pas tahu dia suka sama gue. Mana gue sering banget goda dia."
Jihan menarik napas panjang. "Terus mau lo gimana sekarang? Lagian menurut gue sih lo gak salah. Jef yang salah, ngapain juga dia sok nolak elo kalau emang cinta. Sekarang nyesel kan?"
Mercia menghela napas berat. "Sekarang gue sadar banget di antara kita, Jef yang paling banyak berkorban. Dia berani lepasin cintanya cuma karena pengen gue bahagia. Gue juga ngerti sekarang kenapa dia selalu bersikap dingin, dia cuma gak mau gue tahu soal perasaannya. Karena dia tahu gak akan dapet balesan. Bahkan gue sendiri gak sadar udah jatuh cinta sama Mas King sedari lama. Tapi dia sepeka itu."
Mercia kembali menghela napas sebelum lanjut bicara. "Lagian, semisal sedari dulu gue tahu soal perasaan Jef. Kemungkinan gue gak akan nikah sama salah satu dari mereka. Karena gue gak mau nyakitin salah satunya. Tapi sekarang semuanya udah terlambat. Gue udah nikah juga."
Jihan menatapnya lekat seraya menyesap jusnya. "Terus mau lo gimana sekarang?"
"Kayaknya gue bakal pura-pura gak tahu soal perasaan dia. Gue gak mau hubungan kita canggung nantinya." Jawab Mercia mantap.
Jihan mengangguk. "Terus kenapa lo masih lemes gitu? Beneran gak dikasih jatah kayaknya tadi malam."
Mercia memutar bola matanya jengah. "Gue rasa lo udah minta dikawinin deh. Otak lo ngarah ke sana terus. Mending lo cepetan cari lakik, biar otaknya gak ngeres lagi."
Jihan terkekeh lucu. "Kalau dikawinin suami lo gue mau kok." Guraunya yang berhasil mendapat pelototan dari Mercia.
__ADS_1
"Gue bunuh lo kalau berani jadi pelakor dalam rumah tangga gue. Gak peduli lo sahabat gue sekalipun. Yang namanya pelakor harus segera di basmi." Sinis Mercia mengacungkan garpu ke arah Jihan seolah memberi ancaman. Alih-alih takut, gadis itu pun malah tertawa puas. Mercia menatapnya sebal sebelum lanjut makan.