
"Bagaimana?" Tanya Regan pada Juna yang sejak tadi berusaha menghubungi Zain. Juna memang sempat berpapasan dengan Regan saat hendak membawa Rea ke rumah sakit. Karena itu sekarang ia juga berada di rumah sakit.
"Aku rasa dia tidak memegang ponsel. Atau mungkin ponselnya tertinggal di mobil." Jawab Juna.
"Kau sudah menghubungi keluarganya?" Tanya Nesya pada kekasihnya.
"Sudah, mereka langsung terbang kemari."
"Ya Tuhan, Zain. Aku tidak mengerti apa yang ada dalam kepalanya. Istrinya sedang sekarat, tapi dia malah sibuk dengan wanita lain. Aku harap dia menyesal." Imbuh Nesya merasa geram dengan sahabat kekasihnya itu.
"Aku harap dia bisa memetik pelajaran dari sini. Bahwa kepercayaan itu sangat penting dalam sebuah hubungan." Ujar Regan yang sejak tadi terus memasang wajah cemas.
"Bagaimana dengan CCTV? Sudah aman?" Tanya Nesya lagi.
"Sudah, aku menyimpan semua bukti di sini." Jawab Juna menunjukkan ponselnya pada sang kekasih.
"Sudah aku katakan padamu kan? Zee pasti merencanakan sesuatu. Ini yang aku takutkan."
"Hm. Yang menjadi kesalahan kita yaitu tidak ada yang tahu Rea sedang hamil."
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Rea tahu anaknya tidak selamat. Sebagai wanita aku tahu apa yang dia rasakan. Apa lagi ini kehamilan pertama untuknya."
Regan berdeham dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Dokter memang sempat memberitahu mereka bahwa Rea mengalami keguguran karena kondisi janinnya sudah sangat lemah saat di bawa ke rumah sakit. Karena itu janinnya tidak dapat diselamatkan akibat Rea mengalami benturan keras.
"Aku harap Rea bisa setegar biasanya." Timpal Regan mengusap wajahnya dengan kasar. Juna dan Nesya pun mengangguk pelan.
"Apa sebaiknya kita masuk? Kasihan jika Rea bangun tidak ada satu orang pun yang menemaninya." Saran Nesya.
"Kalian saja yang masuk. Aku harus mencari Zain. Aku rasa dia butuh sedikit pelajaran." Ujar Juna yang langsung dijawab anggukan oleh Nesya dan Regan.
"Kalau begitu aku masuk. Kabari aku apa pun yang terjadi." Kata Nesya yang dijawab anggukan oleh Juna. Kemudian Regan dan Nesya pun beranjak masuk. Sedangkan Juna bergegas pergi dari sana.
Di rumah sakit yang sama, Zain terlihat duduk di tepi brankar di mana Zee terbaring. Mengusap kening Zee yang terbalut kain kasa. Wanita itu belum sadarkan diri sejak satu jam yang lalu. Dokter juga mengatakan Zee banyak kehabisan darah dan harus melakukan transfusi. Sudah hampir dua kantung darah ia habiskan. Namun dirinya belum juga siuman.
Zain menghela napas, lalu bangun dari sana dan mencoba merogoh saku celananya. Namun ia tak menemukan ponselnya di sana. Zain mendengus sebal, ia lupa kalau ponselnya masih di mobil. Pada akhirnya Zain memutuskan untuk mengambilnya. Ia pun meninggalkan ruangan Zee.
Saat Zain hendak membuka pintu mobil. Seseorang menepuk pundaknya. Zain yang kaget pun langsung menoleh. Ia mengerut bingung saat melihat Juna ada di sana.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Zain penasaran. Juna menatap Zain lekat, kemudian memberikan ponselnya pada Zain.
"Apa ini?"
"Lihat dan amati semuanya sendiri." Juna bersandar di mobil sambil terus memperhatikan sahabatnya itu. Zain yang merasa penasaran pun segara menekan tombol play pada video itu. Seketika ia terbelalak saat melihat apa yang Zee lakukan pada istrinya. Ternyata istrinya tidaklah berbohong. Memang Zee lah yang memulai lebih dulu.
Zain menggerutu dalam hati atas kebodohannya. Ia merasa bersalah karena sudah membentak Rea tadi.
Sepertinya aku harus segera meminta maaf padanya. Batin Zain.
"Seharusnya kau mempercayai istrimu, Zain. Aku tahu kau masih mencintai, Zee. Tapi tidak seharusnya kau bodoh karena cinta. Sejak awal Zee hanya memanfaatkanmu." Juna merebut ponselnya dari tangan Zain.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin."
"Apa lagi yang kau ragukan? Semuanya sudah jelas. Sorry sebelumnya karena aku menyembunyikan semua kebusukan Zee darimu. Saat itu kau terlalu tergila-gila padanya, sampai kau tidak pernah peduli dengan apa yang aku katakan. Sejak awal Zee berselingkuh darimu, Zain. Aku tidak bisa mengatakan apa yang dia lakukan dibelekangmu. Aku rasa kau bisa mencari tahunya sendiri."
Zain mengeratkan rahangnya. Kemudian menarik kerah kemeja Juna. "Kenapa kau tidak bicara jujur sejak awal huh?"
Juna tersenyum kecut. "Aku sudah sering memperingatimu. Kau saja yang terlalu bucin."
Zain mendorong Juna dengan kasar sampai lelaki itu sedikit terhuyung kebelakang.
"Sialan!" Umpat Zain seraya membuka pintu mobil dengan kasar.
"Kau mau kemana?" Tanya Juna menahan Zain.
"Hotel, aku harus bicara pada Rea."
"Rea ada di sini." Zain mengurungkan niatnya untuk masuk ke mobil saat mendengar itu. Ditatapnya Juna dengan pandangan sengit.
"Apa maksudmu? Rea mengikutiku?"
Juna menggeleng. "Ikut aku."
Zain menarik pundak Juna saat lelaki itu hendak pergi. "Katakan apa yang terjadi?"
"Ikut denganku, kau akan tahu sebentar lagi. Seharusnya aku membiarkanmu melihat video itu sampai habis. Tapi itu sudah tidak ada guna. Ikut aku sekarang atau kau akan menyesal." Juna menggeser tangan Zain yang masih menempel di pundaknya. Kemudian melangkah pergi. Zain yang penasaranpun mengikuti langkah kaki Juna.
"Masuklah." Titah Juna saat mereka sudah berada di depan ruang rawat Rea. Zain menatap Juna lebih dulu sebelum membuka pintu.
Zain mendekati istrinya dengan langkah cepat. Nesya pun menjauh dan membiarkan Zain mengambil posisinya. Regan pun ikut menyingkir, memberikan ruang untuk Zain.
"Apa yang terjadi?" Tanya Zain menatap semua orang lekat. Seolah mencari sebuah jawaban atas apa yang dialami istrinya.
"Rea keguguran." Jawab Nesya yang berhasil membuat Zain tersentak kaget.
"Apa maksudmu? Bagaimana bisa Rea keguguran? Bahkan dia tidak sedang hamil."
"Kenyataannya Rea sedang hamil. Dokter mengatakan janinnya tidak dapat diselamatkan karena Rea mengalami benturan keras dibagian pinggulnya. Rea juga sudah menjalani kuretase." Jawab Nesya.
Zain mengusap wajahnya dengan kasar. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kemarin Rea kedatangan tamu bulanannya. Bagaimana dia bisa hamil?" Zain menatap Nesya bingung.
"Sebaiknya kau tanyakan itu pada dokter.
Kami ikut beduka atas apa yang terjadi."
Zain mengalihkan perhatian pada Rea yang masih terlelap. Mengusap kepala istrinya itu dengan lembut. Sungguh, Zain menyesali apa yang telah terjadi. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran buah hatinya sendiri. Sekarang ia sudah kehilangan anak itu dalam waktu yang singkat. Dan itu karena kesalahnya sendiri.
Zain meraih tangan Rea, lalu mengecupnya dengan lembut. "I am so sorry."
"Cih, tidak ada gunanya kau meminta maaf sekarang. Semuanya sudah terlambat. Aku harap Rea tidak memaafkanmu." Kesal Regan.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu." Nesya berusaha memperingati Regan.
"Dia pantas mendapatkannya, suami macam apa dia? Meninggalkan istrinya dan memilih mantan kekasih yang sudah jelas tidak ada harganya."
"Reg." Juna ikut memperingati.
"Mungkin kalian sahabatnya, karena itu kalian membelanya. Tapi Rea sahabatku, wanita yang aku sayangi. Aku tahu apa yang dia rasakan selama ini, aku yang menemaninya. Lima belas tahun dia menyimpan perasaanya hanya untuk lelaki ini. Tapi apa yang dia lakukan, belum genap dua bulan dia menikahi Rea, tapi sudah ribuan kali menyakiti hatinya. Aku harap kau mendapat karma. Kau menyakiti wanitaku."
"Dia istriku." Desis Zain melayangkan tatapan membunuh pada Regan. Ia tak terima Regan mengatakan Rea wanitanya.
"Istri? Bahkan kau tidak pernah mempercayainya. Aku harap Rea tidak bodoh lagi setelah ini."
Zain mengeratkan rahangnya. Apa yang dikatakan Regan memang benar. Selama ini Zain tidak sepenuhnya menaruh kepercayaan pada Rea.
"Sudahlah, kalian tidak perlu berdebat. Kasihan Rea, biarkan dia istirahat. Sekarang kita harus memikirkan apa yang harus kita katakan setelah Rea siuman." Ujar Nesya yang berhasil membuat suasana hening. Tidak ada lagi perdebatan di sana. Mereka tengah sibuk dengan pikiran masing-masing.
****
Rea menepis tangan Zain dengan kasar. Air matanya tak bisa berhenti menetes. Ia benar-benar terpukul atas apa yang dialaminya. Bahkan mulutnya terkatup rapat seolah enggan mengeluarkan suara setelah mendengar jika dirinya telah kehilangan sang buah hati. Bahkan Rea sendiri tidak pernah meyadari kehadirannya.
"Sayang." Zain hendak meraih tangan Rea. Namun dengan cepat wanita itu menghindar. Rea juga memalingkan wajahnya dari Zain. Dan pandanganya pun tertuju pada Regan yang masih berdiri di sana dengan tatapan sedih.
Rea menatap Regan lekat, buliran bening terus menetes dipelupuk matanya. Regan yang memahami itu pun mendekat. Duduk di sebelah Rea. Seketika Rea pun berhambur dalam pelukannya dan menangis kencang. Zain yang melihat itu mengeratkan rahangnya. Ia merasa gagal menjadi seorang suami. Bahkan Rea memilih orang lain untuk bersandar. Seketika hati Zain terasa perih.
"Kenapa semuanya harus terjadi padaku?" Lirih Rea memeluk Regan begitu erat. "Bahkan aku belum menyadari kehadirannya, tapi dia sudah pergi meninggalkanku."
Regan menghela napas kasar, tangannya bergerak cepat mengusap rambut Rea. "Kau harus kuat. Mungkin belum saatnya kau memiliki seorang anak. Pasti akan ada gantinya yang lebih baik."
Rea pun semakin tersedu. Ia benar-benar sedih saat ini.
"Re, maafkan aku." Zain hendak menyentuh istrinya. Namun Rea langsung menolaknya mentah-mentah.
"Jangan sentuh aku. Pergi saja pada wanitamu. Menjijikan." Teriak Rea dengan kilatan amarah di matanya. Semua orang terkejut melihat itu. Terutama Zain, ia tidak pernah menyangka Rea akan semarah ini. Ia sudah terbiasa dengan sifat manja Rea, dan kini semuanya berbanding terbalik. Tatapan penuh cinta yang biasa Rea berikan kini berubah menjadi tatapan kebencian.
Zain menghela napas berat. "Maaf." Lirihnya. Rea yang mendengar itu sama sekali tak menanggapinya. Ia terlanjur sakit hati kali ini.
"Minta dia pergi, Reg." Pinta Rea yang ditujukan untuk suaminya. Zain menatap Rea lekat. Namun tidak ada yang berani bicara.
"Biarkan aku sendiri." Putus Rea kembali berbaring. Kemudian menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.
"Pergi. Biarkan aku sendiri."
"Re...."
"Pergi!" Teriak Rea membuat semua orang terkejut. Rea memiringkan tubuhnya membelakangi semua orang.
"Pergilah, aku mohon." Pinta Rea dengan punggung yang bergetar karena menahan tangsian.
Lalu mereka pun bergegas keluar. Sebelum menutup pintu, Zain menatap Rea lekat. "Maafkan aku, Re."
__ADS_1
Bohong jika Rea tak mendengar itu. Ia mendengarnya, hanya saja ia sengaja menulikan telinganya. Saat ini ia ingin sendiri. Ia ingin sebuah ketenangan untuk hatinya yang tengah terluka.