Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Bertengkar


__ADS_3

Sean mendengus sebal saat dirinya melihat riwayat chat sang istri dengan Juna. Bagaimana tidak, Juna terus memberi perhatian pada istrinya. Tentu saja Sean kesal meski Queen membalasnya biasa saja. Suami mana mana pun pasti cemburu, apa lagi Juna adalah cinta pertama sang istri.


Mendengar suara pintu toliet terbuka, Sean memusatkan perhatiannya pada sang istri. Queen membalas tatapan itu penuh tanya.


"Ada apa, Sean?" Tanyanya seraya mendekat.


"Kau masih berhubungan dengan Unclemu itu huh?"


Queen terkesiap, ditatap ponselnya ditangan Sean. "Sean, dia hanya memberiku semangat. Lagian kau sudah lihat kan? Aku tidak terlalu menanggapinya."


Sean mendengus. "Aku sudah bilang kan berhenti menghubunginya, Queen." Kesalnya.


Queen terkejut mendengarnya. Ia menghela napas berat. Lalu duduk di pinggiran brankar. "Sayang, dengarkan aku. Aku tahu kau cemburu. Tapi aku tidak bisa memutuskan hubungan kekeluargaan dengannya. Bagaimana pun dia sudah aku anggap seperti Uncle sendiri. Aku rasa kau paham itu. Lagian dia sudah punya istri, sayang. Kau tahu kan aku hanya mencintai suamiku?"


Sean menatap Queen tajam. "Kau masih punya perasaan padanya kan? Jawab aku, Queen. Kau senang kan diperhatikan seperti ini?" Tudingnya.


Queen menatap Sean tidak percaya. "Sean, kenapa kau menuduhku seperti itu? Sudah aku katakan aku hanya mencintaimu, kenapa kau jadi cemburuan begini sih? Hanya karena sebuah pesan kau menuduhku yang bukan-bukan, Sean. Aku pikir kau percaya padaku, ternyata aku salah. Sudah aku katakan aku hanya mencintaimu, Sean." Nafas Queen naik turun menahan emosi.


"Kau yang lebih dulu membuatku kecewa, Queen. Kau tahu aku tidak senang kau masih berhubungan dengannya. Tapi kau masih saja menghubunginya. Bagaimana jika dia masih berharap padamu huh? Dengan kondisiku seperti ini, mungkin saja kau akan berpaling, Queen."


"Sean!" Bentak Queen tidak senang dengan perkataan suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca. "Tega sekali kau bicara seperti itu. Apa kau sadar dengan ucapanmu itu, Sean? Kau menyakiti aku. Kau menuduhku, Sean." Tangisan Queen pun pecah.


Sean terdiam dengan wajah masam. Sepertinya api cemburu sedang menyelimuti hatinya saat ini.


"Terserah kau mau menuduhku seperti apa, Sean. Yang jelas aku tidak seburuk itu. Aku kecewa padamu, Sean." Setelah mengatakan itu Queen beranjak pergi meninggalkan ruangan sambil terisak.


Sedangkan Sean mengusap wajahnya dengan kasar. "Arghh... sialan!" Umpatnya merasa frustasi.


Di luar, Queen duduk di kursi dan menangis sesegukkan. Hatinya begitu sakit mendengar tuduhan yang Sean berikan. "Jahat sekali kau, Sean. Kau menuduhku."


"Sayang, kau kenapa?" Tanya Rea panik saat melihat Queen menangis sendirian di depan kamar inap Sean. Niat hati hanya ingin melihat keduanya sudah tidur atau belum sebelum kembali ke hotel, dan justru ia melihat hal seperti ini.


"Mommy." Queen memeluk Rea sambil meangis pulu.


"Ada apa, Sayang? Apa terjadi sesuatu pada Sean?"


Queen menggeleng. "Aku dan Sean bertengkar, Mom."


Rea terkejut. "Kok bisa sih? Apa masalahnya huh?"


"Sean marah karena aku masih berkomunikasi dengan Uncle. Dia juga menuduhku, Mom. Dia bilang aku masih mencintai Uncle. Padal dia tahu aku sangat mencintainya. Jahat sekali dia, Mom. Bahkan dia mengatakan aku akan berpaling darinya." Adu Queen. Rea yang mendengar itu menghela napas berat.


"Kenapa harus bertengkar? Bicarakan semuanya baik-baik, sayang."


"Dia yang memulai. Aku sudah menjelaskan padanya. Tapi dia malah menuduhku. Hatiku sakit, Mom." Kesal Queen.

__ADS_1


Lagi-lagi Rea menghembuskan napas kasar. "Jangan sama-sama keras dong. Wajar dalam rumah tangga ada pertengkaran. Sesekali mengalah tidak apa, Queen."


"Hiks... Sean tidak pernah seperti ini sebelumnya Mom. Apa mungkin dia sudah bosan denganku? Karena itu dia mencari masalah."


"Tidak, sayang. Mommy rasa Sean juga sedih sekarang. Mungkin pikirannya sedang kalut. Cobalah bicara padanya. Mommy tidak membelanya, tapi Mommy cuma tidak mau kalian seperti ini."


"Aku tidak ingin menemuinya, Mom. Hatiku masih sakit."


"Sayang...."


"Aku lelah, Mom." Sela Queen. "Aku ikut denganmu."


"Kau akan meninggalkan Sean?"


"Biarkan saja, siapa suruh menuduhku sembarangan." Ketus Queen.


Rea benar-benar pusing sekarang. Jika seperti ini ia tidak mungkin bisa membujuknya lagi. Apa lagi Queen sedang sensitif saat ini.


"Ya sudah, kita ke hotel. Tenangkan dirimu lebih dulu. Mommy akan minta Daddy tinggal di sini untuk menamani suamimu."


Queen mengangguk. Lalu keduanya pun bergegas meninggalkan rumah sakit.


Di ruangannya, Sean menitikan air mata. "Maafkan aku, Queen. Aku hanya takut kau berpaling dariku." Matanya terpejam untuk mengurangi rasa nyeri dikepalanya. Namun, ia kembali membuka mata dan menatap ponsel istrinya. Diraihnya benda itu dengan kasar.


Tut! Terdengar nada sambung.


"Halo," ucap Juna di seberang sana


Cih, cepat sekali dia menerima panggilan. Sudah jelas dia masih berharap pada istriku. Apa dia ingin mati? Geram Sean dalam hati.


"Halo princess, ada apa? Kenapa kau diam? Apa terjadi sesuatu padamu? Katakan, Queen."


Sean mengeratkan rahangnya. "Aku suaminya."


Seketika hening.


"Dengar. Berhenti menghubungi istriku, tidak perlu memberikan perhatian padanya. Dia sudah mendapat perhatian lebih dariku. Dia tidak butuh dirimu. Memangnya kau siapa huh? Berani sekali mengaggu istriku. Sekali lagi kau menghubungi istriku, aku akan menghancurkanmu, Arjuna." Ancam Sean.


"Sean, aku...."


"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun darimu. Yang aku mau hanya satu, jauhi istriku, dan aku minta kau untuk melupakannya. Apa istrimu di rumah tidak memuaskanmu huh? Sampai kau mengganggu istri orang. Berhenti menganggunya, camkan itu." Tutup Sean. Lalu ia pun memblokir nomor Juna untuk selamanya. Setalah itu Sean menaruh kembali ponsel istrinya di tempat semula.


Sean menghela napas lega, setidaknya ia puas karena sudah memberikan ancaman pada lelaki yang sudah membuat hatinya memanas. Namun, ia kembali mengingat sang istri yang tak kunjung masuk.


"Ke mana dia? Apa dia masih marah padaku? Hah, aku harus minta maaf saat dia kembali." Gumamnya seraya menatap ke arah pintu. Berharap sang istri masuk dan memberikan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Hah, belum apa-apa aku merindukannya. Di mana kau, sayang? Cepat kembali, maafkan aku, Queen."


Cukup lama Sean menunggu sang istri. Namun Queen tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Dan itu membuat Sean cemas.


"Sial! Aku benci menjadi lemah seperti ini." Umpat Sean mengutuk kondisinya sekarang ini. Sean mencoba duduk, tetapi itu sangat sulit dan hanya rasa sakit yang ia dapat.


"Arghhh... sialan! Dasar kaki tak berguna. Brengsek!" Teriaknya. Dan diwaktu bersaman Zain pun masuk. Ia terkejut saat melihat menantunya seperti itu.


"Sean."


Spontan Sean pun menoleh, sambi mendesis karena rasa sakit yang begitu kentara.


Zain mendekati lelaki itu. "Apa yang kau lakukan huh?"


Sean mengeratkan rahangnya. "Aku tidak berguna, Dad."


Zain menghela napas pendek. "Berhenti merendahkan dirimu. Kau seperti ini karena pengorbanan besarmu, Sean."


"Ya, dan sekarang aku tidak bisa melindungi istriku sendiri. Aku tidak berguna untuknya, Dad. Rasanya aku tidak pantas lagi untuknya. Arggg... sial!" Sean mengerang kencang saat rasa sakit itu semakin kentara.


Zain yang melihat itu langsung memeriksa kondisi Sean. "Sial!" Umpatnya saat melihat pinggul Sean mengeluarkan darah segar, bahkan sudah merembes ke seprei. "Apa kau bodoh? Jahitanmu belum kering dan kau bergerak sembarangan."


Zain menekan tombol daurat. Ditatapnya Sean dengan penuh iba.


Sean mengaratkan rahangnya menahan rasa sakit. Matanya pun ikut terpejam.


"Jangan gila, kau masih punya tanggung jawab. Putriku membutuhkanmu. Jadi berhenti berpikiran bodoh."


Sean tidak menyahut.


"Dia sangat mencintaimu, Sean. Apa kau tahu? Sejak kau sakit, setiap malam dia terus menerorku agar mencarikan dokter terbaik untukmu. Bahkan tidak jarang dia menangisimu."


Sean membuka matanya. Ditatapnya langit-langit dengan tatapan kosong.


"Apa pun yang terjadi, bagaimana pun kondisimu. Tetaplah disisinya, Sean. Sekarang kau adalah hidupnya. Kau yang menariknya dalam hidupmu, jadi tetaplah pada tujuan utamamu. Bahagiakan dia. Itu yang aku harapkan dariku. Terlepas dari apa yang terjadi padamu, itu hanya ujian untukmu dan putriku. Hadapi semuanya bersama. Aku dan Mommymu akan membantu semampunya. Selebih itu kalian sendiri yang menentukan jalannya."


"Sorry." Ucap Sean.


"Lupakan. Fokus untuk kesembuhanmu. Jangan pikirkan hal lain. Istrimu menginap di hotel malam ini. Biarkan dia menenangkan diri sebentar."


Sean mengangguk. "Jangan katakan soal kondisiku saat ini, Dad. Biarkan dia istirahat."


Zain mengangguk. Tidak lama dari itu dokter dan suster pun datang. Zain memberi tahu kondisinya. Lalu mereka pun langsung menangani Sean.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2