
Queen tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya sejak dokter mengatakan jika anaknya berjenis kelamin laki-laki. Seperti saat ini, Queen tak henti-hentinya mengembangkan senyuman lebar sambil menatap layar ponsel.
Sean yang merasa heran dengan tingkah istrinya pun mulai bertanya. "Sejak tadi aku perhatikan, kau terus tersenyum, sayang. Ada apa huh?"
Queen menoleh, menatap Sean dengan wajah berseri. "Tentu saja aku senang. Anak kita laki-laki. Itu artinya harapanku akan terkabul. Dan rencana kami tidak gagal."
Sean kaget mendengarnya. "Rencana? Rencana apa yang kau maksud, sayang? Kau tidak pernah mengatakan apa pun padaku."
Queen duduk menghadap Sean. "Jadi begini... aku dan Aunty Fai sudah membuat kesepakatan. Jika anaknya akan dijodohkan dengan anak kita."
Sean mendengus kecil. "Pemikiran apa itu?"
"Ck, dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bicara, Sean." Rengek Queen menggenggam tangan suaminya.
Sean menghela napas panjang. "Lanjutkan."
"Jadi begini, aku tidak ingin kekerabatan kita dengan keluarga Uncle Juna putus nantinya. Dan... anggap saja aku mewujudkan kisah lamaku yang tak terlaksana. Aku setuju anak kita dijodohkan dengan anak Uncle. Pasti mereka sangat serasi. Aku yakin anak Uncle akan secantik ibunya."
Ya, Queen memang sudah mendapat kabar jika Faizah mengandung anak perempuan sejak minggu lalu. Bahkan keduanya sempat putus asa karena takut jenis kelamin anak Queen perempuan. Itu artinya rencana mereka gagal. Dan ternyata mereka salah, anak Queen berjenis kelamin laki-laki. Itu artinya perjodohan itu akan kembali dilanjutkan. Sungguh kesepakatan di luar nalar.
Sean memutar bola matanya jengah. "Bagaimana jika tingkah aneh Ibunya turun pada anak itu huh? Aku tidak ikhlas putraku mendapat istri aneh."
Queen tertawa lucu. "Tidak jadi masalah. Pasti putra kita bisa menaklukkan sikap anehnya itu. Contoh saja Uncle Juna, dia bisa menaklukkan Aunty."
"Tetap saja aku tidak setuju dengan pemikiran bodoh kalian." Tegas Sean.
"Sean...."
"Tidak, Queen. Anak kita lahir di zaman modern, tidak ada yang namanya perjodohan. Biarkan mereka menemukan cinta sejatinya sendiri."
"Sean, kali ini kau harus mendukungku. Aku akan tetap menjodohkan mereka. Aku dan Aunty sudah menyusun rencana cantik. Kita lihat saja, mereka akan bertemu seolah-olah kebetulan. Lalu diantara keduanya akan tumbuh benih-benih cinta." Jelas Queen tanpa memudarkan senyuman diwajahnya. Sedangkan Sean justru menggelengkan kepala mendengar ide konyol istrinya itu.
"Kau harus mendukungku, Sean." Rengek Queen manja.
"Tidak."
Queen menyebik. "Jadi kau tidak sayang lagi padaku?"
"Jangan coba-coba menjebakku. Aku tetap tidak setuju. Anak-anakku nanti bebas menentukan pilihannya sendiri. Kita sebagai orang tua cukup mendidiknya dengan baik. Kau tidak tahu saja bagaimana rasanya dijodohkan. Itu sangat menyiksa, apa lagi tidak ada cinta." Tegas Sean memalingkan wajahnya.
"Sean, sudah aku katakan kan... aku sudah...."
"Cukup, kau itu lelah, Queen." Sean membingkai wajah Queen dengan kedua tangan besarnya.
Queen menggeleng. "Percaya padaku kali ini saja, rencanaku pasti berhasil."
Sean menghela napas panjang. "Terserah kau saja, aku lelah." Setelah mengatakan itu Sean pun bangkit dari posisinya. Lalu melangkah pasti menuju meja kerja.
Tunggu! Sean bisa berdiri bahkan berjalan?
Queen langsung menatap suaminya terkaget-kaget. "Sean!" Teriaknya sekencang mungkin. Sedangkan yang dipanggil cuma menoleh sekilas. Buru-buru Queen menghampiri suaminya itu. "Coba kau berdiri? Apa tadi aku salah lihat?"
Sean tersenyum geli, lalu bangun dari duduknya. "Apa ada yang salah?"
Mulut Queen terbuka lebar, lalu menilai penampilan suaminya dari ujung rambut sampai kaki. "Kau sudah bisa berjalan, Sean?"
Sean tersenyum lagi. "Seperti yang kau lihat, baby."
Mata Queen langsung berkaca-kaca, dan tanpa babibu lagi ia langsung menubruk tubuh tegap Sean. Lalu menangis kencang. "Huhu... kenapa kau tidak bilang padaku... hiks... kau sudah bisa berjalan, Sean."
Sean mengecup pucuk kepala Queen dengan mesra. "Aku ingin memberi kejutan untukmu, sayang."
Queen menarik diri dari dekapan Sean, lalu mendongak. "Jadi sejak tadi kau bisa berjalan huh?"
__ADS_1
Sean mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Sialan! Kau mengerjaiku, Sean." Umpat Queen memukul dada Sean dengan keras. "Buat apa susah payah aku mendorong dan membantumu bangun jika kau sudah bisa berjalan. Dasar suami sialan."
Sean tertawa puas. "Aku hanya ingin melihat reaksimu saja."
Tangisan Queen pun semakin kencang, kemudian ia pun kembali memeluk Sean. "Huhuhu... aku senang kau sehat lagi, Sean. Tapi kau malah mengerjaiku."
"Maafkan aku, ini kejutan untukmu."
Bukanya reda, tangisan Queen pun semakin menjadi. Sean langsung memeluknya erat.
"Sudah, aku minta maaf ya?" Sean mengecup pucuk kepala Queen bertubi-tubi.
"Kau jahat."
"Aku tahu." Untuk yang kesekian kalinya Sean mengecup kepala Queen begitu mesra.
"Kau harus membujukku, aku marah padamu." Gumam Queen disela isakannya.
"Apa yang kau inginkan huh?"
Mendengar itu tangisan Queen pun terhenti. "Kau akan mengabulkan apa pun keinginanku?"
Sean mengangguk yakin seraya menghapus jejak air mata dipipi istrinya. "Apa pun."
Queen tersenyum. "Aku ingin pulang."
"Pulang? Pulang kemana? Ini rumahmu, sayang." Canda Sean berpura-pura tak peka.
"Ish... bukan itu maksudku. Aku rindu Mommy. Ayo pulang ke Indonesia. Kau sudah janji akan menuruti keinginanku." Rengek Queen begitu manja. Kedua tangannya pun kini sudah melingkar dipinggang Sean. "Aku rindu memelukmu seperti ini, Sean."
"Hm, sekarang kau bisa memeluknya sampai puas."
Sean tersenyum. "Terima kasih selalu setia disisiku, Queen. Apa pun kondisiku kau tidak pernah mengeluh. Sepertinya aku memang tak salah memilih istri. Meski pun kau masih kecil dan kekanakan. Tapi pemikiranmu jauh lebih dewasa."
Queen tertawa kecil. "Benarkah? Tapi aku sama sekali tak merasa begitu. Aku masih kecil, Sean."
"Jika kau masih kecil, mana mungkin perutmu sebuncit ini." Ledek Sean seraya meraba perut buncit istrinya. Sontak Queen pun terkekeh lucu.
"Jadi kapan kita pulang, Sean?"
"Bulan depan." Guraunya.
"Sean!"
Sean pun tertawa. "Lusa bagaimana? Besok aku harus menyelesaikan pekerjaan lebih dulu."
Queen mengangguk. "Aku akan menghubungi Mommy. Pasti Mommy gembira kita akan pulang. Aku juga akan minta dimasakkan makanan enak, rindu banget sama masakan Mommy."
"Sesampainya di sana kau bebas meminta apa pun pada Mommy."
Queen mengangguk. "Itu artinya aku bisa bertemu Aunty Fai dan membahas perjodohan itu lagi."
Mendengar itu Sean pun cuma bisa menghela napas panjang. "Terserah kau saja. Aku tidak bisa melarangmu untuk sekarang. Tapi kedepannya, aku tak bisa menjamin."
****
Kini keduanya pun tiba di tanah air. Queen yang sudah sangat merindukan sang Mommy pun langsung memeluknya erat setiba di kediaman orang tuanya.
"Ah... rindunya."
"Mommy juga merindukanmu, sayang." Rea mengecup pipi Queen penuh cinta. Lalu keduanya pun saling melerai pelukan. Kini Rea beralih pada Sean. Ditatapnya sang menantu lekat. "Ah, Mommy senang kau bisa berjalan normal lagi, Sean. Meski prosesnya lumayan lama."
__ADS_1
"Ya, Mom. Berkat doa kalian semua." Rea tersenyum ramah.
Queen pun beralih pada sang Daddy, dipeluknya lelaki itu dengan erat. "Putri Daddy semakin cantik saja." Puji Zain memberikan kecupan hangat di kening putrinya.
"Bagaimana kabar cucu Daddy huh?" Imbuh Zain mengusap perut buncit Queen.
"Baik, Grandpa." Sahut Queen menirukan suara anak kecil. Sontak yang lain pun tertawa renyah.
"Oh iya, King mana?" Tanya Queen saat menyadari sang adik tak terliaht batang hidungnya.
"Adikmu masih sekolah, Queen. Jangan lupakan itu."
"Ah, maafkan aku. Aku lupa."
Rea menggelengkan kepala. "Ya sudah, kalian istirahat sana. Kalau lapar langsung makan saja ya?" Queen dan Sean pun mengangguk.
Keesokan harinya, seolah tiada kata lelah. Queen dan Sean pun mengunjungi rumah Juna. Tentu saja kedatangan mereka disambut hangat oleh Faizah.
"Aaa... senangnya bisa bertemu lagi." Seru Faizah memeluk Queen dengan erat.
"Sama, aku juga senang."
Para suami yang melihat itu pun cuma bisa menghela napas berat.
"Ayo masuk." Ajak Faizah.
Dan kini mereka tengah berkumpul di ruang tamu.
"Maaf ya rumahnya kecil." Kata Faizah seraya meletakkan nampan berisi minuman segar di meja. Lalu ia pun ikut duduk di sebelah Juna.
"Aku senang kau sudah sehat lagi, Sean." Ucap Juna dengan tulus.
"Ya, semuanya berkat dukungan dan doa kalian semua." Sahut Sean.
Saat para suami tengah berbincang. Faizah dan Queen pun saling memberi kode.
"Emm... berhubung kita sudah berkumpul. Bagaimana jika kita membicarakan soal perjodohan anak-anak?" Tawar Faizah dengan tatapan berbinar.
"Setuju." Sahut Queen tak kalah semangat.
"Aku tidak setuju." Jawab Sean dan Juna kompak. Spontan Queen dan Faizah pun saling memandang.
"Sayang, kita kan sudah membicarakan ini sebelumnya." Rengek Queen bergelayut manja di lengan sang suami.
"Aku juga kan udah bahas masalah ini sama kamu, Mas. Kamu udah janji loh bakal setuju." Kali ini Faizah pun ikut bergelayut manja di lengan suaminya.
"Kapan saya setuju, Izah? Saya bilang saya gak setuju. Gak ada yang namanya perjodohan."
"Aku juga tidak setuju, itu rencana konyol." sahut Sean.
"Sayang," rengek Queen seraya membelai dada bidang suaminya. Tidak mau kalah, Faizah pun melakukan hal yang sama.
"Mas, harus setuju dong. Kan seru kalau kita besanan sama mereka." Bujuk Faizah yang dibalas anggukan oleh Queen.
"Gak lucu sama sekali." Sahut Juna menyingkirkan tangan istrinya yang mulai bergerak nakal.
"Ck, ya udah kalau Mas gak setuju. Aku sama Queen bakal tetap lanjutin rencananya. Setuju kan, Queen?"
Lagi-lagi Queen mengangguk antusias. Lalu sedikit menjauh dari sang suami dan bangkit. Mengambil segelas jus dan mengangkatnya ke udara. "Cheers buat rencana kita." Serunya.
Faizah pun melakukan hal yang sama. Kemudian kedua bumil itu pun tertawa penuh kebahagiaan. Mengabaikan para suami yang cuma bisa menarik napas pasrah.
Tbc....
__ADS_1