
Juna mendorong tubuh gadis itu dengan kasar. Alhasil punggung Faizah pun membentur pintu mobil.
"Awh... sialan!" Umpatnya yang berhasil membuat Juna melotot.
"Kau mengumpatiku?"
"Eh? Bukan, aku mengumpati pintu mobilnya. Ini sangat sakit." Faizah mengelus belakang kepalanya yang juga ikut terbentur tadi.
Juna menggeram kesal. "Jangan pernah menyentuhku lagi. Atau aku tidak akan memberikan sedikit pun nilai padamu. Kau benar-benar tidak sopan."
Faizah meringis kecil karena punggung dan kepalanya masih nyeri. "Maafkan aku, Mr. Aku tidak akan mengulangnya lagi. Tapi...." Faizah menyeringai. Dan itu membuat Juna semakin meremang dan terpojok.
"Apa?" Ketus Juna. Gadis itu langsung melompat ke atas pangkuan Juna. Sontak Juna pun kaget bukan main.
Apa-apaan ini? Apa gadis ini sudah gila?
Ya Tuhan, Maafkan aku. Aku tidak ingin dijodohkan dan hanya ini caranya agar aku terbebas.
"Saya akan perkosa Anda." Ancam Faizah dengan tatapan nakal. "Jika Anda terus menahan niliaku, jangan salahkan aku berbuat nekat."
"Menyingkir." Geram Juna hendak mendorong Faizah. Sayangnya tangan kekar itu salah pegang.
"Kyaaa... kau mesum." Pekik Faizah. Sontak Juna pun menarik tangannya. Sedangkan Faizah menutup dua aset berharganya itu dengan kedua tangan.
"Menyingkirlah. Kau yang ingin memperkosaku kenapa kau yang mengatai aku mesum? Dasar gila." Sembur Juna tersulut emosi. Jujur saat ini jantungnya bertalu-talu karena tak sengaja menyentuh benda empuk itu. Ya, rasanya sangat empuk dan kenyal.
Sial! Kenapa benda itu begitu pas di tanganku. Arggh... apa yang kau pikirkan huh? Dia sama sekali tidak menarik.
"Huaaa...."
Juna terkejut saat tiba-tiba Faizah menangis. "Hey, kau ini memang sudah gila ya?"
Faizah menatap Juna dengan tatapan sedih. "Mr, kau harus bertanggung jawab. Kau sudah menyentuh milikku. Kau harus menikahiku, mereka sudah tidak perawan."
Juna berdecih kesal. "Kau yang memulai. Bukankah kau ingin memperkosaku? Lakukanlah, baru aku sentuh saja kau menangis. Dasar bocah ingusan."
__ADS_1
Faizah melotot karena tidak terima dikatai. "Bocah ingusan? Kau mengataiku bocah ingusan? Biar aku buktikan jika aku ini bukan bocah ingusan. Dasar pria tua mesum." Dengan agresifnya Faizah menyambar bibir Juna lagi. Lelaki itu pun tersentak dan hendak mendorong Faizah. Sayangnya gadis itu berpegangan erat di jaketnya. Dan mulai memberikan l*m*t*n kecil.
"Akhhh..." Faizah merintih kesakitan karena Juna menggigit bibirnya. Sangking perihnya Faizah menangis. "Sakit tahu hiks."
"Fred, berhenti di sini." Tegas Juna pada sang supir yang sejak tadi memilih diam. Dan mobil itu pun berhenti di bahu jalan.
"Keluar!" Bentak Juna yang berhasil membuat Faizah kaget. Cepat-cepat gadis itu turun dari pangkuan Juna dan keluar dari mobil.
Brak!
Lagi-lagi Faizah terkejut karena Juna menutup pintu dengan kasar. Lalu mobil itu pun melesat pergi meninggalkan Faizah di sana yang sudah kesal setengah mati.
"Sialan! Dasar lelaki tua mesum. Lihat saja, akan aku pastikan di pertemuan berikutnya kau bertekuk lutut. Argghh...." Faizah pun menggila di pinggir jalan. Sampai-samapai orang yang melihatnya menggeleng dan mengira ia orang gila sungguhan.
Sedangkan di dalam mobil, Juna terus mengeluarkan sumpah serapahnya karena kesal. "Jangan harap kau mendapat nilaimu, lancang sekali." Ia melepas jaketnya dan melemparnya asal.
****
Di apartemen, Faizah menjatuhkan bokongnya di atas ranjang. Hatinya masih dongkol karena kejadian beberapa menit lalu. "Ya Tuhan, aku pikir dia lelaki yang mudah digoda. Ternyata aku salah. Haish... bagaimana jika nilaiku benar-benar ditahan? Hiks... Mammy, aku ingin pulang."
"Hallo!" Ketusnya.
"Fai! Kamu mulai berani sama Mammy?"
Eh?
Faizah langsung melihat layar ponselnya. Matanya membulat saat melihat nama sang Mammy di sana. Cepat-cepat ia menempelkan kembali ponselnya di telinga.
"Hehe, maaf My. Fai kira tadi temen."
"Kamu ini. Besok pulang ke rumah, Mammy sama Daddy undang keluarga Ferdi ke rumah."
"Ih, buat apa? Fai sibuk, udah mulai nyusun skripis. Mammy tahu kan Fai harus buat laporan magang. Duh... pokoknya gak ada waktu buat pulang." Elaknya.
Ih... ogah amat ketemu si playboy. Mending nongki-nongki sama bestie.
__ADS_1
"Gak ada penolakan. Kalau nolak Mammy bakal potong uang jajan." Ancam sang Mammy.
"Gak papa potong aja, My. Soalnya Fai beneran sibuk. Kalau Mammy sanggup lihat Fai kelaparan di sini gak usah kasih uang jajan pun gak papa kok. Paling Fai ngais makanan di tong sampah." Faizah memberikan ancaman halus andalannya.
"Dih... mana tega Mammy. Pokoknya kalau sempat pulang, kamu pulang ya? Kasian Ferdi jauh-jauh datang ke sini."
Siapa suruh datang.
"Hehe... iya, My. Fai usahakan deh. Tapi gak janji."
"Iya, sayang. Jaga diri baik-baik di sana. Hah, kalau gini udah kayak jauh aja kita. Padahal mah lima belas menit aja sampe ke rumah, Fai."
Faizah terkekeh lucu. "Namanya juga pengen mandiri, My."
"Mandiri apanya? Uang jajan sama baju kotor aja masih Mammy yang urus."
Faizah terkekeh lagi. "Masak Mammy perhitungan sama anak sendiri, mana anak satu-satunya lagi."
"Hah, itu aja senjata kamu. Ya udah, Mammy tutup ya? Jangan pernah lupa sarapan pagi."
"Iya, Mammy. Bawel banget sih."
Tut! Sang Mammy memutus panggilan sepihak. "Lah, main matiin aja. Padahal mau minta persenan tadi. Huh... nasib."
Faizah pun melempar ponselnya ke atas kasur. Kemudian ia pun bergegas menuju kamar mandi.
Malam hari, Faizah pun pergi ke kafe tempat ia nongkrong bareng teman-temannya. Namun, kali ini ia datang sendirian. Gadis itu memesan sebuah kopi dan duduk di salah satu meja. Kepalanya benar-benar pusing, saat ini dua masalah tengah menggerayangi kepalanya. Satu, ia belum mendapatkan nilai magangnya dan malah membuat masalah yang merugikan diri sendiri. Dan yang kedua orang tuanya terus mendorongnya agar menerima perjodohan dengan Ferdi. Lelaki yang paling Faizah benci.
Faizah menyesap kopinya dengan malas. "Apa aku bunuh diri saja? Semuanya pasti beres. Aku tidak peru memikirkan kuliah dan perjodohan gila itu. Aku bebas."
Faizah tertawa sendiri seperti orang gila. Beberapa orang yang duduk tidak jauh darinya pun mulai berbisik dan keheranan.
"Tidak, kenapa pula aku harus bunuh diri? Pasti ada jalan lain. Si pria tua itu, ini semua gara-gara dia. Jika dia tidak mempersulitku, mungkin aku bisa terbebas dari perjodohan itu. Karena dia yang menyebabkan aku kesulitan, maka aku akan menjadikannya sebagai senjata ampuh. Lihat saja, apa kali ini kau akan menggigit bibirku lagi?" Faizah menyeringai. Ribuan rencana kini sudah tersusun di kepalanya.
"Secepatnya aku akan menjalankan rencana ini. Sampai bertemu lagi, pria tua mesum. Aku jadi penasaran semesum apa dirimu?" Faizah kembali tertawa. Membuat orang di sekelilingnya merinding ngeri.
__ADS_1