
Adam menghela napas berat. "Mungkin apa yang akan aku sampaikan ini terlalu menyakitkan untukmu."
Kening Rea mengerut. "Ada apa, Dad? Apa terjadi sesuatu?"
"Kau menjadi incaran utama mereka saat ini. Mereka ada di sekitaran keluargamu."
"What? Bagaimana bisa? Aku sudah menyembunyikan semua identitasku."
"Aku tidak tahu pasti soal itu. Aku rasa seseorang sudah membocorkan informasi. Aku sedang menyelidikinya. Kini keluargamu dalam lingkaran merah mereka, karena kau salah satu pemimpin yang mereka takuti. Jadi keluargamu yang menjadi sasaran, mereka pikir keluarga adalah kelemahanmu."
Rea mengusap wajahnya dengan kasar. "Brengsek, aku akan menghabisi siapa pun yang berani menyentuh keluargaku. Mereka tidak tahu keluarga adalah sumber kekuatanku."
"Aku menyarankanmu untuk pergi beberapa waktu, mungkin berat bagimu. Tapi apa salahnya kau pergi untuk kebaikan semuanya. Rival kita kali ini bukan lawan yang mudah. Kita akan mengalihkan perhatian mereka untuk meninggalkan kota ini."
Rea menggigit ujung bibirnya sambil menutar pikiran. "Ada berapa banyak anggota mereka?"
"Sekitar dua puluh orang. Lima di antara mereka selalu mengawasi suamimu. Lima belas lainnya berada di sekeliling keluargamu."
"Sial!" Umpat Rea. Sepertinya ia kecolongan kali ini.
"Jangan khawatir. Aku sudah mengirim beberapa anak buah di kota ini. Mereka akan langsung mengabarimu jika mereka melakukan serangan."
"Ini yang aku takutkan."
"Aku akan kembali besok."
Rea terdiam sejenak. "Aku ikut denganmu."
"Alasan apa lagi yang akan kau gunakan kali ini?"
"Aku rasa pergi tanpa alasan lebih baik." Rea memandang lurus ke depan.
"Jadi kau akan pergi diam-diam?"
Rea mengangguk pasti. Adam tersenyum bangga. "Aku pikir setelah kau menikah, aku sudah kehilangan putriku. Ternyata kau masih sama, Lady Amora. Kau tetap putriku."
Rea tersenyum miring. "Aku tidak suka diusik."
Keduanya pun tertawa bersamaan. Seolah dunia ini hanya milik mereka berdua.
****
Zain memandangi sang istri yang tengah sibuk sendiri. Kemudian ia meletakkan buku bisnis yang sedang ia baca di atas nakas. Dan menghampiri Rea.
"Apa yang kau bicarakan dengan Uncle tadi?" Zain memeluk Rea dari belakang. Membuat wanita itu terperanjat kaget.
"Bisnis lama." Jawab Rea asal.
"Aku tidak tahu istriku senang berbisnis."
__ADS_1
"Kau belum mengenal siapa aku." Rea memandang pantulan mereka di cermin. Kemudian tersenyum miring.
"Memangnya siapa kau sebenarnya huh?" Zain memutar tubuh istrinya sampai keduanya pun saling berhadapan.
"Wanitamu," balas Rea mendekatkan bibirnya dengan bibir sang suami. Tidak ingin membuang kesempatan, Zain menekan tengkuk sang istri. Menahan agar ciuman mereka tak lekas usai.
Rea memukul dada suaminya karena kehabisan oksigen. Memahami kondisi sang istri, Zain melepaskan pagutannya sambil tersenyum puas.
"Kau ingin membunuhku?" Kesal Rea kembali mamukuli suaminya. "Menyebalkan."
"Aku perhatikan kau sibuk sendiri. Apa yang kau kerjakan huh?"
"Aku hanya menyiapkan keperluanmu untuk besok."
"Kau bisa melakukannya besok pagi, sayang."
"Takutnya aku tidak sempat. Besok pagi aku harus mengunjungi beberapa rumah sakit luar kota jadi berangkat lebih cepat. Tadi aku baru mendapatkan kabar."
Zain terkejut mendengarnya. "Kau tidak mengatakan hal itu padaku. Lalu bagaimana dengan jadwal cek up?"
"Aku lupa. Untuk masalah cek up aku sudah mengundurnya."
"Hm." Zain meraih kembali bibir sang istri. Tapi kali ini penuh penuntutan.
"Malam ini aku ingin istirahat, bisa kita lakukan sekarang?" Pinta Rea mangunci mata coklat suaminya.
Rea mengangguk yakin.
"Aku tidak akan melepaskan kesempatan emas." Ujar Zain membopong istrinya ke atas pembaringan. Lalu membaringkan Rea di sana dengan hati-hati.
"Bagaimana bisa aku merindukanmu, padahal kau selalu ada di depan mataku?"
Rea terkekeh geli. "Aku rasa kau sudah pandai bergombal."
"Hanya ingin menyenangkan hati istriku, apa itu salah?"
Rea menggeleng cepat. "Aku senang mendapat gombalan manis darimu. Karena aku tahu kau bersikap manis hanya padaku. Bahkan Mommy pernah cerita, kau sangat irit bicara saat di rumah. Em... apa kau juga semanis ini saat bersama Zee? Jangan salah paham, aku hanya bertanya."
Zain tampak berpikir. "Aku rasa tidak, rasanya agak berbeda saat bersamamu. Hidupku lebih berwarna. Entahlah, mungkin karena cintamu hidupku tampak sempurna."
"Cih, terus saja bergombal."
Zain tertawa renyah. "Aku sungguh-sungguh, sebelumnya aku tidak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Bohong memang jika aku tidak bahagia saat bersama Zee. Tapi saat bersamamu aku lebih bahagia."
"Tapi awalnya kau kan menolakku." Rea mengerucutkan bibirnya.
"Tidak sepenuhnya menolak juga, jujur aku tertarik dengan tubuhmu yang indah."
__ADS_1
"Cih, dasar otak mesum."
"Aku lelaki normal, sayang. Tentu saja tergiur dengan keindahan yang kau miliki."
"Lalu kenapa kau pergi di malam pertama kita huh? Bahkan kau tidak menyentuhku selama seminggu penuh. Apa aku ini begitu menjijikan bagimu?"
Zain terkejut mendengarnya. Ia tak pernah menyangka istrinya tahu malam itu ia tidak ada di hotel.
"Bukan seperti itu. Dulu aku belum memiliki perasaan apa pun padamu. Aku tidak ingin menghancurkan masa depanmu. Tapi rasanya aku tidak bisa terlalu lama menahannya. Kau selalu berpenampilan menggoda setiap saat." Jujur Zain.
Rea tertawa renyah. "Aku sengaja menggodamu. Siapa suruh kau terlalu jual mahal." Ketus Rea seraya mengalungkan kedua tangannya di leher Zain.
"Sudah aku katakan aku hanya tidak ingin menghancurkan masa depanmu."
"Sekarang kau sudah menghancurkan semuanya. Lihat, sekarang sudah ada pengacau di sini." Rea menunjuk perutnya dengan sebelah tangan.
"Dia bukan pengacau. Tapi sumber kebahagiaan di masa depan."
Rea tersenyum bahagia. "Aku pasti merindukanmu." Ucapnya tanpa sadar. Dan itu membuat Zain mengerut bingung.
"Kau bicara seolah akan pergi jauh dariku."
Rea terhenyak. "Bukan seperti itu, besok kan aku akan ke luar kota. Mungkin saja pulangnya terlambat." Alibinya
"Hm. Kau bisa mengobati rasa rindumu setelah pulang nanti."
Rea mengangguk pelan. Ditatapnya wajah tampan sang suami lamat-lamat. Perlahan Zain mendekatkan wajahnya, sampai bibir mereka pun kembali bertemu. Dicecapnya bibir manis itu dengan penuh perasaan. Dan tentu saja berujung dengan pergulatan panas di atas ranjang.
Malam hari, Rea yang tidak benar-benar tertidur pun berusaha keluar dari dekapan sang suami. Setelah berhasil lepas, ia kembali mengenakan pakaiannya. Kemudian ditatapnya Zain yang begitu pulas.
Maafkan aku, sayang. Aku harus pergi dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Aku akan merindukanmu. Tidak akan aku biarkan siapa pun menyentuh keluargaku. Aku akan kembali setelah semuanya aman. Rea memberikan kecupan hangat di kening sang suami. Ditatapnya wajah itu lamat-lamat.
Dengan gerak cepat Rea keluar kamar. Lalu bergegas meninggalkan kediaman. Tidak jauh dari gerbang rumah terparkir sebuah mobil sport. Tanpa rasa ragu lagi Rea pun masuk ke sana. Pemilik mobil itu tak lain adalah Aletta. Wanita itu melempar sebuah jaket kulit berwarna hitam pada Rea. Dan dengan gesit Rea memakainya. Mobil sport berwarna merah itu pun melaju dengan cepat meninggalkan tempat.
"Daddy sudah menghabisi semua anggota Lapendos. Aku harap kau sedikit lega."
Rea tidak menyahut karena ia sudah tahu lebih dulu. Saat ini pikirannya masih tertuju pada sang suami.
Aku harap kau tidak marah padaku, Kak. Meski aku tidak kembali sekali pun. Maafkan aku.
"Jangan khawatir. Aku percaya kau bisa kembali tanpa cacat sedikit pun. Bahkan peluru enggan menyentuhmu."
"Hm." Rea memasang wajah datar dengan tatapan lurus ke depan.
Mobil yang mereka tumpangi pun melesat cepat memasuki lapangan bandara. Bahkan dalam hitungan detik mobil mewah itu sudah terparkir cantik, berdiri di antara deretan mobil mewah lainnya yang sudah ada di dalam pesawat. Rea dan Aletta bergegas turun dan manaiki jet pribadi sang Daddy yang sejak tadi sudah menunggunya. Dua wanita itu berjalan penuh sensual, dengan kaca mata hitam yang bertengger indah di hidung bangir keduanya. Penampilan mereka lebih cocok di juluki sebagai wonder women masa modern.
Pesawat yang mereka tumpangi pun mulai bergerak, perlahan tapi pasti mereka meninggalkan lapangan lepas landas.
Di rumah, Zain bangkit dari tidurnya. Lelaki itu meraih ponselnya dan segera menghubungi sang asisten pribadi.
__ADS_1
"Lakukan penerbangan malam ini juga ke Moscow. Gunakan jet pribadi. Aku akan menunggumu jemputanmu di sini." Zain memutus panggilan. Lalu pandangannya ia lempar ke arah dinding di mana foto Rea terpajang. "Dasar wanita nakal. Jangan harap aku akan melepaskanmu setelah ini."