
Rea membuka pintu kamar tamu dengan tergesa. Ia benar-benar syok dengan mimpi sialan itu. Ingin sekali rasanya ia membenturkan kepalanya agar tak mengingat lagi mimpi itu yang masih bersarang di otaknya.
Rea menghela napas lega saat melihat suaminya tertidur begitu pulas. Ia menutup pintu pelan, lalu menghampiri ranjang dan tidur di sebelah Zain. Menjadikan tangan lelaki itu sebagai bantal. Lalu memeluknya erat.
Maafkan aku, aku sama sekali tak berniat mengerjaimu.
"Sayang, pindah yuk." Bisik Rea. Zain hanya menggeliat karena terlalu pulas di alam bawah sadarnya. Dan itu membuat Rea merasa tak tega untuk membangunkannya. Rea pun mengecup bibir Zain, lalu membenamkan wajah di dadanya.
"Aku merindukanmu...."
"Hm...."
Rea mendongak, menatap suaminya yang tengah berusaha membuka mata. Zain terlihat sangat tampan seperti itu.
"Maafkan aku sudah membangunkanmu." Lirih Rea seraya mengusap pipi suaminya.
Zain tersenyum simpul. "Tidak apa." Lelaki itu pun mempererat pelukkannya. Cuaca dingin membuatnya merindukan kehangatan. Rea menggesekkan hidungnya yang dingin di leher Zain. Godaan itu membuat Zain menginginkan hal lebih.
Zain sedikit mundur, lalu ditatapnya mata indah sang istri.
"Sayang, aku minta maaf. Tidak seharusnya aku mengusirmu dari kamar." Rea memberikan tatapan sedih.
"Hm...." bibir mereka pun kembali bersatu. Setelah itu Rea kembali membenamkan wajahnya di dada sang suami. Ia berusaha melupakan mimpi itu. Namun rasanya sangat sulit. Menjijikan sekali.
"Sepertinya aku tidak bisa tidur lagi." Kata Zain yang berhasil menarik perhatian istrinya.
Pandangan keduanya pun bersatu, seolah menyalurkan kerinduan yang mendalam. Mendadak Rea pun menginginkan hal lain. Ia menggigit ujung bibirnya. Namun tak berani meminta secara langsung.
"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Zain menyelipkan anak rambut Rea di sela telinganya.
"Apa kau berniat kembali pada Zee jika aku terus marah padamu?" Rea membalas dengan sebuah pertanyaan yang membuat Zain mengerut bingung.
"Kenapa kau bisa berpikir jauh seperti itu huh? Aku tidak akan melakukan itu." Zain memberikan kecupan di kening istrinya. Seketika darah Rea pun berdesir.
"Kau sangat jahat, kau tidak percaya padaku dan terus membelanya. Aku benci itu." Rea memukul pelan dada suaminya.
Zain tersenyum simpul. "Sekarang aku percaya padamu."
Rea menantap bibir indah suaminya yang begitu menggoda. Dan itu menambah keinginannya untuk melakukan hal lebih. Rea menggesekkan pahanya ke tubuh Zain. Tentu saja si empu peka akan apa yang istrinya inginkan. Namun ia berpura-pura tidak tahu karena ingin melihat sejauh mana istrinya bisa manahan. Meski sebenarnya ia juga menginginkan hal itu. Seminggu lebih Rea terus mengabaikannya. Tentu saja ia merindukan kehangatan.
"Kak."
"Hm." Katakanlah, sayang. Zain mengulum senyuman geli.
"Aku bermimpi buruk."
"Mimpi apa?"
"Kau bercinta dengan Zee."
Zain tersentak mendengarnya. "Bagaimana bisa kau bermimpi seperti itu? Aku rasa kau sudah berpikir terlalu jauh."
"Entahlah. Hatiku sangat sakit meski itu hanya sebuah mimpi. Bagaimana jika itu kenyataan? Mungkin aku bisa langsung mati. Berhenti berhubungan dengannya, aku tidak suka."
"Aku juga tidak suka saat kau masih berhubungan dengan Regan. Jauhi dia, bagaimana pun dia seorang laki-laki. Bisa saja dia menyimpan hati untukmu."
Rea menatap Zain lekat. "Regan tidak seperti itu."
"Tetap saja aku tidak suka."
"Kau cemburu?" Tanya Rea dengan senyuman jahilnya.
"Tidak." Zain memejamkan matanya. Dan itu membuat Rea kalang kabut. Rea mengelus dada suaminya, ia semakin tenggelam dalam gairah yang mendadak muncul. Zain tersenyum penuh arti.
Tinggal katakan saja apa susahnya sih? Apa semua wanita memang seperti ini? Pikir Zain dalam hati.
"Kak, emm aku...."
"Satu lagi, minggu depan akan ada pesta besar di kantor. Aku harap kau bisa hadir sebagai pendampingku. Batalkan semua jadwal pemotretanmu." Sela Zain.
__ADS_1
"Hm." Rea mengangguk paham.
"Aku sangat ngantuk, ayo kita tidur."
"Eh?"
"Tidurlah, kau harus istirahat."
Ck, apa dia tidak merindukanku? Menyebalkan, tidak mungkin kan aku yang memulai lebih dulu? Oh god, bantu aku. Rea menggigit bibirnya. Menatap Zain yang sudah memejamkan matanya lagi.
"Kak."
"Hm." Zain mengintip dari ujung matanya untuk melihat ekspresi sang istri. Berharap Rea memohon padanya.
Katakan saja, sayang. Aku suamimu, tidak perlu malu.
"Aku dengar kau mengundang Zee dalam acara itu. Dia akan menjadi salah satu model di sana. Apa itu benar?"
"Kau tahu dari mana?"
"Regan."
"Bukan aku yang menentukan siapa yang akan menjadi brand ambassador perusahaan. Aku juga tidak tahu kenapa mereka memilih Zee."
"Jadi benar dia akan menjadi modelnya?"
"Belum tentu, sayang. Apa perlu aku memakaimu?"
"Ah, tidak usah. Tapi... kalau dia menjadi model di perusahaanmu. Itu artinya kalian akan sering bertemu."
"Hanya sebagai rekan bisnis."
Rea pun mengangguk, mencoba untuk memahami persoalan bisnis suaminya tanpa mengikut campurkan perasaan. Meski sejujurnya ia sangat cemburu.
"Kak."
"Apa sayang?"
Zain mulai geram. Apa susahnya tinggal bicara. Apa semua wanita memang segengsi ini? Ayolah, sayang. Katakan apa yang kau inginkan. Aku pasti mengabulkannya.
Rea mengusap perut kotak-kotak suaminya, hampir saja tangannya menyentuh benda itu.
"Aku ingin itu."
"Itu apa?"
"Itu... aku...."
"Bicaralah dengan benar, Re."
"Tidak jadi." Rea membenamkan wajahnya di dada bidang Zain. Ia merasa malu sendiri. Mana mungkin ia meminta itu secara gamblang.
"Kalau begitu ayok kita tidur." Ajak Zain yang sebenarnya ingin segera menerkam istri menggemaskannya itu.
"Jangan tidur dulu." Rengek Rea sambil mengusap dada suaminya. Dan itu membuat milik Zain menegang seketika. Dari tadi juga ia sudah dalam mode on. Ditambah istrinya itu terus menggodanya. Itu menyiksanya!
Merasa geram. Zain menarik dagu istrinya dan langsung menyatukan bibir mereka. Cukup lama ia di sana. Lalu turun kelehernya. Rea melenguh geli sambil bergerak memeluk leher suaminya. Sedangkan Zain semakin gencar mengabsen setiap inci tubuh istrinya. Setelah itu keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas. Tangan Zain tidak mau kalah, melucuti semua kain yang manempel di tubuh istrinya.
Akhirnya keinginan Rea pun terkabul.
Iris mata Zain menggelap saat menatap wajah cantik Rea yang terengah-engah karena mereka terlalu lama berciuman.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Rea merasa malu. Ia tebak saat ini pipinya pasti merona bak kepiting rebus.
"Kau sangat cantik."
"Kau sangat mesum, terlihat jelas diwajahmu, Tuan Garalt." Ledek Rea.
Zain malah tersenyum. "Tapi kau menyukainya kan, istriku?" Goda Zain seraya mengecup kedua pipi istrinya. Lalu turun ke leher dan dadanya.
__ADS_1
Darah Rea mendesir hangat setiap kali Zain menyentuh tubuhnya. Bahkan tanpa sadar ia m*nd*s*h kecil.
"Kau suka?"
Rea mengangguk dengan mata terpejam. Menikmati setiap sentuhan suaminya.
"Kenapa tidak bilang jika kau ingin bercinta, Re?"
"Eh?" Rea membuka matanya kaget.
"Kau terus menggodaku, aku tahu kau menginginkannya."
Wajah Rea pun semakin merona karena malu. "Karena aku malu."
"Malu? Aku suamimu, Rea. Kau bebas memintanya kapan saja."
Rea tersenyum malu dan langsung memeluk suaminya. "Aku takut menggangu istirahatmu."
"Aku tidak akan terganggu jika itu menyangkut ranjang."
"Cih, dasar mesum."
"Aku mencintaimu, Re." Ungkap Zain sambil mengecup bibir istrinya.
Rea tertegun mendengarnya. Matanya terus berkedip seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.
"Aku tidak berbohong, aku selalu cemburu saat kau dekat dengan lelaki lain. Aku tersiksa saat kau menjauhi dan mengabaikanku. Aku takut kehilanganmu. Maaf aku terlambat menyadarinya. I love you."
Apa ini mimpi? Rea menepuk kedua pipinya. Zain yang melihat itu tersenyum.
"Kau tidak sedang bermimpi. Tatap aku, Re."
Dengan malu-malu Rea menatap mata indah suaminya.
"Aku mencintaimu." Ulang Zain. Rea memperdalam tatapannya. Mencari sebuah kebohongan, tetapi ia tak menemukan itu sedikit pun.
"Aku juga mencintaimu. Tapi aku masih tidak percaya soal perasaanmu."
Zain tersenyum simpul. "Perlahan kau akan percaya karena aku akan terus memberikan bukti itu padamu."
"Jangan kecewakan aku, Kak. Aku masih marah padamu soal kemarin. Hatiku sangat sakit."
"Maafkan aku. Tidak akan terulang lagi."
"Janji?"
"Promise."
"Katakan lagi kau mencintaiku."
"Aku mencintaimu, istriku. Bidadari hatiku."
Rea tersenyum nakal. "Cepat lakukan, aku sudah tidak tahan." Bisik Rea sambil mengedipkan matanya.
Zain tersenyum geli. "Kau sangat nakal, sayang."
"Tapi kau menyuakainya."
"Ya, semuanya aku suka."
Rea menjerit saat tiba-tiba Zain memutar posisi di mana Rea menjadi di atasnya.
"Apa yang kau lakukan?" Pekik Rea tertahan.
"Making love. Aku lebih suka kau di atas."
"Kak." Kesal Rea memelototi suami mesumnya.
"Jika ingin menyentuhnya jangan setengah-setengah. Bisa-bisa dia marah."
__ADS_1
"Angry bird huh?"
Zain dan Rea pun tertawa bersama dengan penuh cinta. Sebelum keduanya kembali dikuasai gelombang cinta yang menggelora. Cuaca dingin itu pun berubah menjadi sehangat mentari.