
Ceklek!
Sean menoleh saat mendengar pintu terbuka. Lalu bibirnya melengkung sempurna saat melihat sang istri yang masuk.
Queen juga tersenyum begitu lebar dan cepat-cepat menutup pintu. Lalu sedikit berlari menghampiri suaminya. "Sean! Aku senang sekali." Pekiknya.
"Ada apa huh?" Tanya Sean bingung.
Queen tidak memudarkan senyumannya seraya mengelurkan hasil usg, lalu menunjukkannya pada Sean. "Aku benar-benar hamil, Sean. Lihat, ini anak kita."
Sean tersenyum senang dan mengambil benda itu. "Kenapa sangat kecil?"
Queen tertawa renyah. "Usianya baru dua minggu, Sean. Wajar jika dia masih sebesar biji kacang. Dokter bilang janinnya sehat. Aku tidak sabar untuk melihat jenis kelaminnya. Harap-harap kembar, aku ingin sekali punya anak kembar." Ia mengelus perutnya dengan lembut.
Sean terlihat bahagia melihat keceriaan istrinya. "Aku harap dia perempuan, pasti sangat menggemaskan saat dia cerewet sepertimu."
Queen tertawa lagi. "Aku akan menghubungi Mommy dan Daddy. Mereka pasti senang."
"Lakukan apa pun yang membuatmu bahagia, sayang."
Queen tersenyum seraya mengambil ponselnya di dalam tas. Lalu ia naik ke atas brankar dan ikut berbaring dalam pelukan Sean. Kemudian segera menghubungi sang Mommy. Tidak pakai lama layar ponselnya sudah berubah menjadi wajah Rea.
"Wah, kalian menelepon Mommy hanya ingin pamer kemesraan huh?" Sapa Rea saat melihat kemesraan Queen dan Sean. Queen semakin mengembangkan senyumannya.
"Mom, aku punya kabar baik."
"Apa itu, kau hamil? Mommy rasa tidak ada kabar baik selain itu."
Queen mengangguk. "Aku hamil dua minggu, Mom. Selamat, kau akan menjadi nenek."
"Aaaa! Apa Mommy tidak salah dengar?" Teriak Rea kegirangan. "Mommy akan punya cucu?"
Sean dan Queen tersenyum geli saat melihat ekspresi wajah sang Mommy. Lalu Sean pun menunjukkan hasil usgnya pada Rea.
"Ya Tuhan, ini adalah kebahagiaan yang tak teduga setelah kabar tentang kondisimu, Sean. Dengarkan Mommy, kalian harus selalu berdampingan apa pun yang terjadi. Terutama kamu, Queen. Terus dampingi suamimu. Sekarang kalian sudah memiliki sumber kekuatan yang lebih besar. Mommy senang, sayangnya Daddymu sedang di luar kota."
Queen mengangguk patuh. "Lalu mana adik kecilku itu? Apa dia sudah dewasa dan mulai berkencan?"
Rea tertawa renyah. "Mana ada, dia itu seperti Daddymu. Sibuk dengan bisnis, padahal sekolah saja belum lulus. Tapi Mommy akui anak itu sangat hebat, bahkan Daddy memberikannya kepercayaan untuk memegang sebuah proyek."
Mulut Queen terbuka lebar mendengarnya. "Proyek? Di usia segitu?"
Rea mengangguk. "Jangan ragukan adikmu itu."
"Mommy benar, aku sudah lihat cara kerjanya. Dia punya skill yang hebat. Bahkan dia membantuku memecahkan masalah perusahaan yang sudah lama menjadi masalah." Sean ikut menimpali.
"Hm... aku rasa dia calon pemimpin yang baik. Aku bahagia dia menemukan jati dirinya secepat ini." Ujar Queen.
"Oh iya, apa kamu tahu Queen? Juna sudah menikah."
"Apa?" Pekik Queen kaget dan itu berhasil mendapat tatapan tajam dari Sean. Queen tersenyum geli. "Maaf, aku cuma kaget, sayang. Uncle Juna kan baru cerai."
"Istrinya sudah hamil." Ungkap Rea yang lagi-lagi berhasil membuat Queen memekik kaget. "Katanya sih gadis itu yang memperkosa Juna, dengan manaruh obat perangsang ke dalam makanannya."
__ADS_1
Mendengar itu tawa Sean pun menggelegar. "Ya ampun, aku rasa harga dirinya benar-benar jatuh kali ini. Mom, aku baru dengar kasus seorang pria diperkosa oleh wanita. Ini benar-benar lucu."
Queen memukul Sean pelan, lalu kembali fokus pada sang Mommy. "Mom, ini kejutan luar biasa. Apa Mommy tahu siapa istrinya itu?"
"Mommy dengar dari Daddymu anak itu salah satu mahasiswi magang di kantor Daddymu, katanya sih gadis itu dendam pada Juna karena nilainya tidak dikeluarkan. Jadi dia memperkosa Juna sebagai balasan. Tapi hebatnya gadis itu tidak meminta pertangung jawaban saat dirinya hamil. Bahkan dia hendak kabur ke luar negeri. Hebat bukan? Aku rasa gadis itu memang pasangan sempurna untuk seorang Arjuna." Rea tertawa puas.
"Mom, sepertinya aku tahu gadis itu deh." Kata Queen. "Sayang, kamu ingat gak di kejadian di mall beberapa minggu lalu? Uncle Juna didatangi seorang gadis, dia mengaku anak magang."
Sean mengangguk kecil. "Gadis aneh itu kan?"
Queen pun mengangguk yang dibarengi tawa renyah. "Itu artinya ucapanku benar, jika gadis itu memang jodoh Uncle."
Rea ikut tertawa. "Setidaknya Juna sudah mendapat belahan jiwanya. Mommy kira dia akan menjomblo seumur hidupnya."
"Aku juga selalu mendoakan yang terbaik untuknya, Mom. Bagaimana pun dia itu cinta keduaku setelah Daddy." Ujar Queen sengaja ingin menggoda suaminya.
Sean berdecak kesal. "Cih, cinta yang gagal."
Rea dan Queen tertawa bersamaan. "Lihat, Mom. Dia ini sangat cemburuan. Padahal jika tidak ada Uncle Juna, mana mungkin dia menjadi suamiku sekarang. Bahkan sekarang benihnya tumbuh dengan subur dirahimku. Tapi dia masih saja cemburu."
Sean tersenyum dan memeluknya dengan arat. "Aku mencintaimu." Bisiknya. Rea yang melihat kemesraan itu cuma bisa menggeleng.
"Ya sudah, Mommy tutup dulu ya? Bisa diabetes Mommy jika melihat kemesraan kalian. Mommy mau ngasih tahu yang lain jika kamu sudah hamil. Duh... gak sabar mau gendong cucu. Dan kamu, Sean. Jangan pernah memandang rendah dirimu. Karena kami akan selalu ada bersamamu. Jangan berkecil hati, okay?"
"Ya, Mom. Titip salamku untuk Daddy dan King."
Rea mengangguk. "Mommy tutup ya. Jangan lupa untuk terus bahagia. Mommy sayang kalian."
"Kami juga menyanyangimu, Mom." Balas Sean. Lalu Rea pun menutup panggilan.
"Ada apa?"
"Aku rindu mansion. Di sini tidak enak, tempat tidurnya sempit."
Sean tersenyum geli. "Sejak kapan rumah sakit itu enak huh?"
Queen terkekeh lucu. "Oh iya, kau tidak lapar?"
"Tidak ada yang suapi, jadi aku tidak lapar."
"Ck, dasar manja. Kalau begitu biar aku menyuapimu." Queen hendak bangun, tetapi Sean langsung menahannya.
"Sayang, tiba-tiba aku ingin menciummu."
Queen melotot medengarnya. "Ish... dikepalamu memang tidak jauh dari itu. Sini cepat, setelah itu kau harus makan."
Sean mengangguk patuh. Dan tanpa aba-aba ia menarik tengkuk Queen dan menyerbu bibirnya. Sontak Queen pun melotot karena kaget.
Ya Tuhan. Ada apa dengannya? Pikir Queen dalam hati.
Cukup lama Sean menyerang bibir seksi itu dengan rakus dan penuh penuntutan. Dan itu membuat Queen kuwalahan.
"Eemmffff...." Queen memukul dada Sean saat dadanya sesak karena hampir kehabisan oksigen. Sean pun mengakhirinya. Queen meraup udara dengan rakus karena sesak didadanya.
__ADS_1
"Kau gila, Sean? Aku hampir mati." Kesal Queen memukuli suaminya.
"Itu hukuman untukmu karena masih mengungkit masa lalumu. Aku tidak suka kau membahas lelaki tua itu lagi."
Queen melotot. "Jadi karena itu kau ingin membunuhku? Brengsek kau, Sean."
Sean tersenyum geli. "Beruntung aku sakit, jika tidak aku tidak akan membiarkanmu berjalan dengan baik."
"Dasar suami mesum. Beruntung juga kau sakit jadi aku tidak bisa menendang batangmu. Menyebalkan." Queen menyebik dan langsung turun dari brankar. "Kau makan saja sendiri, moodku sudah hilang."
Sean terkejut. "Sayang...."
"Jangan panggil aku, lakukan saja semuanya sendiri." Ketus Queen hendak meninggalkan Sean.
"Akhh...." keluh Sean saat dirinya bergerak terlalu kuat. Sontak Queen manahan langkahnya dan berbalik.
"Sial!" Umpat Sean saat merasakan sakit yang luar biasa. Ia memejamkan matanya menahan rasa sakit itu.
"Sean." Buru-buru Queen menghampiri Sean. "Maafkan aku."
Sean tersenyum. "Ini bukan salahmu, akhh... bisa panggilkan dokter? Aku rasa aku akan mati sekarang."
"Sean!" Kesal Queen yang langsung memeluk suaminya dan mulai menangis. "Jangan bicara sembarangan, aku takut, Sean."
Sean tertawa renyah sambil mendesis pelan. "Sayang, ini benar-benar sakit. Cepat panggilkan dokter. Atau suamimu ini akan benar-benar mati."
Queen menarik diri dari dekapan Sean. Lalu menekan tombol darurat. Setelah itu ia pun memukul dada Sean. "Mati saja sana."
"Hm, aku akan mati." Sean memejamkan matanya.
"Sean! Berhenti bercanda, huhuhu... kau membuatku takut." Queen kembali memeluknya sambil menangis sesegukkan.
Sean tersenyum. "Aku mencintaimu."
Tangisan Queen semakin tersedu. "Aku membencimu, Sean. Kau selalu membuatku takut."
"Maafkan aku, kedepannya aku tidak akan membuatmu takut lagi. Karena aku tidak akan bisa pergi jauh darimu."
"Ya, ada untungnya juga kau lumpuh. Jadi kau tidak bisa lari dariku. Tidak ada lagi wanita yang akan menggodamu. Rasakan itu."
Sean tertawa kecil. "Tapi kau juga akan repot."
"Aku tidak peduli, asal kau selalu ada didekatku."
Sean mengecup kening Queen. "Kenapa dokternya lama sekali? Ini sangat sakit, sungguh."
Queen kembali menarik diri dari dekapan Sean. Dan tidak lama dokter pun datang bersama tiga perawat. Queen memberikan ruang pada mereka, lalu mereka pun langsung memeriksa kondisi Sean. Beruntung tidak ada hal fatal karena Sean hanya kebanyakan bergerak sedangkan lukannya belum pulih. Jadi dokter menyarankan Sean untuk tidak banyak bergerak. Setelah itu dokter pun meninggalkan ruangan.
"Kau dengar itu, jangan terlalu banyak bergerak. Kau sangat nakal, Sean." Omel Queen mengambil makanan di atas nakas. Lalu duduk di bibir brankar. "Makan dulu ya?"
Sean mengangguk. "Aku rindu masakanmu, sayang."
Queen tersenyum. "Makanya cepat sembuh, kita pulang dan aku akan memasak untukmu." Ia pun mulai menyuapi Sean.
__ADS_1
Sean menatap Queen lamat-lamat. "Terima kasih."
"Ck, terima kasihnya ditrasnfer saja ke rekening." Canda Queen. Dan itu berhasil membuat Sean tertawa renyah.