Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Istri posesif


__ADS_3

Di sebuah ballroom mewah, Zain tampak tengah berbincang dengan beberapa koleganya. Malam ini merupakan malam terakhir Zain berada di Jepang. Karena itu ia menyempatkan diri untuk menghadiri pesta besar yang dibuat khusus untuk menjamunya.


Zain begitu menawan dengan balutan tuxedo berwarna gading. Di sebelahnya, Juna juga tak kalah tampan. Keduanya sesekali tertawa renyah saat mendengar lelucon dari salah satu kolega.


"Aku dengar Mr. Garalt akan segera menimang momongan. Aku ucapkan selamat untuk Anda." Ucap lelaki paruh baya berperawan lebih pendek dari yang lainnya.


"Ah, thank you, Mr. Khatsumi." Balas Zain tersenyum ramah.


"Semoga yang lahir seorang putra. Supaya ada penerus perusahaan."


Lagi-lagi Zain tertawa renyah. "Laki-laki maupun perempuan sama saja, Mr. Asal mereka sehat."


"Kau benar, buktinya istriku terus melahirkan anak perempuan. Tapi putri sulungku mengalahkan kehebatan Ayahnya ini." Ujar yang lainnya. Lalu mereka pun tertawa bersama.


"Aku jadi penasaran seperti apa rupa istri Anda. Apa wanita cantik tadi istrimu?" Tanya salah satu dari mereka. Benar, Zain memang membawa sepupunya karena pesta kali ini harus membawa pasangan. Karena tidak ada pasangan lain, makanya Zain membawa Letta.


"Ah, bukan. Itu hanya sepupuku."


"Huh, aku pikir itu istrimu. Tapi wanita itu lumayan juga. Apa aku boleh mengencaninya?"


"Sebaiknya Anda tanyakan itu langsung pada orangnya. Aku tidak punya hak untuk ikut campur dengan urusan pribadinya." Zain menunjuk ke arah Letta yang tengah berbincang dengan para wanita di sana.


Lagi-lagi sekumpulan pengusaha itu pun tertawa bersama.


"Dan kau, apa kau sudah punya kekasih?" Tanya orang itu yang ditujukan pada Juna.


Juna tersenyum simpul. "Sudah, Mr. Hachiro."


"Wah, jadi aku ketinggalan jauh rupanya."


"Di sini banyak wanita cantik, kenapa tidak Anda pilih saja, Mr?" Tanya Juna sambil melempar pandangan pada para gadis.


"Akh, aku tidak suka yang lokal. Aku lebih suka wanita Indonesia. Mereka masih terjaga dan tentunya masih perawan. Hampir semua gadis di sini sudah melepas segel mereka."


"Cih, naif sekali. Kau sendiri ikut andil membobol keperawanan mereka bukan? Sekarang aku tanya, berapa gadis perawan yang kau nikmati huh?" Samprot Mr. Daichi.


"Itu berbeda, mereka yang menyarahkan diri padaku."


"Itu sama saja, sama-sama kotor." Ledek yang lainnya. Zain dan Juna yang mendengar itu hanya tersenyum.


Tidak lama dari itu ponsel Zain pun bergetar.


"Akh, aku pamit menerima panggilan dulu." Pamit Zain. Mereka pun mengangguk setuju. Zain bergerak menjauh dari sana. Mencari tempat yang agak sepi. Zain mengerut bingung saat nama mertuanya yang muncul di layar ponsel."


"Halo."


"Zain. Rea masuk rumah sakit."


Deg! Seketika jantung lelaki itu berdegup kencang. "Apa yang terjadi, Mam?"


"Sebaiknya kau pulang dulu, Zain."


Zain mengusap wajahnya kasar. "Ya, aku akan pulang malam ini juga."

__ADS_1


"Bergegaslah, Zain. Rea membutuhkanmu."


"Ya." Zain pun memutus sambungan telepon secara sapihak karena panik. Kemudian bergegas menemui Juna.


"Pesan tiket malam ini juga."


"Ada apa?" Tanya Juna penasaran.


"Rea masuk rumah sakit."


Juna terhenyak mendengar itu.


"Sebaiknya kita pulang sekarang."


Juna mengangguk patuh. Lalu keduanya pun berpamitan pada yang lain. Setelah itu beranjak pergi dari sana. Bahkan Zain melupakan sepupunya sangking paniknya.


****


Rea membuka matanya karena mencium aroma maskulin sang suami. Aroma yang sangat ia rindukan. Ia pikir itu hanya mimpi belakang, rupanya itu benar-benar nyata. Saat ini Zain sudah duduk disisinya dengan senyuman menawan.


"Apa yang kau rasakan sekarang huh? Apa masih sakit?" Tanya Zain seraya menempelkan tangan Rea di pipinya. "Aku sangat cemas saat mendengar kau masuk rumah sakit."


Rea memperhatikan penampilan suaminya yang sedikit berantakan. Kancing kemeja lelaki itu sudah terbuka setengah, bahkan dasi juga masih tergantung dilehernya. Rea tersenyum geli melihatnya.


"Kenapa kau terlihat seperti gembel?Awh...." Rea meringis kesakitan karena tangannya yang diinfus tersenggol.


"Hati-hati, sayang."


"Hiks... sudah aku bilang tadi tidak perlu pakai infus. Susternya malah senyum-senyum. Kau tahu? Sudah tiga kali mereka menyuntikku. Itu mengerikan. Rasanya aku ingin berteriak saat melihat jarum tajam itu." Adu Rea dengan ekspresi takut yang begitu kental.


"Iya, tapi tetap saja itu mengerikan."


"I know. Besok-besok jangan ulangi lagi."


"Hah?" Rea menatap suaminya bingung.


"Dokter bilang kau terlalu lelah, sudah aku katakan tidak perlu mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kenapa kau sangat keras kepala, Re?"


Rea terdiam sejenak. "Aku bosan. Jadi aku kerjakan saja semuanya. Aku tidak tahu hal ini akan terjadi. Ini juga salahmu, aku stres karena terus memikirkanmu di sana. Siapa tahu kau bermesraan dengan sepupumu itu."


Zain terkejut, lalu mengumpat kasar setelah mendengar Rea menyebut sepupunya.


"Ada apa?" Tanya Rea bingung.


"Aku melupakan Letta di pesta itu. Karena terlalu panik saat mendengarmu masuk rumah sakit."


"Serius?"


"Ya. Aku akan menghubunginya sebentar untuk meminta maaf."


"Nanti saja, aku ingin dipeluk." Rengek Rea seraya mengusap lengan suaminya. Zain menatap netra sayu sang istri penuh cinta. Lalu ikut berbaring di sisinya.


"Tidurlah." Zain memeluknya mesra.

__ADS_1


"Aku sangat cemburu saat wanita itu menciummu. Kau itu milikku, tidak ada yang boleh menyentumu walau seujung rambut pun. Kecuali Mommy."


Zain tersenyum mendengar ocehan istrinya itu. "Dasar istri posesif."


"Tentu saja, jika aku lengah sedikit saja. Akan banyak wanita yang menempel padamu. Huh, menyebalkan. Aku tidak suka itu. Mereka mendekatimu pasti karena kau itu kaya raya. Coba saja kau cuma punya tampang tapi dompetmu kosong. Pasti tidak akan ada yang mau padamu."


Zain tertawa renyah. "Termasuk dirimu? Apa kau akan meninggalkanku saat aku tidak punya uang?"


"Tentu saja tidak, aku tulus mencintaimu. Bahkan cintaku hadir saat kau belum punya apa-apa. Lagi pula mana mungkin kau kehabisan uang. Keluargamu sejak lahir sudah kaya raya. Meski kau tidak bekerja, harta warisanmu tidak akan habis sampai anak cucu."


"Tetap saja aku harus bekerja keras bukan? Karena aku punya istri yang suka shopping." Sindir Zain tersenyum jahil.


Rea pun tertawa lucu. "Jika aku tidak shopping, siapa yang menghabiskan uangmu? Rugi saja kau bekerja sampai larut malam."


"Benar juga. Tapi... Aku penasaran kenapa kau begitu tergila-gila padaku?"


"Hm... karena kau tampan mungkin. Atau kaya raya." Gurau Rea.


"Jadi karena itu?"


Lagi-lagi Rea tertawa lucu. "Tidaklah. Aku juga tidak tahu kenapa aku sangat mencintaimu? Mungkin salah satunya karena kau memang tampan, atau karena kita sering bertemu. Perasaan itu hadir dengan sendirinya. Bahkan semakin hari perasaan itu semakin dalam dan dalam. Sajauh mana pun aku lari, aku tidak bisa melenyapkan perasaan itu. Aku sudah pernah mencoba melupakanmu. Tapi perasaan itu malah menyiksaku. Bahkan hatiku sangat sakit saat tahu kau mancintai wanita lain. Karena itu aku menutup telinga rapat-rapat darimu."


Zain terdiam mendengar ungkapan istrinya itu.


"Aku pernah berpikir untuk menemui dukun dan memeletmu saat itu." Rea terkekeh geli. "Tapi aku sadar dan percaya pada Tuhan. Jika memang kau itu jodohku, kau pasti akan menjadi milikku. Dan itu benar bukan? Kau memang jodohku. Sejauh mana kau lari, akulah pemenangnya."


Zain tersenyum dan semakin erat memeluknya. "Kau banyak sekali bicara."


"Mulut diciptakan untuk bicara, jadi aku memanfaatkannya dengan baik. Lagian aku banyak bicara pada orang-orang terdekat saja. Apa kau terganggu dengan ocehanku?" Rea menatap wajah suaminya.


"Tidak. Hanya saja aku merasa heran. Apa kau tidak lelah terus bicara?"


Rea pun menggeleng pelan. "Justru aku bahagia bisa bercerita padamu. Meski aku tak yakin kau mendengarkan semuanya."


"Aku mendengarnya." Zain memberikan kecupan di kening istri cerewetnya itu.


"Em... apa yang kau sukai dariku? Apa karena aku cantik?" Tanya Rea seraya mengembangkan senyuman lebar.


"Salah satunya. Siapapun akan tertarik dengan kecantikanmu. Tapi bukan itu yang paling aku sukai darimu, yaitu kepribadianmu. Aku suka itu. Sifat ceriamu, cerewetmu, manjamu, semua yang ada dalam dirimu aku suka."


"Hm." Rea mengangguk pelan. "Aku juga suka semua yang ada dalam dirimu. Meski kadang kau itu ada cueknya."


Zain tersenyum tipis, tetapi matanya mulai terpejam karena mengantuk. "Ayo kita tidur."


"Kau lelah ya? Tidurlah. Aku belum mengantuk. Hampir seharian penuh aku tidur."


"Hm." Zain yang pada dasarnya sudah sangat mengantuk pun langsung tertidur.


Rea tersenyum geli saat mendengar Zain mulai mendengkur halus. Tangannya bergerak mangusap rahang tegas suaminya dengan lembut.


Tiba-tiba Rea pun ingin mengusap perut kotak-kotak milik Zain. Ia menggigit ujung bibirnya. "Boleh aku buka?" Tanyanya pelan. Sedangkan matanya tertuju pada perut Zain yang masih tertutup kain.


"Boleh, sayang." Sahutnya sendiri. Lalu ia pun terkekeh geli. Dan tanpa banyak berpikir lagi, ia segera membuka dasi yang masih menggantung di leher suaminya dengan hati-hati karena tak ingin membangunkannya. Setelah itu ia membuka kancing kemeja Zain satu per satu. Dan terpampanglah pemandangan indah yang sudah ia dambakan.

__ADS_1


"Ini punyaku, punyaku, punyaku dan semuanya milikku." Jemari lentik Rea pun terus menyusuri setiap inci perut six pack suaminya itu. Lalu memberikan kecupan demi kecupan hangat di sana.


Rea mendongak, memastikan suaminya itu tidak terbangun. Dirasa aman, ia pun kembali mengecupinya. Sampai dirinya ikut tertidur dalam dekapan sang suami.


__ADS_2