Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Aku akan merindukanmu


__ADS_3

Zain terus memperhatikan istrinya yang tengah memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper karena pagi nanti Rea akan langsung terbang ke Paris.


"Masih lama?" Tanya Zain masih setia mengawasi pergerakan istrinya.


"Hampir selesai." Sahut Rea sambil memasukkan pakaian terkahir ke dalam koper. Kemudian menutupnya dan meletakkan benda itu ke pojokan.


"Sudah." Rea naik ke atas ranjang dan langsung berbaring sambil memeluk suaminya. Rea mendongak, menatap Zain penuh cinta. "Aku akan merindukanmu."


Zain mencium kening Rea lembut. "Selalu hubungi aku. Apa pun yang terjadi kau harus mengadukan itu padaku okay?"


"Hm." Rea mengangguk patuh. "Kau juga."


"Ya." Zain kembali menatap wajah cantik istrinya. Lalu pandangan mereka pun saling terkunci satu sama lain. Seolah tengah menyalurkan perasaan masing-masing.


"Cantik sekali." Puji Zain menoel hidung mancung Rea.


"Malam ini aku milikmu sepenuhnya." Bisik Rea meraih bibir Zain dengan lembut. Zain yang mendapat lampu hijau pun tidak ingin membuang waktu. Ia membalas ciuman istrinya. Memeluk Rea dengan erat seolah tak ingin melepasnya pergi.


Zain merubah posisinya menjadi duduk. Kemudian membawa Rea duduk di atas pangkuannya karena ia menyukai posisi itu. Zain kembali menyambar bibir istrinya yang sedikit membengkak. Rea mengeluarkan d*s*h*n kecil saat ciuman itu turun ke lehernya. Dadanya terlihat naik turun karena menahan gairah.


"Berjanji untuk tidak melakukan hal bodoh lagi di sana." Pinta Zain.


"Aku berjanji." Rea mengelus kedua pipi Zain dengan jemari lentiknya. "Jangan menatap wanita lain saat aku tidak ada. Aku bisa cemburu."


"Memangnya kau punya mata batin?"


"Tentu saja, bahkan aku bisa tahu apa yang saat ini kau pikirkan." Rea mulai mengunci netra suaminya.


"Apa?" Zain menatap Rea penasaran.


"Kau... " Rea sengaja menggantung kalimatnya.


"Kau berbohong." Lanjut Zain menoel hidung istrinya. "Kau sama sekali tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan."


"Aku tahu. Saat ini kau pasti sedang memikirkan bagaimana caranya menahanku agar tidak pergi. Benarkan?"


Zain mengangkat sebelah alisnya karena apa yang Rea katakan benar adanya. "Bagaimana kau tahu itu?"

__ADS_1


"Mungkin kau belum tahu, aku lulusan fsikolog."


"Benarkah? Kenapa aku tidak pernah tahu?"


"Karena kau tidak pernah mau tahu soal kehidupanku."


Zain tersenyum tipis. "Aku akan mencari tahu mulai sekarang."


Rea mendengus sebal. "Tidak ada yang spesial dalam kehidupanku. Kau tidak perlu mencari tahunya. Aku mengantuk, ayo tidur." Ajak Rea seraya memebenamkan wajahnya di dada Zain.


"Aku belum ngantuk." Zain menyelusupkan kedua tangannya ke dalam kaus kebesaran yang Rea pakai. Rea tertawa geli saat jemari Zain menggelitik perutnya.


"Kenapa tanganmu sangat nakal?" Kesal Rea menepuk lengan suaminya. "Kita sudah melakukannya sore tadi. Aku masih lelah tahu. Kau ini tidak puas-puas apa?"


"Yang tadi itu belum cukup." Zain mengecupi leher jenjang Rea dengan lembut.


"Kau memang tidak pernah merasa cukup. Lakukan dengan cepat, aku ingin tidur."


"Aku tidak bisa melakukannya dengan cepat. Kau selalu membuatku lupa waktu." Bisik Zain berusaha menggoda istrinya. Rea menghela napas pasrah saat Zain kembali melakukan aksi panasnya. Sepertinya lelaki itu memang tidak pernah bosan untuk terus menyentuh istrinya itu. Rea seolah sudah menjadi heroin untuknya.


****


"Jaga diri baik-baik, hubungi aku jika sudah sampai di sana." Pinta Zain yang langsung dijawab anggukan oleh Rea.


"Kau juga jaga diri baik-baik, aku mencintaimu." Rea memberikan kecupan di bibir Zain. Zain menahan tengkuk istrinya, m*l*m*t bibir Rea dengan penuh perasaan. Rea mengerang tertahan saat Zain menggigit ujung bibirnya. Jika seperti ini Rea sulit untuk melangkah pergi.


Zain menghentikan kegiatannya karena keduanya mulai kehabisan oksigen. Ia tersenyum saat melihat wajah merona Rea. Kemudian suara panggilan untuk para penumpang pun mulai terdengar. Zain menghela napas. Untuk yang terakhir kalinya ia memberikan kecupan di bibir Rea.


"Aku pergi." Pamit Rea yang kemudian mengecup punggung tangan suaminya. Setelah itu ia pun bergegas pergi menuju gate. Zain terus memandangi punggung istrinya sampai wanita itu menghilang dari pelupuk mata.


"Aku akan merindukanmu." Gumam Zain yang diiringi dengan senyuman geli. Bagaimana tidak, belum juga istrinya itu terbang. Ia sudah merindukannya. Gila memang, tetapi itu kenyataanya. Zain tidak bisa memungkiri perasaanya.


Ting!


Perhatian Zain pun teralih karena ponselnya berdering. Ia merogoh ponselnya di saku. Kemudian melihat pesan yang dikirim seseorang. Ternyata itu dari Juna yang memberi tahu bahwa sebentar lagi meeting akan di mulai. Zain memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan memasang kaca mata hitam. Kemudian bergegas pergi dari sana.


Sesampainya di kantor, Zain langsung menuju ke ruang meeting. Juna yang sejak tadi menunggunya pun menyerahkan sebuah dokumen penting.

__ADS_1


"Sudah berapa persen?" Tanya Zain. Semua orang yang sudah hadir di sana bangkit saat melihat Zain masuk. Memberikan hormat pada atasannya itu.


"Kurang lebih delapan puluh," jawab Juna sedikit berbisik.


"Lanjutkan." Zain pun mengambil posisi di depan.


"Maaf aku terlambat. Let's get started." Pinta Zain duduk di bangku kebesarannya. Lalu Juna pun segera membuka rapat mereka. Diskusi panjang itu berlangsung selama dua jam lebih. Dan tentunya Zain yang lebih banyak bicara di sana. Lelaki itu begitu piawai dalam menyampaikan setiap kalimatnya.


"That's all from me. Se you tomorrow." Pamit Zain bangkit dari posisinya dan bergegas pergi dari ruangan itu karena meeting telah usai. Juna pun mengekorinya di belakang.


"Apa jadwalku minggu depan padat?" Tanya Zain pada asistennya itu.


"Minggu depan hanya ada dua pertemuan."


"Kau sudah menentukan tempatnya?"


"Belum."


"Kalau begitu katakan pada mereka, pertemuan kita lakukan di Paris. Aku ada perjalanan penting di sana." Pinta Zain yang berhasil membuat Juna merasa heran.


"Paris? Kau ingin menyusul istrimu?"


Zain tersenyum simpul. "Kau tidak perlu tahu. Jika ingin, bawa saja Nesya bersamamu."


"Double date? Not bad, akan aku bicarakan ini dengannya. Aku rasa kau mulai bucin."


"Bucin pada istri sendiri tidak ada salahnya bukan?"


"Up to you." Sahut Juna menggeleng pelan.


"Pesan hadiah spesial untuk istriku, aku ingin 99 tangkai bunga mawar merah. Juga sewa tempat romantis. Siapkan satu set gaun malam untuknya. Aku akan membuat kejutan kecil."


Kejutan kecil? Lalu seperti apa kejutan besarnya? Pikir Juna dalam hati.


"Tidak sekalian kamar untuk bulan madu?" Tawar Juna.


Zain menahan langkahnya. Kemudian tersenyum lebar. "Not bad. Siapkan semuanya untukku. Aku percayakan semuanya padamu."

__ADS_1


Juna tersenyum geli. Sebelumnya ia tidak pernah melihat Zain sesemangat ini. Sepertinya Rea benar-benar merubah hidup lelaki itu.


__ADS_2