
"Kak, sakit." Rea menahan langkahnya.
"Masuk." Titah Zain membuka pintu mobil. Rea pun dengan patuh masuk ke dalam mobil. Zain mengitari mobil dan ikut masuk. Tanpa banyak kata lagi Zain langsung mengemudikan mobilnya. Rea pun menoleh. Kedua tangannya saling terpaut karena gugup.
"Sayang, aku punya alasan kenapa menyembunyikan semuanya."
"Jelaskan itu di rumah." Tegas Zain terkesan dingin.
Rea menggigit ujung bibirnya. "Jangan marah."
Zain melirik Rea sekilas, kemudian kembali fokus mengemudi. Dan itu semakin membuat Rea mati kutu.
Sesampainya di rumah. Zain turun dan masuk ke rumah lebih dulu tanpa menunggu istrinya turun. Rea menghela napas berat, lalu beranjak turun dan ikut masuk.
Tentu saja Rea siap menghadapi kemarahan suaminya. Ia sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Meski saat ini ia masih juga gugup. Zain terlalu mengerikan saat sedang marah seperti ini.
Rea meletakkan tasnya di nakas dengan pelan, lalu menghampiri sang suami yang sudah berdiri di depan jendela. Rea menatap punggung lebar suaminya begitu dalam. Lalu tanpa banyak bicara lagi ia pun memeluknya.
"Maaf. Aku punya alasan kenapa menyembunyikannya darimu."
"Kau membuatku kecewa, Re."
"Aku tahu. Aku sengaja melakukan ini karena aku belum yakin kau mencintaiku. Kau itu lelaki tidak punya pendirian, bisa saja kau kembali terhasut omongan kekasihmu itu."
"Lalu karena alasan itu kau menyembunyikan kehamilanmu dariku, Re?"
"Iya, aku takut kau meninggalkan dan merebut anak ini dariku. Aku takut, Kak."
Zain mengeratkan rahangnya. "Aku pikir kau percaya padaku, Re. Rupanya kau lebih percaya pada lelaki lain dari pada suamimu ini."
"Tentu saja aku lebih percaya dengan Regan, dia yang menemaniku dari nol. Dia selalu ada untukku sejak aku pindah ke Moscow. Dia sahabat terbaikku. Satu-satunya lelaki yang aku percaya sebagai temanku."
"Kenapa tidak menikah saja dengannya? Bukankah kau menyukainya? Kau terus memujinya setiap waktu. Kau sama sekali tidak peduli soal perasaanku sebagai suamimu." Kesal Zain yang kemudian berbalik secara mendadak. Sontak Rea pun mundur beberapa langkah.
"Aku tidak mungkin menikah dengannya, dia itu...."
"Alasan apa lagi yang akan kau katakan. Kau akan bilang dia sudah punya kekasih? Alasan basi." Sela Zain. Terlihat jelas kilatan api cemburu di matanya. Ingin sekali rasanya Rea tertawa, namun ia juga sedikit takut. Bagaimana jika Zain benar-benar marah dan menceraikannya? Oh god, Rea tak sanggup membayangkannya.
"Sayang." Rea menarik tangan suaminya lembut. Netra coklatnya terus bergerak mengawasi ekspresi wajah sang suami.
Zain mendengus pelan, memalingkan wajahnya ke luar jendela.
"Aku tahu ini salah. Tapi aku melakukan ini karena beberapa alasan. Aku ingin memberikan pelajaran padamu, supaya kau tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku ingin tahu sejauh mana kau peduli padaku tanpa rasa kasihan karena aku sedang mengandung anakmu. Ya, aku memang sengaja menyembunyikan kehamilanku, tapi aku akan memberitahumu di waktu yang tepat. Percayalah, aku tidak berniat menyembunyikannya terlalu lama. Sekarang aku tanya padamu. Jika saja kau tahu aku tidak mengalami keguguran saat itu, apa kau akan peduli padaku? Apa kau akan percaya padaku? Aku rasa tidak. Kau lebih percaya pada Zee. Padahal aku istrimu, wanita yang tulus mencintaimu." Jelas Rea panjang lebar. Napas wanita itu tersengal karena terlalu banyak bicara.
Zain terdiam sejenak. "Apa pun alasanmu, tidak seharusnya kau menyembunyikan kebenaran, Re. Lebih parahnya lagi, orang lain lebih dulu tahu ketimbang aku sebagai suamimu."
"Kak, kau harus percaya. Kalau aku...."
"Terserah kau saja." Sela Zain yang langsung beranjak keluar dari kamar. Rea menghela napas gusar. Ia tahu suaminya itu sedang cemburu berat.
Rea menarik napas panjang, lalu membuangnya pelan. "Tenangkan dirimu, Rea. Jangan sampai emosi." Setelah itu ia pun beranjak menyusul suaminya keluar.
"Sayang." Panggil Rea saat tak menemukan suaminya dimana-mana. Apa dia pergi? Tapi aku tidak mendengar suara mobil.
"Kak, kau dimana?" Rea sedikit berteriak. Namun tidak juga ada sahutan.
Rea pun berpikir keras untuk menarik perhatian suaminya. Ia menggigit telujuknya dan terus berjalan mondar-mandir seperti gosokan panas.
Pikirkan caranya, Rea. Ayolah, kau pasti bisa membujuknya. Rea terus berpikir keras. Sampai sebuah ide jahil muncul tiba-tiba. Rea mendekati sebuah guci besar, lalu menyenggolnya sampai terjatuh. Ia sama sekali tidak peduli jika harga guci itu hampir setara dengan harga mobil. Yang ada dalam otaknya saat ini hanya satu, yaitu perhatian suaminya.
"Akh...." teriaknya seraya menjatuhkan diri ke lantai. Ia mulai memerankan drama queen andalannya.
Netra coklat itu terus bergerak mengawasi setiap penjuru ruangan. Berharap suaminya itu segera muncul. Namun yang muncul malah si Bibik. Dengan cepat Rea memberikan kode agar asistennya itu pergi. Beruntung ia pintar dan bergegas pergi. Membuat Rea bernapas lega.
"Sakit." Teriaknya lagi seraya mengelus perutnya.
Ya Tuhan. Apa dia benar-benar pergi? Percuma saja aku berakting.
__ADS_1
Tidak lama dari itu Zain pun muncul dari arah dapur. Ia tampak kaget saat melihat istrinya yang tergelatak di lantai.
"Ya Tuhan." Pekiknya seraya berlari menghampiri Rea.
"Sakit, tadi aku tidak sengaja menyenggol gucinya lalu terjatuh." Rengek Rea sambil berpura-pura meringis kesakitan. Zain pun semakin panik dan segera menggendong istrinya.
"Eh, mau kemana?" Tanya Rea saat Zain hendak membawanya keluar rumah.
"Kita harus ke rumah sakit."
"Tidak mau, aku takut disuntik. Kemarin saja rasa sakitnya belum hilang. Aku mau di rumah saja."
"Jangan keras kepala, kau kesakitan, Re."
"Tidak mau, cukup kau elus saja sakitnya langsung hilang." Zain pun langsung menahan langkahnya. Lalu menatap istrinya penuh curiga.
"Ayok ke kamar," rengek Rea seraya membenamkan wajahnya di dada Zain. Menyembunyikan senyuman jahilnya.
"Kita ke rumah sakit." Zain pun melanjutkan langkahnya.
"Tidak mau, panggil saja dokternya ke sini. Please, aku takut, Kak."
Zain menghela napas dan kembali menahan langkahnya.
"Ke kamar." Rea menatap Zain penuh harap.
"Kau sangat aneh."
"Aku kesakitan. Kau malah mengataiku aneh. Menyebalkan." Ketus Rea sambil memukul pelan dada suaminya.
Zain pun mengalah, membawa istrinya itu ke kamar. Rea pun tersenyum senang.
Zain menidurkan istrinya di kasur.
"Kau masih marah?" Tanya Rea mengalungkan kedua tangannya di leher Zain.
"Hm."
"Hm."
Rea berdecak sebal. "Kau sudah seperti penyanyi gambus itu. Siapa namanya? Aku lupa."
"Jangan banyak bicara."
Rea tersenyum tipis. "Kau mencintaiku?"
"Tidak." Lagi-lagi Rea tersenyum.
"Sentuh dia." Rea meraih tangan suaminya, lalu meletakkannya di atas perut. "Dia merindukan Daddynya."
Zain menatap perut rata istrinya. Perlahan tangannya pun mulai bergerak mengelus. Lalu di pandangnya sang istri yang tengah tersenyum. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kesakitan di raut wajah istrinya itu.
"Kau berbohong huh?"
"Eh?" Rea pun mendongak kaget. Lalu menggeleng pelan.
"Berhenti membodohiku. Kau lupa rumah ini dipenuhi CCTV."
Rea menggigit ujung bibirnya. "Hm. Aku memang berbohong. Tapi aku melakukan itu karena ingin diperhatikan."
"Jangan bertingkah seperti anak kecil, Re."
"Ya, aku minta maaf." Rea menunduk lesu.
"Lupakan itu, kau harus istirahat."
"Kau masih marah?"
__ADS_1
Zain manatap Rea lekat, lalu mengusap pipi halus istrinya. "Aku ingin marah padamu, tapi sikapmu membuatku tak bisa marah. Berhenti berbuat onar, aku tidak mau anak kita ikut mewarisi sifatmu."
Rea tertawa renyah mendengar itu. "Apa salahnya? Aku yang mengandungnya. Kau hanya berperan saat membuatnya saja."
Zain tersenyum tipis, lalu memberikan kecupan di kening istrinya. "Tidurlah."
"Kau mau kemana?" Tanya Rea menarik lengan baju suaminya.
"Tadi aku sedang membuat kopi. Kau mau?"
Rea menggeleng kuat. "Kenapa tidak meminta Bibik yang buatkan?"
"Cuma buat kopi tidak susah, Re. Seharian Bibik kerja, biarkan dia istirahat."
Rea tersenyum bangga. "Kau memang suamiku yang paling baik."
"Hm. Tidurlah. Berhenti mengoceh, kau membuat telingaku sakit."
"Jahat. Kau akan merindukan ocehanku saat aku pergi nanti."
"Memangnya kau mau pergi kemana huh?" Zain menoel hidung istrinya gemas.
"Mungkin ke London, aku punya jadwal pemotretan di sana bulan depan."
Zain terdiam cukup lama. Membuat Rea merasa heran. "Ada apa? Kau tidak mengizinkanku pergi?"
"Ya. Aku tidak bisa melepaskanmu, kau sedang hamil, Re."
Rea memutar bola matanya malas. "Ini yang aku takutkan saat kau tahu aku hamil. Dengar, aku bukan wanita lemah. Memangnya kenapa kalau aku hamil? Kau kira wanita hamil tidak bisa bekerja apa? Ayolah, setelah melahirkan aku sudah berhenti menjadi seorang model. Berikan aku kesempatan untuk menikmati sisa waktuku di dunia permodelan. Boleh ya?"
Zain menghela napas panjang. "Kau sangat cerewet. Padahal Mami tidak secerewet dirimu."
"Hey, kau belum tahu seperti apa Papi. Dia lebih cerewet dariku."
Zain tersenyum lagi. "Aku mengizinkanmu. Tapi ada satu syarat."
"Apa itu?" Rea menatap suaminya lekat.
"Berhenti berdekatan dengan Regan."
Rea langsung melotot saat mendengar itu. "Mana bisa? Dia itu fotografer, sayang. Bagaimana mungkin kami tidak berdekatan."
"Pakai fotografer lain. Tidak mungkin hanya Regan saja kan?"
"Sayang, Regan itu fotografer terbaik. Berikan ponselmu."
"Buat apa?" Tanya Zain bingung.
"Berikan saja." Zain merogoh saku, lalu mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat Rea merebutnya. Wanita itu terlihat mengetik sesuatu.
"Lihat ini. Ini semua hasil jepretannya." Rea menunjukkan akun Regan pada suaminya. Di sana banyak sekali postingan Regan, hampir semua isinya foto Rea dalam berbagai pose. Bahkan ada beberapa foto di mana Rea mengenkan pakaian musim panas. Seketika otak Zain pun mendidih. Bahkan dirinya saja tidak pernah memposting wajah istrinya. Ia tidak rela lelaki lain menikmati wajah cantik istrinya itu.
"Minta dia menghapus semua fotomu."
"Eh?"
"Atau aku yang akan menghilangkan akunnya."
"Sayang...."
"Aku tidak main-main, Re."
Rea menelan air liurnya saat melihat tatapan serius sang suami. "Aku akan bicarakan itu dengannya."
"Hm."
"Kau tidak jadi membuat kopi?" Tanya Rea merasa canggung.
__ADS_1
"Tidak, seleraku sudah hilang. Sekarang aku menginginkanmu."
"Eh?"