Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama

Istri Menggemaskan Tuan CEO Ternama
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Jef." Panggil Queen saat melihat putranya hendak keluar.


Jef, lelaki tampan itu berbalik. Rambut hitam dan mata yang bersinar indah, garis wajah yang sempurna bak lukisan. Bibir tipis berwarna merah muda yang berpadukan rahang tegas, membuat siapa saja tak bisa berpaling memandangnya.


Queen mendekati putra sulungnya. "Kamu masih ingat Mercia?"


Dahi Jef mengernyit. "Ya."


"Minggu depan dia datang, dia juga akan melanjutkan studynya di sini. Cobalah mengenalnya lebih dekat." Pinta Queen.


Jef memutar bola matanya jengah. "Apa itu harus?"


Queen tersenyum, lalu diusapnya lengan Jef dengan lembut. "Jangan membohongi diri sendiri, Mommy tahu kamu juga menyukainya. Mungkin Cia memang sedikit agresif. Tapi jika kamu mengenalnya lebih dekat, kamu pasti menyukainya. Kamu itu hanya melihatnya dari satu sisi saja. Cobalah mengenalnya dengan baik."


"Ya, Mom." Jef mengangguk terpaksa.


"Minggu depan jemput dia di bandara."


"Mom...."


"Jef, cobalah berteman dengannya." Sela Queen yang tahu jika Jef akan menolaknya.


Jef berdecak pelan. "Baiklah."


Queen tersenyum bahagia. "Ya sudah, Mommy hanya ingin bilang itu. Jangan pulang terlalu malam."


"Biarkan dia menikmati kebebasannya, sayang." Sanggah Sean yang entah sejak kapan sudah ada di antara mereka. Lelaki tampan itu merengkuh pinggang istrinya dengan lembut. "Pergilah, Son."


"Thank's, Dad." Jef pun meninggalkan keduanya.


"Berhenti meminta hal yang tidak disukainya." Pinta Sean pada istrinya.


Queen menoleh. "Kau tidak sepenuhnya tahu isi hati anak itu, Sean. Sudahlah, kau masih saja menentang keinginanku." Ia pun meningglkan Sean dengan kesal.


"Baby."


"Aku tetap dengan pendirianku, Sean." Sahut Queen sedikit berteriak. "Jika kau masih saja tak setuju, suatu hari kau akan menyesal."


Sean yang mendengar itu cuma bisa mengedikkan kedua bahunya.


Jef memasuki sebuah club ternama. Lelaki tampan itu disambut hangat oleh ketiga sahabatnya. Mereka berempat sering dijuluki bintangnya Eropa. Karena mereka terlahir dari keluarga yang memiliki pengaruh yang cukup besar di Eropa.


Brian, lelaki tampan pemilik rambut pirang. Salah satu pewaris tunggal perusahaan ternama dibidang otomotif. Nicholas, yang tak kalah tampan dari ketiga sahabatnya, berambut coklat dengan mata yang sipit karena ia berdarah campuran Korea Prancis. Putra tunggal pemilik toko berlian yang cukup terkenal. Dan yang terakhir, Winter. Lelaki berdarah Arab Amerika. Pemilik club sekaligus CEO yang cukup disegani para jutawan. Dan Winter paling tua di antara mereka. Meski usia mereka berbeda-beda, tetapi semua itu tak menghalangi persahabatan keempatnya. Justru perbedaan usialah yang membuat persahabatan mereka semakin erat.


"Aku pikir kau tidak akan datang kali ini." Ucap Winter melirik Jef.


"Dapat undangan langka, kenapa aku tidak datang?" Jef tersenyum miring.

__ADS_1


Brian merangkul Jef, lalu berbisik. "Apa kau sudah mendengar berita? CEO kita akan segera menikah."


Jef menatap Winter untuk meminta jawaban.


Winter tersenyum. "Hanya pernikahan bisnis. Aku terpaksa, karena usiaku yang sudah waktunya untuk menikah. Orang tuaku terus mendesak."


"Cih, jangan munafik. Kau menyukai wanita itu kan?" Nicholas menunjukan sebuah foto wanita yang cukup cantik di ponselnya. Sontak Brian dan Jef pun melempar tatapan tajam pada Winter.


Winter mendengus sebal. "Baiklah, aku akui jika aku tertarik padanya. Hanya sebatas tertarik."


Brian berdecih sebal. "Aku pastikan kau bertekuk lutut padanya. Aku rasa dia tipe wanita posesif."


"Tidak, jastru dia membolehkanku melakukan apa yang aku mau setelah menikah." Sahut Winter tersenyum penuh arti.


"What?" Kaget ketiganya kompak.


"Lalu?" Tanya Brian penasaran.


"Tentu aku menerimanya. Bukankah banyak keuntungan yang aku dapat huh?" Winter menunjukkan smirknya yang membuat bulu kuduk meremang.


Jef menghela napas. "Jangan sampai kau mempermainkan perasaannya."


Winter tersenyum kecut. "Lalu bagaimana dengan wanita agresifmu itu huh?"


"Setidaknya aku menunjukkan penolakan. Jika dia masih gigih, itu bukan urusanku lagi." Sahut Jef dengan santai. Ia menuang wisky ke dalam gelas, lalu meneguknya dengan cepat.


Nicholas menghela napas pendek. "Karena itu aku malas berurusan dengan wanita. Merepotkan saja."


"Hm." Sahut Jef dan Winter kompak. Sedangkan Nicholas cuma bisa menggeleng pelan. Lalu keempatnya pun hanyut dalam obrolan panjang yang tak jauh dari bisnis. Meski Jef dan Brian yang usianya masih sangat belia, tetapi dua pemuda itu tak kalah pintar soal berbisnis. Bahkan sejak usia 15 tahun mereka sudah berkecimpung di perusahaan. Tidak heran mereka mulai mengusai dunia persaingan. Ditambah mereka memiliki dua sahabat yang cukup berpengalaman dalam berbisnis.


Sebenarnya pertemuan mereka terbilang tak sengaja saat melakukan pertemuan bisnis. Lalu hubungan mereka pun semakin dekat seiiring berjalannya waktu.


****


Hari itu pun tiba, Mercia benar-benar datang sendirian ke negara asing. Dengan penuh percaya diri wanita itu berjalan keluar dari pintu bandara. Bibir tipisnya melengkung sempurna saat matanya menangkap sosok tampan yang tengah duduk di atas kap mobil mewah.


"Jef!" Teriaknya yang berhasil menarik atensi lelaki itu. Sedikit berlari, ia menghampirinya dengan penuh semangat dan tentunya rasa bahagia.


Jef menilai penampilan Mercia dari ujung rambut sampai kaki. Benar-benar membuatnya tercengang. Penampilan gadis itu sama sekali tak mencerminkan seorang gadis remaja. Justru ia terlihat seperti gadis berusia dua puluhan. Apa yang dipakainya sama sekali tidak cocok untuknya, begitulah tanggapan Jef.


Pemuda itu bergerak tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu saja hal itu membuat Mercia bingung. Namun, ia menampik semua itu.


Jef mengambil koper milik Mercia, lalu memasukkannya ke dalam bagasi. Setelah itu ia masuk ke mobil yang diikuti oleh Mercia tentunya.


Selama perjalanan, Jef masih saja diam. Membuat suasana menjadi canggung.


Mercia yang merasa tak nyaman pun menoleh. "Jef, apa kau marah padaku?"

__ADS_1


Jef menoleh sekilas tanpa memberikan jawaban.


Mercia pun menatap jalanan lurus. "Jika kau terpaksa, kenapa tidak bilang sih? Aku bisa minta Kakakku untuk menjemput. Apa sebegitu bencinya kau padaku, Jef?" Gadis itu menunduk.


Jef menghela napas. "Aku sama sekali tidak membencimu."


Mendengar itu Mercia mengangkat wajahnya, lalu menoleh. "Lalu, kenapa kau diam terus? Apa aku merusak rencana liburanmu?"


Jef tidak langsung menjawab.


"Ah, maaf soal itu. Jika memang benar, turunkan saja aku di halte. Aku akan meminta Kak Halley menjemputku. Kau bisa melanjutkan rencana liburanmu. Aku...."


"Bisakah kau diam?" Sanggah Jef.


Sontak Mercia pun terdiam, sejenak. "Em... maaf. Apa Aunty dan Uncle sehat?" Tanyanya basa-basi.


"Kau bisa melihatnya sendiri nanti." Sahut Jef dingin.


"Hm." Mercia mengangguk pelan. Pandangannya pun mengedar kesetiap penjuru kota yang dilihatnya. "Di sini tidak jauh beda dengan Jakarta ya?"


"Hm."


Mercia menatap Jef lekat, lalu tersenyum. "Aku senang kita bisa kuliah di tempat yang sama. Itu artinya kita bakal sama-sama terus."


Jef tidak menyahut. Mercia yang merasa canggung pun menghela napas berat. "Jika ada yang kau tidak sukai dari aku, katakan saja, Jef. Jangan memendamnya. Mungkin aku bisa berubah untukmu."


Jef menoleh, dan kembali meneliti penampilan Mercia sesaat. Pakaian yang terlalu terbuka dan riasan yang cukup berlebihan menurutnya sama sekali tidak cocok untuk Mercia. Namun, ia tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Baiklah, aku akan diam. Sepertinya aku terlalu banyak bicara." Mercia memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dirinya cukup kecewa dengan sambutan Jef atas kedatangannya. Ia pikir Jef akan menyambutnya dengan pelukan hangat. Atau sekadar sapaan lembut. Sayangnya ia hanya dapat tatapan dingin lelaki itu. Ah, sepertinya ia terlalu banyak berharap. Sejak awal Jef bukan tipe seperti itu kan? Lalu apa yang ia harapkan.


Sesampainya di mansion. Mercia disambut hangat oleh Queen. Wanita paruh baya itu memberikan pelukan rindu yang cukup hangat.


Jef yang melihat itu memilih masuk lebih dulu.


"Kangen banget tahu." Ucap Queen sembari mengusap punggung Mercia.


Mercia menarik diri dari pelukan Queen, lalu tersenyum lebar. "Aku juga kangen Aunty. Tapi aku lebih kangen si tampan Ryan, dimana dia?"


Ryan Xavier Cameron adalah putra kedua Queen dan Sean, yang kini usianya masih 7 tahun.


Queen tertawa renyah. "Dia ada di ruang belajar. Sama seperti Kakaknya, dia penggila buku."


Mercia ikut tertawa. "Aku jadi ingan Jef dulu, bahkan dia selalu menolak saat aku mengajaknya bermain. Sepertinya Ryan juga sama ya?"


"Yah, seperti itulah. Ayo masuk, Aunty sudah masak banyak tadi. Kamu harus mencicipi semuanya." Ajak Queen merengkuh Mercia dan membawanya masuk.


"Wah, kebetulan banget aku sangat lapar. Jangan marah jika aku menghabiskan semuanya." Canda Mercia.

__ADS_1


"Cih, memang tubuh kecil sepertimu bisa menghabiskan semua makanan?" Sambar seseorang yang berhasil menarik antensi keduanya.


"Ryan!"


__ADS_2