Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Merindukan Sean


__ADS_3

Hampir setiap hari Queen termenung karena memikirkan suaminya di luar sana. Bagaimana kondisinya saat ini? Sedang apa dia? Apakah dia baik-baik saja? Semua pertanyaan itu terus bergelayutan di kepalanya sejak Sean pergi sampai detik ini. Memang sejak awal Sean mengatakan jika dirinya tidak akan memberi kabar untuk kebaikan dan kelangsungan rencana mereka di sana. Karena masalah kali ini nyawalah yang menjadi taruhannya. Ia tidak ingin Queen ikut terlibat dalam masalah ini.


Sudah beberapa hari ini Queen terlihat tak selara makan, dan itu membuat seisi mansion kebingungan dan berusaha membujuknya. Sayangnya Queen tidak menggubrisnya, kerjaannya hanya murung dan lebih sering berdiam diri di kamar.


"Aku merindukanmu, Sean. Kapan kau akan kembali? Ini sudah lebih dari dua minggu. Apa kau baik-baik saja?" Gumamnya seraya memeluk foto suaminya. Kepalanya berdenyut kala membayangkan hal buruk yang menimpa suaminya melayang-layang dalam pikiran.


Bagaimana jika Sean tertembak atau terluka parah? Bagaimana jika lelaki itu benar-benar meninggalkan dirinya? Queen tidak sanggup membayangkan itu.


Dua minggu lebih tiga hari Sean tidak kunjung kembali. Hal itulah yang membuatnya uring-uringan seperti ini. Bahkan ia mengabaikan tugas kampusnya sejak dua hari yang lalu dan mengurung diri di kamar sambil menatap layar ponsel, berharap Sean menghubunginya. Ia juga mengabaikan orang lain yang mencoba menghubunginya karena hanya kabar dari Sean yang ditunggunya saat ini.


Tok tok tok!


Untuk yang kesekian kalinya pintu kamar diketuk.


"Nyonya, kami membawa makanan untuk Anda."


Queen masih bergeming dengan tatapan kosong. Sambil sesekali memeijat batang hidungnya.


"Nyonya, izinkan saya masuk." Kali ini terdengar suara Findavvan. "Tuan tidak akan senang jika Nyonya seperti ini, Anda juga belum menyentuh makanan sejak kemarin."


Queen menghela napas berat, ditaruhnya foto Sean di tempat semula. Lalu ia pun beranjak untuk membuka pintu.


Terlihat jelas kelegaan di wajah Findavvan dan beberapa pelayan saat melihat Nyonya besarnya keluar.


"Aku tidak selera makan, Fin. Bisa tolong buatkan aku jus strowberi tanpa gula? Sepertinya itu sangat segar."


"Tapi...."


"Jangan protes, aku hanya ingin itu sekarang." Sela Queen saat kepala pelayan itu hendak protes.


"Baik, Nyonya." Sahut lelaki paruh baya itu bergegas pergi dari sana.


Queen menghela napas berat dan kembali menutup pintu. "Aku merindukanmu, Sean. Juga mencemaskan keadaanmu. Setidaknya beritahu aku apa kau baik-baik saja atau sakit di sana. Agar aku bisa tenang." Gumamnya seraya berjalan mendekati foto mendiang Ibu Sean.


"Mom, beri tahu aku apakah putramu baik-baik saja? Aku mencemaskannya Mom." Tanpa sadar air mata Queen menitik. Ia tidak bisa lagi menahan rasa rindu yang bercampur takut itu lebih lama lagi. Ia hanya ingin Sean saat ini.


Saat sedang sedih-sedihnya, Queen merasakan gejolak aneh di perutnya. Ia sangat mual. Tanpa banyak berpikir Queen berlari ke kamar mandi. Lalu berjongkok di closet dan memuntahkan cairan dari perutnya karena tidak ada makanan yang masuk sebelumnya.


Hoek!


Rasa pahit perlahan menjalar hingga mulutnya. Bahkan kepalanya semakin berdenyut sakit. Mungkin asam lambungnya naik karena ia tidak menyentuh makanan apa pun sejak kemarin.


Setelah di rasa aman, Queen pun bangkit dan membasuh mulutnya. Ia menatap wajah pucatnya di cermin. Bahkan matanya terlihat sembab karena sering menangis. "Sean, apa kau akan kembali seperti dulu saat aku sakit? Kembalilah, Sean. Aku merindukanmu."


Tangisan Queen pun kembali pecah. Dadanya terasa sesak karena menahan rasa rindu begitu lama.


"Queen." Panggil seseorang di ambang pintu kamar mandi. Sontak Queen pun langsung menoleh. Dan ternyata itu Ella.


Ella melangkah pasti ke arah Queen. Seketika Queen pun berhambur dalam pelukannya. "Aku mendapat kabar kalau kau terus mengurung diri di kamar, Queen. Karena itu aku langsung terbang ke sini untuk melihat kondisimu."

__ADS_1


"Sean, Ell. Dia belum kembali. Aku takut terjadi sesuatu padanya."


Ella mengusap punggung Queen. "Dia baik-baik saja, Queen. Percayalah. Dia akan kembali cepat atau lambat. Mungkin masih ada masalah yang harus mereka selesaikan."


Queen terdiam sejenak. "Setidaknya beri aku kabar, Ell. Sepanjang hari aku terus memikirkannya. Bahkan tidurpun tidak nyenyak. Aku merindukannya, Ell."


"Aku tahu rasanya, Queen. Tapi kau tidak perlu berkecil hati, aku yakin Sean baik-baik saja."


"Aku takut, Ell. Aku takut dia akan meninggalkanku."


"Aku rasa Sean tidak akan melakukan itu. Kau yang bilang sendiri kan dia sudah berjanji akan kembali?"


Queen mengangguk.


"Kalau begitu kau harus yakin dia akan kembali meski mungkin agak terlambat. Barang kali memang dia masih ads urusan lain di sana. Lagian Mommymu kan sudah meminta bantuan teman-temannya di sana. Jadi aku rasa Sean baik-baik saja."


Queen mengangguk lagi. Karena kepalanya pun semakin pusing. Ia meminta Ella untuk membawanya kembali ke kamar.


Ella menyelimuti Queen yang sudah berbaring. "Kau minta jus bukan? Tadi pelayan mengantarnya. Di minum dulu."


Queen menatap jus itu dengan malas. "Aku tidak menginginkannya lagi."


"Ya sudah, kalau begitu aku saja yang minum."


"Hm." Queen pun memejamnya matanya.


Queen membuka matanya. "Aku yang minta agar jusnya tidak pakai gula, Ell."


"Ck, pantas saja. Kenapa tidak bilang sih? Tapi ini enak, sejak hamil aku sangat senang mengkonsumi yang agak asam dan pedas."


Queen terdiam beberapa saat. Entah kenapa tangannya bergerak untuk mengelus perutnya. "Ell, apa aku hamil?"


"Mana aku tahu, aku bukan dokter. Kau ini sangat aneh, kenapa tidak periksa saja ke dokter?"


Queen tampak berpikir. "Tadi aku mual."


"Ck, mual tidak berarti hamil."


"Benar juga."


"Lagian kau kan masih dalam pengaruh obat pencegah kehamilan, tapi coba saja kau cek. Mungkin ada keajaiban." Titah Ella dengan santai sambil menikmati jus.


"Bulan depan Sean ulang tahu, aku berharap bisa memberikan kado terindah." Ujar Queen masih setia mengelus perutnya.


"Berdoa saja, kau juga bisa mengeceknya lebih dulu. Mana tahu kau memang sudah hamil."


"Hm, aku akan periksa nanti. Tapi aku tidak yakin, Sean hanya menyentuhku sekali sebelum dia pergi."


Ella mengangguk-anggukan kepalanya. "Kali aja dia hebat dengan sekali tembak langsung tumbuh."

__ADS_1


Queen tertawa kecil. "Mulutmu itu tidak pernah berubah. Tapi kan, Ell. Aku berpikir untuk memiliki anak kembar. Pasti mereka sangat lucu-lucu, apa lagi mirip dengan Sean. Aku akan konsultasi dengan dokter saat Sean pulang nanti, kita akan membuat program bayi kembar secepat mungkin." Pipi Queen merona saat membayangkan dirinya hamil.


"Ya, terserah kau saja. Kau tahu, aku belum makan. Saat mendengar kabarmu aku panik dan langsung meminta Bara memesankan tiket untukku. Lalu terbang ke sini dengan perut kosong."


"Kosong apanya? Dalam perutmu sudah tumbuh benih Bara."


Ella tertawa renyah. "Bukan itu maksudku, aku lapar tahu. Apa di dapur ada makanan?"


"Lihat saja sendiri, aku tidak tahu. Kepalaku sangat pusing," jawab Queen.


"Kau itu terlalu banyak menangis. Sekarang tidurlah, aku akan mencari makanan dulu. Setelah itu aku kembali ke sini. Kau juga belum makan kan? Kita makan sama-sama." Ella pun meletakkan gelas yang sudah kosong di atas nakas dan bergegas pergi keluar. Queen yang melihat itu cuma bisa menggelang dan kembali memejamkan mata. Setidaknya ia agak tenang karena ada Ella di sisinya sebagai teman curhat. Mungkin ia juga akan meminta Ella untuk menemaninya sampai ada kabar dari Sean.


Malam harinya, Queen sedikit melupkan suaminya karena Ella mengajaknya menonton film horor. Keduanya terlihat tegang dan begitu serius menonton. Hingga suara deringan ponsel Queen pun membuyarkan suasana tegang itu.


"Ck, cepat angkat. Menganggu saja." Kesal Ella yang kembali fokus menonton dengan mulut dipenuhi cemilan.


Queen menghela napas berat dan langsung meraih ponselnya. Namun, matanya langsung membulat sempurna saat melihat Sean lah yang melakukan panggilan video. Sontak ia pun berteriak dan berhasil membuat Ella terperanjat kaget.


"Queen! Kau membuatku jantungan tahu."


"Ella, Sean menghubungiku."


"Ck, kenapa tidak kau angkat? Kau malah berteriak. Menyebalkan."


"Ish... aku terlalu senang tahu." Queen pun langsung menerima panggilan. Bibirnya berkedut dan membentuk lengkungan sabit saat melihat wajah tampan Sean. Bahkan air matanya ikut menitik.


"Sean."


Sean tersenyum lebar. "Aku merindukanmu, sayang."


Senyuman di bibir Queen pun semakin melebar. "Sean, aku bahagia kau baik-baik saja. Aku juga merindukanmu. Kenapa kau lama sekali, kau bilang akan pulang? Tapi tunggu!" Queen menajamkan pandangannya dan memperhatikan penampilan Sean. "Kau di mana sekarang, Sean?"


Sean terdiam sejenak. "Bisakah kau kemari, Queen?"


"Ada apa, Sean? Kau di mana? Jawab aku." Panik Queen yang berhasil mencuri perhatian Ella.


"Aku di rumah sakit."


"Apa? Kau terluka? Ya Tuhan, kenapa kau tidak mengatakan itu dari tadi, Sean? Aku akan ke sana sekarang juga." Panik Queen.


Sean mengangguk. "Maafkan aku, Queen. Mungkin kedepannya aku akan lebih sering merepotkanmu."


"Apa maksudmu?"


"Kemarilah, aku akan menjelaskan padamu saat kau tiba di sini."


Queen mengangguk. "Aku akan ke sana sekarang juga, Sean." Tutupnya.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2