Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Morning sickness


__ADS_3

Sudah setengah jam lamanya Rea berada di kamar mandi karena rasa mual yang tiba-tiba menyerangnya. Tidak biasanya ia merasakan mual yang luar biasa seperti pagi ini. Bahkan tubuhnya terasa lemas.


Setelah merasa aman, Rea pun kembali ke kamar. Lalu duduk di tepi ranjang. Rasa pahit di rongga mulutnya terasa begitu kentara. Dan itu membuatnya tak nyaman.


Rea mendongak dengan mata terpejam. Sebelah tangannya mulai bergerak untuk mengelus perutnya yang masih sedikit menimbulkan rasa mual.


"Baby, apa kau ingin sesuatu? Tidak biasanya Mommy mual separah ini. Apa kau merindukan Daddy?" Rea mencoba berbicara dengan janin dalam perutnya.


"Jangan minta yang macam-macam ya sayang. Sekarang sedang tidak ada Daddy." Imbuhnya.


Tidak lama dari itu ponselnya pun berdering. Rea tersenyum lebar karena sudah pasti Zain yang menghubunginya. Diraihnya ponsel itu di atas nakas. Dan benar saja, Zain lah yang menghubunginya. Cepat-cepat Rea pun menerima panggilan itu. Sedetik kemudian wajah Zain pun memenuhi layar ponselnya.


"Hai, sayang. Ada apa? Kau terlihat pucat." Sapa Zain memasang wajah cemas.


Rea pun menyebikkan bibirnya. "Sejak tadi aku mual. Mulutku rasanya sangat pahit. Padahal kemarin-kemarin tidak seperti ini. Kenapa baru sekarang aku mualnya, saat kau tidak ada?"


Zain tersenyum lebar. "Mungkin Baby merindukanku, sayang. Aku akan meminta Mommy untuk menjemputmu. Sudah aku katakan kau tidak bisa tinggal sendirian."


"Kak, aku tidak mau tinggal di rumah Mommy. Kau tahu kan mereka itu selalu bermesraan, bagaimana jika aku ingin seperti itu juga?"


Zain pun tertawa renyah mendengarnya. "Kalau begitu tinggal saja bersama Mami."


Rea pun mengangguk pasrah. "Oh iya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Kak."


"Apa itu?"


Rea terdiam sejenak. "Ini soal Regan, apa kau tahu soal hilangnya akun...."


"Aku tidak ingin membahas orang lain saat ini." Sela Zain.


"Bukan seperti itu, sayang. Tapi ini masalah pekerjaannya. Bisakah kau mengembalikan akunnya seperti semula? Itu sangat berharga untuknya, Kak. Aku yakin kau pelakunya."


"Aku sudah membicarakan itu denganmu ssjak awal bukan?"


Rea memasang wajah memelas. "I know. Itu kesalahanku, aku tidak sempat mendiskusikan itu dengannya. Kau yang melarangku untuk menghuhunginya."


"Aku tidak bisa menarik keputusanku."


"Sayang, aku mohon padamu. Jangan karena rasa cemburumu, kau merusak masa depan seseorang."


"Aku akan mengembalikannya jika kau benar-benar menjauhinya."


"Itu tidak mungkin. Dia sahabat terbaikku. Lagi pula Regan itu gay, Kak." Ungkap Rea yang berhasil membuat Zain kaget.


"What? Dia seorang gay?" Tanya Zain tak percaya sepenuhnya.


Rea mengangguk yakin. "Kau salah orang untuk dicemburui. Seharusnya aku yang takut dan merasa cemburu karena Regan selalu membahas dan memujimu."


Wajah Zain memerah karena malu, ia malu karena sudah cemburu pada seorang gay. Ayolah, itu sangat memalukan. "Jadi selama ini aku cemburu pada seorang gay? Sial! kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya?"


"Hey, kau yang tidak pernah mau mendengar ucapanku sampai habis. Kau selalu kebakaran jenggot saat aku membahasnya. Sekarang bagaimana keputusanmu? Kau masih akan cemburu padanya? Padahal dia lebih tertarik padamu ketimbang aku."


Zain bergidik ngeri mendengar itu. "Lupakan lelaki jadi-jadian itu, aku akan mengembalikan akunnya. Mendadak aku merasa takut jika bertemu dengannya."

__ADS_1


Rea tertawa kencang mendengar itu. "Lagian aku tidak akan membiarkan dia memiliki pikiran jorok tentangmu, aku akan membunuhnya jika itu sampai terjadi. Well, aku harap kau tidak lagi cemburu buta saat aku berdekatan dengannya."


"Hm. Aku tidak menyangka istriku berteman dengan seorang gay."


"Ck, meski begitu, dia itu sangat baik tahu. Dia yang selalu ada saat aku butuh. Aku sangat menyayanginya. Dia sudah aku anggap seperti Kakakku sendiri."


Zain mengangguk paham.


"Kau akan berangkat kerja sekarang?" Tanya Rea saat menyadari suaminya itu sudah memakai pakaian formal.


"Ya, aku sedang menunggu Juna menjemputku."


"Menjemput? Bukankah kalian satu hotel?"


Zain menggeleng. "Aku di apartemen."


"Kau punya apartemen di sana? Kenapa tidak bilang padaku huh?"


"Ini apartemen sepupuku. Kau masih ingat Aunty Jannie?"


Rea tampak berpikir keras. Ia tidak terlalu mengingatnya. "Apa dia ada datang saat pernikahan kita?"


Zain mengangguk.


"Aku tidak terlalu ingat. Lalu?"


"Apartemen ini milik anaknya."


Zain menggeleng. "Perempuan."


"What? Jadi sekarang kau tinggal bersamanya?"


"Hm."


Mulut Rea terbuka lebar saat mendengar itu. "Kenapa tidak di hotel saja sih? Kau juga tidak bilang padaku dari awal."


"Aku pikir itu tidak penting."


Rea langsung mendelik.


"Baby, aku pergi. Love you. Jangan lupa makan sarapanmu." Ucap seorang wanita yang tiba-tiba muncul di belakang Zain. Lalu tanpa ragu wanita itu mengecup pipi Zain sebelum pergi. Bahkan wanita itu seolah mengabaikan Rea yang notabennya sabagai istri Zain. Seketika Rea terdiam seribu bahasa.


"Dia sepupuku, Letta. Sebelumnya aku belum sempat mengenalkannya padamu. Dia tidak pernah datang ke Indonesia. Dia menetap di sini."


Rea masih terdiam. Terlihat jelas dimatanya kobaran api cemburu. "Aku membencimu."


Zain kaget mendengar itu. "Re...."


"Kau marah hanya karena aku bermanjaan dengan Nezim. Sekarang kau tinggal satu atap dengan sepupumu tanpa sepengetahuanku? Dan apa tadi, dia menciummu? Kau melupakan perasaanku, Kak." Sela Rea dengan tatapan kecewanya.


"Re, itu tidak...."


"Aku akan menghubungimu lagi nanti." Tanpa persetujuan suaminya Rea pun memutus panggilan. Saat ini ia benar-benar sangat kesal.

__ADS_1


Tinggal satu atap dengan seorang wanita? Oh ayolah, ini zaman modern. Rasanya tidak menutup kemungkinan sepupuan memiliki perasaan pada sepupu sendiri. Mungkin Zain menganggap itu biasa, lalu bagaimana dengan wanita itu? Akh... kepala Rea pusing sekarang.


Rea membanting ponselnya di atas ranjang. Kemudian beranjak dari kamar dengan perasaan kesal. Sepeninggalan Rea, Zain kembali menghubunginya. Namun wanita itu seolah mengabaikannya. Katakan saja saat ini ia tengah cemburu berat. Entahlah, perasaannya saat itu tak bisa ia kontrol seperti sebelumnya.


Karena di luar masih agak gelap, Rea pun memutuskan untuk duduk di halaman belakang sambil menikmati teh hangat dan setoples cemilan. Sesekali ia memijat keningnya karena merasa pusing. Setelahnya ia pun kembali melamun.


Apa aku susul saja ke sana? Aku bisa gila memikirkannya. Tidak, aku harus percaya padanya. Ayolah, suamimu bukan tipe lelaki seperti itu Re. Dua hari lagi dia akan kembali. Bersabarlah.


****


"Kamu kenapa sih Re? Dari tadi Mami perhatikan ngelamun terus?" Rena duduk di sebelah Rea. Ya, saat ini Rea memang berada di rumah orang tuanya sesuai perintah sang suami. Seharian penuh Rea terus berdiam diri di kamarnya.


Rea menoleh, namun ia tidak langsung menjawab.


"Ada apa? Bilang sama Mami." Rena meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat. Lalu mengunci mata indah putrinya.


"Mam, apa aku salah jika cemburu?"


"Cemburu kenapa lagi huh?"


"Mami tahu tidak? Saat ini Kak Zain tinggal di apartemen sepupunya. Dan itu seorang wanita. Mereka sangat mesra asal Mami tahu. Istri mana yang tidak cemburu cobak? Mana pake cium-cium pipi segala lagi." Keluh Rea memasang wajah sendu.


Rena menghela napas pendek. "Jadi ini alasan kamu tidak mengangkat panggilan Zain? Dari tadi Mami lihat dia menghubungi kamu terus."


"Biarkan saja. Salah siapa dia tidak jujur." Ketus Rea.


"Sayang, tidak baik seperti ini. Bagaimana jika dia cemas huh? Suamimu itu sedang kerja di sana, bukan bersenang-senang. Dikontrol cemburunya ya? Tidak baik terlalu cemburuan."


Rea terdiam sejenak. "Aku kesal, Mam."


"Mami tahu. Tenangkan hati dan pikiranmu dulu, setelah itu hubungi kembali suamimu itu. Bicarakan semuanya baik-baik."


"Hm." Rea pun mengangguk pelan. Lalu memijat kepalanya yang masih pusing.


"Masih pusing?" Tanya Rena. Rea pun mengangguk.


"Nanti juga hilang pusingnya. Dihabisin jamunya."


"Pahit, Mam. Mulutku terasa aneh. Semua makanan yang masuk rasanya pahit. Padahal perutku sangat lapar." Rengek Rea seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang Mami.


"Besok kita ke dokter ya?"


Lagi-lagi Rea mengangguk. Namun tiba-tiba saja perut Rea terasa nyeri. "Akh... Mom, sakit."


"Apa yang sakit?" Panik Rena. Rea pun mengusap perutnya.


"Ya ampun, sebaiknya kita ke rumah sakit. Tunggu sebentar. Mami panggil Papi dulu." Rena pun langsung berlari keluar kamar putrinya.


"Jangan lama-lama, Mam.


Sakit... hiks...." Rea menyandarkan tubuhnya sambil terus meringis. Tidak lama dari itu Adrian pun masuk ke kamar dengan wajah cemas. Tanpa banyak berpikir lagi ia pun membopong Rea. Tentu saja ia tak ingin terjadi hal fatal pada putri semata wayangnya itu.


"Hubungi Zain secepatnya." Perintah Adrian pada sang istri. Rena pun mengangguk, lalu mereka pun bergerak menuju rumah sakit terdekat.

__ADS_1


__ADS_2