Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Istri limited edition


__ADS_3

Rea mengerut bingung saat melihat wajah kusut suaminya yang baru saja pulang kerja.


"Kau ingin jus?" Tawar Rea seraya meraih tas kantor dan jas suaminya. Kemudian menaruhnya di tempat biasa.


"Tidak usah, aku sangat lelah." Zain pun menjatuhkan diri di atas sofa.


"Ada masalah serius di kantor?" Tanya Rea seraya duduk di samping suaminya. Mengusap rambut Zain dengan penuh kasih sayang. Zain menatap Rea begitu dalam.


"Vivian mengundurkan diri secara tiba-tiba, aku tidak tahu apa alasannya. Jadi aku yang harus menghandel semuanya sendiri. Juna juga baru kembali lusa. Kepalaku pusing sekarang."


Rea terdiam cukup lama. Jadi kau takut juga dengan ancamanku rupanya? Baguslah kalau kau sadar diri.


"Apa perlu aku membantumu?"


"Tidak perlu, kau sudah cukup lelah di rumah sakit."


Rea memeluk Zain mesra. "Aku minta maaf karena menempatkanmu dalam posisi sulit."


"Kenapa kau yang meminta maaf?"


Rea menggigit ujung bibirnya. "Sebenarnya aku yang meminta Vivian mengundurkan diri."


"Apa?" Kaget Zain. Rea pun semakin mengeratkan pelukannya. Ia takut Zain memarahinya sekarang.


"Maafkan aku, aku hanya mengancamnya. Tidak menyangka dia benar-benar mengundurkan diri."


Zain memijat batang hidungnya. Ia tak pernah menyangka Rea benar-benar nekad hanya karena cemburu. Zain menatap istrinya tak percaya. Sedangkan yang ditatapan hanya bisa membenamkan wajahnya di dada sang suami. "Sorry."


Zain menghela napas kasar. "Kurangi perasaan cemburumu itu, Re. Kau bisa merugikan banyak orang."


"Vivian yang menantangku. Harus kau tahu dia itu sudah berencana menjeratmu. Kau juga tahu bukan aku tidak suka diusik." Kesal Rea.


Untuk yang kesekian kalinya Zain membuang napas kasar. "Entahlah, aku lelah dengan sikap cemburumu itu. Aku ingin mandi. Tolong buatkan aku kopi." Zain melepaskan dekapan istrinya dan beranjak begitu saja menuju kamar mandi. Dan itu membuat Rea merasa bersalah.


"Maafkan aku." Rea mengusap wajahnya lembut. Ia benar-benar merasa bersalah kali ini.


****


Di dapur, Rea tampak termenung. Sejak tadi ia terus menatap gelas kopi yang masih mengepulkan asap. Ia juga memainkan bibir gelas dengan jarinya.



Apa aku sangat keterlaluan? Bagaimana jika dia marah padaku, apa yang harus aku lakukan sekarang? Pikirnya.


Karena Rea tak kunjung muncul. Zain pun memutuskan untuk menyusulnya ke dapur. Langkah Zain pun tertahan saat dirinya memergoki sang istri yang tengah termenung. Ia menghela napas kasar sebelum mendekati istrinya itu.


"Sudah cukup termenungnya. Lupakan masalah Vivian." Zain meraih gelas kopi dan itu membuat Rea terhenyak kaget.


Zain memgamit tangan istrinya. Lalu membawanya ke ruang tengah dan duduk di sofa. "Aku sudah meminta Juna untuk segera kembali."


Rea menatap Zain sendu. "Maafkan aku."


"Sudah aku katakan lupakan masalah tadi." Zain menyesap kopi buatan Rea. Kemudian ditatapnya sang istri lamat-lamat. "Kau masih memikirkannya?"


Rea mengangguk. "Aku takut kau marah padaku."


Zain mengusap pipi halus istrinya itu. "Aku tidak bisa marah padamu. Lupakan masalah tadi okay?"


"Sekali lagi aku minta maaf." Zain membawa Rea dalam dekapan. Ia tahu kemarahan tidak akan membuat suasana semakin membaik. Meski sebenarnya ia agak kesal dengan sikap pecemburu istrinya itu. Tetapi ia tahu Rea melakukan itu karena terlalu mencintai dirinya. Akh, dipikir-pikir Zain merasa beruntung karena bisa mendapat istri seperti Rea. Bahkan wanita itu lebih mencintainya dibanding dirinya sendiri. Rea rela menempatkan diri dalam bahaya hanya untuk melindugi dirinya. Mungkin akan sulit mencari sosok sepertinya di tempat lain. Istrinya itu memang limited edition, tidak ada duanya.

__ADS_1


"Aku memaafkanmu. Jangan dipikirkan lagi."


Rea mengangguk patuh. Zain pun tersenyum seraya memberikan kecupan di pucuk kepala istrinya itu. Di saat mereka sedang menikmati kemesraan. Tiba-tiba Aletta muncul dengan gaun pernikahan. Sontak Zain dan Rea pun kaget.


"Letta?" Rea menatap sahabatnya itu dari ujung kaki sampai rambut. Aletta terlihat begitu cantik dengan balutan gaun berwarna gading dengan belahan dada rendah.


"Kenapa kau datang dengan pemampilan seperti ini huh?" semprot Zain. Aletta pun langsung menggenggam tangan Zain.


*"Please*... sembunyikan aku di mana pun kalian mau. Aku tidak ingin menikah. Daddy menjebakku. Dia membohongiku dengan iming-iming liburan ke Bali. Di sana dia ingin menikahkan aku. Please... bantu aku. Aku tidak ingin menikah dengan lelaki kejam itu."


Rea memutar bola matanya malas. "Aku rasa kau yang lebih kejam dari pada Benz. Dia lelaki baik sejauh yang aku kenal. Drama apa lagi yang kau buat huh?" Rea memberikan tatapan curiga pada sahabatnya itu.


Kini Aletta pun beralih menggenggam tangan Rea. "Please, kau itu kan sahabatku. Bantu aku bersembunyi dari Daddy. Aku tidak ingin menikah."


"Itu artinya kau mencari mati, Letta." Rea menekan genggaman tangannya.


"Jadi benar kau di sini?" suara bariton milik Adam pun menggema di ruangan itu. Seketika Aletta pun bersembunyi dibalik Rea saat melihat Benzamin dan Ibunya juga hadir di sana. Sampai pandanganya pun jatuh pada sosok lelaki yang sejak tadi terus berdiri si sisi sang Ayah. Cristian Muller, asisten pribadi Adam yang menggatikan posisi Ayahnya yang sudah meninggal. Lelaki tampan itu juga sempat memberikan tatapan penuh arti pada Aletta.


"Dad, ada apa ini? Kenapa kalian menikahkan Aletta tanpa memberi tahu kami?"


Adam berdeham kecil. "Dia menolak untuk dinikahkan. Karena itu aku menjebaknya, tapi dia masih saja kabur."


"Kenapa kau lakukan ini, Dad? Kau memaksanya."


Aletta bersyukur karena Rea membela dirinya.


"Sudah saatnya dia menikah. Usiaku tidak muda lagi. Waktunya dia menggantikan posisiku."


"Apa harus dengan pernikahan?" Tanya Rea lagi masih melindungi sahabatnya.


"Ya, pernikahan adalah syarat utama untuk meneruskan perusahaan. Benzamin lelaki yang aku pilih sebagai penerus keluarga kita."


"Tapi aku tidak mencintainya, Dad. Aku mencintai orang lain." Teriak Aletta yang berhasil menarik perhatian semua orang. "Aku mencintai orang lain." Ulangnya seraya menatap ke arah Cristian. Lelaki itu hanya bisa menundukkan pandangan.


Aletta mencengkram erat tangan Rea.


"Katakan." Bisik Rea.


Aletta menatap sang Daddy lekat. "Berjanjilah untuk tidak menyakitinya, Dad." Lirihnya.


Adam terdiam cukup lama.


"Please...." mohon Aletta menangkup kedua tangannya di dada. "Biarkan aku bahagia dengan pilihanku, Dad."


Adam mengangguk kecil. "Katakan siapa dia?"


Aletta menatap sang Ibu. Jannie pun mengangguk kecil. Seolah memberinya peluang untuk bicara.


"Berjanji tidak akan menyakitinya." Aletta memastikan.


"Ya, cepat katakan sebelum aku berubah pikiran."


Aletta pun memberanikan diri menatap Cristian yang juga tengah menatapnya lekat. Lelaki itu pun menggeleng kecil.


Maafkan aku, Cris. Aku hanya ingin hidup bersamamu.


"Aku mencintai dia, Dad." Aletta menunjuk Cristian tanpa ragu. Sontak semua mata tertuju pada lelaki itu.


Adam mengeratkan rahangnya. "Habisi dia." Titahnya. Sontak Aletta pun kaget.

__ADS_1


"Tidak, kau sudah berjanji tidak akan menyakitinya." Histeris Aletta. Namun Adam bukanlah orang yang mudah di goyahkan. Anak buahnya pun segera menyeret Cristian keluar rumah.


"Aku mohon, Dad. Jangan sakiti dia. Please...."


"Menikahlah dengan Benz atau kau akan melihatnya mati di depan matamu sendiri."


Tubuh Aletta pun melorot ke lantai. kemudian menangkup kedua tangannya di dada. Ia memohon pada sang Daddy. "Dia begitu menghormatimu, Dad. Tolong jangan sakiti dia. Demi menghormatimu dia rela mengorbankan perasaanya padaku. Aku sangat mencintainya, begitu pun sebaliknya. Aku mohon padamu, jika kau menganggapku sebagai putrimu. Izinkan aku untuk hidup bersamanya."


Adam terdiam seolah mengabaikan putrinya.


"Baby, biarkan mereka bersama. Aku yakin Cris bisa melindungi Letta." Bujuk Jannie karena tidak tega melihat putrinya bersimpuh di lantai. Namun sepertinya Adam masih teguh dengan pendiriannya.


"Aku ingin jasadnya sekarang." Pinta Adam menatap Aletta tajam. Mendengar itu Aletta terkejut.


"Aku hamil, Dad."


Deg!


Semua orang terkejut mendengarnya dan memusatkan perhatian pada Aletta.


"Apa yang kau katakan?" Terlihat jelas amarah di mata Adam.


"Aku hamil." Lirih Aletta memasang wajah tegas. Ia tidak peduli jika nyawanya harus melayang. Bukankah itu lebih baik dari pada kehilangan cintanya?


"Bunuh aku, Dad. Cris tidak bersalah. Aku yang menjebaknya."


Adam mengepalkan kedua tangannya. Lalu ia pun beranjak pergi.


Aletta yang sejak awal panik pun bangkit dan menyusul sang Daddy. Lalu semua orang pun mengikutinya di belakang.


Di luar terlihat jelas Adam tengah menghajar Cristian habis-habisan. Aletta menutup mulutnya tak percaya. Lelaki yang ia cintai terlihat tak berdaya sekarang.


"Hentikan!" Histeris Aletta yang hendak menahan sang Daddy. Namun pergerakkannya langsung di tahan oleh Benzamin. Lelaki itu mencengkram erat dirinya.


"Lepaskan aku, brengsek. Dad, aku mohon jangan sakiti dia." Teriak Aletta mulai berderai air mata. Namun Adam masih saja memukuli Cristian yang sudah terkapar di tanah.


"Hentikan, Dad." Kali ini Rea yang menahan pergerakan Ayah angkatnya. Seketika Adam pun menghentikan aksinya.


Rea memeluk lelaki itu dari belakang. "Kau selalu memastikan kebahagianku bukan? Kali ini biarkan Aletta juga bahagia. Dia tetap putrimu meski senakal apa pun. Mungkin dia sering mengecewakanmu, tapi dia tetap wanita yang butuh cinta, Dad. Biarkan dia bahagia dengan pilihannya sendiri. Aku tahu betul perasaannya."


Adam memejamkan matanya. Kemudian berbalik, menatap Aletta lekat. Hatinya terenyuh saat melihat kondisi Aletta yang sudah seperti orang gila.


"Lepaskan dia, Benz." Titahnya. Benzamin pun melepaskan genggamannya. Lalu Aletta pun bergegas menghampiri Cristian. Tangisannya pun pecah saat melihat wajah lelaki itu yang babak belur.


"Maafkan aku." Aletta membawa Cristian dalam pelukannya.


Cristian tetap tersenyum meski bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. "Sudah aku katakan jangan kecewakan Daddymu lagi. Kau membuatku marah, Letta."


Aletta tersenyum dalam tangisannya. Ia mendorong lembut bahu kekasihnya. Lalu pandangan keduanya pun terkunci rapat. "Kau sangat bodoh. Kenapa tidak pukul saja Daddyku huh? Dia sudah tua, dengan kau tendang saja dia sudah kalah."


"Dia calon mertuaku, aku harus menghormatinya."


Adam mendengus sebal mendengarnya. Sedangkan yang lain malah tersenyum geli. Kecuali Benzamin tentunya. Lelaki itu tampak kesal karena tidak berhasil menikahi wanita pujaan hatinya.


"Aku mencintaimu." Bisik Cristian dengan terbatuk-batuk. Aletta tersenyum lega dan langsung menyambar bibir kekasihnya itu. Keduanya pun terhanyut dalam ciuman panas. Benzamin yang tak ingin menyaksikan itu pun beranjak pergi.


Rea tersenyum senang. "Sebaiknya kita siapkan pernikahan untuk mereka. Kalian bisa memakai rumah ini untuk resepsi. Lumayan kan menghemat biaya."


Lagi-lagi Adam mendengus sebal. "Terserah kalian saja," ujarnya yang langsung bergegas pergi.

__ADS_1


Aletta menatap Rea lekat. Ia sangat berterima kasih pada sahabatnya itu. Rea yang mengerti pun mengacungkan jempol.


"Aku jadi ingin menciummu." Bisik Zain. Rea melotot mendengarnya. "Dasar otak mesum."


__ADS_2