
Menjelang sore, Jef dan Jessy pun kembali ke mansion tanpa Mercia tentunya.
"Jika Aunty bertanya, aku harap kau bisa jelaskan sendiri, Jef." Ujar Jessy yang langsung turun dari mobil lelaki itu. Ia benar-benar kesal pada Jef karena terlalu cepat menyerah untuk mencari Mercia. Padahal dirinya sangat yakin jika saja tadi Jef terus menghubungi Mercia, gadis itu akan luluh dan Mercia bisa kembali bersama.
Terlihat jelas kecemasan di wajah gadis itu karena takut tejadi hal buruk pada Mercia.
"Kalian sudah pulang ternyata." Sambut Queen saat melihat putra dan temannya itu pulang. Namun, ia terlihat celingukan karena tak melihat Mercia. "Jef, di mana Mercia?"
Jessy menatap Jef karena bingung harus menjawab apa. Lalu Jef pun menjawab. "Kami kehilangan jejaknya, Mom. Dia menghilang."
"Apa?" Pekik Queen kaget setengah mati. "Jangan bercanda, Jef. Mercia tidak tahu daerah sini. Oh God! Bagaimana jika dia bertemu orang jahat?"
"Dia sudah dewasa, Mom. Jika dia tersesat, dia pasti akan menghubungi kita. Tapi sejak tadi dia tidak menghubungi kami, bahkan mengabaikan panggilanku. Dia terlalu sombong." Jawab Jef santai karena begitu yakin Mercia baik-baik saja.
Wanita agresif sepertinya mana mungkin ada yang menculik? Si penculik pasti berpikir dua kali. Batin Jef.
"Biar aku yang mencarinya." Ujar King yang langsung bergegas pergi. Sebelum itu ia sempat melayangkan tatapan kecewa pada keponakannya itu. Namun Jef berusaha untuk santai, meski dari lubuk hatinya yang paling dalam cukup merasa bersalah.
Queen melayangkan tatapan nyalang pada putranya. "Kau tidak bisa diberi tanggung jawab, Jef. Mercia itu perempuan. Ditambah dia juga belum mengenal daerah sini. Ya Tuhan, bagaimana kalian bisa sesantai ini?"
Jessy menunduk karena merasa bersalah. "Maafkan kami, Aunty."
Jef menghela napas. "Ayolah, Jes. Tidak perlu meminta maaf. Ini bukan salah kita sepenuhnya. Dia pasti akan kembali. Dia tidak sepolos yang kalian pikirkan."
"Jef." Jessy memperingati dan merasa tak setuju dengan perkataan Jef.
Queen tak bisa berkata-kata lagi dengan sikap putranya itu. Kemudian ia pun beranjak pergi dari sana. Ingin memastikan Mercia baik-baik saja dengan menghubunginya.
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah toko buku. Mercia terlihat santai membaca sebuah novel romansa yang disediakan gratis untuk para pengunjung. Sudah hampir dua jam dia ada di sana. Sebelum ke toko buku ini, Mercia sempat berjalan-jalan dan berkeliling Ibu Kota. Dia juga sempat mampir ke mall untuk cuci mata tanpa berniat membeli apa pun. Dan yang terakhir ia pun singgah di tempat ini, yang keberadaannya tak jauh dari mall sebelumnya.
Sangking asiknya, ia sampai lupa memberi kabar orang rumah. Tidak lama ponsel miliknya pun bergetar dan berhasil menarik perhatiannya. Ia berdecak sebal karena berpikir Jef lah yang menghubunginya. Cepat-cepat ia mengeluarkan ponsel dan melihat sipemanggil. Dan ternyata nomor tak dikenal. Dahi gadis itu mengerut karena bingung. "Siapa ini? Apa mungkin Jessy?"
Lalu, dengan sedikit keraguan ia menerima panggilan. "Hallo?"
"Di mana posisimu?" Tanya orang itu dengan suara beratnya. Sontak Mercia pun kaget dan menjauhkan ponsel dari telinga.
"Mercia! Kau dengar aku?"
Mendengar itu ia kembali menempelkan ponselnya ditelinga. "Ya. Kau siapa?"
Terdengar suara decakan kesal diseberang sana. "Di mana posisimu?"
Mercia mencoba untuk mengingat suara itu, suara yang tak begitu asing. "Om? Apa itu kau?"
"Ya. Sekali lagi aku tanya, di mana posisimu?" Sahut King dengan kesal.
"Aku di toko buku." Jawab Mercia santai.
"Nama tokonya?"
"Em... toko buku yang ada di dekat City Center, aku tidak sempat melihat nama tokonya tadi." Jawab Mercia sekenanya karena terlalu serius membaca novel yang lumayan seru.
King pun memutuskan panggilan sepihak. Dan itu membuat Mercia kaget. "Ish, gak jelas amat ini si Om, main matiin aja." Gerutunya seraya meletakkan ponselnya lagi di atas meja.
Hanya dalam hitungan menit, King berhasil menemukan keberadaan gadis itu. "Apa yang kau lakukan di sini huh?"
Mercia langsung menoleh. "Apa Om tidak lihat? Aku sedang membaca." Ia pun menunjukkan buku yang sedang dibacanya pada King.
King mendengus kecil. "Apa kau tahu semua orang mencemaskanmu?"
"Semua orang? Apa termasuk cowok brengsek itu? Aku rasa sih enggak. Malah kayaknya dia bakal seneng aku hilang dari muka bumi ini." Sinisnya.
__ADS_1
King menatap gadis itu seolah tak percaya. "Kakakku sangat mencemaskanmu. Setidaknya kamu kabari orang rumah supaya tidak ada yang khawatir."
Mercia melirik lelaki itu sekilas. "Iya maaf, aku gak tahu kalau Aunty secemas itu."
King menghela napas. "Ayo pulang." Ajaknya hendak menarik Mercia. Namun gadis itu menahannya. "Belum rampung tahu Om bacanya, dikit lagi nanggung."
King berdecak sebal. "Beli saja bukunya."
Seketika wajah Mercia pun berbinar. "Jadi Om mau beliin? Seriusan?"
King memutar bola matanya jengah. "Iya, cepetan."
Mercia pun memilih beberapa buku yang menurutnya menarik, lalu bangkit dari tempatnya dengan penuh semangat. King yang melihat itu cuma bisa menggelengkan kepala.
"Ayo ke kasir, biar mereka yang cari bukunya." Ajak Mercia menarik King tanpa rasa segan sedikit pun. King pun cuma pasrah dan mengikuti keinginan gadis itu.
"Sis, tolong carikan buku serupa ya?" Pinta King saat tiba di kasir. Lalu Mercia pun memberikan contoh bukunya pada orang itu.
"Mohon ditunggu ya?"
Mercia pun mengangguk yang diiringi senyuman manis.
Setelah membayar, keduanya pun langsung meninggalkan tempat itu. Dan bergegas untuk pulang.
"Makasih ya, Om. Om baik deh." Ucap Mercia saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Gadis itu terus mengembangkan senyuman saat melihat beberapa novel yang baru dibelinya itu.
"Ya, sama-sama." Jawab King yang kemudian melajukan mobilnya. "Kamu udah makan?"
Mercia menoleh. "Belum."
King mengangkat sebelah alisnya. "Dari siang?"
"Itu bukan makan namanya. Emangnya gak lapar?" Tanya King heran.
"Lapar sih, cuma aku tuh suka lupa makan kalau udah baca novel. Tadi itu beneran bagus loh ceritanya, plot twisnya bikin dag dig dug ser. Berapa buku tadi ya yang aku baca ya? Oh iya, kayaknya empat buku deh." Ocehnya panjang lebar. Padahal King bukan menanyakan hal itu.
"Hm." Sahut King bingung harus memberi tanggapan apa.
Mercia menatap King lekat. "Om dapet nomor aku dari mana?"
"Kakak saya." Jawab King singkat.
"Oh. Kirain Om stalking aku lagi." Gadis itu terkekeh sendiri.
"Gak ada kerjaan banget saya stalking kamu." Ujar King tersenyum tipis.
"Mana tahu kan diam-diam Om naksir sama aku."
King tertawa mendengarnya. "Saya suka rasa percaya diri kamu itu."
Mercia pun ikut tertawa, entah kenapa ia selalu merasa nyaman jika bicara dengan King. Meski kadang lelaki itu sering membuatnya kesal. "Aku juga suka loh kalau ngobrol sama Om. Kayak asik aja gitu. Beda sama Jef yang kayak kanebo kering."
"Oh ya?"
"Iya, abis Om kan ganteng. Terus gak sombong, meski kadang-kadang judes juga sih." Mercia terkekeh lagi sembari menutup mulutnya.
"Emang saya judes gitu?"
"Kadang-kadang, dulu pas pertama kita ketemu kan Om ngeselin banget. Mana suka ngatain aku lagi. Tapi sekarang lumayan asik kok." Jawab Mercia begitu jujur. "Terus tadi pagi juga Om dingin banget sama aku."
King terkejut mendengarnya, lalu mendadak ia teringat kejadian malam kemarin. "Saya lagi banyak pikiran."
__ADS_1
"Oh, pantesan. Pasti capek ya jadi CEO di beberapa perusahaan?"
"Lumayan." Jawab King tersenyum, kemudian ia membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. "Kita makan dulu." Mercia pun mengangguk patuh.
Emang pengertian banget si Om. Beruntung banget yang jadi istrinya. Duh, kira-kira siapa yang perempuan beruntung itu? Boleh gak ya kalau aku mendaftar? Pikir Mercia senyum-senyum sendiri sembari mencuri pandang pada lelaki tampan disebelahnya itu.
King yang melihat itu pun mengerut bingung. "Kenapa senyum-senyum? Ayo turun."
"Eh, iya ayo." Kaget Mercia merasa malu karena kepergok. Lalu cepat-cepat ia pun turun dari mobil.
Duh, bikin malu aja kamu, Cia. Gerutunya dalam hati. Kemudian ia pun mengekori King yang duluan masuk ke dalam.
King memilih tempat duduk kapasitas dua orang, dan agak pojokan. Kemudian mereka pun memesan makanan.
King menatap Mercia yang tengah memperhatikan sekitar. "Lain kali jangan berkeliaran sendirian, kamu belum tahu di mana area berbahaya di sini."
Mercia pun memusatkan perhatiannya pada King. "Bahaya gimana sih, Om? Apa kayak pencopet gitu? Masak sih di negara maju ada pencopet." Ia pun tertawa geli.
King menghela napas. "Walaupun negara maju, gak menutup kemungkinan kejahatan merajalela, Merica. Bahkan kasus kejahatan di sini lebih parah dari sekadar pencopet. Pencopet di sini lebih modern. Apa lagi wajah kamu asing buat orang sini." Jelasnya.
Mercia pun manggut-manggut. "Iya deh aku janji gak bakal keliaran sendiri lagi. Kecuali Om mau ajak aku keliling, hehehe."
"Boleh, kalau saya lagi gak sibuk." Jawab King yang lagi-lagi berhasil membuat Mercia kesenengan.
"Beneran ya, Om? Awas loh kalau bohong, aku tagih janjinya."
"Iya, kamu bisa pegang ucapan saya."
"Ok." Mercia tersenyum, tetapi sedetik kemudian wajahnya berubah memelas. "Om, stop dong manggila aku Merica. Aku kan bukan bumbu dapur."
King tersenyum geli ketika melihat bibir Mercia yang maju beberapa senti. "Kalau soal itu saya gak bisa janji. Kecuali kamu mau dipanggil dengan nama lain."
Mercia menatap King bingung. "Nama lain? Emang Om mau manggil aku apa lagi huh? Jangan bilang nama aneh-aneh lagi."
King tersenyum. "Lupakan itu."
Tidak lama pesanan mereka pun tiba. Lalu keduanya pun makan dengan tenang tanpa sepatah kata pun. Setelah itu mereka kembali bergerak untuk pulang.
Sesampainya di rumah, keduanya langsung disambut oleh Queen yang memang menunggu kepulangan mereka. "Cia, ya ampun. Aunty cemas banget tahu gak?"
"Maaf ya, Aunty. Aku gak ada niat buat kalian semua cemas. Lain kali gak bakal ulang lagi kok." Ucap Mercia dengan tulus.
Queen tersenyum. "Iya, sayang. Aunty cuma gak mau kamu kenapa-napa."
Mercia mengangguk. "Ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu. Capek soalnya abis jalan-jalan."
Queen pun mengangguk, lalu Mercia pun beranjak ke kamarnya. Namun, ia sempat berpapasan dengan Jef sebelumnya. Karena masih kesal dengan orang itu, ia pun mengabaikannya begitu saja.
Jef menatap punggung gadis itu penuh arti.
"Kali ini kamu sudah buat kesalahan besar, Jef. Jangan salahkan aku jika kedepannya dia benar-benar berpaling." Ujar King yang kemudian berlalu melangkah pergi.
Jef tersenyum masam. "Sejak awal aku memang sudah kalah, Uncle. Lalu apa yang perlu aku lakukan lagi huh? Sedari dulu kau selalu mencuri perhatiannya dariku."
King menahan langkahnya saat mendengar itu, lalu tanpa menoleh ia pun menjawab. "Salahkan dirimu karena terlalu menjunjung tinggi ego. Kamu juga harus tahu satu hal. Hanya lelaki pengecut yang menyerah sebelum berperang."
Jef mengeratkan rahangnya, ucapan King berhasil menamparnya.
"Oh iya, kedepannya mari bersaing secara sehat. Jangan jadi pengecut, Jef." Setelah mengatakan itu King pun pergi meninggalkan Jef yang masih membeku ditempatnya.
Bersambung....
__ADS_1