Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Dasar Suami Mesum


__ADS_3

Queen mendorong Sean karena mulai kehabisan oksigen. Bahkan napasnya tersengal dengan pipi yang merona. Dan tidak ada lagi wajahnya yang pucat tadi.


Sean tertawa lucu saat melihat ekspresi istrinya. "Bagaimana hukumanku huh?"


Queen melotot. "Aku hampir mati, Sean."


"Ya, bukankah kau tadi ingin mati? Jadi aku kabulkan."


"Sean! Jadi kau senang aku mati?"


"Tentu saja, aku bisa mencari gadis lain yang lebih...." perkataan Sean langsung terputus karena Queen membukan mulutnya dengan tangan.


"Jangan katakan itu, meskipun aku mati. Aku tidak rela kau mencari wanita lain. Aku tidak rela, Sean." Mata Queen pun kembali menitikkan air mata.


Sean menjauhkan tangan istrinya yang masih menepel di bibir.


"Kenapa kau tidak rela? Bukankah kau tidak menginginkan aku?"


Queen langsung menggeleng. "Pokoknya kau tidak boleh pergi dariku, Sean. Aku akan marah jika kau pergi lagi seperti kemarin."


"Berikan aku satu alasan." Pinta Sean yang sebenarnya ingin mendengar perkataan cinta keluar dari mulut istrinya itu.


Queen terlihat gugup. "A__alasannya karena kau itu suamiku, Sean." Kesal Queen. "Jangan pergi lagi, aku mohon."


"Hm. Sekarang kau harus makan, karena kau harus menerima hukuman setelah sembuh nanti." Sean terlihat kecewa.


Queen menatap suaminya itu bingung. "Jadi masih ada hukuman?"


"Tentu saja, yang tadi itu hanya hukuman kecil."


Mendengar itu Queen mendadak ngeri. "A__apa yang akan kau lakukan padaku?"


"Kau akan tahu nanti. Sekarang makanlah." Sean meraih piring berisi makanan dan membuka plastik wrap.


Bibir Queen menyebik. "Aku mau disuapi." Rengeknya seperti anak kecil.


"Hm. Buka mulutmu."


Queen tersenyum dan langsung menerima suapan dari suaminya. Sambil mengunyah, Queen terus memperhatikan mimik wajah suaminya.


Kenapa kau sangat tampan, Sean?


"Ada apa?" Tanya Sean menyadari jika Queen terus menatapnya.


"Sean, apa kau masih marah padaku?"


"Mungkin." Jawab Sean dengan ekspresi datar.


"Apa yang harus aku lakukan supaya kau memaafkan aku, Sean?"


"Kau pikirkan itu setelah sembuh."


Hati Queen mencolos saat mendengar jawaban datar suaminya. Jadi dia masih marah padaku? Aku pikir setelah menciumku dia sudah melupakan masalah itu. Huh, ini semua memang salahku.


"Buka mulutmu, Queen."


Queen tesentak dan langsung menerima suapan dari Sean. Lalu mengunyahnya dengan cepat, alhasil bibir bawahnya tergigit.


"Awh." Ringisnya.


"Bisakah kau lebih hati-hati?" Sean meletakkan piring di atas nakas. Kemudian menarik dagu istrinya. "Buka mulutmu lebar-lebar."


Dengan petuh Queen membuka mulutnya.


"Berdarah. Kau sangat ceroboh."


"Aku tidak sengaja."

__ADS_1


Sean hanya menatap Queen sekilas, kemudian merogoh ponselnya di saku celana. Kemudian ia terlihat mengetik sesuatu dengan serius.


Queen yang melihat itu merasa penasaran. "Kau menghubungi siapa?"


Sean melirik Queen sekilas tanpa memberikan jawaban. Dan itu membuat Queen kembali berburuk sangka. "Kau menghubungi Stella?"


"Hm."


Queen terkejut. "Jadi kau benar-benar menghabiskan waktu dengannya?"


Sean kembali melirik istrinya. "Ya."


Mata Queen kembali berkabut mendengarnya. "Apa saja yang kau lakukan dengannya di sana?"


"Bersenang-senang seperti yang aku katakan sebelumnya."


Air mata Queen pun tumpah lagi. "Seharusnya kau tidak perlu datang ke sini. Maaf jika aku sudah menganggu kesenanganmu." Queen berbaring membelakangi Sean dengan punggung yang bergetar karena menahan isak tangis.


Sean tersenyum geli. Dasar istri gengsian, kenapa tidak katakan saja kau cemburu. Bagaimana bisa dia berpikir aku menemui Stella. Dalam benakku saja tidak pernah terbayang hal itu.


Tidak berapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Refleks Sean dan Queen pun menoleh ke arah pintu. Pintu terbuka dan menampakkan Ben membawa sebuah paper bag berukuran besar. Queen mengerut bingung.


"Ini pesanan Anda, Tuan." Ben memberikan paper bag itu pada Sean. Sontak Queen pun menatap suaminya.


"Terima kasih, kau menerima pesanku dengan cepat, Ben." Ucap Sean penuh penekanan. Seketika wajah Queen pun merona karena ia sudah salah sangka.


"Jadi yang kau hubungi itu Ben?"


Sean menaikkan kedua bahunya.


Ben tersenyum dan langsung undur diri karena tidak ingin menganggu kemesraan Tuan dan Nyonya-nya.


Queen mengubah posisinya menjadi duduk. Menatap suaminya dengan perasaan bersalah. "Sean."


"Diamlah." Sean mengambil salep dan membuka pembungkusnya. "Buka mulutmu."


Dengan patuh Queen membuka mulutnya dan membiarkan Sean mengobati luka di bibirnya. "Jangan banyak bicara supaya lukanya cepat sembuh.


"Kau harus banyak makan mulai dari sekarang, aku tidak ingin gula darahmu rendah lagi."


"Sean...."


"Sudah aku katakan jangan banyak bicara." Sela Sean memberikan tatapan tajam pada istrinya. Bukannya takut, justru Queen tersenyum lebar.


"Terima kasih, suamiku."


"Haish... kau ini sangat keras kepala. Sudahlah, kau harus istirahat. Tidurlah."


Aku mencintaimu, Sean. Aku mencintaimu. Queen hanya bisa mengucapkan itu dalam hati karena belum berani berkata jujur.


"Jadi kau bohong soal Stella?"


"Bohong? Aku tidak pernah bilang jika bertemu dengannya. Kau sendiri yang mengatakan itu."


Ck, benar juga sih.


Queen tersenyum malu. "Maaf, aku sudah menuduhmu yang bukan-bukan."


"Sudah aku katakan, pikirkan cara meminta maaf yang baik setelah kau sembuh. Karena aku tidak bisa memaafkanmu begitu saja."


"Sean, aku ingin tidur dalam pelukanmu." Rengek Queen menatap Sean penuh harap.


"Bagaimana jika aku tidak mau?"


Queen memasang wajah sedih. "Tidak apa, aku bisa tidur sendiri." Ia berbaring dan kembali membelakangi Sean.


Sean tersenyum tipis, kemudian ikut berbaring di sebelah sang istri. Queen terkejut saat Sean memeluknya dari belakang dan memberikan kecupan di lehernya. "Aku merindukanmu, sayang. Cepatlah sembuh."

__ADS_1


Queen tersenyum senang. Hatinya berbunga-bunga saat ini. "Sean, aku mengantuk. Berhenti menciumku."


"Jangan protes, tidurlah."


Queen menghela napas berat, kemudian memejamkan matanya meski Sean terus menggodanya.


"Hmmm... berhenti, Sean." Lirih Queen tidak tahan dengan sentuhan yang Sean berikan. Ia menggigit ujung bibirnya agar tidak mengeluarkan suara aneh.


"Jangan berisik." Bisik Sean tersenyum jahil.


"Sean, ini rumah sakit."


"Aku tahu. Karena itu jangan berisik."


Queen menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya terasa panas karena menahan gejolak aneh akibat sentuhan yang Sean berikan di area sensitifnya.


Dasar suami mesum.


****


Keesokan harinya, dokter memperbolehkan Queen pulang karena kondisinya sudah membaik. Tentu saja Queen senang karena memang tidak suka berlama-lama di rumah sakit.


"Hah, akhirnya aku bisa menghirup udara segar lagi." Queen menghirup udara luar dengan rakus.


Sean tersenyum geli. Sebenarnya istrinya itu terlalu berlebihan karena ia hanya menginap semalam di rumah sakit. Namun, bukan Queen namanya jika tidak bertingkah aneh.


"Masuklah," titah Sean seraya membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Terima kasih, Tuan." Ucap Queen seraya masuk ke dalam mobil. Sean tersenyum, kemudian mengitari mobil dan ikut masuk. Tidak perlu lama mobil mewah itu melaju dengan kecepatan sedang.


"Sean, apa aku boleh mampir ke apartemen? Aku harus mengambil beberapa buku."


"Hm."


"Sean, kau masih marah padaku?" Dengan takut-takut Queen menatap suaminya.


Sean menoleh sekilas. "Ada apa?"


"Kenapa kau sangat cuek padaku?"


"Cuek?"


"Ya. Kau selalu menjawab pertanyaanku hanya dengan hm atau ya. Itu menggangguku, Sean."


"Lalu apa yang harus aku jawab huh?" Sean tersenyum tipis.


Queen menggigit bibirnya. "Aku sudah terbiasa kau panggil sayang atau yang lainnya."


"Lalu?"


Queen bingung sekarang. "Em... kau bisa memanggilku seperti itu lagi."


"Seperti apa?"


"Se__seperti sayang, honey atau darling."


"Lalu apa keuntunganku jika memanggilmu seperti itu?"


"Aku juga akan memanggilmu dengan panggilan sama."


"Cih, aku tidak percaya." Sean melirik istrinya itu sekilas. Dan...


Cup!


Sebuah kecupan lembut mendarat dipipinya. "Aku berjanji, mulai sekarang aku tidak akan membuatmu kecewa lagi, Sean."


Sean tersenyum tipis. "Buktikan itu malam nanti, aku ingin lihat sejauh mana kau berusaha."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan membuktikannya."


"Good."


__ADS_2