Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Ospek


__ADS_3

Berhubung Mercia akan masuk kuliah, mereka pun mempersingkat bulan madunya menjadi beberapa hari saja. Tentu saja King tidak masalah soal itu karena di mana pun mereka masih bisa lanjut bulan madu.


Dan hari ini adalah hari pertama kuliah untuk Mercia, di mana ia akan menjalani masa orientasi. Saat ini Mercia sudah memakai baju hitam putih dengan rambut dikucir dua. Dan yang membuatnya kesal yaitu harus memakai pita berwarna merah. Itu sangat kekanakan menurutnya. Tetapi apa boleh buat itu aturan yang harus ia penuhi untuk ikut ospek.


"Ck, udah zaman modern juga masih aja ada ospek. Mana disuruh pake yang aneh-aneh lagi." Dumelnya sembari merapikan kemejanya yang agak kekecilan itu.


King yang juga tengah bersiap pun tersenyum geli. "Ospek itu momen paling berkesan, Sayang. Karena di masa ini kamu bisa nemu banyak temen baru."


Mercia berbalik lalu ditatapnya sang suami dengan wajah cemberut. King yang melihat itu merasa gemas sendiri karena penampilan istrinya sangatlah imut dimatanya. Perlahan ia mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Kancing yang bener."


Mercia terkesiap saat King justru mengancingkan kemejanya alih-alih menciumnya. Pahal Mercia sudah menharapkan itu.


"Mas! gak keren dong kalau dikancingnya sampe atas. Setidaknya sisain dua kancing, biar keliatan seksi." Protesnya.


King menoel hidung mancung Mercia gemas. "Terus biarin cowok-cowok di sana lihat aset berharga aku gituh? No, ini cuma boleh dilihat sama suami kamu. Lagian kenapa kamu pake baju kecil gini sih? Kayak baju anak sd."


Mercia terkekeh lucu. "Ini baju pas aku smp, Mas. Keren kan masih muat. Itu artinya aku berhasil mempertahankan kelangsingan."


King menatapnya kesal. "Ck, pantes kecil, Sayang. Gak ada lain apa?"


Mercia menggeleng. "Udah, ini aja bagus. Keliatan seksi."


King memperhatikannya dengan seksama. "Ganti aja deh, Yang."


Mendengar itu Mercia pun melotot. "Mas, ini udah siang. Mana sempat ganti lagi." Protesnya lagi.


"Pokoknya ganti, Mas gak rela cowok lain lihat kemolekan kamu. Kalau bisa pake baju yang agak gedean." Perintah King dengan nada tegas.


Mercia cemberut. "Iya deh aku ganti." Pasrahnya. Alhasil ia pun kembali ke ruang ganti dan mencari baju putih yang agak besar. Lalu bergegas menggantinya.


"Nah, gitu kan enak lihatnya." King tersenyum senang. Sedangkan Mercia masih merengut karena itu bukanlah gayanya. Sejak dulu Mercia selalu tampil cantik dan seksi. Satu sekolah juga tahu itu.


"Jangan cemberut gitu dong, nanti cantiknya ilang. Ya udah, yuk berangkat. Mas juga ada meeting pagi ini." Ajak King seraya menyambar tas kantornya. Kemudian meraih tangan Mercia dan membawa istrinya itu keluar.


Sepanjang perjalanan Mercia terus diam karena merasa tak percaya diri dengan penampilannya saat ini. Baju kebesaran yang ia pakai membuatnya risih, sebenarnya tidak terlalu besar juga karena lekuk tubuhnya masih terlihat jelas. "Mas, beneran gak lucu kan?"


"Enggak sayang." Jawab King menoleh sekilas. "Cantik kok."


Mercia m*nd*s*h pelan. "Emangnya kenapa sih kalau aku pake baju yang agak seksi? Kan kalau aku tampil cantik, kamu juga yang seneng."


"Yang bilang kamu jelek itu siapa? Orang istriku ini cantik banget kok." Dicubitnya pipi Mercia gemas.


Mercia menghela napas. "Oh iya, Mas. Biasanya ospek kampus diapain aja sih? Eh, tapi kan kamu kuliahnya di luar negeri ya? Di sana ada ospek juga gak sih?"

__ADS_1


"Ada, di sana namanya Induction Week. Isinya ya khusus buat pembekalan kita sebelum bener-bener ngampus. Semacam informasi seputar kampus dan perkuliahan. Gak ada yang namanya senioritas, real orientasi pengenalan kampus." Jawab King apa adanya.


Mercia mengangguk paham. "Kayaknya kalau di sini masih berlaku senioritas. Itu kan ciri khas kita. Gak tahu deh, liat aja nanti gimana. Yang jelas aku gak akan bisa ditindas sama mereka. Yang ada mereka aku tindas duluan." Ia tertawa lucu setelah mengatakan itu. Tentu saja King juga ikut tertawa mendengarnya. Dan merasa lega karena percaya tidak akan ada yang berani mengganggu istri tengilnya itu.


Sesampainya di kampus, Mercia pun langsung berpamitan dan tidak lupa mencium tangan suaminya. Dan tentunya saat ini mobil yang mereka naiki menjadi pusat perhatian semua orang. Bagaimana tidak, King membawa mobil limited editionnya yang tentu saja berhasil mencuri atensi semua orang.


Mercia turun dari sana dan seketika menjadi sorotan semua orang. Namun, bukan Mercia namanya jika merasa terganggu.


"Dah, Sayang." Serunya melambaikan tangan pada sang suami. King tersenyum dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan kampus.


Sepeninggalan King, Mercia pun berbalik. Lalu menatap sekeliling dengan wajah cerianya.


"Dek, anak baru ngumpul di Aula sekarang ya?" Kata seorang mahasiswi berpakaian alim mendatanginya. Mercia melihat name tag yang tergantung di lehernya. Dan nama seniornya itu Della.


Spontan Mercia tersenyum ramah. "Aulanya di mana ya, Kak?"


"Sebentar, saya panggil temen dulu."


Mercia pun mengangguk patuh, lalu seniornya itu pun langsung mendatangi salah satu temannya yang tengah mengobrol. Mereka sempat melihat ke arah Mercia, lalu seorang pemuda tampan pun mendatanginya.


"Ikuti saya." Pinta lelaki itu dengan wajah datarnya dan berjalan lebih dulu. Mercia pun mengekorinya di belakang.


Ganteng sih, tapi songong. Ck, kok aku malah inget Jef ya? Lagi apa ya dia sekarang? Udah masuk kuliah belum ya? Batin Mercia tersenyum sendiri.


Tidak lama, mereka pun sampai di Aula yang ternyata ada di lantai tiga. Saat masuk ke sana, suasana pun sudah sangat ramai. Sampai Mercia pusing karena hampir tak mengenali siapa pun. Sampai matanya menangkap lambaian tangan Jihan.


"Iya. Makasih ya Kak." Ucapnya dan langsung masuk. Ia berlari kacil ke arah Jihan. Tentu saja semua itu tak lepas dari pengawsan pemuda tadi. Ia tersenyum tipis.


Imut juga dia. Batinnya yang kemudian meninggalkan tempat itu.


Acara pembukaan pun berlangsung dengan khidmat, mulai dari kata sambutan dari dekan, dan jajaran lainnya. Hampir satu jam mereka berada di ruangan itu. Dan itu cukup membosankan bagi Mercia karena hanya duduk mendengarkan mukadimah yang tak ada habisnya. Bahkan untuk yang kesekian kalinya ia menguap.


Jihan yang melihat itu pun tersenyum geli. "Kebiasan sih lo tidur pas guru lagi ngajar, jadinya kebawa kan?"


Mercia menoleh. "Kayak gak tahu aja gue paling males denger mukadimah panjang lebar kayak gini."


Jihan tertawa kecil. "Tapi seniornya banyak yang ganteng oi." Bisiknya kemudian.


"Bodo amat, gue udah ada lakik yang lebih ganteng. Yang jelas bisa gue pegang-pegang." Sahut Mercia tak berminat pada para lelaki tampan yang ada di sana.


Jihan terkekeh pelan. "Pegang apanya nih?"


Mercia tersenyum geli. "Semuanya lah."

__ADS_1


Dan keduanya pun terkekeh pelan sebelum fokus ke podium.


Setelah acara pembukaan selesai, mereka pun dikumpulkan di lapangan dengan matahari yang mulai terik. Untung Mercia membawa sunscreen dan langsung memakainya karena tak mau perawatannya selama ini sia-sia. Ya kali istri CEO jelek.


Para senior yang sok berkuasa pun mulai berteriak dan minta semua tas di kumpulkan di satu tempat. Tentu saja semua mahasiswa baru patuh dan melakukan apa yang diperintahkan, termasuk Mercia dan Jihan tentunya.


"Lo liat gak Abang-abang yang di depan tadi. Yang pake baju biru, ganteng banget kan?" Bisik Jihan saat mereka hendak kembali ke barisan.


"Oh, yang anterin gue tadi ke Aula?"


Jihan mengangguk. "Ganteng kan? Gebetan gue tu ya, jangan lo ambil." Guraunya.


"Yee... ambil aja gak peduli gue. Suami gue mau dikemanain kalau gue gatel sama cowok lain hem?" Mercia mendengus sebal. Jihan pun terkekeh lucu.


Melihat keduanya malah mengobrol. Salah satu senior pun berteriak kencang.


"Cepat! Jangan lelet!" Teriak senior sok kecakepan itu menatap Mercia dan Jihan karena terlalu santai. Sontak senior tampan berbaju biru itu pun ikut melihat mereka.


Buru-buru keduanya masuk ke barisan tadi. Tentu saja mereka berdiri bersebelahan.


"Sok cantik." Gumam Mercia menatap wanita yang berteriak tadi tak suka. Jihan mengangguk kecil.


"Panas banget, gak pernah gue dijemur kayak gini." Keluh Mercia sembari mengibaskan tangannya.


"Namanya juga ospek ***, gak inget kita pernah dijemur seharian pas masuk sma? Gue kan kenal elo di sana." Balas Jihan.


Tanpa sadar keduanya pun tertawa cukup besar dan berhasil menarik perhatian para senior.


"Siapa yang ketawa?" Teriak salah satu dari mereka yang langsung membuat Mercia dan Jihan terdiam, lalu saling memandang satu sama lain dan tersenyum geli.


"Saya tanya siapa yang tadi ketawa?" Pemuda bertubuh jangkung itu masuk ke barisan dengan tatapan tajamnya. Sontak semua maba pun menunduk takut. Kecuali Mercia dan Jihan tentunya. Melihat itu, sang senior pun mendatangi mereka.


"Jadi kalian yang tadi ketawa?" Tanyanya dengan tatapan tajam.


Dengan santai Mercia mengangguk, bahkan berani menatap lelaki tirus itu.


Beberapa senior pun ikut mendekati mereka termasuk si pemuda berbaju biru.


"Memangnya kalian pikir ini acara lawak?" Bentaknya lagi.


"Lho, kami tadi ketawa sendiri kok. Iya kan, Ji?" Jihan pun mengangguk pelan.


"Oh, berani jawab kamu ya?" Bentak mahasiswi sok kecakepan tadi.

__ADS_1


Mercia menghela napas. "Tadi nanya." Dumelnya yang berhasil membuat para seniornya semakin kesal. Namun tidak untuk si pemuda berbaju biru. Justru ia merasa takjub dengan keberanian Mercia.


Menarik. Batinnya.


__ADS_2